pulang lagi kepada musim penghujan
: Tetesan tangismu, menggelincirkan.
(Sajak: “Kenangan Setengah Jalan”,
diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”,
karya Hasan Aspahani)
Aku tak akan pernah bisa melupakan kenanganku tentang Farina, meskipun kami bertemu dan berkenalan dalam hitungan hari saja. Matanya yang begitu berbinar, seakan-akan mengatakan bahwa dia adalah perempuan yang paling sempurna untuk sebuah kata cinta. Mata adalah jendela hati, demikianlah sebuah pepatah, dan lewat sebuah pandangan mata saja banyak hal akan bisa terjadi. Dulu ketika masih kuliah, aku begitu menyukai Miranti karena dia memiliki mata yang indah seperti mata Rasida. Aku paling sering memperhatikan kerling mata Paulina di kantor. Bagiku, kecantikan seorang perempuan lebih ditentukan dengan keindahan bola matanya.
Dahulu, pernah kubaca sebuah kisah menyedihkan tentang kecantikan mata. Seorang perempuan alim yang begitu takut Tuhan menyerahkan kedua bola matanya kepada seorang pemuda yang sering memperhatikannya. Pemuda itu begitu menyukai kecantikan mata sang perempuan. Lalu, alih-alih mengingatkan kepada pemuda itu akan cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta kepada Tuhan semata, perempuan itu mencukil kedua bola matanya. Kisah yang mengerikan bukan?
Kengerian yang sama aku rasakan juga saat ini. Saat memandangi kembali foto-foto mayat Farina yang diambil dari hotel, yang berserakan di meja Pak Warno. Untunglah rasa itu segera harus berakhir, setelah Pak Warno duduk dan memperlihatkan gambar-gambar lain.
“Apa itu?” Tak sabar aku bertanya kepadanya.
“Ini gambar rekaan orang yang menyewa kamar hotel pada malam terbunuhnya Rasida.”
“Mereka tidak punya kamera CCTV ?”
“Ada. Tapi sudah hampir tiga tahun tidak dioperasikan.”
“Wah, kacau sekali hotel itu!”
“Lalu ini, ini adalah gambar rekaan orang yang menyewa kamar hotel pada malam saat Farina terbunuh.”
“Hasil interogasi petugas hotel, Pak?”
“Ya. Coba kau perhatikan baik-baik kedua gambar itu. Bukankah matamu masih awas. Bagaimana menurutmu?”
“Kedua gambar ini sangat mirip. Apakah berarti kedua orang ini adalah orang yang sama?”
“Bisa dibilang begitu. Dan tim kami sedang dikerahkan mencari orang ini.”
“Sebentar,” kataku sambil mengamati kembali gambar wajah orang itu.
Rasa-rasanya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya?
“Ada apa?”
Aku mencondongkan badanku ke arah Pak Warno, lalu berbisik supaya tak ada yang bisa mendengar ucapanku.
“Bisa saya dapatkan salinan gambar ini?”
Pak Warno menghela nafas. Dia kemudian berdiri dan mengambil kedua gambar yang berada di tanganku. Sangat jarang wartawan yang punya kesempatan untuk bisa terlibat dalam penyelidikan kepolisian, tapi karena aku pernah membantu beberapa kasus, aku hampir selalu diijinkan untuk ikut serta.
“Tunggu, ya!”
Aku tersenyum. Aku begitu yakin akan ingatanku bahwa aku memang pernah bertemu atau minimal berpapasan dengan orang yang digambar wajahnya ini. Meskipun aku masih menduga-duga kapan dan di mana kejadian itu. Dengan tangan bergetar, aku meraih sekotak rokok dari saku kemejaku. Dasar tremor sialan! Aku merutuk dalam hati.
Sambil kembali menatap foto-foto mayat Farina, aku pun menggumamkan sebuah janji.
“Aku akan menyelidiki siapa yang telah membunuhmu, Fa. Dengan atau tanpa bantuan siapapun, termasuk polisi!”
+++
“Kenapa kau murung, Sus?”
Perempuan yang duduk di sebelah Sasongko hanya mendengus, kemudian menghela nafas panjang. Seolah-olah dia sedang melepaskan sebuah beban berat di dalam dadanya. Tatapan matanya tampak kosong.
“Apa yang merisaukanmu?” Sasongko kembali bertanya.
Susi menghadapkan wajahnya, namun tidak dengan pandangannya. Dia memandangi tangannya sendiri yang saling bertautan. Entah karena dinginnya udara di dalam kamar sehabis hujan atau karena perasaan cemasnya, jemari tangannya saling erat dia katupkan.
“Pekerjaanmu, Mas. Aku tidak ingin kau selalu berhadapan dengan bahaya.”
Kali ini giliran Sasongko yang menghela nafas panjang. Sebelum menjawab dia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Berbarengan dengan hembusan asap rokok ke udara, dia berkata, “Kau tidak akan pernah mengerti, Sus.”
Susi kali ini menatap wajah Sasongko.
“Apa? Apa yang tak bisa kumengerti?”
“Dengan orang ini, aku terlalu banyak hutang budi.”
Sasongko diam sejenak, menyesap asap rokoknya. Kemudian ia berkata lagi, “Aku bisa punya rumah, mobil dan gaji yang besar karena jasanya.”
“Tapi pekerjaanmu adalah pekerjaan yang berbahaya!” Susi memekik.
“Hei! Aku tak mengerti dengan pikiranmu, Sus. Toh selama ini aku baik-baik saja?”
“Sampai kapan? Sampai kapan Mas yakin jika perbuatan Mas tidak bakal ketahuan?”
“Aku berusaha sebaik mungkin menutupi semua jejakku, Sus. Sudahlah kau tenang saja.”
“Tenang? Aku tak akan bisa hidup tenang setelah kutahu bahwa kau pembunuh bayaran, Mas!”
Sasongko bangkit, dia memegang tangan Susi. Mencengkeramnya begitu erat. Susi mulai menangis. Dia membayangkan sesuatu yang sedari tadi dia pikirkan di kamar mandi akan segera terjadi pada dirinya. Tiba-tiba dia teringat akan teman baiknya, Farina!
“Apakah Farina dihabisi oleh pembunuh bayaran seperti dia?”
“Apakah ketakutan seperti ini yang dirasakan oleh Farina saat menjelang ajalnya?”
“Apakah dia tahu siapa yang telah membunuh Farina?”
“Apakah aku kini akan menyusul Farina?”
“Apakah dia akan tega melakukannya padaku?”
Rentetan pertanyaan memenuhi pikirannya, namun ia tak mempunyai keberanian untuk mengatakan kepada kekasihnya.
Mata Sasongko tampak berkaca-kaca. Dia tidak ingin membuat hati Susi, perempuan yang sangat dicintainya, terluka. Tak ada kata yang terucap, namun bibirnya yang hitam kebiruan karena nikotin, tampak bergerak-gerak.
“Susi,” akhirnya sebuah kata dengan pelan.
Susi hampir saja meledak untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Sasongko, tetapi mendengar suara Sasongko yang lembut dia pun melemah.
“A..Apa, Mas?”
“Aku teramat cinta padamu, Sus.”
“Ya. Ya. Aku tahu.” Ada pias merah muda di pipi Susi.
Sasongko mendekatkan wajahnya pada wajah Susi yang sembab karena tangisan. Pipinya basah, matanya merah. Dalam isaknya, Sasongko kembali meneruskan pembicaraannya.
“Aku berjanji kepadamu…”
Tangan Sasongko yang tadi mencengkeram tangan Susi, kini beralih mengelus rambut hitamnya, lalu turun, dan berhenti di leher.
Susi merinding ketakutan. Tangisnya hampir pecah, tapi dia menahannya.
“Tinggal dua pekerjaan lagi, lalu aku akan berhenti.”
Susi menatap mata Sasongko dengan lekat, seakan mencari kebenaran di sana.
“Aku janji, Sus. Dua pekerjaan lagi, lalu berhenti.”
“Benarkah?”
“Ya. Demi kamu.”
Keharuan akan janji kekasihnya yang ingin berubah demi dirinya. Kini, tanpa ragu, Susi memeluk tubuh kekasihnya. Entah sudah kali yang ke berapa di dalam hari itu mereka berpelukan. Hujan kenangan di antara pikiran mereka memilih untuk menenggelamkan keduanya dalam cinta, dan menepiskan riak persoalan yang gelombangnya pun tak gaduh.
(806, dan Segalanya Menghilang)
0 comments:
Post a Comment