Monday, May 26, 2008

Diary Luka

Sudah berapa lamakah
musim ini memenjarakanmu,
wahai rumah yang
selalu menutup pintu?

(Petikan Sajak: “Jejak di Tangga”.
Diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”,
karya Hasan Aspahani)

Memang aku sudah lama menutup pintu hatiku. Tapi hal itu kulakukan karena aku begitu mencintai Miranti. Buku puisi yang kupegang kembali kubaca pelan-pelan di halaman sajak itu. Bahkan tanpa sadar aku sudah mulai menyuarakannya meski lamat-lamat. Di sebelah sana kulihat Joe sedang membereskan beberapa gelas.

Ada yang perlu ditambahkan lagi, Pak?” Suara pelayan mengagetkan aku.

Sejenak kutatap wajahnya. Bukan Farina. Setiap aku ke café ini, aku selalu ingin Farina yang melayaniku karena aku rindu untuk melihat keteduhan di matanya yang selalu berbinar itu. Apakah ini perasaan cinta? Tapi segera kutepis dugaanku itu. Paulina pun selalu berbinar bola matanya. Bahkan ketika dia sedang melontarkan celaan yang garing kepadaku. Aku mencoba mencari binar itu pada sepasang mata yang terdapat pada wajah pelayan yang menghampiriku ini.

“Dewi?” Betapa bodohnya aku menyebutkan nama yang tertulis di tag yang terpasang di dada kirinya.

“Ya? Saya Dewi, Pak. Ada yang perlu ditambahkan?”

Jika saja aku bisa melihat wajahku sendiri dalam sebuah cermin, tentunya akan kudapati pias merah jambu di dua belah pipiku karena malu.

“Ehm, saya bisa minta French fries?”

“Satu porsi French fries ya, Pak. Baik.”

Dengan tangkas tangannya mencatat pesananku di atas lembaran kertas order, menyobeknya, dan segera berlalu dari hadapanku. Rupanya pemilik café ini benar-benar membuat karyawannya tertib untuk mengerjakan segala pekerjaan. Tidak bertele-tele dengan tamu. Saat ini aku merasa kehilangan teman bicara.

Telepon di tempat bartender berdering. Joe dengan sigap mengangkatnya. Tak lama kemudian aku lihat dia tampak begitu terperanjat. Mungkin dia menerima berita yang tidak begitu baik. Order yang terlambat datang dan tak dibayar oleh pemesan atau ada pesanan yang salah kirim. Hal seperti itu sudah terbiasa terjadi.

Aku perhatikan Joe tidak sedang kaget biasa. Dia sedang mengalami shock. Telepon di tangannya terlepas begitu saja. Hampir saja mengenai sebotol Martini yang hendak diolahnya. Aku segera berdiri. Firasatku mengatakan ini berita buruk!

“Ada apa Joe?”

“Fa, Pak. Fa. Dia ditemukan persis seperti Rasida Alma!” Joe pun menangis histeris.

“Fa?” Kembali aku bertanya.

Tuhan! Kenapa Farina bisa meninggal dengan tragis begitu?

“Di mana?” Kulihat Joe mencopot celemeknya, melemparkannya dan hendak segera berlari. Dengan sigap aku mengambil dompetku. Mengeluarkan beberapa lembar uang, meninggalkannya di meja bartender dan segera membuntuti Joe yang tidak menjawab pertanyaanku. Joe berlari ke arah ruang kantor manajemen café.

Aku tertahan di pintu ruang kantor. Seorang satpam menahanku masuk. Di dalam ruangan kudengar tangisan Joe meledak. Seorang, mungkin manajer café, pun terlihat sibuk menelepon. Sepertinya ke kantor kepolisian terdekat. Tak lama Joe dan orang itu pun keluar. Di dekatku, Joe mengatakan sebuah alamat. Hotel yang sama dengan hotel ditemukannya Rasida Alma!

Aku segera mengambil telepon genggamku. Kuhubungi kantor Delik Metro.

“Delik – Metro, Selamat pagi.”

“Na, hubungkan aku dengan Pak Gun, segera!”

“Baik, Nan.”

Kembali kudengar nada tunggu sebelum akhirnya suara Pak Gun terdengar.

“Ada berita apa, Nan?”

“Seorang saksi Rasida Alma ditemukan tewas, Pak!”

“Di mana?”

“Hotel yang sama. Saya hendak ke sana.”

“Baiklah. Kutunggu laporanmu.”

Aku, Joe, dan manajer café, yang akhirnya kuketahui namanya, Ruslan masuk dalam mobil. Joe masih terguguk menahan tangisnya supaya tidak meledak. Dari tangisannya, aku menduga Joe mencintai Farina.

“Tabah, ya Joe.” Ruslan menasehati Joe.

Joe tidak berkata apa-apa. Aku kembali bertanya dengan pelan.

“Joe, kamu tahu kapan kamu melihat Fa?”

“Kemarin sore, setelah Anda datang.”

“Maksudmu, setelah saya ke sana dia tidak bertugas malam?”

“Katanya ada urusan yang harus diselesaikan. Soal uang.”

“Apakah dia terjerat hutang?”

“Setahuku tidak, Pak. Tapi dia bilang sama saya kalau dia punya urusan yang bersangkutan dengan uang harus dia selesaikan.”

“Kamu tidak tahu orang yang hendak ditemui?”

“Aku tak tahu, Pak.”

Aku menghela nafas. Tanganku pun kembali bergetar. Lagi-lagi tremor! Aku benci jika ini terjadi. Kulihat Ruslan mencuri pandang pada kedua tanganku yang bergetar.

“Anda sakit?” Ruslan bertanya.

“Ah, tidak. Tidak apa-apa.”

“Oh.”

Hanya itu percakapan terakhir yang kudengar di dalam mobil. Selebihnya yang ada hanyalah isak Joe saja. Kami pun segera bergegas membuka pintu ketika supir menghentikan mobil, tanda kami sudah sampai ke tempat tujuan. Aku melihat Simeon berdiri bersama seorang petugas kepolisian.

“Hei! Kebetulan kau nongol. Langsung ke Forensik aja deh. Semua yang ada di sini sudah ku cover.”

“Bagaimana detailnya?” Aku tidak memperdulikan ucapannya.

“Korban tewas dengan cara dijerat lehernya. Dan itu dilakukan saat korban sedang mandi. Rupanya, sebelum dijerat korban sudah mengalami perkosaan.”

“Dia bernama Farina. Pelayan café yang juga narasumberku.”

“Hah?” Simeon membelalakkan mata. Sejurus kemudian dia membisikiku.

“Kau tidak lapor polisi soal itu?”

“Aku pikir dia itu dalam situasi yang aman.” Aku balas membisikinya.

“Ah, Kau! Hari gini bermain-main dengan gaya Sherlock Holmes. Basi tau!”

Aku menyeret dia menjauh dari petugas polisi itu.

“On, aku tidak menduga jika si pelaku pembunuhan Rasida akan mengincar para saksi yang bertemu Rasida malam itu…”

“Nan, berarti saksi satunya pun harus kau lindungi!”

Aku melirik ke arah Joe yang sedang dimintai keterangan oleh petugas.

“Aku pikir, malam ini Joe dalam situasi yang aman. Bukankah pastinya dia dibawa ke kantor polisi?”

“Joe?”

“Ya. Dia. (Aku menunjuk ke arah Joe). Dia juga melihat Rasida malam itu.”

“Ok. Sekarang mending kau temui Dokter Rossy.”

Aku mendengus. Entah karena kesal merasa diperintah oleh Simeon yang notabene masih satu level denganku. Sesama wartawan.

“Baiklah. Sampai ketemu di kantor.”

“Ok. Nan.”

Kulihat Simeon pergi ke arah petugas polisi yang sedang memeriksa Joe dan Ruslan. Dia kemudian terlibat pembicaraan dengan mereka. Aku baru menyadari bahwa di depan hotel itu sudah tidak ada mobil ambulans, berarti mayat Farina memang sudah dibawa ke Rumah Sakit.

Kukeluarkan telepon genggam dari saku. Mencari nama Dokter Rossy. Dan memijit tombol hijau bergambar gagang telepon.

“Hai, Nan. Mau ke sini ya?”

“Ya. Dok...”

“Segeralah. Mayatnya ada di depanku sekarang.”

Aku tak menjawab lagi. Segera kumatikan sambungan telepon dan bergegas ke arah stasiun kereta Metro terdekat dari hotel.

+++

“Hai. Kucel amat tampangmu, Nan!”

“Udah deh Na. Suntuk nih…”

“Sorry ya, Nan.”

Wajah cantik Paulina tiba-tiba terlihat begitu biasa bagiku. Kesedihan karena kehilangan seseorang yang baru dekat denganku membuat segala sesuatu semakin hambar rasanya. Sel-sel kelabu di otakku kembali menginapkan kesepian. Bahkan kali ini begitu kelam. Tadi di Rumah Sakit pun suara sexy Dokter Rossy yang cerewet tak mampu mengalihkan perhatianku pada derita yang dialami oleh Farina.

“Pak Gun mana?”

Gak tau tuh. Hari ini, dia pulang cepat.”

“Masih sore gini? Kemana ya?”

“Katanya ada urusan.”

“Terus yang ditugasi memimpin meeting berita kali ini siapa?”

“Ya, Pak Zen dong. Bukankah dia itu Wapemred.”

Ada?”

“Aduh. Nanya melulu. Orang baru ya?” Paulina kembali meledekku.

Entah mengapa tiba-tiba ledekan Paulina membangkitkan semangatku. Jadi mood lagi untuk menulis. Sengaja kusentuh pipinya. Dan dengan gerakan seperti hendak mencium, kudekatkan wajahku.

“Ih, ganjen-nya keluar deh! Udah sana, ditungguin meeting juga!” Dia menampik tanganku.

Aku tertawa. Ada kalanya aku memang butuh sentuhan wanita. Tak bisa kupungkiri itu.

Meskipun di dalam hatiku begitu mendamba bahwa hanya Miranti saja yang akan sering menyentuhku. Mengucapkan beberapa kata-kata ledekan atas kekonyolan tingkahku. Sekaligus bermanja-manja denganku. Bukan Paulina atau pun Dokter Rossy atau…Farina! Aku kembali mengingat dia. Pelayan café yang baru kukenal beberapa hari ini. Senyumnya begitu menawan. Ada binar di matanya yang tak kutemui di mata Paulina, meski mata Paulina pun berbinar selalu, karena pada saat aku dan Dokter Rossy berkencan di café itu binar itu bisa tiba-tiba surut dari matanya. Mungkinkah dia jatuh hati padaku? Farina…

+++

Foto-foto itu bergetar di tanganku. Semacam kutukan kurasakan tremor yang menjalari kedua tanganku ini. Setiap kali aku merasakan emosi tak ayal lagi kedua tanganku bergetar hebat. Foto-foto mayat Farina tampak hidup dengan getaran-getaran tanganku. Aku mulai berimajinasi bahwa yang kulihat adalah Farina yang sedang menggelepar melepas ajal. Kedua mataku mulai berembun. Dua tetes air mata mengalir turun. Apa yang membuat Farina harus mengalami kematian seperti ini?

Ada lebam di kedua matanya. Sepertinya dia habis dipukuli. Lebam yang sama terlintas di pikiranku. Waktu itu Miranti memintaku mengantar mamanya ke Rumah Sakit. Aku tak tega melihat wajah tua yang masih membekas guratan kecantikan itu bengkak-bengkak. Miranti menggerung meratapi nasib mamanya tetapi wanita itu hanya berdiam diri.

“Tante harus lapor ke polisi. Ini sudah tindak penganiayaan!” Ujarku saat itu.

Tante Aline, mama Miranti, tetap diam saja. Pipinya penuh air mata.

Dan selepas Tante Aline dibaringkan di ranjang rumah sakit serta dirawat dokter, Miranti merebahkan kepalanya di pundakku.

“Aku harus berbuat apa, Nan?”

“Kau yang harus melaporkan ini kepada polisi.”

“Dan memaksa Mama menceraikan Papa?”

“Aku tidak bilang begitu, tapi biarkanlah Papamu mengikuti semacam tes atau rehabilitasi.”

“Papa tidak sakit, Nan!” Miranti memprotes perkataanku.

Aku mencari tatapannya.

“Ranti, Papamu memang tidak sakit. Tapi dia perlu semacam konsultasi ahli untuk menghilangkan tindakan kekerasannya!”

“Itu sama saja menuduh Papaku sakit, Nan!” Dia mulai menangis.

“Apa kamu tidak kasihan melihat Mama Aline selalu jadi pelampiasan kemarahan Papamu?”

“Aku...” Miranti tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa meneruskan tangisnya dan mencari pundakku kembali.

Aku hanya bisa menghela nafas. Seandainya saja Miranti bisa mengerti bahwa papanya memang sakit. Dia tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dan itu sangat berbahaya.

“Nan.” Suara Pak Zen mengagetkan aku.

“Eh. Ya, Pak?”

“Kau sudah kasih tahu ke petugas bahwa nyawa Joe pun bisa terancam?”

Aku tergugup.

“Saya sudah bilang ke petugas, Pak!” Suara Simeon terdengar.

“Oh. Ya sudah. Berarti sekarang tinggal menyelidiki ada hubungan apa antara korban dengan si pembunuh. Soalnya dari keterangan narasumber yang ada, semuanya mengarah pada suatu urusan uang. Mungkin kau bisa datang ke tempat tinggal korban, Nan?”

“Siap, Pak!” Alih-alih menutupi lamunanku, aku agak berteriak menjawabnya. Peserta meeting ada yang tersenyum melihat hal itu.

“Ok. Besok kau kerjakan itu, ya!”

Meeting selesai. Aku masih terpaku dengan foto-foto di tanganku. Sekali lagi aku teringat pada halaman-halaman luka yang menoreh perjalanan hidup Miranti hingga akhirnya dia selalu bimbang dalam hubungan antara lelaki dan perempuan. Dan foto-foto itu kembali bergetar.

Alfa, yang kuketahui setelah mendengar suaranya, tiba-tiba merebut foto-foto itu.

“Cantik juga. Jangan-jangan kau naksir ya?”

“Kau gila kali! Ini foto mayat, masa aku naksir?”

Dia menepuk pundakku. Lantas berkata lagi, “Daripada kau tunggu Miranti-mu itu, lebih baik kau tembak saja Dokter Rossy! Dia cantik bukan?”

Tahu darimana dia soal Dokter Rossy itu cantik?

Aku terbengong-bengong mendengar omongannya. Kulihat dia tersenyum, entah apa maksud senyumannya itu. Aku tak mengerti. Sama halnya dengan ketidakmengertianku: “Kenapa Fa harus mati?”

(806, dan Segalanya Menghilang)

0 comments: