Monday, May 26, 2008

Sebuah Akhir, Sebuah Mula

Kita hanya perlu sebuah benci yang terendam garam,
kau mengutuki lekat asinnya, aku memuja pedihnya.

(Petikan sajak: “Mudah Sekali Bilang Selamat Malam”,
diambil dari Buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia,
karya Hasan Aspahani)

Kali ini dugaan Dokter Arif kurasakan benar. Beberapa hari belakangan, meskipun masih dalam tahap pengobatan, kepalaku sering sekali mendapatkan serangan sakit kepala yang berkepanjangan. Tremor di tanganku semakin hebat bergetar. Untuk bisa tenang mengaduk secangkir minuman pun aku kepayahan.

Café yang sama, setelah beberapa hari tak mengunjungi, masih juga terasa sepi di pagi hari. Kebiasaan lama untuk sarapan seporsi pancake dan secangkir capucino di café dekat stasiun kereta metro kembali kujalani. Joe bahkan menyambutku dengan gembira, sebab sepertinya kita semakin jarang bertemu.

“Akhirnya, ya, Pak,” sapanya dari balik mejanya ketika aku baru selesai makan.

“Ada apa, Joe?”

“Lho, belum lihat televisi atau baca koran pagi?”

“Maaf, Joe. Aku sering sakit kepala sekarang-sekarang ini.”

“Pembunuh Eko sudah tertangkap!”

“Apa?!” Aku terperanjat kaget. Hampir saja cangkir di depanku terguling karena aku melonjak dari kursi.

“Semalam, mereka ditangkap saat mencoba melarikan diri ke luar negeri.”

Joe lalu menunjukkan sebuah surat kabar pagi yang telah dibacanya.

“Saya juga tadinya tidak percaya begitu mudah mereka ditangkap. Pihak kepolisian rupanya sudah berupaya maksimal untuk memecahkan kasus ini, dan ternyata tidak sia-sia.”

Aku menghampiri meja bar tempat Joe meletakkan surat kabar pagi itu, dan kemudian mengambilnya. Kususuri halaman depannya. Di dekat berita peresmian jembatan peng-hubung Jawa dan Madura oleh Presiden kemarin, kutemukan berita yang dibicarakan oleh Joe:

PEMBUNUH EKO WAHYU BASKORO DITANGKAP
DIDUGA HENDAK KABUR KE LUAR NEGERI

Jakarta. Para tersangka pembunuhan pelukis Eko Wahyu Baskoro, yaitu SSK dan RD yang sejak beberapa waktu lalu diburu oleh pihak kepolisian, telah ditangkap. Mereka ditangkap di bandara Soekarno-Hatta kemarin ketika sedang membeli tiket di salah satu loket maskapai penerbangan dengan tujuan Singapura. Petugas tiket maskapai tersebut curiga karena mereka diidentifikasi mirip dengan ciri-ciri pembunuh pelukis Eko WB pada selebaran yang telah disebarkan pihak kepolisian dan imigrasi di beberapa lokasi di bandara. Saat ditangkap petugas bandara, keduanya sempat melakukan perlawanan dan melarikan diri. Namun, kesigapan gabungan petugas pengamanan bandara dan kepolisian berhasil melumpuhkan perlawanan mereka. Salah satu dari mereka yaitu RD dilumpuhkan petugas dengan menembak kaki kirinya karena tidak berhenti berlari setelah diberi tembakan peringatan. Sedangkan SSK menyerah setelah RD dilumpuhkan, dan dia terkepung petugas. Keduanya kini sudah diamankan di Mabes Polri.

Setelah membacanya dengan tuntas, aku tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Joe untuk berjabatan tangan.

“Akhirnya, Joe, mereka telah ditangkap.”

“Ya, akhirnya.”

“Tapi masih ada lagi,’ sambung Joe.

“Apa itu, Joe?”

“Apakah benar mereka juga pembunuh Fa?”

Benar juga. Sasongko bukan pembunuh Fa menurut apa yang mendiang Fa sendiri tuliskan di dalam catatan hariannya. Sedangkan Rudi? Apakah Rudi yang dimaksud sebagai Mr. S?

“Aku juga penasaran, apa betul mereka atau salah satunya yang menculik aku?”

“Ya, Pak. Sebaiknya kita pergi ke sana untuk memastikan.”

Aku tersenyum menenangkan diriku sendiri dan berusaha menenangkannya.

“Sabar, Joe. Kalau diperlukan, aku dan kamu pasti dipanggil kembali ke kepolisian.”

Kemudian setelah mengobrol dengannya sedikit lebih panjang, aku berpamitan padanya sebab harus segera berangkat ke kantor redaksi Delik Metro. Tak berapa lama, aku sudah berada di dalam kereta metro. Demi melihat seorang gadis bergaya harajuku duduk di hadapanku, aku teringat pada Miranti. Mungkinkah karena aku sakit beberapa waktu lalu, dia mencariku?

Seingatku, tak ada catatan panggilan tak terjawab ataupun pesan pendek di layar telepon genggamku. Mungkin Miranti lebih memilih berkirim surel ataupun meninggalkan pesan di messenger, daripada melakukan komunikasi via telepon genggam. Ya, mungkin saja. Tapi sedang apakah dia sekarang? Apakah dia juga sedang memikirkanku?

Kereta bergerak di bawah sebuah jembatan layang, ada gelap yang datang dan pergi dengan sangat cepat. Seperti tersadar, tiba-tiba aku berpikir bahwa mungkin benar, bagiku, Miranti yang seperti bayangan yang selalu mengikuti kemana tubuh ini pergi. Dan tidaklah mungkin jika tubuh ini yang mengejar bayangan. Berarti mulai sekarang aku harus melupakannya. Harus. Ini demi kesehatanku juga. Dokter Arif bilang aku tak boleh terlalu keras berpikir dahulu.

Walau agak terlambat beberapa menit, sampailah di kantor redaksi Delik Metro. Tak ada sambutan manis dari Paulina, rupanya sampai sekarang ia masih digantikan sementara oleh Astarini. Kantor kelihatan sangat lengang.

“Kok sepi?” Tanyaku padanya.

“Mas lupa ya?”

“Lupa apa?” Aku kembali bertanya.

“Hari ini, resepsi pernikahan Paulina,” jawabnya lagi mengingatkanku.

“Astaga. Terus orang-orang pergi ke sana semua?”

“Tidak semua. Pak Zen ada, beberapa wartawan senior juga ada. Bergantian pergi ke sananya.”

“Oh, begitu.”

Aku segera masuk ke dalam ruangan kerja. Menuju pada cubicle tempatku bekerja. Kulihat Pak Zen berdiri di depan pintu ruangannya.

“Ke sini, Nan. Aku mau bicara.”

“Baik, Pak.”

Dengan langkah gontai aku berjalan ke arahnya.

Dia menyalamiku.

“Sudah sembuh?”

Totally, belum, Pak. Kata dokter harus lebih banyak istirahat dan mengurangi beban pikiran.”

“Kalau begitu, kebetulan Nan.”

“Ada apa memangnya, Pak?”

“Ayo, masuk dulu ke ruanganku.”

Kami berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan Pak Zen. Ruangan yang rapi dan bersih. Pak Zen orangnya luas wawasannya dan bijak pula, tak heran banyak karyawan yang suka berdiskusi dengannya. Diskusi apa saja.

“Tutup dulu pintunya, Nan. Ini agak rahasia.”

Aku menutup pintu ruangan. Pak Zen sudah duduk di kursinya.

“Silakan, Nan,” katanya mempersilakan aku untuk duduk di hadapannya.

“Ada apa, Pak?” Aku bertanya lagi.

“Begini,” ujarnya membuka sebuah pembicaraan,”Sehubungan dengan sakitmu, dan tanpa mempersoalkan kinerjamu di Delik Metro ini, saya ingin kamu mempertimbangkan sebuah penawaran dari saya.”

“Penawaran? Penawaran apa, Pak?” aku masih belum mengerti ke arah mana pembicaraan ini menuju.

“Saya harap kamu tidak terlalu emosional menanggapinya, sebab ini bukan berarti saya memandang apa yang terjadi pada dirimu. Tetapi seperti saya bilang barusan, saya akan menawarkan sebuah peluang bagimu untuk bekerja di tempat lain.”

“Bapak bermaksud memutasikan saya?” Reaksiku kaget.

“Tidak. Tidak. Sama sekali tidak akan ada mutasi untukmu.”

“Lalu?”

Dia mengambil sesuatu dari lacinya. Sebuah majalah. Dengan santainya dia meletakkan majalah itu di hadapanku.

“Majalah seni budaya?” Aku mengambilnya dan mulai membacanya sekilas.

“Kebetulan, saya kenal dengan penggagasnya. Saya bicarakan kepadanya mengenai dirimu. Sebelumnya saya mohon maaf, karena mungkin bagimu apa yang saya lakukan ini salah. Tetapi sungguh, tak ada niatan dari saya untuk menyingkirkan kamu dari perusahaan ini.”

“Saya sama sekali belum mengerti maksud Bapak sebenarnya,” aku memotong ucapannya sambil masih membaca isi majalah seni budaya itu.

Pak Zen menghela nafas dan tersenyum, aku meliriknya tanpa mengubah arah pandanganku pada majalah ini.

“Mohon jangan disalahartikan, Nan. Saya dengar dari beberapa teman karyawan di sini, kamu menderita penyakit yang cukup membahayakan dirimu jika kau terlalu keras bekerja. Saya berpikir dengan melihat kinerjamu selama ini, amat disayangkan jika kau kemudian menyerah ataupun tidak dapat lagi maksimal berburu berita karena penyakitmu itu. Untuk itu, saya menawarkan sebuah pekerjaan di tempat temanku, di majalah seni dan budaya yang sedang kaubaca.”

“Oh, begitu. Ya, saya tidak perlu tersinggung dengan apa yang Bapak perbuat. Tetapi saya belum bisa memutuskan. Memang penyakit ini membuat anggota tubuh saya, terutama tangan, selalu bergetar. Dan sekarang ini, sakit kepala berkepanjangan selalu saja saya rasakan.”

Dia hanya manggut-manggut. Aku meneruskan kembali ucapanku.

“Saya sangat berterimakasih karena Pak Zen ternyata begitu memperhatikan saya. Dan saat ini yang saya perlukan adalah dukungan dari teman-teman dan Bapak untuk dapat bekerja maksimal.”

Ada senyum terkembang di bibir Pak Zen.

“Nan, saya pribadi puas dengan kinerjamu selama ini. Kamu itu karyawan yang bertang-gungjawab dalam pekerjaan. Untuk itu, apa yang saya lakukan ini hanyalah sebuah alternatif supaya kamu tetap bekerja maksimal, tetapi beban fisik dan pikiranmu tidak terlalu besar. Coba pikirkanlah, Nan.”

“Baiklah, Pak. Oh, Ya. Pak Gun ke mana? Sudah agak lama saya tidak melihatnya.”

Aku tak berusaha mengalihkan pembicaraan, tetapi ketidakhadiran seorang pemimpin redaksi yang cukup lama sangat perlu ditanyakan.

“Entahlah, Nan. Saya sendiri heran. Banyak sekali alasannya. Tetapi memang dia selalu mengkritik jika ada sesuatu yang kurang baik menurutnya pada Delik Metro.”

“Lho, bukannya kata teman-teman, beliau pergi ke luar negeri?”

“Ah, sudahlah. Lebih baik kau ambil tawaranku itu, Nan. Daripada keningmu berkerut memikirkan Pak Gunawan, hahaha…”

Aku pun ikut tertawa mendengar perkataannya.

“Ya, sudah, Pak. Saya kembali bekerja.”

“Ya. Ya. Sana.”

Aku berdiri. Berjalan ke arah pintu.

“Tolong tutup pintunya lagi, Nan,” katanya setelah aku berada di luar ruangannya.

(806, dan Segalanya Menghilang)

0 comments: