tapi lebih sulit lagi untuk tidak berkata jujur
di saat kita berpura-pura menjadi orang lain
--Akira Kurosawa--
Suara penyanyi Anggun terdengar mengalunkan reffrain lagu “Saviour”. Suara itu berasal dari telepon genggam Miranti yang diletakkan di atas meja belajarnya. Miranti yang tengah membaca buku puisi “Kisah Persetubuhan Pertama di Dunia”, pemberian Danan beberapa tahun silam, segera mengambilnya. Tak lama terdengar suara seseorang yang masih terasa asing baginya.
“Miranti?”
“Ya. Siapa ini?”
“Eko.”
Miranti tercekat.
Setelah berusaha untuk tenang. Dia mulai bicara.
“
“Aku…Aku…”
Miranti menghela nafas.
“Kenapa?”
“Besok aku mau pulang.”
“Oh…”
Sepi tanpa diundang masuk di dalam pembicaraan mereka. Suaranya tak ada tapi kehadirannya membuang beberapa detik dengan percuma. Terdengar Eko menghela nafas. Berat.
“Aku hanya ingin mengatakan ‘selamat tinggal’.”
“Oh. Selamat jalan kalau begitu.” Miranti berucap datar.
“Ranti, ada yang ingin aku ceritakan. Jika kau ada waktu.”
Sebetulnya Miranti sudah malas untuk meneruskan perbincangan ini tapi dia tidak mau mengecewakan hati Eko yang kemarin sudah ditolak cintanya.
“Katakanlah.”
“Aku mendengar kabar kalau mantan pacarku tewas dibunuh.”
“Dibunuh?”
“Ya. (Hening sejenak) Dan aku dimintai keterangan oleh petugas kepolisian setiba nanti di
“Hm. Apakah kamu masih berhubungan dengannya?”
“Tidak. Tidak. Sudah lama sekali aku tidak tahu kabarnya.”
Miranti berasumsi dia akan mendengarkan kisah indah atau kisah yang terjadi antara Eko dan kekasihnya itu. Dia tidak tahu apa yang hendak diucapkannya.
“Ah, sudahlah. Aku cuma ingin mengucapkan selamat tinggal saja padamu.”
“Eh. Uhm. Terimakasih sudah menelepon. Aku turut berduka cita mendengar kabar darimu soal – Siapa namanya?”
“Rasida. Rasida Alma.”
Miranti terkejut. Hampir saja dia menjatuhkan telepon genggam di tangannya. Nama yang disebut menjelaskan kenapa Eko bisa langsung jatuh cinta kepadanya. Seperti yang pernah diucapkan Danan dulu kepadanya, mata Miranti mirip sekali dengan Rasida Alma.
“Halo? Miranti? Kamu masih di situ?”
“Maaf. Aku…Aku tak menyangka bahwa kamu adalah mantan kekasih Rasida. Sebenarnya aku sudah tahu berita kematian dia dari Danan dua hari yang lalu.”
“Apa?!”
Hening kembali menyeruak.
Tak lama terdengar isak di seberang
Miranti tak bisa berkata apa-apa lagi. Suara Eko pun tak terdengar. Dan akhirnya sambungan telepon itu terputus sudah. Miranti melemparkan buku puisi dari tangannya ke tempat tidur. Dia meletakkan kembali telepon genggamnya di atas meja belajar. Setelah itu dia membaringkan diri. Dia tidak mampu berpikir apa-apa tentang segala yang baru saja terjadi.
+++
Tujuh jam di dalam pesawat membuat pikiran Eko semakin ruwet. Angin malam tropis yang panas segera menerpa wajahnya di beranda dekat pintu kedatangan. Dihampirinya bangku-bangku coklat kehitaman yang berderet. Dia ingin melepas ketegangan sejenak. Jemari tangannya bergerak meraih sekotak rokok dari balik mantel panjangnya, dengan sedikit gerakan di antara telunjuk dan jari tengahnya sudah terjepit sebatang rokok. Tak lama kemudian terdengar hembusan asap dari mulutnya.
“Rasanya sudah sedemikian lama aku meninggalkan
Eko menghembuskan kembali asap rokoknya. Pikirannya masih belum bisa tenang. Dia menunggu petugas kepolisian yang kemarin malam mengontaknya untuk menjemput dirinya dari bandara.
“Pak Eko?”
“Ya. Saya.”
“Selamat malam, Pak. Saya Sasongko, dan ini Bripda Rudi.” Dua orang yang tiba-tiba menghampirinya memperkenalkan diri. Mereka lantas berjabat tangan.
“Silakan ikut kami, Pak.” Lanjut pria yang mengaku bernama Sasongko.
Sementara yang dikenalkan sebagai Bripda Rudi segera mengambil barang bawaan Eko. Selanjutnya mereka berjalan beriringan menuju pada sebuah mobil sedan yang diparkir tak jauh dari tempat Eko duduk tadi.
“Silakan, Pak.” Lagi-lagi Sasongko bicara. Dia mempersilakan Eko untuk segera masuk ke dalam mobil. Rudi mengambil posisi sebagai supir. Eko duduk di bangku belakang bersebelahan dengan Sasongko.
“Apakah saya akan langsung dimintai keterangan?” Eko memberanikan diri bertanya. Dia tidak pernah tahu bahwa kedua orang itu adalah polisi gadungan.
Sasongko tersenyum. Dia mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya.
“Tenang saja, Pak. Kita akan mencarikan penginapan yang aman untuk Bapak terlebih dahulu, sebelum pergi ke kantor kepolisian.”
“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Eko. Mobil segera meluncur keluar dari area bandara. Eko mengeluarkan telepon genggamnya, dia ingin memberitahu Miranti bahwa dirinya sudah sampai di
“Sebaiknya Pak Eko merahasiakan keberadaan Bapak kepada siapapun. Hal ini akan sangat menjamin keselamatan anda.”
Eko kaget. Sebab baru kali ini dia dicegah untuk berkomunikasi.
“Kenapa, Pak?”
“Semua orang yang berhubungan dengan kematian Rasida tengah diincar oleh pembunuh-nya.”
Kembali Eko tergagap kaget.
“Sudah ada korban lagi?”
Sasongko tersenyum sebelum dia berkata. Dari spion tengah, Eko melihat Rudi pun tersenyum.
“Maaf. Itu bukan urusan Anda.”
“Tapi?”
“Sudahlah, Pak. Yang penting Anda akan baik-baik saja.”
Rudi yang dari tadi diam sekarang mulai bicara. Mobil dilajukan semakin kencang. Eko masih belum begitu paham apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya. Beberapa saat kemudian, sebelum dia menyadari bahwa sebenarnya dia berada dalam sebuah bahaya besar, Sasongko telah mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku jaket kulitnya.
+++
Telepon genggam Sasongko berbunyi. Dan kemudian terdengar suara di seberang
“Bagaimana hasil pekerjaanmu, Ko?”
“Beres, Pak. Kami sudah melakukan 806* kepadanya.”
“Bagus. Bayaranmu akan aku lipatgandakan, Ko.”
“Terimakasih, Pak. Saya puas bekerja untuk Bapak.”
“Sama-sama, Ko. Besok uangnya aku transfer ke rekeningmu.”
“Sekali lagi terimakasih, Pak.”
“Sama-sama, Ko. Kau dan Rudi istirahat dulu, masih ada dua pekerjaan besar untukmu. Si Bartender dan Wartawan itu. Tapi sekarang Si Bartender itu sedang dalam penjagaan petugas kepolisian. Dan wartawan itu, masih aku perlukan penyelidikannya. Aku pengin tahu seberapa pintar dia menggali peristiwa ini. Jika terbukti dia memang pintar, berarti sudah waktunya dia pun menyusul mereka semua.”
“Jangan lama-lama, Pak. Biar urusannya cepat selesai.”
Kemudian terdengar suara tawa dari telepon genggam itu.
“Hahaha. Santai saja, Ko. Santai saja. Aku menikmati permainan ini. Pokoknya, semua saksi harus habis. Satu per satu.”
Sasongko pun ikut tertawa. Rudi yang berada di sebelahnya, dari tadi dia menguping pembicaraan mereka, juga ikut tertawa.
“Sampaikan salam untuk Rudi. Kerja yang bagus.”
“Baik, Pak.”
“Klik”
Sasongko meraih sebotol minuman yang dipegang Rudi.
“Dibayar lebih, Rud!” Dia berteriak.
Rudi tertawa terkekeh-kekeh. Malam itu, sebuah tugas penting telah sukses mereka jalankan: “membunuh Eko Wahyu Baskoro, mantan kekasih Rasida, yang mengetahui kisah percintaan Rasida dengan seseorang yang kemudian ternyata membunuhnya.”
(806, dan Segalanya Menghilang)
0 comments:
Post a Comment