Monday, May 26, 2008

Perayaan Kecil

Kunci kebahagiaan
adalah melupakan

konsep kesempurnaan

- Debra Messing-

Berbekal gambar-gambar tersangka pembunuh Rasida dan Farina dari Pak Warno, aku kembali ke kantor untuk menulis berita. Beberapa hari yang lalu, aku diperintahkan oleh Pak Gun untuk selalu membuat berita yang sifatnya lebih ke arah berita foto sedangkan isinya singkat dan bombastis belaka. Pekerjaan yang tidak terlalu rumit kukira. Meskipun kadang mengganggu idealisme jurnalistik yang sepatutnya aku jalankan.

Di depan meja resepsionis, tak kulihat senyum manja Paulina. Senyum yang biasanya menjadi penyegar keruwetan masalah, yang dihadapi tak hanya olehku tetapi juga beberapa rekan wartawan lain. Kami sering sekali menggoda Paulina. Hanya saja, di antara mereka, Paulina kelihatan lebih akrab bercanda denganku. Di belakang meja resepsionis sekarang tengah duduk seorang gadis dengan kulit coklat sawo matang dan rambut sebahu yang dicat kuning keemasan di beberapa bagian. Dia tersenyum ke arahku ketika aku melirik kepadanya.

“Selamat siang Pak. Bapak mau bertemu siapa?” Dengan ragu-ragu dia bertanya kepadaku.

Aku hanya tersenyum sebelum aku malah balik bertanya kepadanya, “Paulina ke mana?”

Begitu aku bertanya begitu, dia pun tersipu.

“O, maaf. Bapak pegawai sini ya? Maaf, Pak. Mbak Paulina cuti. Persiapan pernikahan.”

Aku langsung saja mengulurkan tanganku padanya.

“Arya Dananjaya. Panggil saja aku Danan.”

Dia mengulurkan tangannya malu-malu. Adegan ini aku pikir seperti adegan sebuah film percintaan belaka. Lalu, kami sudah berjabat tangan dan dia pun menyebutkan sebuah nama; Astarini.

“Ada pesan untukku?”

Kembali aku bertanya segera setelah melepaskan jabatan tanganku.

“Rasanya tidak ada, Pak.”

Kuanggukkan kepalaku lalu segera menuju ke cubicle-ku untuk segera membuat berita. Namun belum sempat aku duduk, Alfa sudah memanggilku.

“Nan, yang buat besok, headline-nya sudah ditentukan; soal “Penyelewengan Dana Logistik Badan Penanggulangan Bencana Alam”. Jadi tulisan berita kriminal-mu itu dipindah ke halaman tengah. Jadi bikinlah berita yang agak detail, kata Pak Gun.”

“Ah. Sial! Hari ini aku belum mendapatkan sesuatu yang berarti kecuali gambaran tersangka, dan hal itu belum boleh dipublikasikan.” Aku mengumpat dalam hati sebab aku belum menemukan sesuatu pun yang bias aku kupas dari penyelidikan kepolisian atas meninggalnya Rasida, Farina ataupun Eko!

Aku bangkit ke arah Alfa untuk menanyakan berapa kira-kira bagian untuk beritaku. Alfa pun menunjukkan dummy layout halaman tengah. Setelah mengobrol sedikit panjang mengenai topik apa yang sedang hangat, juga kemajuan penyelidikan polisi pada kasus Rasida, akhirnya aku berkesimpulan untuk menuliskan kemungkinan kasus kematian Rasida, Farina dan Eko adalah suatu pembunuhan berantai. Biarlah hal ini akan menjadi polemik bagi pembaca, dan semacam praduga yang harus dibuktikan kebenaran maupun kesalahannya. Alfa pun setuju. Dia menepuk bahuku sebelum berlalu. Tak begitu lama aku tenggelam pada rangkaian kata-kata yang kucomot dari berbagai tape wawancara dengan Pak Warno, Joe, juga Susi.

Ah, Susi! Perasaanku tiba-tiba mengatakan bahwa ada sesuatu yang aku ingat yang berkaitan dengan dia. Entah apa. Aku belum bisa menduganya, pikiranku masih tertuju pada rangkaian kata yang hendak aku jadikan berita. Nanti pada saatnya aku pasti akan bisa menemukan hal itu. Aku yakin pada kemampuanku untuk menganalisa sesuatu.

Tiba-tiba di pojok kiri bawah toolbar muncul sebuah ikon amplop. Ada surel (surat elektronik) baru! Aku menduga dengan pasti itu surel dari Miranti, karena duniaku ini sempit. Aku hampir kehilangan kontak dengan lebih dari setengah isi kelasku dulu sewaktu kuliah. Jangan tanyakan kepadaku teman-teman sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, lantaran Bapakku yang sering berpindah tugas aku pun sudah tidak mungkin menghafal mereka. Dengan tak sabar segera aku melakukan “double-click” pada ikon tersebut. Dan ternyata tebakanku benar adanya!

Dear Danan,

Kali ini aku ingin meminta bantuanmu. Kemarin malam, Mama menelepon dan mengatakan dia sedang tidak enak badan. Mama memang tidak mengatakan jika dirinya sedang sakit. Mungkin Mama takut jika berterus terang akan merisaukan pikiranku.

Tapi aku tetap saja tidak bisa tenang. Untuk itu aku minta bantuanmu, agar dapat menemui Mama. Tolong ya, Nan. Aku berdoa semoga Mama tetap dalam keadaan sehat.

Sebelumnya, aku sangat berterimakasih jika kau mau melakukannya Nan.

Salam,

Miranti

Yang aku lakukan adalah segera menuntaskan pekerjaanku. Mencetaknya, dan memasukkan file-nya dalam USB, serta menyerahkan kepada Pak Zen.

“Mau ke mana, Nan? Sepertinya kau tergesa-gesa,” tegurnya.

“Ada tugas kemanusiaan, Pak!’ Aku bercanda.

“Ah, ada-ada saja kau, Nan. Sudah selesai bagianmu?”

“Sudahlah Pak. Itu tadi yang saya serahkan?” Aku menunjuk pada berkas cetak dan USB yang masih di tangan Pak Zen.

“Kamu tidak mau menghadap Pak Gun?”

“Ada apa, Pak?”

“Tampaknya dia sedang gembira. Dari tadi senyum melulu.”

“Biarlah, Pak. Saya sedang terburu-buru.”

“Ya sudah sana. Pergilah,” katanya kemudian.

Aku segera berlalu dari tempat itu.

+++

Menjumpainya seperti memunguti kembali serpihan kenangan. Bukan hanya kenangan, tetapi luka. Luka dari sebuah harapan yang begitu ingin aku wujudkan. Bukan kepada dirinya memang, tetapi kepada anaknya. Tante Aline, Mama Miranti adalah sosok perempuan yang benar-benar tabah menghadapi cobaan dalam hidupnya. Berulangkali disakiti oleh suami, namun yang ditampakkan kepada orang lain adalah kesabaran yang sangat pantas dibanggakan. Dia tidak pernah menyerah pada kenyataan sekalipun pada awalnya dia berupaya menyembunyikan kepedihan hatinya.

Memasuki halaman rumah ini, mengingatkan aku pada saat pertama kali aku mendekati Miranti. Ada rasa canggung yang kutanggung dalam setiap langkah ke arah pintu. Apa lagi ketika kuberanikan diri menyentuh dan memijit tombol bel untuk menjadikan sebab si penghuni rumah untuk membuka pintu, atau paling tidak melongok di balik jendela. Namun kali ini semuanya berbeda. Yang kubawa adalah rasa waswas yang mendera. Hal itu semakin bertambah dengan kekuatiran yang terselip pada surel Miranti.

Kulihat Tante Aline sedang berada di beranda. Di tangannya ada gunting tanaman berukuran kecil dan botol penyemprot pupuk cair. Sejak Om Wisnu mendapatkan perawatan, Tante Aline menyibukkan diri dengan bercocok tanaman Adenium, kamboja Jepang kata orang. Dia tersenyum demi melihat aku datang.

“Nan, apa kabar? Sudah lama kamu tidak pernah main ke sini.”

“Iya, Tante. Maklum sibuk.”

“Ada kabar apa sampai kamu datang? Mau menikah?” Tanyanya lagi.

“Tidak Tante. Bukan itu.” Entah kenapa aku tersipu. Di dalam hati, aku ingin berkata dengan sejujurnya bahwa yang ingin aku nikahi adalah anaknya.

“Om Wisnu mana Tante?”

Sejenak dia tampak kebingungan, namun akhirnya kembali bibirnya menyunggingkan senyum.

“Mas Wisnu tadi dapat undangan rapat di rumah Pak RT. Eh, ayo masuk! Ngapain bengong di situ?”

“Ya Tante.”

Aku mengikutinya masuk ke dalam ruang tamu. Sebelum dia mempersilakan aku duduk, aku menyampaikan maksud kedatanganku.

“Miranti kirim pesan. Dia bilang Tante sedang tidak enak badan. Makanya saya ke sini.”

Lagi-lagi dia tersenyum.

“Tante tidak apa-apa. Maklum, cuaca sedang tidak tentu bukan?”

Aku tidak bisa begitu saja percaya ucapannya mengingat banyaknya peristiwa kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. Aku masih menatap tak percaya kepadanya. Dan mungkin dia bisa merasakan arti tatapanku itu, hingga akhirnya dia kembali angkat suara.

“Om Wisnu sudah berubah total. Jangan kuatir,” ucapannya begitu menyakinkan.

“Eh, tidak. Bukan itu, Tante,” sahutku berusaha menutupi kecurigaanku.

“Tapi benar Tante tidak sedang sakit? Soalnya Miranti tampaknya begitu kuatir.”

“Ah, nanti biar Tante telepon dia.”

Aku pun bisa tersenyum lega. Apa yang dirisaukan Miranti ternyata tidak beralasan. Manusia senantiasa dapat berubah dan diubahkan oleh keadaan bukan? Mungkin itulah yang memang terjadi dengan diri Om Wisnu. Setelah diancam hendak dilaporkan oleh Miranti karena kerap menyiksa Tante Aline dan dipaksa untuk mengikuti rehabilitasi serta pengaturan amarah oleh tenaga psikolog, akhirnya Om Wisnu dapat berubah.

Pertemuan dengan keluarga Miranti di hari petang ini menjadi sebuah perayaan atas perubahan positif yang baru aku ketahui. Mungkin bagi Tante Aline dan Om Wisnu, yang bergabung dengan kami belakangan, kedatanganku juga sebagai obat kerinduan terhadap anaknya yang sedang berada di Kyoto karena aku banyak menceritakan apa yang sering Miranti katakan dalam pertemuan maya kami via internet.

+++

Di sebuah café, malam itu, tampak dua orang duduk berhadapan. Salah seorang dari mereka memulai pembicaraan, “Kapan saya bisa bergerak untuk menyelesaikan permainan ini, Pak?”

Yang ditanya, menghembuskan asap rokok dari bibirnya sebelum menjawab.

“Jangan sekarang, Songko. Saat ini pihak kepolisian masih berkonsentrasi pada semua kasus yang berkaitan dengan Rasida.”

“Jadi?”

“Biarkanlah untuk sementara, pekerjaan untukmu itu aku tunda.”

Sasongko menyesap rokoknya, dan berkata,“Bukankah lebih cepat habis semua saksi akan lebih baik, Pak?”

“Tidak. Tidak. Lebih baik sekarang kita berdiam diri dulu, toh untuk kasus Rasida pun mereka masih belum menemukan titik terang. Apalagi soal Farina dan Eko.”

“Jadi kita biarkan Si Bartender itu hidup lebih lama?”

“Kau lupa? Dia masih dalam pengawasan dan penjagaan polisi. Dan untuk sementara, kau dan Rudi coba awasi gerak-gerik wartawan itu saja. Semakin lama, aku pantau gerakannya makin membahayakan.”

“Jadi, Sebenarnya Bapak tahu siapa wartawan itu?”

“Ah, sudahlah. Itu bukan urusanmu! Eh, mana Rudi?”

Sasongko tersenyum menyeringai.

“Dia sedang melakukan apa yang tadi Bapak bicarakan.”

“Ah, sialan kau! Ternyata otakmu encer juga. Hahaha…”

“Kapan bisa kita habisi dia?”

“Belum. Belum saatnya.” Orang yang dipanggil Bapak itu masih tertawa kecil.

Dua buah gelas bir ukuran besar, masing-masing di tangan Sasongko dan orang itu pun kemudian beradu bibir. Sebuah perayaan kecil untuk beberapa nyawa yang hilang. Sebuah ironi yang sampai sekarang masih banyak terjadi; demi suatu kesenangan, nyawa seseorang jarang sekali dipandang. Seperti yang terlihat sekarang, dua orang di café itu menyebutkan beberapa nama orang yang mengalami kematian tragis sambil tertawa penuh keceriaan. Seakan kematian mereka yang disebutkan tidak berpengaruh sedikitpun pada kehidupan keduanya.

(806, dan Segalanya Menghilang)

0 comments: