Seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan”
(Mazmur 33: 16)
“Hei, Nan. Kamu kenapa?”
“Aku juga tidak tahu, Dok. Tiba-tiba semuanya sudah terjadi.”
“Siapa yang melakukannya?”
“Gelap, Dok. Aku tidak bisa mengenali siapa pelakunya.”
Dokter Rossy menghela nafas panjang. Memegang tanganku. Mungkin saat itu, dia merasakan ada yang tidak beres dengan tanganku yang selalu bergetar ini.
“Ada sesuatu dengan jantungmu?”
“Entahlah, Dok. Tanganku memang selalu bergetar begitu.”
Aku menarik tanganku dari pegangannya. Teringat lagi olehku saat Miranti menarik tanggannya dari genggamanku sewaktu dia hendak melangkah ke anjungan pemberangkatan luar negeri di bandara.
“Kita tetap bersahabat bukan, Nan?”
Aku tak pernah menjawab. Seperti saat ini ketika Dokter Rossy mengucapkan selamat beristirahat dan semoga cepat sembuh. Entah kenapa, hampir semua perempuan yang aku kagumi satu persatu beranjak pergi. Dokter Rossy pun mengakhiri kunjungan singkatnya dengan alasan dia harus melakukan otopsi. Aku bergidik membayangkan jika aku mati tak wajar, tangannya yang lembut itu akan menari-nari di sekujur tubuhku dengan pisau bedah yang menyayat tajam.
+++
Simeon kembali menjengukku. Wajahnya sumringah.
“Berita baik, Nan,” katanya.
“Apakah penculikku sudah ditangkap?”
“Bukan. Bukan itu.”
“Lantas?”
“Pihak kepolisian berhasil mengidentifikasi para tersangka pelaku penculikan dan pembunuhan pelukis Eko.”
“Wah. Hebat. Kerja yang bagus.”
“Sebenarnya berkat banyaknya CCTV di bandara.”
“Oh.”
“Dan kau tahu, Nan?”
“Apa?”
Aku membetulkan posisi dudukku, dengan meletakkan sebuah bantal di punggung.
“Kedua tersangka itu mirip sekali dengan dua orang yang dicurigai petugas hotel.”
“Berarti benar, jika semua peristiwa itu ada hubungannya?”
“Ya. Yang kita beritakan selama ini, segala pembunuhan Rasida, Farina, dan Eko, semuanya berkaitan.”
“Berarti kecurigaan kita selama ini benar?”
“Ya. Semuanya mengarah kepada kesimpulan seperti itu. Untuk itulah Pak Zen telah membentuk tim lebih banyak lagi untuk menuliskan berita pembunuhan berantai ini.”
Kulihat ada binar di mata Simeon. Mungkin sebenarnya berita yang lebih besar sedang disimpannya. Sebagai kejutan! Aku terdiam menunggu dia berbicara kembali.
“Kau, Nan. Kau yang ditunjuk jadi ketua tim itu.”
“Tapi bukankah?”
“Ya. Pak Zen sudah memintaku untuk memimpin sementara tim selama kamu masih sakit.”
Aku tersenyum. Aku menangkap ada praktek diplomasi yang sedang dilakukan oleh kawanku itu.
“On, Aku mungkin masih beberapa hari lagi baru bisa keluar dari rumah sakit. Aku pikir lebih baik, Kau bilang ke Pak Zen, aku mengundurkan diri.”
“Lho, kenapa?”
Sebuah pertanyaan retoris. Aku sebenarnya tak ingin menjawab dan kembali tersenyum kepadanya.
“Kau saja yang memimpin,” akhirnya aku putuskan mempercepat negosiasi Simeon untuk mengambil alih pimpinan tim itu. Simeon tampaknya memang benar-benar mengharapkan posisi itu, dia segera mengambil tanganku dan menjabatnya erat-erat.
“Terimakasih, Nan. Tapi lebih baik, dan kau telepon saja ke kantor. Kau ngomong langsung ke Pak Zen!” Dia nyerocos begitu saja.
“On, aku rasa itu tak perlu. Cukup kau saja yang bicara sama Pak Zen. Yang penting, aku sudah pasti mengundurkan diri sebagai ketua tim.”
“Eh, tapi kau tak kenapa-kenapa?”
“Ya, tidaklah . Aku ini sedang sakit,” sahutku cepat.
Aku baru menyadari bahwa sedari tadi, Simeon hanya membicarakan Pak Zen, Wakil Pemred kami. Sepertinya sudah lama aku tidak mengetahui keberadaan Pak Gunawan.
“On, omong-omong, Pak Gun kemana?”
“Dia beberapa hari lalu, izin pergi ke luar negeri. Entah ada urusan apa, kita semua tidak ada yang tahu kabar beritanya.”
“On, bolehkah aku meminta tolong kepadamu?”
“Apa itu, Nan?”
“Sehari sebelum aku diculik, aku terima telepon dari Joe. Dia bilang, ada yang mengancamnya melalui telepon. Coba kau hubungi Pak Warno, maksudku Aipda Soewarno, untuk memastikan bahwa saksi Joe masih dilindungi.”
“Kenapa kau baru cerita sekarang?”
“Maaf, aku baru ingat. Lagipula, bukannya aku baru mendapat musibah.”
Simeon segera bangkit dari duduknya.
“Baiklah, aku akan segera ke kantor kepolisian!”
Tak butuh waktu semenit, punggung Simeon sudah menghilang di balik pintu kamar.
+++
Dokter yang menanganiku datang, kondisi seperti ini mengingatkan aku pada kisah-kisah masa kecil saat kami, aku, ibu, dan ayah, duduk bersama di meja makan. Ayah, sambil kami menikmati hidangan, bercerita kepadaku tentang hari penghakiman. Hari di mana Tuhan, Raja manusia, datang menghampiri kita dengan membawa sebuah kitab besar yang berisikan catatan kehidupan kita dari lahir sampai kita mati. Peristiwa yang amat menggentarkan hati. Demikianlah ayah mengajarkan kepadaku untuk bertanggungjawab atas segala tingkah laku.
“Selamat sore, Pak Danan.”
“Sore, Dok.”
Dokter Arif, demikian nama yang kubaca di tag di dadanya, membaca sebentar seberkas catatan medis yang diberikan oleh seorang perawat. Kemudian dia menghela nafas, dan tersenyum.
“Begini, Pak,” dia mengawali pembicaraan, kemudian melanjutkannya,”Berdasarkan pemeriksaan, sebelum mendapatkan kecelakaan, eh maaf musibah kemarin, Pak Danan ini sudah dideteksi menderita penyempitan pembuluh darah di bagian kepala.”
Aku tidak tahu harus berkata apa selain kuputuskan untuk mendengarkan penjelasan Dokter Arif ini dengan lebih seksama.
“Kondisi ini kemudian diperparah dengan beberapa pukulan yang Bapak terima dari peristiwa kemarin,” lagi dia mengambil nafas, sepertinya ada lagi berita yang lebih berat yang hendak disampaikannya.
“Ada beberapa pembuluh darah di kepala yang kemudian rusak.”
“Tapi saya merasa tidak apa-apa, Dok?”
“Mungkin belum merasakannya, Pak. Tetapi saya menduga dalam beberapa waktu lagi, Bapak akan lebih sering menderita sakit kepala yang hebat.”
“Ini baru dugaan atau?” Aku bertanya serius kepadanya.
“Bapak tak perlu kuatir, seiring dengan pengobatan dan asupan makanan yang bergizi, kerusakan itu dapat diperbaiki. Akan tetapi perlu waktu.”
“Jadi saya sudah bisa pulang, atau…”
“Dalam dua atau tiga hari lagi, nanti kita lihat perkembangannya, Bapak sudah dapat pulang ke rumah.”
Untunglah, segala sesuatu yang menakutkan cepat berlalu. Tapi aku sekarang kuatir dengan janjiku kepada mendiang Farina karena aku yakin tidak akan bisa menepatinya. Sekarang teman-temanku sudah bergerak cepat bersama pihak kepolisian untuk segera menangkap mereka yang telah membunuhnya.
Tapi mungkin ini yang memang harus terjadi. Aku mungkin tidak disiapkan untuk menghadapai segala peristiwa ini sendirian. Dan mungkin inilah rencana yang sebenarnya dari Tuhan, aku disakitkan sedangkan teman-temanku digiatkan untuk bersama-sama dengan pihak kepolisian mengungkap sebuah kejahatan.
Lalu aku teringat kembali pada gambar-gambar rekaan yang ditunjukkan oleh Pak Warno kepadaku. Dia yang wajahnya direka oleh penyidik kepolisian adalah orang yang datang setelah aku memeriksa kamar Farina. Dia itu kekasih Susi!
Aku memang melihatnya selintas, sesaat sebelum aku beranjak pergi dari rumah pondokan itu. Ada hal yang tidak dapat aku lupakan dari orang itu, sebuah kulit yang melingkari lehernya!
Tas yang tadi dibawa oleh Simeon waktu menjengukku, segera kuaduk isinya untuk mencari telepon genggam. Aku harus segera menghubungi Simeon untuk memberitahu pihak kepolisian, kemungkinan, salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh tersangka.
+++
“Ya, Nan. Gue masih di tempat Pak Warno. Ternyata memang wajar kalau kauculik ya? Kata Pak Warno, Kau memang terlalu banyak tahu …ehh?”
Simeon segera menghentikan bualannya ketika aku tanpa sabar menyela pembicaraannya dengan menyebutkan informasi yang aku ingat tadi.
“Apa? Serius? Kau lihat sendiri orangnya? Kapan?”
Simeon terus saja bertanya-tanya, sedang aku pun tak memberinya kesempatan dengan terus menceritakan pengalamanku bertemu dengan salah seorang tersangka.
“Baiklah, aku coba bilang ke dia kalau …,” Simeon melirik ke Pak Warno.
Pak Warno kemudian memberi isyarat kepada Simeon, menitipkan pesan kepadaku supaya aku cepat sembuh.
“Ya. Oh ya, Pak Warno bilang, cepat sembuh!”
Simeon menutup pembicaraan.
Simeon mendekatkan dirinya pada Pak Warno, lalu berbisik kepadanya apa yang telah aku katakan di dalam pembicaraan telepon. Tidak berapa lama ada perubahan di wajah Pak Warno. Dia pun berdiri.
“Kamu serius? Danan yakin kalau itu orang yang dia lihat?”
“Benar, Pak. Dia bilang dia sendiri yang berpapasan dengan orang itu.”
“Aku coba koordinasi dulu dengan atasan. Semoga bisa segera dikirimkan tim pengintai. Atau kau mau melakukannya untuk kami?”
Simeon kaget, baru pertama kali dia dimintai tolong menjadi tim pengintai kepolisian.
“Danan itu sering melakukannya, dulu waktu dia baru-baru jadi wartawan, makanya kami bisa akrab seperti sekarang.”
Ah, pantas saja dia punya banyak teman di kepolisian! Simeon berkata dalam hati.
Aku pun harus berani melakukan hal yang sama! Tekadnya.
“Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu.”
“Tunggulah dulu sebentar, aku mau ke tempat atasan. Siapa tahu kau tak perlu melakukan,” kata Pak Warno tanpa bermaksud mengecilkan hati Simeon. Selanjutnya, dia segera meninggalkan Simeon yang sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera pergi ke alamat yang tadi kuberitahukan.
(806, dan Segalanya Menghilang)
0 comments:
Post a Comment