Monday, May 26, 2008

Berita Sukacita

Impian kita mungkin sulit dicapai,
tapi bukan berarti tak bisa dicapai,
karena itu kerjakanlah setahap demi setahap

-- Rommy Rafael --

Di pengasinganku, masa sakitku beberapa hari, aku tak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan. Hanya lewat Simeonlah aku beroleh berita tentang hal-hal yang berhubungan dengan kasus pembunuhan berantai itu. Pagi ini, dengan ketawanya yang lebar, dia bercerita tentang pengintaiannya yang pertama kali, dan kemajuan pekerjaan pihak kepolisian untuk memburu tersangka.

“Coba kau baca koran kita, Nan,” katanya sambil melemparkan surat kabar Delik Metro hari ini.

Belum sampai aku membacanya, kutanyakan kepadanya soal Joe.

“Bagaimana dengan Joe? Amankah dia?”

“Tenang saja, pihak kepolisian masih siaga untuk menjaganya dari bahaya.”

“Syukurlah. Ada berita apa hari ini?”

“Ah, kau baca sajalah dulu,” katanya.

Aku mulai membaca huruf-huruf yang dicetak besar dan tebal di bagian kepala surat kabar;

DUA ORANG TERSANGKA PEMBUNUH
DALAM PENGEJARAN POLISI

Lalu di bawah tulisan itu terdapat foto seorang gadis dalam pengawalan petugas sedang hendak dimasukkan ke dalam sebuah mobil.

“Itu Susi?”

“Ya. Siapa lagi?”

“Dia ditangkap?”

“Tidak, dia semalam dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan perihal kekasihnya.”

“Jadi, semalam itu pacarnya tak ada di rumah itu?”

“Tidak ada, namun coba kau baca berita sambungannya di halaman belakang,” Simeon tak sabar ingin menunjukkan hasil kerjanya. Direbutnya surat kabar itu dari tanganku, dan dengan cekatan dia mencari berita sambungannya, lantas menaruh kembali di pangkuanku.

KEKASIH TERSANGKA HISTERIS
RENCANA PERNIKAHAN TERANCAM BATAL

“Jadi sebenarnya, si tersangka ini melakukan pekerjaan itu atas suruhan orang?”

“Begitulah yang diceritakannya kepada pihak berwajib.”

“Kasihan, Susi itu sebenarnya perempuan yang baik.”

“Dan cantik!” Simeon menegaskan.

Aku tertawa. Baru kali ini aku bisa tertawa melihat tingkahnya.

“Eh, kenapa kau tertawa?”

“Kenapa kau tak coba dekati dia, On? Katamu dia itu cantik, bukan?”

“Ah, kau ini, mudah sekali bicara. Yang aku tahu, kau yang paling gatel kalau lihat perempuan cantik!”

“Bisa saja kau, On. Siapa yang mau sama lelaki sakit-sakitan macam aku ini?”

“Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan soal jodoh. Tak akan lari gunung dikejar,” dia masih saja tertawa-tawa. Nampaknya Simeon begitu bangga akan keberhasilannya membantu pihak kepolisian.

“Ada kabar apa di kantor?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Apa ya? Aku tidak terlalu memperhatikan. Hanya saja Alfa, senior kita itu, tampaknya tidak suka dengan aku.”

“Ah, bukankah dari dulu dia memang begitu? Aku pun sampai sekarang tidak pernah bisa mengerti jalan pikirannya.”

“Ya. Ya. Kau bagaimana? Kapan kau bisa bekerja kembali?”

“Dokter bilang satu – dua hari ini, aku sudah bisa pulang.”

“Baguslah itu. Supaya kita bisa bagi tugas.”

“Siap, Bos!” Jawabku sambil menghormat padanya.

Dan kami pun tertawa bersama.

+++

Di sebuah ruangan tertutup, Susi tampak begitu tertekan. Dia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan sedemikian susah. Harapannya akan sebuah pernikahan dengan Sasongko di ambang kehancuran. Sasongko, calon suaminya, kini tengah dikejar-kejar oleh pihak berwajib karena dia disangka telah membunuh Eko, seorang pelukis terkenal di negeri ini. Dia masih mengurai air mata di hadapan seorang penyidik.

“Benar, Pak. Saya tidak pernah tahu apa yang dia lakukan. Dia jarang menjumpai saya.”

“Tapi bukankah dia itu kekasihmu? Seharusnya kamu tahu apa pekerjaannya bukan?”

“Saya tidak tahu persisnya, dia bilang dia kerja bersama Rudi temannya itu untuk seseorang yang pada masa lalunya banyak berjasa bagi keluarganya.”

“Siapa dia?”

“Saya tidak tahu, Pak.”

“Namanya?”

“Saya tidak tahu, Pak. Sungguh.”

“Apa yang kamu ketahui tentang majikan, Bos atau apalah itu, dari pacarmu itu?”

“Mas Sas tak pernah menceritakannya.”

“Tak pernah mendengar namanya?”

“Tidak pernah sama sekali, Pak.”

Penyidik itu menunjukkan sebuah sapu tangan, yang ada bercak darahnya, di dalam kantung plastik bening kepada Susi.

“Punya siapa ini?”

“Punya Mas Sasongko, Pak.”

“Darah siapa yang membekas di situ?”

“Menurut Mas Sas, itu darah temannya Rudi.”

Wajah Susi sudah sedemikian pucat. Entah sudah berapa jam dia dibombardir pertanyaan seputar kekasihnya. Dan sudah beratus kali dia mencoba menghapuskan jejak air mata di pipinya. Tak lama kemudian, Susi pingsan. Orang-orang pun segera sibuk melakukan pertolongan.

+++

“Halo, Susi.”

Kutemui dia pada keesokan hari, karena kebetulan dia dilarikan ke rumah sakit tempat aku dirawat.

“Halo. Eh, Mas wartawan.”

“Panggil saya Danan saja.”

Aku berhasil menemuinya, karena kebetulan polisi yang menjaganya sudah kenal denganku. Dan kepadanya, aku bilang bahwa aku hanya ingin menghiburnya, meneguhkan hatinya. Bukan untuk mewawancarainya.

“Hari ini, aku diperbolehkan pulang oleh dokter,” kataku memulai pembicaraan.

“Oh, ya? Sakit apa?”

“Dokter bilang, ada kerusakan pembuluh darah di kepalaku. Tetapi bisa disembuhkan, kok. Makanya aku diperbolehkan pulang. Susi sakit apa?”

“Entahlah, Mas. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku stress.”

Aku menghampiri sebuah kursi yang tersedia di dekatnya, dan mendudukinya.

“Apapun yang terjadi, sebaiknya Susi tetap tabah.”

“Iya, Mas.”

“Yang aku tahu, kamu berbeda dengan Fa. Kamu periang.”

Ada rona memerah di kedua pipinya. Mudah-mudahan itu pertanda baik bagi jiwanya.

“Fa bilang begitu?”

“Tidak, tapi aku sering bertemu dengan mendiang Fa dulu.”

“Oh, iya. Bagaimana dengan pembunuhnya? Apakah sudah tertangkap. Siapa inisialnya dalam tulisannya?”

”Mr. S.”

Susi tercekat. Bola matanya terbelalak.

“Jangan-jangan?”

Aku mengetahui pikirannya, dan langsung menukasnya cepat-cepat,”Bukan. Dia, yang di-maksud oleh Fa, bukan kekasihmu itu.”

“Kenapa, Mas bisa begitu yakin?”

“Aku punya kesimpulan itu karena aku membaca semua catatan hariannya. Dalam catatan hariannya itu, dia menulis nama kekasihmu dengan nama yang lengkap. Tak disingkat.”

Susi masih belum hilang kekuatirannya.

“Apa yang dikatakan Fa tentang Mas Sas?”

“Tidak ada yang spesifik. Dia cuma menyebutkan bahwa Susi punya pacar bernama Sasongko.”

“Cuma itu?”

“Ya,” jawabku singkat.

“Aku..Aku takut, Mas.”

“Ssst. Jangan takut. Aku yakin Susi tidak terlibat dengan semua ini,” aku kembali menenangkannya. Dia menggenggam tanganku erat sekali. Dari genggamannya kurasakan betapa dia membutuhkan perlindungan.

“Susi sudah mendapatkan pengacara dari pihak kepolisian?”

“Sudah. Tapi dari kemarin dia belum juga datang.”

“Sabar saja, ya Sus. Aku tahu kau tidak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan berantai ini.”

Kuberanikan diri untuk membelai rambutnya. Dan tak kusangka, dia memeluk tubuhku, lalu menangis sejadinya. Maka kubiarkan saja dia menumpahkan segala kegelisahannya dengan menangis. Sesekali kubelai rambutnya dan kutepuk-tepuk punggungnya sambil mengatakan beberapa kata penghiburan.

Sebelum aku berpamitan pergi, dia meminta nomor telepon yang bisa dia hubungi sewaktu-waktu. Dia percaya kepadaku, dan dia berharap suatu saat aku bisa menolongnya melewati masa-masa sulitnya itu.

“Terimakasih, Mas. Saya agak lega sekarang.”

“Sama-sama. Jangan ragu-ragu meneleponku jika ada yang ingin Susi bicarakan.”

“Iya, Mas.”

“Semoga lekas sembuh, ya?” Kataku sambil kembali memeluknya.


(806, dan Segalanya Menghilang)

0 comments: