TAK sempat kita bayangkan pendaratan,
sebab kita dengar teriak nahkoda
di ruang kemudi itu: bergesalah, sebelum
semuanya tenggelam
…
(Petikan sajak: “Sebelum Semuanya Tenggelam”,
diambil dari Buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari,
karya Hasan Aspahani)
Menjelang sore, kulihat langit di atas Jakarta sangat gelap. Sebentar lagi pasti turun hujan. Warna yang sama kulihat dari ruangan Pak Gunawan, ruang yang lampunya tak menyala. Aku sangat penasaran kemanakah sebenarnya pemimpin redaksi surat kabar ini pergi, sebab tak ada yang mengetahui. Tak ada surat resmi yang menyatakan alasannya, tak ada pesan yang ditempelkan di papan pengumuman ruang meeting seperti biasanya.
Gelap!
Seperti pandanganku ketika sakit kepala yang sering datang tiba-tiba. Seperti sekarang ini. Bukan disebabkan oleh memikirkan keinginan Pak Zen yang memintaku memper-timbangkan pekerjaan kewartawanan di luar Delik Metro, yang katanya lebih sesuai dengan kesehatanku. Juga bukan disebabkan oleh rasa kesal karena ternyata tak ada pesan ataupun surel dari Miranti di Kyoto. Selalu tiba-tiba.
Aku teringat lemari obat itu ada di ruangan Pak Gunawan. Dia sering sekali sakit kepala juga. Mungkin kalau dia, lebih disebabkan oleh beban pekerjaan sebagai pemimpin redaksi. Tanpa bermaksud tidak sopan, aku melangkahkan kaki ke ruangan yang gelap itu.
Dari arah depan, sejumlah rombongan yang tadi pergi ke resepsi pernikahan Paulina baru saja datang.
“Hei, Nan. Kamu ditunggu Paulina.”
“Iya, Nan. Dia menanyakanmu.”
“Iya. Bagaimana sih, bukankah kau mantan pacarnya.”
Aku cuma tersenyum saja mendengar candaan teman-teman. Karena pandanganku yang mengabur, aku tidak bisa mengetahui satu persatu orang yang berseloroh kepadaku dari jauh itu. Aku melambaikan tangan kepada mereka, dan mengatakan bahwa sebentar lagi aku pergi ke resepsi itu.
Seseorang menabrakku. Atau lebih tepatnya aku yang menabrak dia karena tidak terlalu jelas pandanganku.
“Hei, Nan. Kau kenapa?”
Alfa! Aku hafal betul suaranya.
“Kepalaku pusing banget nih, dan pandanganku kabur. Aku mau cari obat sakit kepala di ruang Pak Gun.”
“Ya. sudah, aku antar.”
Dia menggamitku. Kami berdua masuk ke dalam ruangan Pak Gun, dan dia membantuku duduk.
“Sebentar aku carikan, Nan.”
“Ya,” jawabanku singkat dan lemah.
Agak lama dia mencari. Di laci mejanya, di lemari-lemari yang ada di sana.
“Kau tahu di mana dia biasanya menyimpan?”
“Aku pernah melihatnya mengambil obat sakit kepala di lemari kecil di samping kursinya. Obat itu ada di sebuah kotak putih.”
“Oh, ya. Ada,” katanya kemudian.
Syukurlah!
“Sebentar, Nan. Aku ambilkan air.”
“Terimakasih, Alfa.”
Dia bergegas keluar ruangan, dan tak lama dia sudah kembali. Mengangsurkan gelas dan obat ke tanganku. Aku pun segera meminumnya. Kulihat dia iseng mengaduk isi kotak obat itu.
“Gila! Persediaan kondomnya banyak juga!” Katanya sambil tertawa.
Aku yang tengah menikmati berkurangnya rasa sakit dan pandangan yang masih berkabut ini hanya tersenyum terpaksa, namun akhirnya menimpali juga.
“Persediaan perempuannya banyak juga kali.”
Aneh. Alfa tidak tertawa lagi.
“Nan?” Suaranya terdengar berbeda.
“Ada apa, Alfa?”
“Ini ada foto perempuan cantik, Nan.”
“Simpanannya?”
“Bukan, Nan. Ini …”
“Siapa, Al?”
“Kau masih tak jelas melihat?”
“Ya. Aku belum bisa melihat dengan jelas.”
“Lebih baik, aku panggil Pak Zen!” Serunya sambil menghambur ke luar ruangan.
Lalu kudengar orang ramai bicara. Gaduh sekali. Pak Zen memerintahkan beberapa nama untuk segera masuk ke dalam ruang meeting. Sesuatu yang serius telah terjadi. Dari pesa-wat telepon di ruangan Pak Gun, terdengar suara Pak Zen,”Nan, jika kau bisa, bergabung segera ke ruang meeting.”
Tapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya, aku merasakan tubuhku semakin lama semakin lemas, dan akhirnya aku pingsan!
+++
Inikah alam kematian?
Yang kulihat hanyalah warna putih yang terang.
Dan tiga, bukan, empat orang berbaju putih mengelilingiku.
Pandanganku yang tidak jelas tidak bisa menegaskan apa yang sebenarnya aku lihat.
“Dia siuman!”
Ah! Seperti ada penyesalan dalam diriku, bahwa ternyata aku belum mati. Akhirnya aku bisa menyadari bahwa aku sedang berbaring di sebuah ranjang rumah sakit.
“Dokter Arif?” Tanyaku lemah.
“Dokter Arif tidak ada di sini, yang ada Dokter Husni.”
“Apa yang terjadi?” Tanyaku lagi.
“Reaksi terhadap obat yang biasa terjadi. Namun, karena dosisnya lebih keras dibandingkan yang seharusnya, maka anda mengalami hal ini.”
“Apa yang sudah anda minum?” Dokter Husni bertanya padaku.
“Aku tidak tahu namanya, Dok. Hanya saja saya sering melihat Pemred tempat saya bekerja minum obat itu jika pusing. Kebetulan kemarin saya tidak membawa obat yang diperuntukkan bagi saya.”
“Hal seperti itu berbahaya, Pak. Jangan menggunakan obat sembarangan. Bukankah Anda seorang wartawan?”
Saat seperti ini, masih saja aku dipojokkan.
“Ya, terpaksa, Dok,” aku membela diri.
Dia cuma tersenyum mendengarkan hal itu.
“Ya sudah, Anda sudah boleh pulang. Istirahat yang banyak.”
“Terimakasih, Dok.”
Pak Zen menjumpaiku di rumahku.
“Ternyata ada banyak keajaiban di balik sakitmu itu, Nan.”
Aku yang baru bangun tidur itu, hanya tersenyum simpul.
“Sebetulnya foto siapa yang diributkan waktu saya pingsan di ruangan itu, Pak?”
“Kau benar-benar belum tahu?”
“Bagaimana saya bisa melihatnya, Pak. Pandangan saya waktu itu gelap sekali.”
Dia berdehem sebentar. Sepertinya berat untuk mengutarakannya.
Suara dehem kembali mengingatkanku saat berusaha untuk menyatakan cintaku kepada Miranti, setelah mengantar dia pulang sehabis menjenguk Tante Aline, mama Miranti.
Di teras rumahnya, aku duduk di bawah, dengan alasan supaya lebih dingin.
“Ada-ada saja, kau ini, Nan.”
“Aku tidak tahu mengapa, Ranti. Setiap aku berdekatan denganmu rasanya panas sekali.”
“Ah, itu bukan perasaanmu saja, Nan? Aku tidak merasakan apa-apa.”
“Ranti, itu karena …karena …kau adalah bara yang menyalakan api cintaku.”
Ya, untuk mengungkapkan kata-kata yang memalukan itu, aku beberapa kali harus berdehem untuk mengumpulkan keberanian, untuk mendapatkan seluruh perhatiannya. Bahkan jika mungkin, aku berdehem untuk meminta perhatian seluruh alam raya agar segera menghentikan apa yang sedang dilakukan, dan mengalihkan pandangan sejenak pada aku yang sedang merayu. Dan, sudah dapat diduga karena ini berulang-ulang terjadi, jawabanya hanyalah sebuah senyum.
“Itu foto sepasang kekasih,” ucapan yang datar namun cukup mengagetkanku.
“Kekasih? Pak Gun dengan siapa?”
“Pak Gunawan dengan mendiang Rasida Alma, dalam foto itu mereka tampak mesra sekali berpelukan.”
Ah, kenapa segampang ini petunjuk kematian Rasida Alma ditemukan?
Kenapa aku tidak pernah menduga?
“Kamu tidak percaya?”
Tentu saja, aku tidak bisa percaya begitu saja. Bisa saja itu sebuah foto hasil manipulasi salah satu tenaga desain grafis kami. Mungkin saja Pak Gun adalah seorang penggemar berat mendiang Rasida, sama seperti juga aku yang senang mendengarkan dia menyanyi.
“Foto itu asli, Nan.”
Aku masih terdiam. Pak Gun, bagiku, adalah seorang guru yang baik.
Aku teringat beberapa kasus foto porno, yang selalu menghadirkan seorang pakar tehnologi informasi dan selular untuk menghakimi apakah foto itu asli atau tidak.
“Ada lagi, Nan.”
“Apa itu, Pak?”
“Sasongko dan Rudi membenarkan bahwa foto itu adalah foto orang yang sering disebut oleh mereka sebagai Bos. Dan dialah yang telah membunuh Rasida, juga Farina.”
“Bukankah mereka itu butuh seseorang untuk meringankan hukuman, Pak?”
“Ya. Itu ada benarnya, juga. Tapi tidak akan mengubah keputusan hukuman mati untuk mereka.”
“Mereka dihukum mati?”
“Belum. Tapi bocoran dari para penuntut umum, mereka akan dituntut dengan hukuman mati.”
“Berarti itu pula yang akan dilakukan kepada Pak Gun?”
“Jika semuanya terbukti, Nan.”
“Bagaimana Pak Gun tertangkap?”
“Kemajuan tehnologi, Nan. Kau ingat, dia selalu bisa memantau perkembangan surat kabar Delik Metro setiap hari? Padahal dia tak berada di kantor. Dia bilang juga sedang di luar kota atau luar negeri. Lewat deteksi percakapan Pak Gun dengan kedua orang pengawalnya yang sudah tertangkap, lokasinya dapat diketemukan. Betapa canggihnya tehnologi bukan?”
“Segampang itu?”
“Ya. Hal seperti itu memang sudah mudah dilakukan.”
Aku tak bisa berkata apa-apa. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan. Di satu sisi, aku merasa bahagia bahwa tersangka pembunuh Farida juga Rasida akhirnya bisa dilacak, namun di sisi lain aku merasakan pengkhianatan besar akan nilai-nilai kejujuran yang selalu diajarkan oleh Pak Gun kepadaku. Adalah pengkhianatan, yang dapat membangkitkan sebuah kemarahan terbesar.
Sebelum semuanya tenggelam, aku harus bisa berenang mencari tempat lain untuk bergantung. Dan dengan bisikan yang lirih, aku berkata kepada Pak Zen,” Pak, saya terima tawaran peluang untuk bekerja di majalah seni budaya itu.”
Pak Zen tidak berkata apa-apa, dia hanya menepuk punggungku sekali dan berdiri.
“Ah, sudahlah. Kau istirahatlah dulu, jangan berpikir terlalu berat.”
(806, dan Segalanya Menghilang)
0 comments:
Post a Comment