Thursday, May 29, 2008

Moksakanda


KAU pergi, aku dijemput sepi.

Ini perpisahan
yang tak kau pinta.

TAPI aku datang juga.

Dengan tangis mengiringi,
dengan lambai terkulai.

Kau tak melihatku lagi.

(Petikan Sajak: “Kali Terakhir Kulihat Kau Pergi”,
diambil dari buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”,
karya Hasan Aspahani)

“Bu. Bagaimanakah para Pandawa mengakhiri hidupnya?” Sewaktu masih anak-anak, aku pernah bertanya kepada Ibu tentang akhir cerita Mahabarata.

“Ibu, tidak tahu persisnya, Nak. Tetapi, di dalam hidup ini, kau bisa mengambil hikmah dari kisah itu. Bahwa tujuan hidup yang sesungguhnya adalah bersatu dengan kesejatian. Sesuatu yang abadi. Moksa. Ya, mereka para Pandawa tidak semata-mata berjalan ke surga.”

“Moksa?”

“Ya. Menghilang.”

+++

“Jadi?” Susi bertanya padaku saat aku datang ke rumah pondokannya. Tujuanku memang untuk menjemputnya. Melaksanakan keinginanku untuk menghilang bersama dengan dia.

“Ya. Jadi,” sahutku datar nyaris tanpa intonasi.

“Katakanlah kepadaku, apa sesungguhnya rencanamu?”

Aku duduk di tepi ranjangnya. Maklum, rumah pondokannya tak ada ruang tamu. Kukeluarkan sebuah amplop coklat dari tas ranselku.

“Aku sudah menjual rumahku. Semua barang-barangku. Bahkan aku telah mengganti nomor telepon genggamku. Aku benar-benar ingin menghilang dari kehidupanku yang sekarang ini, Susi.”

“Ya, ampun. Kau ternyata sudah gila, Nan!” Katanya sambil menghampiriku dan memegangi kedua lenganku.

“Aku sama sekali tidak menduga kau akan berbuat seperti ini, Nan. Ini sangat gila. Tidak masuk di akal!”

“Sus, aku tahu apa yang aku lakukan,” jawabku.

“Lalu untuk apa sebenarnya kau mengajakku?”

Aku terdiam sebentar, memang aku tidak punya alasan kenapa aku ingin mengajaknya pergi menghilangkan diri bersama-sama denganku.

Dia tersenyum. Mungkin itu senyum yang paling manis yang pernah aku lihat dalam beberapa hari ini. Setelah tak ada senyum manis Farina, Paulina, bahkan Miranti.

“Kau tak punya alasan?” Selidiknya curiga.

“Tak ada. Aku tak punya alasan. Tapi aku merasa kau pun perlu melakukan hal ini karena kesedihanmu yang mendalam dengan segala peristiwa ini.”

Lagi-lagi dia tersenyum, bahkan lebih manis dari yang barusan.

“Kau orang baik, Nan. Aku suka berteman denganmu. Tapi kau aneh.”

Sekarang giliran aku yang tersenyum kepadanya. “Hidup ini memang harus banyak tersenyum biar banyak teman,” kata banyak orang.

“Aneh bagaimana, Sus?”

“Ya. Kau punya keinginan kuat. Tetapi suka tidak diduga bagaimana kau mengeks-presikannya. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu?”

“Sejujurnya aku sakit, Sus.”

“Ha? Sakit apa?”

“Dokter bilang, ada beberapa pembuluh darah yang pecah akibat pukulan saat aku diculik beberapa waktu yang lalu. Hal itu membuat aku sering pusing dan, lebih parahnya, pingsan.”

“Astaga!”

Dia kemudian terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.

“Mas Sasongko?”

“Bukan, tetapi Rudi dan Pak Gun pimpinanku di kantor.”

Kulihat ada sedikit kelegaan ketika aku katakan bukan Sasongko yang melakukan. Dia menghela nafas panjang.

“Aku turut menyesal, Nan.” Lagi dia menggenggam tanganku.

Aku hanya bisa menatap wajah cantiknya yang sendu. Dia perempuan yang tabah menghadapi kenyataan calon suaminya di penjara dengan tuduhan pembunuhan.

“Bagaimana denganmu, Sus? Apa rencanamu?”

Pandangannya menunduk. Beban kesedihan itu kurasakan masih ada.

“Entahlah, Nan. Aku tak bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Yang aku tahu, aku harus menjalani kehidupanku.”

Aku menatapnya dalam-dalam. Belum pernah kurasakan dari perempuan mana pun kepasrahan kepada nasib juga ketegaran hati terpancar dari matanya bersamaan. Aku paling suka menatap mata seorang perempuan. Mata mereka banyak bercerita hal yang sebenarnya daripada mulutnya. Hingga akhirnya aku mencoba melakukan sesuatu yang sangat tak terduga.

“Andai saja kau mau bersanding dengan sakit-sakitku, aku akan sangat bersenang hati untuk merawatmu. Menjadikanmu teman hidupku.” Hal itu kuucapkan spontan. Nyaris tanpa tekanan perasaan. Dulu, ketika aku tahu bahwa Miranti menyimpan banyak duka di dalam hidupnya tentang kekerasan rumah tangga yang dialami oleh mamanya, aku pun pernah mengajukan hal yang kurang lebih sama isinya. Sama artinya. Namun yang kudapat adalah jawaban bahwa dia tidak sedang memikirkan sebuah hubungan antar kekasih. Padahal yang kumaksud tidak persis seperti itu. Aku menawarkan diri untuk mengobati luka hatinya setulus hatiku. Mencintainya sepanjang hidupku. Menjadikan dia prioritas yang harus kuutamakan lebih dari memperhatikan hidupku.

Kondisinya memang berbeda, sekarang aku lah yang menderita sakit. Dan Susi juga seorang perempuan yang sedang dilanda kemelut dalam hidupnya. Antara menanti kekasih yang di penjara atau melanjutkan hidupnya dengan menanggung malu akibat rencana pernikahan yang terkubur di masa lalu.

Susi, perempuan kekasih Sasongko ini, diam saja. Matanya berkaca-kaca. Namun bibirnya tak bergerak sedikit pun. Pada saat seperti ini, aku yakin sekali bahwa aku akan mendapatkan jawaban yang sama seperti ketika aku berhadapan dengan Miranti dulu.

Aku hanya bisa menghela nafas. Menanti jawaban apa yang hendak dikatakannya.

“Nan,” ucapannya tertahan. Dia makin erat menggengam tanganku. Aku pun sedari tadi tak berusaha untuk melepaskannya. Menguatkan perasaan bisa diungkapkan dengan genggaman tangan. Inilah yang ingin kutunjukkan kepadanya. Aku bersimpati dengan tulus atas kesedihannya.

“Aku belum mengenal dirimu. Dan kau pun belum mengenal siapa aku. Jadi aku belum bisa memutuskan apakah aku bisa menerima ucapanmu itu atau pun menolaknya,” lagi-lagi dia menghela nafas. Menyusut isak tangis yang ditahannya supaya tak meledak.

“Ya. Aku tahu. Aku terlalu lancang untuk ikut campur dalam kehidupanmu. Bahkan ini sudah terlalu jauh. Aku yang sakit-sakitan ini, inginkan kau jadi juru rawat pribadiku,” Aku mencoba bercanda untuk sekedar menghibur dirinya.

“Bukan, Nan. Bukan itu. Aku ini, ah ..Aku malu mengatakannya..”

Aku tahu, ketika seorang perempuan muda berat mengatakan mengenai kondisi dirinya, pasti ada dua hal. Pertama ini pasti berhubungan dengan latar belakang keluarganya, atau yang kedua ini berhubungan erat dengan kegadisannya. Atau masih adakah hal lain yang aku belum tahu? Tapi aku mencoba untuk menebak salah satu di antara kedua kemung-kinan itu.

“Maaf, apakah ini berkaitan dengan …” Aku tak kuasa untuk menghancurkan perasaannya.

Tapi ternyata dia mengangguk.

“Aku bukan gadis baik-baik seperti yang kaukira. Aku sudah …” Dia pun terhenti. Melihat ke arahku, mungkin untuk mencari tahu apakah aku terkejut atau tidak jika nanti mendengar pengakuannya.

“Sus. Yang aku ingin pastikan saat ini adalah soal apa yang aku katakan tadi. Aku ingin merawat lukamu sebagaimana aku merawat sakitku. Bagaimana dengan itu?” Aku balik menatap tajam kepada kedua matanya yang bening.

“Aku..aku ..” Dia terbata. Mungkin memang belum waktunya untuk menjawab.

Terlalu cepatkah lamaranku ini ? Kedua tangan Susi masih juga erat kugenggam, saat aku berkata lagi kepadanya.

“Aku pun tidak ingin kau tergesa-gesa mengambil keputusan, Susi. Tapi, ini mungkin kali terakhir kau akan bisa melihatku. Sebab seperti aku katakan sebelumnya kepadamu, aku telah siap meninggalkan kehidupanku yang sekarang ini. Meninggalkan kenangan masa lalu dan menjadi orang yang benar-benar baru.”

Susi melepaskan tangannya dari genggamanku.

“Ya. Aku mengerti akan keputusanmu. Dan apa yang kau bicarakan tadi, Nan, adalah sebuah penawaran terbaik yang pernah aku dengar dari seorang lelaki,” perkataannya terhenti sejenak - sepertinya berpikir keras - dan kemudian melanjutkannya,”Aku rasanya tak mungkin menerima tawaranmu itu, Nan.”

Aku menghela nafas dengan berat. Kecewa? Tidak juga. Toh, Jawaban seperti itu memang sudah aku duga. Dengan berusaha tetap tenang, aku pun bangkit. Merapikan kembali isi tas ranselku, dan memondongnya di pundakku. Tanpa berkata apa-apa aku menuju pintu.

Sesampai di luar kamar pondokan Susi, barulah aku berpaling ke arahnya. Aku tersenyum pahit. Rasanya berat sekali mengucapkan kata-kata perpisahan.

“Baiklah, Sus. Ini hanya antara kita saja, kau adalah orang yang mengetahui rahasia terbesar dalam hidupku ini. Maka aku minta kepadamu, jangan pernah kau ceritakan kepada orang lain bahwa aku mengambil keputusan seperti ini.”

Susi menganggukkan kepala tanpa berkata-kata.

Kuputuskan untuk melangkahkan kaki keluar dari halaman rumah pondokan itu. Tiba-tiba Susi berteriak, “Nan, apa yang akan kau kerjakan dalam masa menghilangmu itu?”

Aku tertegun. Sejujurnya aku belum merencanakan apapun selain menghilangkan diri dari kehidupan ini. Lalu aku terkenang pada sesuatu yang ingin aku lakukan sepanjang hidupku. Bertahun-tahun aku menyukai puisi. Menjadi pembaca yang baik dari puisi-puisi orang lain. Mungkin inilah saatnya aku mencoba menuliskan puisi.

“Aku ingin menjadi penyair, Sus. Menuliskan puisi yang mengetuk berulangkali di dalam dadaku. Membuat berbagai renungan tentang cinta, sepi, kematian, juga harapan-harapan yang belum pernah aku raih.”

Kulihat dia tersenyum, senyum yang tak dapat aku artikan.

“Semoga sukses ya, Nan!” Dia mengacungkan jempol kepadaku. Aku menanggapinya dengan sebuah senyuman, lalu melanjutkan berjalan.

Siang itu begitu terik. Setetes keringat dari wajahku luruh mengenai ujung sepatu. Aku berjalan menundukkan kepala. Tak sanggup rasanya melihat kota ini, kenangan ini, seakan menyapa kepergianku. Selamat jalan kotaku. Selamat pergi kenanganku! Kali ini aku pergi bukan sebagai pencundang, namun aku yang berkuat hati untuk meninggalkanmu. Maafkan aku…

“Danaaaan!...Bisakah kau tunggu barang lima menit? “Aku ikuuuut!!!”

(806, dan Segalanya Menghilang)

0 comments: