Monday, May 26, 2008

Janji Sehidup Semati

Kesetaraan bukan hanya menuntut perlakuan yang sama
dengan orang lain, tapi juga memperlakukan diri kita
serupa dengan cara kita memperlakukan orang lain.

-- Marlo Thomas --

Sebenarnya aku sudah tak ingin menyentuh rokok sedikit pun, tapi tekanan pekerjaanku benar-benar membuat aku mencari sebuah bentuk pelarian. Di meja biasa aku duduk, di café tempat biasanya aku sarapan, aku menyesap rokok lagi. Tapi buru-buru aku matikan lagi, karena ada nada di telepon genggamku yang mengisyaratkan ada pesan pendek yang masuk. Miranti!

Aku kembali teringat saat kami masih duduk di bangku akhir kuliah, sering sekali aku mengiriminya pesan-pesan menenangkan. Hal itu aku lakukan lantaran aku ingin sekali dia terbebas dari salah bersalahnya telah mengirimkan papanya sendiri ke sebuah pusat rehabilitasi. Itulah langkah terakhir yang banyak diusulkan oleh dokter-dokter yang mengobati sakit mamanya. Namun Miranti kadang beranggapan bahwa hal itu tidak seharusnya dilakukan. Semacam perceraian semu antara papa dan mamanya.

Salah satu pesan pendek, yang waktu itu aku kirimkan, berbentuk puisi penyair kesayangan kami;

Muasal Mula Hukuman

BUKAN pengusiran itu yang sungguh menyiksakan,

bukan kehilangan surga itu yang terlalu disesalkan,

tapi rindu, ya, rindu tersebab dipisahkan oleh Tuhan,

(bagi Adam dan Hawa) Itulah muasal mula hukuman.

(Sajak: “Muasal Mula Hukuman”, diambil dari buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”, karya Hasan Aspahani)

Mungkin karena ada kata “Tuhan” dalam puisi itu yang membuat Miranti kembali tegar. Tapi yang jelas, dia setelah lama mencoba memaknai pesan puisi itu, dia berkata; “Aku akan mencoba untuk tabah, apapun yang terjadi dengan keluargaku.”

Kali ini, pesan dari Miranti cukup membuatku merasa heran. Kenapa seakan-akan kami dipertautkan kembali secara tiba-tiba dengan kematian seorang penyanyi? Dia mengabarkan bahwa pelukis yang beberapa waktu lalu menyatakan cinta kepadanya ternyata adalah mantan kekasih penyanyi itu. Dan dia bilang bahwa sekarang pelukis itu, Eko Wahyu Baskoro, sudah berada di Indonesia untuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian mengenai hubungan asmaranya dengan Rasida. Sejujurnya aku bingung bagaimana hendak membalas pesan pendek Miranti ini. Akhirnya kuketikkan kata-kata biasa saja;

thx 4 ur info. btw I really miss u.

Dan sudah kuduga, tak ada balasan lagi. Tremor di tanganku kembali terasa ketika aku mengangkat cangkir kopi susu yang hampir dingin. Aku harus segera pergi dari tempat ini, dan menanyakan keberadaan Eko pada Pak Warno. Barangkali dia sudah memeriksa keterangannya. Sambil melambai ke arah Joe yang tengah membereskan gelas, aku meninggalkan café itu dengan langkah yang cepat.

+++

“Capek ya, Mas Sas?”

Susi melihat wajah Sasongko demikian lesu.

“Iya, Sus. Mau gak pijitin aku?”

“Aduh. Mas Sas datangnya mendadak sih. Aku mau kerja, Mas.” Susi cemberut.

“Kamu libur atau bolos saja deh.”

Sasongko menjatuhkan dirinya di atas pembaringan Susi. Sementara di meja rias, Susi tengah merapikan alisnya.

“Ya tak enak saja. Kerja kok bolos?”

“Tenang saja, Sus. Hari ini, aku punya uang banyak!” Sasongko mengeluarkan sebuah amplop coklat yang kelihatan tebal dari balik saku jaketnya. Dia melemparkannya ke ujung ranjang. Susi hanya melirik saja.

“Itu lebih dari gajimu selama tujuh bulan, Sus.”

Susi berhenti dari aktivitasnya. Dia menghampiri amplop itu, lalu memungutnya.

“Ya ampun. Banyak banget, Mas?”

Sasongko terkekeh.

“Cukup gak buat modal nikah?”

Susi kini menghampiri Sasongko, kemudian dia ikut berbaring di sebelahnya.

“Emang bener, Mas Sas mau nikahi aku?”

Sasongko meraih kepala Susi dan mencium keningnya.

“Aku cinta kamu, Sus.”

Susi tidak menjawab perkataan Sasongko. Diletakkannya kepalanya di dada Sasongko. Hatinya berbunga-bunga. Impiannya untuk segera menikah akan segera terwujud.

+++

“Bisa kita lacak di mana keluarganya?”

“Perlu waktu, Nan.”

“Aduh. Apa ya di Negara ini yang bisa dilacak dengan cepat?”

“Jangan menggerutu begitu. Semua perlu waktu.”

“Tapi ini penting.”

“Masih banyak hal penting yang lain, Nan.” Pak Warno tertawa.

Aku tengah dilanda kebingungan, sebab ternyata Eko tak pernah menginjakkan kakinya di kantor polisi tempat dia akan dimintai keterangan. Menurut Pak Warno, tadi malam Eko sudah dijemput ke bandara. Namun perwira polisi yang ditugasi untuk menjemputnya pulang dengan tangan hampa karena Eko tak dapat ditemukan.

“Kita tunggu dalam waktu 2 x 24 jam. Jika memang dia tidak ditemukan, keluarga Eko berhak menghubungi pihak kepolisian untuk menyatakan bahwa dia telah hilang.”

“Apakah dia pergi ke makam Rasida?”

“Bisa jadi, Nan. Mari kita ke sana!”

+++

Susi beranjak dari tempat tidur, sementara Sasongko tertidur mendengkur. Dia menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selimut, mereka baru saja bercinta. Dia tidak ingin membangunkan Sasongko, maka langkahnya pun bersijingkat. Tapi jaket kulit Sasongko menghalangi kakinya, dan akhirnya dia terjatuh karena kakinya tersangkut.

“Apa ini?” Susi melihat sebuah saputangan dengan noda kemerahan.

Susi mengamati saputangan itu.

“Ini bukan bekas lipstik. Ini…Ini…bercak darah!” Susi memekik tertahan. Dia takut Sasongko terbangun. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Susi tercekam rasa ketakutan.

“Apa yang telah dilakukan Mas Sas?”

Lama dia tertegun. Sebelum akhirnya dia mencoba menepis kecemasan dan ketakutan dalam pikirannya. Suara shower segera terdengar. Setelah dia membasuh dan menyabuni badannya, pikirannya agak tenang. Namun kecurigaan bahwa Sasongko telah berbuat sesuatu yang jahat kembali menyerangnya. Dia takut untuk keluar dari kamar mandi.

+++

Sebuah nada dari telepon genggamku kembali terdengar. Kali ini dari kantor. Suara Paulina yang kenes segera saja masuk ke telingaku.

“Dicari Pak Zen, tuh.”

“Ada apa?”

“Dia menanyakan kamu sedang di mana?”

“Bilang saja ke dia, aku sedang bersama Pak Warno. Kami hendak ke makam Rasida.”

“Ada apa di sana?”

“Belum tahu. Katakan saja sama dia, aku sedang mencari berita.”

“Baiklah, nanti aku sampaikan. Oh iya. Pak Gun juga bilang, coba selidiki apa yang diketahui oleh narasumber kamu yang bartender itu, apa yang dia ketahui tentang Farina, pelayan itu. Seberapa dekat dia dengannya.”

“Ya. Nanti aku tulis. Aku sudah punya datanya kok.”

“Iya. Iya. Jangan ngambek gitu, ntar cepet tua lho...” Dia menggodaku.

“Satu lagi…”

“Apa?”

“Kamu sudah terima undanganku belum?”

“Undangan? Undangan apa?”

“Pertengahan minggu depan, aku akan married?”

Aku tertawa.

“Lho, kamu kok tertawa sih?”

“Yang, bukannya aku belum siap. Kok kamu sudah nyebarin undangan sih?”

“Sialan kamu!”

Dia pun tertawa.

Lumayanlah ada hiburan di tengah-tengah segala sesuatu yang terjadi dan yang mengerikan ini. Belum habis tawaku, tiba-tiba Pak Warno berteriak.

“Lihat! Ada mayat!”

Sesosok tubuh tinggi kurus, berambut panjang dan mengenakan berjaket panjang, tertelungkup di atas sebuah makam. Makam Rasida. Dari luka-luka sayatan di kedua pergelangan tangannya, tampak sepertinya kematiannya disebabkan oleh usaha bunuh diri atau dikesankan seperti itu.

Pak Warno segera menelepon ke kantor, minta segera dikirim tim forensik.

“Jangan sentuh apapun!” Perintahnya.

Tanpa diminta aku pun tahu peraturan itu. Segera aku keluarkan kamera dan sibuk memotret mayat di atas makam Rasida itu.

“Hei, lihat! Ada surat!” Teriakku pada Pak Warno yang sibuk meneliti jejak-jejak langkah sekitar tempat itu.

Selembar kertas tampak basah oleh embun semalam, dan tintanya pun banyak mulai membayang, mengaburkan beberapa kata. Sebelum menelitinya dalam jarak dekat, terlebih dahulu aku memotretnya. Juga mencoba membaca. Rupanya aku masih bisa membacanya dengan baik, karena kata-kata yang kabur itu tidaklah terlalu sulit untuk ditegaskan bentuk huruf-hurufnya.

“Seperti yang pernah aku janjikan kepadamu, Sayang.
Bahwa aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan raga.
Maka biarkanlah aku menyusulmu ke alam baka.”

(806, dan Segalanya Menghilang)

0 comments: