Pintu Kedatangan Luar Negeri
“Perjalanan ini terasa begitu melelahkan. Apalagi ditambah aku sedang memikirkanmu. Lelaki yang selalu mencintaiku dengan sepenuh hati,” Miranti mencari tempat duduk untuk melepaskan sedikit ketegangan seusai perjalanan. Dia mampir ke kios Koran dan majalah, barangkali dia bisa mendapatkan berita yang menyejukkan. Beberapa waktu lalu, Danan menceritakan tentang berbagai pembunuhan yang tengah dituliskan beritanya. Kematian Rasida Alma, juga kematian Eko Wahyu Baskoro, pelukis yang pernah dijumpainya di Kyoto. Sungguh berita yang tidak menyenangkan. Kali ini dia terpikir untuk mencari sebuah berita yang berhubungan dengan seni dan budaya, barangkali ada sajak-sajak baru yang bisa diperlihatkan kepada Danan.
Setelah memilih beberapa majalah, dia mengambil sebuah. Gambar sampulnya surealis, seseorang dengan sepasang sayap di punggungnya (malaikatkah?) tidur di dalam keranjang sampah. Di sebelahnya seekor anjing menggigit televisi. Miranti pun segera membayarnya dan segera mencari tempat duduk. Diraihnya telepon genggam. Dia mencoba menghubungi Danan. Tak ada nada sambung, yang didengarnya adalah suara mesin
“Nomer yang anda tuju belum terpasang. Cobalah beberapa saat lagi.”
Lalu dicobanya untuk mengirimkan pesan pendek. Namun lagi-lagi yang diperolehnya adalah balasan bahwa pesan pendek tertunda dikirim. Selalu saja begitu, dari sejak malam saat dia mencoba menghubunginya dua kali.
“Kemanakah dia?”
Benarkah Danan sudah melupakannya? Tapi, bukankah Danan sudah pernah berjanji kepadanya untuk tetap menjadi sahabatnya?
Akhirnya dia menyerah, dihubunginya nomor rumahnya sendiri.
“Mama? Oh, Papa ternyata. Pa, Ranti sudah sampai di bandara. Ranti boleh minta tolong untuk dijemput? Oh..Boleh. Boleh. Sejam lagi ya? Baik. Terimakasih, Pa.”
Lalu dibukanya satu per satu halaman majalah yang tadi dibelinya. Tapi dia sama sekali tidak menyangka akan melihat apa yang kini tengah dilihatnya! Pada halaman puisi, tertulis tiga buah puisi yang ditulis oleh seseorang bernama Janadarya Naya. Salah satu puisinya, dirasakannya menyiratkan kesedihan yang teramat dalam.
Puisi Janadarya Naya
Dan Inilah Sepi yang Kaumaksud
Ketika Malam tak Melahirkan Bulan
Kita hanyalah sesuatu yang meruam
di lingkaran susu Ibu, tubuh yang ketika malam
tak melahirkan bulan, kita taburi dengan
air hujan yang luruh diam-diam
Maafkan kami menyeludup di palungan, Tuan
Sebab kupikir hujan di halaman
masih ingin bermain dengan kenangan
menangkupi setiap percik, memeluk segala rintik
Dan inilah sepi yang Kaumaksudkan
sebagaimana bayangan dan bulan
berpasangan, pun rintik dan hujan
Maka kami biarkan Tuan menjadi,
membasahi selimut kami,
dan meniduri gadis-gadis mimpi
Ubud, 2007
Pada profil penyairnya ada sebuah foto. Jantung Miranti berdesir! Wajah di dalam foto itu mirip sekali dengan Danan. Hanya saja dia berkumis dan berjenggot lebat. Kulitnya pun lebih gelap. Mungkinkah dia adalah Danan?
Miranti memperhatikan dengan seksama nama penyair itu; Janadarya Naya. Ah, kenapa sepertinya ini sangat mencurigakan. Miranti pun mencoba mengacak susunan huruf dari nama penyair itu. Memecahkan sebuah anagram;
J-A-N-A-D-A-R-Y-A-N-A-Y-A
Dirangkainya hingga menjadi;
A-R-Y-A-D-A-N-A-N-J-A-Y-A
Pas sekali!
Tapi, apakah benar dia adalah Danan?
Lagi, Miranti mencoba menghubungi semua nomor yang pernah Danan berikan kepadanya, termasuk nomor kantor. Operator kantor tempat Danan bekerja akhirnya memberikan penjelasan bahwa Danan sudah lama tidak pernah kelihatan masuk kerja. Dengan lemas, Miranti menutup pembicaraan.
Kemanakah engkau, Danan?
Dari telepon genggamnya tiba-tiba terdengar lagu “Savior” Anggun. Dilihatnya nomor yang tertera di layar telepon genggamnya itu.
Nomor telepon genggam Papa!
“Ya. Sebentar, Pa. Sebentar lagi Ranti ke luar.” Bergegas dia menyambar tas, dan pergi melangkah.
Angin yang menghantar udara tropis yang panas segera menerpa pipinya. Tapi bukan karena itu kedua matanya terasa panas. Pandangannya pun berembun. Tanpa bisa dicegah sepasang air mata luruh di pipinya. Ranti menangis. Dan ketika dilihatnya papa dan mamanya berdiri di dekat mobil, Ranti pun menghambur ke arah mereka.
Di pelukan kedua orangtuanya, Ranti masih menangis. Entah karena haru melihat kerukunan kedua orangtuanya, atau dia bersedih karena kehilangan seseorang yang sangat mencintainya.
--- TAMAT ---
(806, dan Segalanya Menghilang)
0 comments:
Post a Comment