Thursday, May 29, 2008

Antara Cinta dan Nafsu Amarah


Ada bisik yang menahanku untuk
tidak mengejarmu:
“Nikmati saja tetas-tetas luka itu.''

(Petikan Sajak: “Jejak dan Bidadari”,
diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”,
karya Hasan Aspahani)

Mungkin inilah bagian dari hidupku yang paling puitis. Betapa tidak? Melalui sebuah rapat luar biasa yang diselenggarakan untuk membahas penangkapan Bapak Gunawan Sudarmanto - Pimpinan Redaksi kami - sebagai tersangka otak di balik tiga buah kejadian pembunuhan yang menghebohkan, Pak Zen mengemukakan latar belakang dan kronologis peristiwa yang didapatnya dari hasil penyidikan pihak kepolisian. Dan itu semua membukakan mataku akan bagaimana sesungguh cinta dapat berubah menjadi kebencian yang teramat dalam hingga bisa membinasakan.

Mengapa Gunawan Sudarmanto membunuh Rasida Alma?

“Saya gelap mata, Pak. Rasida adalah seorang perempuan yang sempurna. Sekecil apapun gerak-geriknya dapat membangkitkan gairah seorang lelaki normal. Walaupun dia tidak pernah bermaksud melakukan sesuatu hal untuk memancing ataupun menarik perhatian lawan jenis. Banyak lelaki yang menaruh hati kepadanya. Hal itu membuat saya merasa sangat kuatir tidak akan pernah dapat memiliki cintanya seutuhnya.”

“Jadi kau sudah merencanakan pembunuhan itu?” Petugas penyidik kepolisian mencatat dengan detail apa yang dikatakan oleh Gunawan.

“Tidak, Pak. Sungguh.”

“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di café malam itu?”

“Malam itu, kami janji untuk berkencan. Seperti biasa, tak ada yang istimewa. Namun sebenarnya, dia sudah membuat janji dengan seorang produser musik. Saya marah akan sikapnya. Lebih tepatnya saya cemburu.”

“Apa yang kalian bicarakan, dan apa benar Anda tak sendirian?”

Gunawan menelan ludah, menengok sebentar kepada pengacaranya, lalu meneruskan ceritanya.

“Saat itu memang saya tidak sendirian, bersama Sasongko dan Rudi, dua orang teman saya..”

(sampai di sini, Petugas penyidik menyela)

“Teman, atau…”

Dengan kikuk, Gunawan menjawab, “Pengawal.”

“Apa Anda memang selalu dikawal?”

“Tidak selalu, Pak. Malam itu, saya memerlukan mereka untuk membantu mengawal Rasida dari para wartawan infotainment. Rasida tidak pernah ingin kehidupan pribadinya diungkap di media.”

“Baik, lalu?”

“Kami, saya dan Rasida, membicarakan masa depan kami.”

“Hmm…Lantas apa yang terjadi hingga kemudian ada istilah “Lamborghini” yang didengar oleh beberapa saksi?”

“Itu hanya bentuk umpatan saya saja, Pak. Rasida, waktu itu, mengatakan kepada saya bahwa dia masih belum siap untuk saya peristri. Dia bilang sementara ini yang ada di dalam pikirannya adalah berkarir lebih tinggi lagi. Dia ingin menjadi salah satu diva di negeri ini. Saat itu, yang ada di dalam benak saya adalah dia masih belum bisa menerima keadaan saya seutuhnya.”

Gunawan tampak terguncang, dan akhirnya dia menangis.

Pengacaranya, seorang pengacara muda dari biro hukum terkemuka, mendekat kepada petugas dan membisikkan sesuatu. Petugas itu menggelengkan kepala dan mempersilakan pengacara muda itu untuk duduk kembali.

“Teruskan ceritanya,” katanya kepada Gunawan.

“Saya tidak bisa menerima alasan yang dikemukakannya. Lalu, mungkin karena pengaruh minuman keras yang saya minum, saya mulai mengumpat dia. Dia sangat ketakutan, lalu mencoba menelepon seseorang. Saya minta dia mematikan telepon genggamnya. Dia menurut. Kepada Sasongko dan Rudi, dua pengawal saya itu, saya mulai bercerita tentang bagaimana saya selalu memuaskan birahinya. Saat itulah muncul istilah “Lamborghini”, Pak.”

“Maksudnya?” Pandangan menyelidik petugas itu benar-benar tajam. Sepertinya dia sedang menguliti Gunawan hingga ke tulang sumsumnya.

“Gairah bercinta Rasida itu selalu menggebu-gebu. Entah apa yang merasukinya ketika kami bercinta. Memang itulah dia, setiap bercinta, kami senantiasa berusaha saling memuaskan, bahkan lebih mirip sebuah perlombaan.”

“Apa reaksi dia ketika Anda meracau seperti itu?”

“Dia berusaha menenangkan saya. Tapi hati saya sudah tertutup rasa cemburu. Saya mulai menuduh dia berselingkuh dengan produser calon album berikutnya. Dia membantah habis-habisan. Pada saat itu saya melihat Farina, si pelayan yang cantik itu. Saya bilang kepada Rasida, jika dia bisa berselingkuh dengan sesiapa saja, saya pun bisa melakukannya.”

“Apakah sebelumnya, Anda sudah mengenal Farina?”

“Kebetulan, salah seorang wartawan punya kebiasaan datang terlambat dengan alasan mencari berita. Saya pernah iseng menyuruh salah seorang dari pengawal saya, tidak selalu satu orang tetapi bergantian, untuk mengikutinya. Dari mereka saya tahu, Farina adalah seorang perempuan yang punya kekurangan dalam keuangan. Jadi, saya pun tergerak untuk membantunya.”

+++

Pak Zen berhenti sebentar ketika membaca. Dia menatap ke arahku. Aku tahu wartawan yang dimaksudkan oleh Pak Gun dalam laporannya tentang wartawan yang sering datang terlambat adalah aku. Tapi soal Farina, aku sama sekali tidak bisa menduganya.

Ketika dulu menjadikan Farina sebagai narasumber, dia tidak pernah menceritakan bahwa dia kenal betul dengan Pak Gun, tapi mungkin karena Pak Gun tidak pernah secara langsung membantunya, melainkan melalui salah seorang entah Sasongko atau Rudi, maka dia pun memang tidak mengenalnya.

“Kau tidak tahu cerita ini, Danan?”

“Tidak, Pak. Tidak pernah.”

“Jadi, ketika kau mewawancarai Farina, kau tidak bisa menduganya?”

“Sama sekali tidak, Pak. Saya tidak pernah tahu bahwa Farina punya hubungan khusus dengan Pak Gun sampai saya menemukan catatan hariannya,” suaraku terdengar gemetar. Sama seperti tanganku. Apakah getaran di dada, bisa menjalar sampai tangan dan suara?

“Kau juga tak pernah tahu bahwa selama ini Pak Gun mengamatimu?”

“Saya berpikir bahwa apa yang sering Beliau lakukan, seperti memarahi saya ketika saya terlambat, mengkritik tulisan-tulisan saya, bahkan meminta saya lebih terlibat dengan tim di halaman depan, adalah murni tugasnya sebagai pimpinan di tempat ini. Bahkan lebih dari itu, saya beranggapan Beliau menjelma sebagai sosok seorang bapak bagi saya.”

“Ah, Sudahlah, Nan. Sekarang ini, dia sudah terbukti sebagai seorang psikopat. Tak perlu kau bilang dia itu dengan “Beliau” segala!” Simeon mengumpat sambil melemparkan sebatang pensil ke atas meja.

Pak Zen hanya tertawa lirih. Ada kepahitan dari suara tawanya.

“Baiklah, saya ingin lanjutkan cerita ini. Maksud saya, membacakan laporan dari pihak kepolisian.”

+++

“Lalu apa yang Anda lakukan kepada pelayan itu?”

“Saya memberinya sebuah catatan.”

“Apa isinya ?”

“Saya menyuruhnya untuk datang di hotel itu,” sebelum melanjutkan Pak Gun menghapus keringat yang membasahi wajahnya. Lalu katanya lagi,”Saya bilang kepadanya untuk bahwa selama ini, saya yang telah memberikan bantuan kepadanya. Dan malam itu, saya ingin dia melakukan sesuatu untuk saya.”

“Apakah itu?”

“Pastinya, Bapak ini sudah bisa mengira…”

“Katakanlah saja. Saya harus mencatatnya sesuai dengan perkataan Anda.”

“Sebuah persetubuhan. Dan tampaknya dia menerima, buktinya ketika kita sudah berada di kamar, dia pun datang.”

“Apa reaksi Rasida, ketika di depan matanya, Anda membujuk pelayan itu?”

“Dia marah. Saya bilang kepadanya, ini sebuah hukuman. Jika memang benar dia mencintai saya, dia sendiri yang harus membuktikan.”

“Dia setuju?”

“Dia tidak mengatakan apa-apa. Tetapi yang dilakukannya adalah meminta kami pergi dari tempat itu, dan pergi ke hotel yang sudah biasa kami pergunakan untuk berkencan.”

“Kenapa Anda atau kalian selalu memilih hotel itu?”

“Bangunan hotel itu sudah tua, mengingatkan kami pada rumahnya yang asri di tempat asal Rasida. Lagipula saya memang sudah biasa menginap di hotel itu.”

“Sekarang, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar hotel itu.”

+++

Pak Zen kembali berhenti bercerita.

“Teruskanlah ceritanya, Pak!” Kali ini Alfa yang protes. Dia memang sudah lama mengincar jabatan yang lebih tinggi dari sekedar wartawan senior. Dengan naiknya Pak Zen menjadi Pimpinan Redaksi, maka besar harapan dia untuk diangkat menjadi Wakil Pemimpin Redaksi.

Lagi-lagi Pak Zen cuma tersenyum, disebarnya foto-foto jenazah Rasida sesaat ditemukan tewas oleh salah seorang petugas pelayan hotel.

“Saya ingin Anda semua menganalisis semua detail laporan ini, untuk itu saya kembali membagikan foto-foto ini. Menuliskan berita, menurut saya, juga harus bisa memberikan nyawa kepada tulisan itu. Tidak sekedar laporan semata. Saya inginkan pembaca berita nantinya bisa sedikit terpengaruh secara kejiwaan juga dengan berita yang anda tulis. Anggaplah ini sebagai latihan.”

Dan dengan berat hati, kami pun mulai mengambil satu per satu foto yang disebarkan itu.

Ada-ada saja!

+++

“Seperti pasangan yang berkasih-kasihan, kami pun melakukan hubungan intim, Pak. Tapi karena memang saya sudah dikuasai nafsu untuk menaklukan seutuhnya Rasida ke dalam cinta saya, maka saya melakukan sebuah percobaan yaitu mengikat tubuhnya dengan tali-tali kulit.”

“Untuk apa itu?” Mata petugas itu melotot karena dia tidak pernah mengerti hal seperti itu.

“Saya ingin menegaskan, dalam hubungan itu, saya adalah pihak yang berkuasa atas tubuhnya, atas cintanya, dan atas seluruh hidupnya. Tidak ada orang lain!”

“Bagaimana reaksi korban?”

“Saat itu dia bukan korban, Pak!” Pengacara muda itu menyela.

“Ya. Ya. Maaf. Jadi bagaimana reaksi dari Rasida waktu itu?”

Lagi-lagi, Gunawan mengusap wajahnya, mencoba menghapus keringat. Mungkin juga mereka-reka bentuk wajah yang paling menyedihkan yang dapat dia buat.

“Waktu itu, dia tidak mengeluh. Tak ada keluhan sama sekali. Memang niatan saya juga sekedar ingin menunjukkan kekuasaan saya. Supremasi lelaki di atas perempuan. Saya hanya memprotes segala kelemahannya yang tidak bisa secara tegas menyatakan cintanya terhadap saya, dengan terus menerus mengucapkan kata-kata makian juga hinaan kepadanya. Dan saya baru berhenti memaki ketika pada akhirnya dia mulai mengucapkan kata-kata bahwa dia benar-benar mencintai saya seutuhnya. Saat itulah, Farina mengetuk pintu kamar.”

“Jadi Farina melihat apa yang sedang kalian perbuat?”

“Ya. Dia melihat semuanya. Dia terbengong sebentar di depan pintu, sebelum saya berteriak kepadanya untuk segera masuk dan mengunci pintu kembali.”

“Anda yang membukakan pintu?”

“Ya. Saya sendiri. Rasida masih terikat di ranjang.”

“Lantas?”

“Rasida berteriak yang intinya dia tidak suka melihat adanya Farina di tempat itu. Dia malu dilihat orang dalam keadaan seperti itu. Tapi yang saya lakukan adalah mengatakan kepada Rasida, bahwa dia harus berjanji di depan Farina bahwa dia memang mencintai saya. Saya mengancamnya, untuk melakukan persetubuhan perselingkuhan di depan matanya, apabila dia tidak mau melakukan sumpah cinta.”

“Anda melakukan itu dengan penuh kesadaran?”

“Entahlah…”

Belum selesai Gunawan bicara, pengacaranya membisikinya. Petugas itu hanya melirik.

“Jadi?”

“Saya tidak tahu apakah hal itu saya lakukan dengan sadar atau tidak, seperti dari awal saya ceritakan, saya berada dalam pengaruh minuman keras.”

“Tapi Anda bisa mengingat dengan detail peristiwa itu, tadi.”

“Tidak, Pak. Tidak. Saya tidak ingat waktu itu jam berapa. Saya hanya mengingat apa yang mungkin menjadi garis besarnya.”

“Anda mencoba mengelak?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin menceritakan yang sebenarnya.”

“Baik, coba Anda lanjutkan cerita tadi.”

“Tadi sampai mana, Pak?”

“Ah, jangan pura-pura lupa begitu. Sampai Farina datang, dan Anda mengancam hendak ..”

Gunawan buru-buru memotong pembicaraan, mungkin dia tidak ingin terus menerus menjadi pihak yang tertekan dalam interogasi itu.

“Ya. Saya mengancam untuk berhubungan intim dengan Farina di depan Rasida. Rasida kemudian memohon maaf. Dan pada saat itulah kecelakaan yang mengakibatkan kematiannya terjadi…”

“Kecelakaan? Maksudnya?”

“Saya memegang kedua belah pipinya ketika dia berjanji untuk setia dan hanya mencintai saya. Saya memintanya untuk berjanji; “dia akan mencintai saya sampai dia mati! Untuk selamanya!”. Dia mengangguk. Saya begitu senang, dan saya memeluknya sedemikian erat. Tanpa sadar saya meremas pengikat kalung kulit yang saya pasangkan di lehernya. Ternyata hal itu membuat kalung kulit itu mencekik saluran pernafasannya. Dan karena saya terlalu gembira, karena dia mau berjanji mencintai saya sampai mati, saya tidak melepaskan pelukan. Tak pernah sedikit pun!. Saya tidak pernah tahu ikatan kalung kulit itu telah begitu kuat mencekik lehernya. Dan ketika terdengar bunyi tulang patah, barulah saya sadar. Saya telah membunuh Rasida, kekasih saya sendiri!”

Sampai sini, ucapan Gunawan berubah menjadi tangisan. Tangisan yang memilukan. Tubuhnya terguncang lalu jatuh. Pingsan.

Pengacara muda itu menghambur ke arah tubuh Gunawan yang tergeletak di lantai. Petugas penyidik itu pun tak kurang sigap. Kemudian terjadi sedikit keributan di ruang pemeriksaan itu. Dan tak lama kemudian, Gunawan dilarikan ke rumah sakit kepolisian.

+++

Ternyata cinta, dalam hal ini adalah eros, ternyata sangat erat hubungannya dengan nafsu. Sedangkan nafsu adalah salah satu motif penggerak bagi seseorang untuk meledakkan sebuah amarah. Dan amarah adalah api. Api yang membinasakan. Inilah motif yang menyebabkan Rasida Alma terbunuh malam itu. Dapat dikatakan bahwa mendiang Rasida Alma adalah korban cinta yang begitu menggebu.

“Bagaimana menurut kalian? Apakah alasan seperti itu cukup masuk akal?” Pak Zen bertanya kepada kami yang hadir di dalam ruangan ini.

Alfa menunjuk ke arahku. Katanya,”Danan lebih tahu banyak dalam kasus ini, coba kita dengarkan dari dia, teori apa yang bisa kita gunakan untuk menyatakan bahwa kasus Rasida Alma hanya sebuah kecelakaan dalam bercinta?”

Aku tergagap sebelum kemudian mengatakan,”Cinta tak pernah memaksa. Dia yang akan memilih apakah aku adalah orang yang tepat untuk menumbuhkannya atau dia memilih aku sebagai orang yang menguburkan jenazahnya. Jika cinta itu memaksa, berarti orang yang menganutnya adalah orang yang tak waras!”

Simeon melempar kertas ke arahku, “Bukankah kau yang sampai saat ini masih memaksakan cinta tumbuh di hati Miranti untuk diserahkan kepadamu nanti?”

Aku pun tersadar, ternyata selama ini aku adalah contoh orang yang kusebut sendiri barusan sebagai orang gila dalam urusan cinta!

Dengan melambaikan tangan kepadanya, kukatakan,”Mulai sekarang, aku akan menjadi orang yang baru. Sebab cinta yang tumbuh di luar pagar itu akan segera kucabut dan kubuang sampai ke akarnya.”

Beberapa teman mentertawakanku. Pak Zen cuma tersenyum, seperti biasa, dan lalu berdehem meminta perhatian.

“Sudah. Sudah. Orang mau berusaha, jangan ditertawakan,” lagi dia berkata,”Jadi, untuk menuliskan berita tentang apa motif dan alasan Pak Gun membunuh Rasida, saya serahkan kepadamu, Nan.”

Aku terhenyak, “Lho, kok?”

Bukankah Pak Zen memintaku untuk lebih santai? Bahkan memintaku untuk pindah ke tempat lain?

“Bukankah bahannya sudah ada? Kamu tinggal sering mengunjungi Pak Gun untuk mencari tahu detail-detail yang belum diungkap.”

“Bukankah Pak Gun membenci saya, Pak?”

“Justru karena itu, Nan. Aku memilihmu. Kau tinggal tunggu apa yang diletupkannya kepadamu, sedang kau tinggal menangkapnya. Enak bukan?”

Mendengar perkataan itu, yang bisa kulakukan hanya memegang kepalaku, dan menunduk dalam-dalam. Tak mengerti apa yang sebenarnya tengah Pak Zen maksudkan kepadaku.

“Baiklah, sekarang ini, saya ingin menjelaskan perihal pembunuhan Farina, pelayan café itu,” kata Pak Zen kemudian.

Atas Dasar Apakah Farina dibunuh?

Hari berikutnya, setelah diagnosa kesehatan dan Gunawan Sudarmanto dinyatakan sehat, dilakukan kembali pemeriksaan atau interogasi kepadanya.

“Saya merasa kehilangan, Pak,” katanya ketika penyidik menanyakan apa yang menyebabkan dia pingsan kemarin.

Penyidik itu mencari tatapan Gunawan.

“Betul, Pak. Saya menyesal. Sangat menyesal. Tak seharusnya saya melakukan itu.”

“Ada yang janggal. Anda bilang Anda menyesali perbuatan Anda, tetapi kenapa sehari kemudian, setelah peristiwa itu terjadi, Anda mengundang korban Farina ke hotel itu lagi.”

“Saya ingin menghilangkan jejak, Pak.”

“Tapi anda bukannya tahu bahwa hotel itu masih dalam pengawasan?”

“Justru itu, Pak. Saya memanfaatkan keadaan.”

“Maksudnya?”

“Tempat yang paling tidak diduga untuk sebuah kejahatan adalah tempat yang paling aman karena penjagaan, mungkin Bapak pernah mendengar teori semacam ini.”

“Ah, itu hanya rekaan Anda belaka. Lalu apa yang Anda lakukan?”

“Kedua pengawal saya - Sasongko dan Rudi - setelah kejadian Rasida terbunuh, langsung saya minta memesan kamar lain, kamar yang agak berjauhan dengan kamar tempat Rasida terbaring. Saya pun pindah ke sana bersama Farina. Di sana saya menenangkan diri, dan juga menenangkan Farina yang ketakutan,” Gunawan menjelaskan dengan nada yang lemah. Kemudian dia melanjutkan,”Menjelang pagi, Farina saya minta untuk pulang. Sebelum polisi datang dan mulai memeriksa seluruh hotel saya pun sudah pergi ke kantor, pagi-pagi sekali. Malam berikutnya, saya telepon Farina. Saya bilang, saya butuh hiburan karena peristiwa kemarin. Tadinya dia tidak mau. Takut terjadi sesuatu yang buruk akan dirinya. Saya mencoba menenangkan. Saya bilang, saya nanti akan menyerahkan diri, tapi tidak sekarang. Sebab semua yang terjadi, seperti saya bilang kemarin ke Bapak, bahwa itu adalah kecelakaan. Saya harus bertanggungjawab. Itu pasti!”

“Saya masih tak habis pikir tentang hal ini. Korban Farina, sehari sebelumnya melihat Anda membunuh korban Rasida. Kemudian Anda mengatakan kepadanya untuk menghiburnya. Benar-benar tidak masuk akal. Lalu apakah akhirnya dia mau?”

“Setelah saya katakan kepadanya, bahwa saya benar-benar membutuhkan hiburan, dan saya mau memberikan sejumlah uang, bahkan lebih besar dari apa yang dia terima kemarin, dia mengiyakan untuk datang.”

“Jam berapa dia datang?”

“Saya tidak ingat, Pak.”

“Seingat Anda saja!”

“Kurang lebih setelah jam sembilan, Pak. Ya, sekitar jam segitu.”

“Sebenarnya, apa yang ada dalam pikiran Anda berbuat seperti itu?”

Pengacara muda yang kembali mendampingi Gunawan dalam pemeriksaan, menyela pembicaraan.

“Maaf, Pak. Untuk menjawab pertanyaan Bapak yang seperti itu, klien saya perlu saya ajak berdiskusi. Jika …”

“Ya. Ya. Silakan.”

Lalu keduanya pun mulai berbincang dengan nada berbisik-bisik. Dan akhirnya, pengacara muda itu kembali bicara,”Pak, klien saya tidak mau menjawab pertanyaan mengenai perasaan atau pun pikirannya. Sebab menurutnya, semua yang terjadi waktu itu benar-benar di luar kendali. Terjadi begitu saja.”

“Baik. Sekarang mohon dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar hotel itu.”

Gunawan, dengan wajah tertunduk, mulai menjelaskan apa terjadi hingga akhirnya Farina terbunuh.

“Saya tengah berbaring memikir apa yang seharusnya saya lakukan setelah peristiwa kemarin ketika dia datang. Saya terpikir untuk merekontruksi kenapa leher Rasida bisa tercekik ketika saya memeluk sambil memegang ikatan pada kalung kulit itu. Dia saya minta sebagai model untuk rekontruksi saya, tapi dia menolak dengan keras. Saya masih ingat apa yang diucapkannya: ”Apa-apan ini? Aku tak mau! Aku bukan binatang!”. Penolakannya membangkitkan amarah saya. Saya bangkit dari tempat tidur dan mulai meracau. Dia menangis. Saya pun jatuh iba. Namun dia mulai bicara yang tidak-tidak.”

“Apa itu?” Penyidik bertanya memotong ceritanya.

“Dia bilang kenapa saya tidak mencari wanita lain saja, padahal dia tahu kalau saya sudah membayarnya. Dan kali ini dia mau datang karena saya berjanji akan memberikan uang yang lebih banyak dari kemarin. Saya marah sekali, Pak. Saya kemudian tidak ingat lagi apa yang saya lakukan terhadapnya. Saya kalap. Saya baru sadar ketika dia sudah terbaring kaku di lantai kamar dengan tubuh telanjang. Saya tidak punya niat untuk membunuhnya, Pak! Sungguh! Saya tidak tahu apa yang saya telah lakukan kepadanya!”

Lagi-lagi, Gunawan histeris, hingga pengacaranya sibuk untuk menenangkannya.

“Baiklah, penyidikan kali ini saya sudahkan. Besok saya harap Anda mengingat apa yang telah Anda lakukan terhadap korban Farina dengan lebih gamblang,” Petugas penyidik menyudahi sesi pemeriksaan hari ini.

+++

“Jadi masih banyak informasi yang hilang?” Simeon bertanya kepada Pak Zen.

“Bukan, besok pagi penyidikannya masih berlangsung. Mungkin sebaiknya, kau Simeon, datang ke sana. Bukankah dari waktu penemuan mayat korban kau yang turun ke lapangan?”

“Benar, Pak,” ujarnya mantap.

Pak Zen melirik ke arahku.

“Bagaimana, Nan?”

Aku tertawa senang, dan menjawabnya enteng.

“Sip, Pak!”

Alfa, yang sewaktu penunjukkan aku sebagai wartawan yang bertugas penuh untuk menulis berita detail di balik pembunuhan Farida tampak tidak puas, mengacungkan tangan.

“Usul, Pak!”

“Ya?”

“Bukankah untuk mengetahui apa dan bagaimana Pak Gun, Bapak sudah menugaskan Danan? Kenapa tidak sekalian dia saja?”

“Sebentar. Saya rasanya juga berubah pikiran. Danan akan saya tugaskan menulis soal Eko saja. Untuk Pak Gun, saya tugaskan kau, Alfa, dan Simeon.”

Simeon tampak cemberut ketika aku melirik ke arahnya. Aku pun tersenyum kecut.

“Baiklah, Danan. Kau bisa mulai membaca laporan penyidikan mengenai pembunuhan Eko Wahyu. Sebab, kau adalah wartawan yang pertama kali datang ke tempat mayat Eko di atas makam Rasida bersama Aipda Soewarno.”

Pembunuhan Eko Wahyu Baskoro, Pengalihan Perhatian yang Gagal

“Sebenarnya, ini pemeriksaan yang lebih awal daripada pemeriksaan terhadap Pak Gunawan. Karena dari pemeriksaan tersangka Sasongko dan Rudi inilah, Pak Gunawan dapat ditangkap,” Pak Zen membuka forum kembali.

Aku menerima sebundel lengkap berkas. Dan mulai membacanya.

“Cukup Nan?” Pak Zen mengagetkanku.

“Cukup, Pak. Kalau nanti ada yang saya rasa kurang, saya bisa hubungi Pak Warno.”

“Bagus.”

“Kalau begitu, rapat ini saya nyatakan bubar. Dan segeralah bekerja semaksimal mungkin.”

Pffyuhh!

Namun kelegaan itu tak berlangsung lama, karena hanya berselang waktu yang sebentar dari rapat itu, aku sudah berada di tahanan untuk bertemu tersangka pembunuh Eko Wahyu Baskoro, pelukis yang sempat bertemu Miranti di Kyoto, juga mantan kekasih Rasida Alma.

“Saya melakukannya bersama Rudi.”

“Siapa Rudi?”

“Teman saya.”

“Atas perintah?”

“Pak Sudarmanto.”

Aku menahan nafas sebentar. Berarti memang benar apa yang sudah diberitakan.

“Apa alasannya Pak Gun, atau Pak Sudarmanto, meminta Anda melakukan pembunuhan itu?”

“Apa alasannya? Saya tidak perlu menanyakan itu kepada Bos saya itu. Dia meminta, saya melakukan. Titik! Tak perlu alasan!”

Wow! Dia tidak senang ditekan rupanya. Dia tampak begitu tertekan di dalam jeruji penjara.

“Pak Sudarmanto kenal dengan korban Eko?”

“Sepertinya begitu. Mungkin lebih baik Anda tanyakan sendiri kepadanya. Saya hanya menjalankan pekerjaan saya!”

Baiklah. Aku harus menggunakan cara lain untuk membujuknya bercerita.

“Anda benar kekasih Susi?”

“Ya. Anda tahu juga?”

“Ya. Saya ingat Anda. Sewaktu saya memeriksa kamar Farina, tak lama kemudian Anda datang.”

“Oh, ya? Saya tidak ingat.”

“Ah, Anda tidak mungkin tidak bisa mengingat saya. Bukankah Anda dikenal sebagai pembunuh bayaran yang rapi?”

Sasongko mencondongkan tubuhnya ke arahku. Dan membisikkan kata yang membuatku agak merinding membayangkannya, “Bukankah Anda wartawan yang dimaksudkan oleh Bos untuk dihabisi?”

Aku menelan ludah.

“Jadi, Pak Gun juga menyuruh Anda dan teman Anda untuk membunuhku?”

“Anda tidak tahu siapa yang menculik Anda?”

“Jadi…” Aku menahan amarahku yang hampir meledak. Sedangkan Sasongko tertawa sinis.

Alih-alih menutupi amarahku, aku malah membicarakan soal calon istrinya, Susi.

“Susi meneleponku…”

“Kau…”

“Sabar, Teman. Saya belum selesai bicara.”

Dia tampak tidak sabar ingin mendengarkan apa yang hendak aku ucapkan, “Katakanlah, ada apa dengan Susi!” Tampak sekali wajahnya memancarkan rasa tidak senang.

“Susi kecewa dengan Anda.”

Rahangnya bergerak-gerak. Sekarang dia yang menahan amarah.

“Apa lagi yang dikatakannya?”

“Saya bisa membawanya ke mari. Jika Anda mau bercerita lebih banyak tentang pembunuhan Eko Wahyu Baskoro,” dengan tenang aku terus memancing data darinya.

“Jangan. Jangan. Saya tidak bisa melihatnya sedih. Jangan bawa dia ke sini.”

“Dia itu justru sedang dalam kesedihan terdalam saat ini. Anda tak pernah mengerti perasaannya!”

“Ya. Saya bersalah kepadanya. Saya menjanjikan segalanya akan segera berakhir dengan baik. Tapi apa yang terjadi malah sebaliknya, semuanya benar-benar hancur lebur. Berakhir tanpa bentuk. Tak seperti harapan kami.”

Lagi-lagi, hal yang tak kusangka terjadi. Laki-laki yang kelihatannya seperti seorang pemberani ini mulai menitikkan airmata.

Ah, cinta memang aneh. Mampu menjungkirbalikkan logika. Tanpa perlu aku tanya lagi, dari mulutnya akhirnya mengalirlah cerita.

“Saya sangat mencintainya. Dia satu-satunya perempuan yang mampu meluluhkan perasa-an saya. Apapun yang dia minta, saya berusaha untuk menurutinya. Termasuk ketika dia minta saya berhenti bekerja dengan Bos. Tinggal dua pekerjaan lagi, dan setelah itu selesai! Bartender itu dan Anda!”

“Sebenarnya kenapa dengan bartender itu?”

“Dia dan pelayan di café itu adalah saksi mata waktu Bos marah kepada Mbak Rasida di café malam itu. Untuk menghilangkan jejak kejadian yang sebenarnya, maka dia harus dihabisi juga! Dan untungnya, perempuan bodoh itu datang sendiri ke hotel setelah dirayu Bos. Jadi sebenarnya saksi mata itu cuma tinggal bartender itu.”

Sialan! Farina dia sebut sebagai perempuan bodoh. Walaupun dia memang melakukan tindakan melacurkan diri, tetapi menurutku dia lebih pantas disebut sebagai pemilih jalan singkat. Bukan perempuan bodoh! Dan aku tak pernah lupa bahwa mendiang Farina menyatakan cinta kepadaku dari pandangan pertama!

“Bagaimana dengan saya?”

“Hal itu saya tidak tahu. Bos yang bilang sendiri, Anda harus juga disingkirkan. Di-806-kan!”

“Apa itu?”

“Dihilangkan!”

Aduh! Rupanya di dunia ini, ada orang yang dengan gampangnya hendak menghilangkan nyawa orang. Walaupun dengan alasan yang sepele, bahkan mengada-ada.

“Jadi, apa yang Anda dengar dari Pak Sudarmanto tentang Eko, orang yang Anda bunuh dan kemudian dibuang di makam Rasida?”

Dia menghela nafas panjang. Sepertinya kecewa dengan keputusanku bertanya kembali mengenai Eko.

“Aku ingin tahu bagaimana dengan Susi. Apa yang dia bicarakan tentang aku?”

“Baiklah, tapi Anda juga berjanji akan membantu saya untuk mengatakan kenapa Eko menjadi incaran Pak Sudarmanto, bagaimana?”

“Ya. Ya. Apa pun itu.”

“Baiklah. Setelah Susi melihatmu pemeriksaan kasus Anda ini, dan mendengar keterangan press kepolisian yang mengatakan hukuman yang pantas bagi Anda adalah hukuman mati, malamnya dia menelepon. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia menangis dan mengatakan segalanya sudah berakhir. Selebihnya dia ingin menghilangkan kenangan.”

Aku mendengar Sasongko mengisak.

“Ini memang salahku, Sus. Ini kesalahanku. Bagaimanakah caranya agar kau bisa memaafkanku, Susi?” Sasongko memegangi kepala dan menjambaki helai-helai rambutnya.

Aku biarkan dia melampiaskan penyesalan pada apa yang telah dilakukannya selama ini. Sebenarnya, aku tak sabar untuk mendapatkan berita dari mulutnya. Tapi bagaimana lagi? Dia seorang yang keras yang sedang melampiaskan penyesalan. Dan ketika itu terjadi dia hanya bisa diam atau marah-marah. Dengan sabar yang dipaksakan, aku mengambil sebatang rokok di saku.

Dia memandangku, dari pandangannya aku tahu dia membutuhkan rokok. Terdengar suara dehem. Penjaga sel tidak memperbolehkan. Sasongko mendengus keras.

“Sekarang Anda mau bercerita perihal Eko?”

Sepertinya dia berat hati untuk menjawab pertanyaanku.

“Hanya sedikit keterangan yang aku peroleh Bos tentang dia. Entah dari mana dia tahu bahwa Eko itu akan datang ke Indonesia dari Jepang, untuk dimintai keterangan mengenai hubungannya dengan Rasida.”

“Jadi, Pak Sudarmanto tahu jika Eko itu mantan kekasih Rasida?”

Dia terkekeh mendengar pertanyaanku.

“Ya jelas dia tahu. Justru itu manfaat yang ditunggu-tunggu. Semacam “blessing in disguise” dalam petaka yang ditimbulkannya. Maka dibuatlah skenario “menghilangkan” Eko. Hanya kemudian, saya berpikir jika Eko benar-benar dihilangkan maka tak justru tidak ada jalan untuk menghindar bagi bos. Itulah sebabnya saya geletakkan mayat Eko di atas makam Rasida. Untuk mengesankan dia yang membunuh lewat tangan orang lain, lalu kemudian bunuh diri. Kapan lagi membuat cerita macam Romeo Juliet di sini? Hahahaha…”

Entah karena merasa perkataannya memang lucu, aku pun ikut tertawa.

“Jadi begitu ya? Baiklah, aku akan menuliskan skenario Romeo-Juliet yang gagal dipentaskan. Bagaimana?”

“Ya. Ya. Terserah Anda saja.”

Seperti berkaca pada kisah cinta antara diriku dan Miranti. Aku pun gagal menuliskan cerita indah itu; “cerita percintaan yang sempurna”.


(806, dan Segalanya Menghilang)

0 comments: