jika tak mau mendengarkan kata hati
-- George Michael --
“Apa ini?”
Sebuah pertanyaan menyergapku saat menyerahkan berita tentang mayat Eko Wahyu Baskoro kepada Pak Gunawan, pemimpin redaksiku. Tak biasanya dia kelihatan gusar membaca berita itu.
“Diduga Eko tidak bunuh diri, Pak.” Datar aku menjawab, sebab aku masih belum mengetahui ke arah mana sebenarnya perdebatan ini akan berkembang.
“Hm. Menarik. Tapi biarlah pembaca ini mendapatkan informasi yang keliru dan bombastik lebih dulu, Nan.”
“Maksud Bapak?”
“Aku lebih suka kau tulis begini; Karena janji sehidup semati, mantan kekasih Rasida bunuh diri.”
“Bukankah…”
“Biarkan opini masyarakat terpecah dulu. Nanti kalau dampaknya besar, kita akan segera memberitakan kejadian sebenarnya. Bukankah bahan-bahanmu kuat untuk menjelaskan detailnya?”
“Iya sih, Pak.”
“Foto-fotonya saja yang besar, Nan. Beritanya tak usah lengkap-lengkap.” Senyum di wajah Pak Gun melebar.
“Baiklah. Akan segera saya susun dan saya serahkan kembali ke Bapak.”
“Bagus. Oh ya, bagaimana dengan laporanmu soal hubungan bartender itu?”
“Kemarin malam, saat saya melihat proses pemeriksaan dia, saya tahu bahwa bartender itu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh korban Farina di luar jam kerjanya.”
“Oh…Begitu?”
“Iya. Pak.”
“Baiklah. Kalau begitu tidak perlu kau muat lagi berita tentang pelayan itu.”
“Tak perlu?”
Lagi-lagi Pak Gunawan tersenyum.
“Tak perlu.” Jawabnya singkat.
Sambil menarik kursi yang aku duduki mundur, perlahan aku berdiri.
“Baiklah. Jika begitu saya permisi, Pak.”
“Silakan.”
Aku pun segera meninggalkan ruangan Pak Gun. Dalam perjalanan melintasi cubicle-cubicle ruang kerja, Simeon menepukku.
“Ada berita apa?”
Aku balas berbisik kepadanya,”Mantan Rasida tewas dibunuh.”
“Apa?” Mata Simeon mendelik.
“Sst. Jangan keras-keras.”
“Kenapa?” Dia pun balas berbisik.
“Aku curiga, ini pembunuhan berantai.”
“Sama. Aku juga curiga demikian.”
Aku memandang tajam ke matanya.
“Bagaimana penyelidikanmu dengan korban Farina?”
“Ah, kau ini. Kau pun ikut menyelidikinya bukan?”
“Apa yang kira-kira aku belum tahu?”
“Dari beberapa karyawan hotel didapat informasi bahwa korban pada saat malam kematian Rasida terlihat di hotel itu juga.”
“Hm. Kau mau menyelidiki lebih lanjut?”
“Ah, bukannya kita wartawan. Bukan detektif kepolisian. Biarkan saja mereka yang bekerja.”
Ah, Simeon rupanya sudah hampir sama dengan prinsip kerja Pak Gun sekarang.
“Jadi bagaimana?” Pancingku.
“Ada dua orang yang dicurigai oleh petugas hotel. Ciri-cirinya sudah diserahkan ke kepolisian. Kalau kau ingin menyelidiki, kau bisa cari itu.”
Aku teringat akan file buku harian Fa. Aku ingin membacanya lagi, barangkali banyak petunjuk yang bisa kutemukan.
“Tapi percuma juga, Nan.” Simeon dengan cepat membuyarkan angan-anganku.
“Kenapa?”
“Mereka sangat licin. Tak ada sidik jari yang bisa didapat polisi di tempat kejadian.”
“Aneh,” gumamku.
“Ya, tampaknya mereka sudah sangat ahli untuk menghilangkan jejak.”
Tampaknya percakapan kami harus terhenti, Alfa berjalan ke arah kami. Simeon dan aku tidak suka kepadanya. Dia selalu saja bisa mengambil keuntungan dari kami berdua dalam hal menyadap berita. Sebelum sampai Alfa ke tempat kami berdiri, Simeon sudah kembali ke tempat duduknya, dan aku melanjutkan langkahku ke arah cubicle-ku.
+++
Dalam kamar pondokan Susi, Sasongko sedang membelai rambut Susi yang duduk di sebelahnya, di atas ranjang.
“Apapun yang aku lakukan, kau tak perlu curiga bahwa itu jahat, Sayang.”
“Tapi aku ingin tahu apa yang sudah kau perbuat?”
“Tak ada yang aneh. Aku lakukan ini – itu semata-mata demi uang, Sayang.”
“Termasuk membunuh?” Susi pelan sekali mengungkapkan pertanyaan ini. Dia takut Sasongko menjadi marah dan membabibuta menyerang dia.
Tapi Sasongko cuma tersenyum.
“Siapa yang aku bunuh, Sayang?”
“Aku tak tahu. Mas yang lebih tahu apa yang diperbuat.”
Masih dengan tersenyum Sasongko menjawab, “Itu darah Rudi, Sayang. Kemarin dia itu dipukul orang.”
Susi terperanjat.
“Rudi? Apa yang terjadi?”
“Tenang saja, Say. Rudi itu kuat.”
Sasongko mematikan puntung rokok pada asbak di meja kecil dekat kepala ranjang tempat mereka berbincang-bincang, menghembuskan asap terakhir dari mulutnya, lalu tertawa pelan.
“Biasalah, kami ini hidup di jalanan. Orang-orang lapangan. Pasti ada saja masalah sepele seperti semalam.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Susi tetap meminta Sasongko bercerita.
“No big deal, Sayang. Yang penting aku dan Rudi baik-baik saja, bukan?”
Sasongko memeluk Susi. Merengkuhnya dalam sebuah dekapan. Tampaknya ada yang belum terpuaskan dalam dirinya.
“Mas, kamu janji?”
“Apa Sayang?”
“Nanti jika kita menikah, kamu harus bisa lebih jaga diri.”
Sasongko tidak menjawab, dibenamkannya wajahnya di pelukan Susi.
+++
Aku melihat ikon kepala kuning lagi. Miranti! Betapa bahagianya aku. Kadang aku merasa umurku berkurang tiga sampai lima tahun jika sedang dalam keadaan sebahagia ini.
m3_run_tea : Hallo! J
dananjaya : Hei. Kok smsku gak dijawab? J
m3_run_tea : Sorry. Sorry. Tapi kamu juga sudah tahukan jawabannya?
dananjaya : gak :P
m3_run_tea : masak?
dananjaya : iya lah. Kamu gak jawab masak aku tahu jawabannya?
m3_run_tea : me too
dananjaya : apaan?
m3_run_tea : tadi kamu ngomong apa?
dananjaya : beneran?
m3_run_tea : iya beneran :P
dananjaya : ah bohong nih
m3_run_tea : sejak kapan aku bohong?
dananjaya : iya deh ..
m3_run_tea : sibuk?
dananjaya : gak. Udah kelar.
m3_run_tea : ada berita apa?
dananjaya : another sad story, wanna hear?
m3_run_tea : another killing story?
dananjaya : itu udah bisa nebak... emang jodoh kita :D
m3_run_tea : apaan sih :P
dananjaya : mmm jangan kaget ya?
m3_run_tea : apa?
dananjaya : cowok kamu ditemukan tengah telungkup di atas makam rasida
m3_run_tea : OMG! Eko?
dananjaya : yap
m3_run_tea : kenapa nasibnya tragis ya?
dananjaya : gak tau, ranti. Aku pikir sangat erat kaitannya dgn pembunuhan rasida
m3_run_tea : aku sedihnya, dia itu pamitan mau pulang sama aku
dananjaya : sorry ya ranti berita dariku selalu menyedihkan
m3_run_tea : nan, kayaknya kamu harus pindah kerja deh...
dananjaya : kenapa?
m3_run_tea : tiap hari ngadepin kematian apa gak bosen?
dananjaya : bosen juga sih. Tapi Bagaimana lagi? Tuntutan profesi :P
m3_run_tea : tiap hari ngadepin kematian apa gak bosen?
dananjaya : kamu sendiri tiap hari ngadepin sel apa gak bosen?
m3_run_tea : boring sih, tapi gak seperti kamu berurusan sama mayat!
dananjaya : awas deh ngeledekin mulu
m3_run_tea : oh ya nan, mana bukunya?
dananjaya : udah aku kirim kok, belum nyampe ya?
m3_run_tea : belum
Tiba-tiba telepon di mejaku berdering. Dengan ogah-ogahan aku angkat.
”Nan, mana foto-fotonya?”
”Eh. Iya Pak sebentar.”
”Cepat ya?”
Segera aku cabut USB dari port, dan bergegas lari ke ruangan Pak Gun. Buru-buru pula aku kembali lagi ke cubicle-ku.
m3_run_tea : nan? Kok ngilang?
dananjaya : sorry. Ada gangguan.
m3_run_tea : pulang jam berapa?
dananjaya : tumben nanyain aku pulang jam berapa? Ada apa nih?
m3_run_tea : emang gak boleh?
dananjaya : boleh kok. Tapi tumben banget...
m3_run_tea : nan...
dananjaya : apa ranti?
m3_run_tea : udah bisa bikin puisi belum?
dananjaya : beberapa kali nyoba, tapi belum puas
m3_run_tea : ah paling puisi curhat ya? :D
dananjaya : enak aja :P
m3_run_tea : 3 bulan lagi aku pulang. Liburan sekaligus persiapan thesis.
dananjaya : perasaan baru kemarin deh pergi?
m3_run_tea : emang gak boleh pulang? Emang kamu gak kangen aku?
dananjaya : iya iya
m3_run_tea : kalo aku pulang, kamu kasih liat puisimu ya?
dananjaya : :o hah? Puisi?
m3_run_tea : kenapa?
dananjaya : bukannya kamu gak percaya aku bisa nulis puisi?
m3_run_tea : bukan gak percaya, tapi belum percaya
dananjaya : kenapa gitu?
m3_run_tea : bukannya kamu penikmat puisi hebat, sudah seharusnya kamu bisa nulis puisi yang bagus
”Seseorang mengancamku.”
“Kamu tidak lapor polisi?”
”Belum, aku takut.”
“Apa yang dia katakan?”
”Dia bilang, dia akan membunuhku jika mau dimintai keterangan lagi oleh polisi.”
“Apa lagi yang dia katakan?”
”Dia mengatakan bahwa dia sudah mengetahui seluk beluk rumahku.”
Tuhan, kenapa masih ada orang yang berani mengancam orang seenaknya? Dalam hati aku merutuk.
“Tenang, Joe. Aku bisa hubungi teman-teman di kepolisian untuk membantu kamu.”
“Betul kah Pak Danan?
“Iya. Aku janji.”
“Terimakasih.” Aku mendengar ada getaran di dalam suaranya. Tampaknya memang Joe tengah sangat ketakutan. Aku terpaksa harus mengakhiri pembicaraanku dengan Miranti, karena aku harus menghubungi Pak Warno atau Pak Joko.
dananjaya : Ranti, aku harus pergi. Thx sudah menyapa. Love u.
0 comments:
Post a Comment