<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606</id><updated>2011-11-27T15:42:57.327-08:00</updated><category term='telah terbit'/><category term='novel'/><category term='dan Segalanya Menghilang'/><category term='806'/><title type='text'>806, Dan Segalanya Menghilang...</title><subtitle type='html'>Sebuah Novel tentang Kekecewaan terhadap Kehidupan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-1000692708404476396</id><published>2009-07-22T23:30:00.000-07:00</published><updated>2009-07-22T23:52:53.106-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='telah terbit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>Telah Terbit! Beli Ya...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Setelah akhirnya menunggu bertahun-tahun dan berbulan-bulan, akhirnya naskah novel 806 ini diterbitkan juga! Pasti ada beberapa pembaca yang sebelumnya telah membaca naskah 806 ini berpikiran, "&lt;em&gt;Ngapain harus beli bukunya? Toh, aku sudah pernah membaca naskahnya di situs ini, di kemudian dot com, di pulau penulis lautan indonesia, dan di multiply...&lt;/em&gt;" Atau bahkan pernah saya kirimi naskahnya via email pribadi. &lt;em&gt;"Kalau sama isinya, kenapa harus beli?"&lt;/em&gt; Kira-kira begitu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya akan menjawab demikian; "Pada saat naskah ini dipinang oleh &lt;a href="http://homerianpustaka.blogspot.com/"&gt;homerian pustaka &lt;/a&gt;bukan langsung begitu saja bisa terbit. Mas Homer meminta saya melakukan beberapa pengubahan penting di dalam naskah novel ini supaya;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. interaksi antar karakter sedemikian kuat sehingga emosi dari masing-masing karakter akan nampak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. perlunya suatu penambahan agar intrik pembunuhan diva tidak hanya sebagai latar belakang yang tidak mendasar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. meluaskan "jejaring" antar karakter sehingga perlu dimasukkan lagi tokoh tambahan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahkan, struktur dari novel ini akhirnya tanpa prolog dan epilog. Lalu pada bagian akhir, ada yang harus diambangkan supaya tidak terkesan hubungan antar karakter begitu-begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah, ternyata setelah dua tahun berkelana di dunia maya dan mengalami edit sana-sini dari berbagai tanggapan dan komentar teman-teman pembaca, naskah novel ini masih harus diotak-atik lagi agar menjadi bacaan yang bagus untuk khalayak ramai.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 229px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_oiV3XPLvtk4/SmaNOsypGDI/AAAAAAAAAA4/nbxFxYEigvg/s320/dan-segalanya-menghilang.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harapan saya, setelah proses yang lama dan panjang, novel ini benar-benar menjadi bacaan yang tak mudah dilupakan. Mungkin ada yang berpendapat bahwa novel ini dibuat untuk tujuan agar pembaca kemudian mencintai puisi. Itu betul. Tetapi itu tujuan yang sangat pendek karena secara umum, novel ini tidak semata-mata bicara masalah puisi, tetapi masalah bagaimana menjadi manusia yang utuh, yang penuh kasih, yang penuh cinta, dan terutama anti kekerasan!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terlalu ideal ya? Mungkin. Tapi sebagaimana novel ini bercerita, segala sesuatu tidak akan berjalan tanpa hal-hal yang kecil. Hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Hal-hal yang kita bangun sendiri untuk kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan mimpi saya belumlah berhenti.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-1000692708404476396?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/1000692708404476396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=1000692708404476396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/1000692708404476396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/1000692708404476396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2009/07/telah-terbit-beli-ya.html' title='Telah Terbit! Beli Ya...'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_oiV3XPLvtk4/SmaNOsypGDI/AAAAAAAAAA4/nbxFxYEigvg/s72-c/dan-segalanya-menghilang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-7834223993338134413</id><published>2009-01-05T18:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T23:42:28.883-08:00</updated><title type='text'>Mendapat Surat Perjanjian Penerbitan</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Akhirnya setelah berjuang 3 tahun untuk melahirkan novel perdana, saya mendapat juga surat perjanjian penerbitan dari sebuah penerbitan di yogyakarta. Setelah sebelumnya saya diminta untuk merevisi total - boleh dibilang begitu - karena perlu pendalaman karakter dan lain-lain termasuk ending, bahkan pembuangan beberapa hal juga. Nantinya cetakan pertamanya berjumlah 2000 eksp.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Di novel ini, saya menceritakan berbagai macam kondisi yang sedang melanda negeri ini terutama dalam hal kejiwaan. Trauma dan psikopasi ternyata mencengkeram beberapa gelintir dari kita sehingga mampu mengakibatkan peristiwa-peristiwa yang tragis. Dan sayangnya oleh media kita hal-hal itu justru dijadikan sumber berita yang mengakibatkan efek samping munculnya copycat atau peniruan modus. Contohnya seperti bunuh diri, tindak kekerasan, bahkan penyimpangan seksual. Umumnya, yang melakukan hal-hal itu mampu menyimpan dalam-dalam dan membersihkan jejak-jejaknya. Sehingga baru mencuat setelah pelaku mengalami keteledoran. Dan seperti kasus "Jagal dari Jombang" begitu terbongkar, masyarakat baru mengalami kekagetan, "Ternyata hal seperti itu ada di sini!" Paling-paling bisa komentar seperti itu.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lepas dari itu, jika memang novel itu kemudian terbit, tentunya saya mengharapkan teman-teman mau berbaik hati membeli dan membacanya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Selamat Tahun Baru!!!&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-7834223993338134413?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/7834223993338134413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=7834223993338134413' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/7834223993338134413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/7834223993338134413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2009/01/mendapat-surat-perjanjian-penerbitan.html' title='Mendapat Surat Perjanjian Penerbitan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-5854707028660401493</id><published>2008-05-29T23:52:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T23:55:09.076-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Epilog</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bandara Soekarno-Hatta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pintu Kedatangan Luar Negeri&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Perjalanan ini terasa begitu melelahkan. Apalagi ditambah aku sedang memikirkanmu. Lelaki yang selalu mencintaiku dengan sepenuh hati,” Miranti mencari tempat duduk untuk melepaskan sedikit ketegangan seusai perjalanan. Dia mampir ke kios Koran dan majalah, barangkali dia bisa mendapatkan berita yang menyejukkan. Beberapa waktu lalu, Danan menceritakan tentang berbagai pembunuhan yang tengah dituliskan beritanya. Kematian Rasida Alma, juga kematian Eko Wahyu Baskoro, pelukis yang pernah dijumpainya di Kyoto. Sungguh berita yang tidak menyenangkan. Kali ini dia terpikir untuk mencari sebuah berita yang berhubungan dengan seni dan budaya, barangkali ada sajak-sajak baru yang bisa diperlihatkan kepada Danan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Setelah memilih beberapa majalah, dia mengambil sebuah. Gambar sampulnya surealis, seseorang dengan sepasang sayap di punggungnya (malaikatkah?) tidur di dalam keranjang sampah. Di sebelahnya seekor anjing menggigit televisi. Miranti pun segera membayarnya dan segera mencari tempat duduk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diraihnya telepon genggam. Dia mencoba menghubungi Danan. Tak ada nada sambung, yang didengarnya adalah suara mesin&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nomer yang anda tuju belum terpasang. Cobalah beberapa saat lagi.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu dicobanya untuk mengirimkan pesan pendek. Namun lagi-lagi yang diperolehnya adalah balasan bahwa pesan pendek tertunda dikirim. Selalu saja begitu, dari sejak malam saat dia mencoba menghubunginya dua kali.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kemanakah dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Benarkah Danan sudah melupakannya? Tapi, bukankah Danan sudah pernah berjanji kepadanya untuk tetap menjadi sahabatnya?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Akhirnya dia menyerah, dihubunginya nomor rumahnya sendiri.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mama? Oh, Papa ternyata. Pa, Ranti sudah sampai di bandara. Ranti boleh minta tolong untuk dijemput? Oh..Boleh. Boleh. Sejam lagi ya? Baik. Terimakasih, Pa.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu dibukanya satu per satu halaman majalah yang tadi dibelinya. Tapi dia sama sekali tidak menyangka akan melihat apa yang kini tengah dilihatnya!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada halaman puisi, tertulis tiga buah puisi yang ditulis oleh seseorang bernama Janadarya Naya. Salah satu puisinya, dirasakannya menyiratkan kesedihan yang teramat dalam.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;;"&gt;Puisi Janadarya Naya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;;"&gt;Dan Inilah Sepi yang Kaumaksud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ketika Malam tak Melahirkan Bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;;"&gt;Kita hanyalah sesuatu yang meruam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;di lingkaran susu Ibu, tubuh yang ketika malam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;tak melahirkan bulan, kita taburi dengan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;air hujan yang luruh diam-diam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;;"&gt;Maafkan kami menyeludup di palungan, Tuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebab kupikir hujan di halaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;masih ingin bermain dengan kenangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;menangkupi setiap percik, memeluk segala rintik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;;"&gt;Dan inilah sepi yang Kaumaksudkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;sebagaimana bayangan dan bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;berpasangan, pun rintik dan hujan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;;"&gt;Maka kami biarkan Tuan menjadi,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;membasahi selimut kami,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;dan meniduri gadis-gadis mimpi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;;"&gt;Ubud, 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pada profil penyairnya ada sebuah foto. Jantung Miranti berdesir!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wajah di dalam foto itu mirip sekali dengan Danan. Hanya saja dia berkumis dan berjenggot lebat. Kulitnya pun lebih gelap. Mungkinkah dia adalah Danan?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti memperhatikan dengan seksama nama penyair itu; Janadarya Naya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ah, kenapa sepertinya ini sangat mencurigakan. Miranti pun mencoba mengacak susunan huruf dari nama penyair itu. Memecahkan sebuah anagram;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;J-A-N-A-D-A-R-Y-A-N-A-Y-A&lt;br /&gt;Dirangkainya hingga menjadi;&lt;br /&gt;A-R-Y-A-D-A-N-A-N-J-A-Y-A&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pas sekali!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tapi, apakah benar dia adalah Danan?&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi, Miranti mencoba menghubungi semua nomor yang pernah Danan berikan kepadanya, termasuk nomor kantor. Operator kantor tempat Danan bekerja akhirnya memberikan penjelasan bahwa Danan sudah lama tidak pernah kelihatan masuk kerja. Dengan lemas, Miranti menutup pembicaraan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kemanakah engkau, Danan?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dari telepon genggamnya tiba-tiba terdengar lagu “Savior” Anggun. Dilihatnya nomor yang tertera di layar telepon genggamnya itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Nomor telepon genggam Papa!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Sebentar, Pa. Sebentar lagi Ranti ke luar.” Bergegas dia menyambar tas, dan pergi melangkah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Angin yang menghantar udara tropis yang panas segera menerpa pipinya. Tapi bukan karena itu kedua matanya terasa panas. Pandangannya pun berembun. Tanpa bisa dicegah sepasang air mata luruh di pipinya. Ranti menangis. Dan ketika dilihatnya papa dan mamanya berdiri di dekat mobil, Ranti pun menghambur ke arah mereka.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di pelukan kedua orangtuanya, Ranti masih menangis. Entah karena haru melihat kerukunan kedua orangtuanya, atau dia bersedih karena kehilangan seseorang yang sangat mencintainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;--- TAMAT ---&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%;"&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-5854707028660401493?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/5854707028660401493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=5854707028660401493' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5854707028660401493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5854707028660401493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/epilog.html' title='Epilog'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-192336772739028275</id><published>2008-05-29T23:40:00.001-07:00</published><updated>2008-05-29T23:51:53.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Moksakanda</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;…&lt;br /&gt;KAU pergi, aku dijemput sepi.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;Ini perpisahan&lt;br /&gt;yang tak kau pinta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;TAPI aku datang juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;Dengan tangis mengiringi,&lt;br /&gt;dengan lambai terkulai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kau tak melihatku lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;(Petikan Sajak: “Kali Terakhir Kulihat Kau Pergi”,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;diambil dari buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”,&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bu. Bagaimanakah para Pandawa mengakhiri hidupnya?” Sewaktu masih anak-anak, aku pernah bertanya kepada Ibu tentang akhir cerita Mahabarata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ibu, tidak tahu persisnya, Nak. Tetapi, di dalam hidup ini, kau bisa mengambil hikmah dari kisah itu. Bahwa tujuan hidup yang sesungguhnya adalah bersatu dengan kesejatian. Sesuatu yang abadi. Moksa. Ya, mereka para Pandawa tidak semata-mata berjalan ke surga.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Moksa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Menghilang.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi?” Susi bertanya padaku saat aku datang ke rumah pondokannya. Tujuanku memang untuk menjemputnya. Melaksanakan keinginanku untuk menghilang bersama dengan dia.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Jadi,” sahutku datar nyaris tanpa intonasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Katakanlah kepadaku, apa sesungguhnya rencanamu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku duduk di tepi ranjangnya. Maklum, rumah pondokannya tak ada ruang tamu. Kukeluarkan sebuah amplop coklat dari tas ranselku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku sudah menjual rumahku. Semua barang-barangku. Bahkan aku telah mengganti nomor telepon genggamku. Aku benar-benar ingin menghilang dari kehidupanku yang sekarang ini, Susi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, ampun. Kau ternyata sudah gila, Nan!” Katanya sambil menghampiriku dan memegangi kedua lenganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku sama sekali tidak menduga kau akan berbuat seperti ini, Nan. Ini sangat gila. Tidak masuk di akal!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sus, aku tahu apa yang aku lakukan,” jawabku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lalu untuk apa sebenarnya kau mengajakku?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku terdiam sebentar, memang aku tidak punya alasan kenapa aku ingin mengajaknya pergi menghilangkan diri bersama-sama denganku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia tersenyum. Mungkin itu senyum yang paling manis yang pernah aku lihat dalam beberapa hari ini. Setelah tak ada senyum manis Farina, Paulina, bahkan Miranti.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau tak punya alasan?” Selidiknya curiga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak ada. Aku tak punya alasan. Tapi aku merasa kau pun perlu melakukan hal ini karena kesedihanmu yang mendalam dengan segala peristiwa ini.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi dia tersenyum, bahkan lebih manis dari yang barusan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau orang baik, Nan. Aku suka berteman denganmu. Tapi kau aneh.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sekarang giliran aku yang tersenyum kepadanya. “Hidup ini memang harus banyak tersenyum biar banyak teman,” kata banyak orang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aneh bagaimana, Sus?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Kau punya keinginan kuat. Tetapi suka tidak diduga bagaimana kau mengeks-presikannya. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sejujurnya aku sakit, Sus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ha? Sakit apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dokter bilang, ada beberapa pembuluh darah yang pecah akibat pukulan saat aku diculik beberapa waktu yang lalu. Hal itu membuat aku sering pusing dan, lebih parahnya, pingsan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Astaga!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia kemudian terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mas Sasongko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan, tetapi Rudi dan Pak Gun pimpinanku di kantor.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat ada sedikit kelegaan ketika aku katakan bukan Sasongko yang melakukan. Dia menghela nafas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku turut menyesal, Nan.” Lagi dia menggenggam tanganku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku hanya bisa menatap wajah cantiknya yang sendu. Dia perempuan yang tabah menghadapi kenyataan calon suaminya di penjara dengan tuduhan pembunuhan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana denganmu, Sus? Apa rencanamu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pandangannya menunduk. Beban kesedihan itu kurasakan masih ada.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Entahlah, Nan. Aku tak bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Yang aku tahu, aku harus menjalani kehidupanku.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menatapnya dalam-dalam. Belum pernah kurasakan dari perempuan mana pun kepasrahan kepada nasib juga ketegaran hati terpancar dari matanya bersamaan. Aku paling suka menatap mata seorang perempuan. Mata mereka banyak bercerita hal yang sebenarnya daripada mulutnya. Hingga akhirnya aku mencoba melakukan sesuatu yang sangat tak terduga.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Andai saja kau mau bersanding dengan sakit-sakitku, aku akan sangat bersenang hati untuk merawatmu. Menjadikanmu teman hidupku.” Hal itu kuucapkan spontan. Nyaris tanpa tekanan perasaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dulu, ketika aku tahu bahwa Miranti menyimpan banyak duka di dalam hidupnya tentang kekerasan rumah tangga yang dialami oleh mamanya, aku pun pernah mengajukan hal yang kurang lebih sama isinya. Sama artinya. Namun yang kudapat adalah jawaban bahwa dia tidak sedang memikirkan sebuah hubungan antar kekasih. Padahal yang kumaksud tidak persis seperti itu. Aku menawarkan diri untuk mengobati luka hatinya setulus hatiku. Mencintainya sepanjang hidupku. Menjadikan dia prioritas yang harus kuutamakan lebih dari memperhatikan hidupku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kondisinya memang berbeda, sekarang aku lah yang menderita sakit. Dan Susi juga seorang perempuan yang sedang dilanda kemelut dalam hidupnya. Antara menanti kekasih yang di penjara atau melanjutkan hidupnya dengan menanggung malu akibat rencana pernikahan yang terkubur di masa lalu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi, perempuan kekasih Sasongko ini, diam saja. Matanya berkaca-kaca. Namun bibirnya tak bergerak sedikit pun. Pada saat seperti ini, aku yakin sekali bahwa aku akan mendapatkan jawaban yang sama seperti ketika aku berhadapan dengan Miranti dulu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku hanya bisa menghela nafas. Menanti jawaban apa yang hendak dikatakannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nan,” ucapannya tertahan. Dia makin erat menggengam tanganku. Aku pun sedari tadi tak berusaha untuk melepaskannya. Menguatkan perasaan bisa diungkapkan dengan genggaman tangan. Inilah yang ingin kutunjukkan kepadanya. Aku bersimpati dengan tulus atas kesedihannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku belum mengenal dirimu. Dan kau pun belum mengenal siapa aku. Jadi aku belum bisa memutuskan apakah aku bisa menerima ucapanmu itu atau pun menolaknya,” lagi-lagi dia menghela nafas. Menyusut isak tangis yang ditahannya supaya tak meledak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Aku tahu. Aku terlalu lancang untuk ikut campur dalam kehidupanmu. Bahkan ini sudah terlalu jauh. Aku yang sakit-sakitan ini, inginkan kau jadi juru rawat pribadiku,” Aku mencoba bercanda untuk sekedar menghibur dirinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan, Nan. Bukan itu. Aku ini, ah ..Aku malu mengatakannya..”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tahu, ketika seorang perempuan muda berat mengatakan mengenai kondisi dirinya, pasti ada dua hal. Pertama ini pasti berhubungan dengan latar belakang keluarganya, atau yang kedua ini berhubungan erat dengan kegadisannya. Atau masih adakah hal lain yang aku belum tahu? Tapi aku mencoba untuk menebak salah satu di antara kedua kemung-kinan itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf, apakah ini berkaitan dengan …” Aku tak kuasa untuk menghancurkan perasaannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tapi ternyata dia mengangguk.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku bukan gadis baik-baik seperti yang kaukira. Aku sudah …” Dia pun terhenti. Melihat ke arahku, mungkin untuk mencari tahu apakah aku terkejut atau tidak jika nanti mendengar pengakuannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sus. Yang aku ingin pastikan saat ini adalah soal apa yang aku katakan tadi. Aku ingin merawat lukamu sebagaimana aku merawat sakitku. Bagaimana dengan itu?” Aku balik menatap tajam kepada kedua matanya yang bening.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku..aku ..” Dia terbata. Mungkin memang belum waktunya untuk menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terlalu cepatkah lamaranku ini ? Kedua tangan Susi masih juga erat kugenggam, saat aku berkata lagi kepadanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku pun tidak ingin kau tergesa-gesa mengambil keputusan, Susi. Tapi, ini mungkin kali terakhir kau akan bisa melihatku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab seperti aku katakan sebelumnya kepadamu, aku telah siap meninggalkan kehidupanku yang sekarang ini. Meninggalkan kenangan masa lalu dan menjadi orang yang benar-benar baru.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi melepaskan tangannya dari genggamanku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Aku mengerti akan keputusanmu. Dan apa yang kau bicarakan tadi, Nan, adalah sebuah penawaran terbaik yang pernah aku dengar dari seorang lelaki,” perkataannya terhenti sejenak - sepertinya berpikir keras -&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan kemudian melanjutkannya,”Aku rasanya tak mungkin menerima tawaranmu itu, Nan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menghela nafas dengan berat. Kecewa? Tidak juga. Toh, Jawaban seperti itu memang sudah aku duga. Dengan berusaha tetap tenang, aku pun bangkit. Merapikan kembali isi tas ranselku, dan memondongnya di pundakku. Tanpa berkata apa-apa aku menuju pintu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sesampai di luar kamar pondokan Susi, barulah aku berpaling ke arahnya. Aku tersenyum pahit. Rasanya berat sekali mengucapkan kata-kata perpisahan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, Sus. Ini hanya antara kita saja, kau adalah orang yang mengetahui rahasia terbesar dalam hidupku ini. Maka aku minta kepadamu, jangan pernah kau ceritakan kepada orang lain bahwa aku mengambil keputusan seperti ini.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi menganggukkan kepala tanpa berkata-kata.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kuputuskan untuk melangkahkan kaki keluar dari halaman rumah pondokan itu. Tiba-tiba Susi berteriak, “Nan, apa yang akan kau kerjakan dalam masa menghilangmu itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tertegun. Sejujurnya aku belum merencanakan apapun selain menghilangkan diri dari kehidupan ini. Lalu aku terkenang pada sesuatu yang ingin aku lakukan sepanjang hidupku. Bertahun-tahun aku menyukai puisi. Menjadi pembaca yang baik dari puisi-puisi orang lain. Mungkin inilah saatnya aku mencoba menuliskan puisi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku ingin menjadi penyair, Sus. Menuliskan puisi yang mengetuk berulangkali di dalam dadaku. Membuat berbagai renungan tentang cinta, sepi, kematian, juga harapan-harapan yang belum pernah aku raih.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat dia tersenyum, senyum yang tak dapat aku artikan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Semoga sukses ya, Nan!” Dia mengacungkan jempol kepadaku. Aku menanggapinya dengan sebuah senyuman, lalu melanjutkan berjalan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Siang itu begitu terik. Setetes keringat dari wajahku luruh mengenai ujung sepatu. Aku berjalan menundukkan kepala. Tak sanggup rasanya melihat kota ini, kenangan ini, seakan menyapa kepergianku. Selamat jalan kotaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selamat pergi kenanganku! Kali ini aku pergi bukan sebagai pencundang, namun aku yang berkuat hati untuk meninggalkanmu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maafkan aku…&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Danaaaan!...Bisakah kau tunggu barang lima menit? “Aku ikuuuut!!!”&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-192336772739028275?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/192336772739028275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=192336772739028275' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/192336772739028275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/192336772739028275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/moksakanda.html' title='Moksakanda'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-7969557366656854849</id><published>2008-05-29T23:24:00.001-07:00</published><updated>2008-05-29T23:38:58.234-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Antara Cinta dan Nafsu Amarah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;Ada bisik yang menahanku untuk&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;tidak mengejarmu:&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;“Nikmati saja tetas-tetas luka itu.''&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;(Petikan Sajak: “Jejak dan Bidadari”,&lt;br /&gt;diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”,&lt;br /&gt;karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mungkin inilah bagian dari hidupku yang paling puitis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Betapa tidak? Melalui sebuah rapat luar biasa yang diselenggarakan untuk membahas penangkapan Bapak Gunawan Sudarmanto - Pimpinan Redaksi kami - sebagai tersangka otak di balik tiga buah kejadian pembunuhan yang menghebohkan, Pak Zen mengemukakan latar belakang dan kronologis peristiwa yang didapatnya dari hasil penyidikan pihak kepolisian. Dan itu semua membukakan mataku akan bagaimana sesungguh cinta dapat berubah menjadi kebencian yang teramat dalam hingga bisa membinasakan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mengapa Gunawan Sudarmanto membunuh Rasida Alma?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya gelap mata, Pak. Rasida adalah seorang perempuan yang sempurna. Sekecil apapun gerak-geriknya dapat membangkitkan gairah seorang lelaki normal. Walaupun dia tidak pernah bermaksud melakukan sesuatu hal untuk memancing ataupun menarik perhatian lawan jenis. Banyak lelaki yang menaruh hati kepadanya. Hal itu membuat saya merasa sangat kuatir tidak akan pernah dapat memiliki cintanya seutuhnya.” &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi kau sudah merencanakan pembunuhan itu?” Petugas penyidik kepolisian mencatat dengan detail apa yang dikatakan oleh Gunawan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak, Pak. Sungguh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di café malam itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Malam itu, kami janji untuk berkencan. Seperti biasa, tak ada yang istimewa. Namun sebenarnya, dia sudah membuat janji dengan seorang produser musik. Saya marah akan sikapnya. Lebih tepatnya saya cemburu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang kalian bicarakan, dan apa benar Anda tak sendirian?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gunawan menelan ludah, menengok sebentar kepada pengacaranya, lalu meneruskan ceritanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saat itu memang saya tidak sendirian, bersama Sasongko dan Rudi, dua orang teman saya..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(sampai di sini, Petugas penyidik menyela)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Teman, atau…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dengan kikuk, Gunawan menjawab, “Pengawal.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa Anda memang selalu dikawal?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak selalu, Pak. Malam itu, saya memerlukan mereka untuk membantu mengawal Rasida dari para wartawan infotainment. Rasida tidak pernah ingin kehidupan pribadinya diungkap di media.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baik, lalu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kami, saya dan Rasida, membicarakan masa depan kami.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hmm…Lantas apa yang terjadi hingga kemudian ada istilah “Lamborghini” yang didengar oleh beberapa saksi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Itu hanya bentuk umpatan saya saja, Pak. Rasida, waktu itu, mengatakan kepada saya bahwa dia masih belum siap untuk saya peristri. Dia bilang sementara ini yang ada di dalam pikirannya adalah berkarir lebih tinggi lagi. Dia ingin menjadi salah satu diva di negeri ini. Saat itu, yang ada di dalam benak saya adalah dia masih belum bisa menerima keadaan saya seutuhnya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gunawan tampak terguncang, dan akhirnya dia menangis.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pengacaranya, seorang pengacara muda dari biro hukum terkemuka, mendekat kepada petugas dan membisikkan sesuatu. Petugas itu menggelengkan kepala dan mempersilakan pengacara muda itu untuk duduk kembali.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Teruskan ceritanya,” katanya kepada Gunawan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya tidak bisa menerima alasan yang dikemukakannya. Lalu, mungkin karena pengaruh minuman keras yang saya minum, saya mulai mengumpat dia. Dia sangat ketakutan, lalu mencoba menelepon seseorang. Saya minta dia mematikan telepon genggamnya. Dia menurut. Kepada Sasongko dan Rudi, dua pengawal saya itu, saya mulai bercerita tentang bagaimana saya selalu memuaskan birahinya. Saat itulah muncul istilah “Lamborghini”, Pak.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maksudnya?” Pandangan menyelidik petugas itu benar-benar tajam. Sepertinya dia sedang menguliti Gunawan hingga ke tulang sumsumnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Gairah bercinta Rasida itu selalu menggebu-gebu. Entah apa yang merasukinya ketika kami bercinta. Memang itulah dia, setiap bercinta, kami senantiasa berusaha saling memuaskan, bahkan lebih mirip sebuah perlombaan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa reaksi dia ketika Anda meracau seperti itu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia berusaha menenangkan saya. Tapi hati saya sudah tertutup rasa cemburu. Saya mulai menuduh dia berselingkuh dengan produser calon album berikutnya. Dia membantah habis-habisan. Pada saat itu saya melihat Farina, si pelayan yang cantik itu. Saya bilang kepada Rasida, jika dia bisa berselingkuh dengan sesiapa saja, saya pun bisa melakukannya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah sebelumnya, Anda sudah mengenal Farina?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kebetulan, salah seorang wartawan punya kebiasaan datang terlambat dengan alasan mencari berita. Saya pernah iseng menyuruh salah seorang dari pengawal saya, tidak selalu satu orang tetapi bergantian, untuk mengikutinya. Dari mereka saya tahu, Farina adalah seorang perempuan yang punya kekurangan dalam keuangan. Jadi, saya pun tergerak untuk membantunya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Zen berhenti sebentar ketika membaca. Dia menatap ke arahku. Aku tahu wartawan yang dimaksudkan oleh Pak Gun dalam laporannya tentang wartawan yang sering datang terlambat adalah aku. Tapi soal Farina, aku sama sekali tidak bisa menduganya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ketika dulu menjadikan Farina sebagai narasumber, dia tidak pernah menceritakan bahwa dia kenal betul dengan Pak Gun, tapi mungkin karena Pak Gun tidak pernah secara langsung membantunya, melainkan melalui salah seorang entah Sasongko atau Rudi, maka dia pun memang tidak mengenalnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau tidak tahu cerita ini, Danan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak, Pak. Tidak pernah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi, ketika kau mewawancarai Farina, kau tidak bisa menduganya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sama sekali tidak, Pak. Saya tidak pernah tahu bahwa Farina punya hubungan khusus dengan Pak Gun sampai saya menemukan catatan hariannya,” suaraku terdengar gemetar. Sama seperti tanganku. Apakah getaran di dada, bisa menjalar sampai tangan dan suara?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau juga tak pernah tahu bahwa selama ini Pak Gun mengamatimu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya berpikir bahwa apa yang sering Beliau lakukan, seperti memarahi saya ketika saya terlambat, mengkritik tulisan-tulisan saya, bahkan meminta saya lebih terlibat dengan tim di halaman depan, adalah murni tugasnya sebagai pimpinan di tempat ini. Bahkan lebih dari itu, saya beranggapan Beliau menjelma sebagai sosok seorang bapak bagi saya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, Sudahlah, Nan. Sekarang ini, dia sudah terbukti sebagai seorang psikopat. Tak perlu kau bilang dia itu dengan “Beliau” segala!” Simeon mengumpat sambil melemparkan sebatang pensil ke atas meja.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Zen hanya tertawa lirih. Ada kepahitan dari suara tawanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, saya ingin lanjutkan cerita ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maksud saya, membacakan laporan dari pihak kepolisian.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lalu apa yang Anda lakukan kepada pelayan itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya memberinya sebuah catatan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa isinya ?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya menyuruhnya untuk datang di hotel itu,” sebelum melanjutkan Pak Gun menghapus keringat yang membasahi wajahnya. Lalu katanya lagi,”Saya bilang kepadanya untuk bahwa selama ini, saya yang telah memberikan bantuan kepadanya. Dan malam itu, saya ingin dia melakukan sesuatu untuk saya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pastinya, Bapak ini sudah bisa mengira…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Katakanlah saja. Saya harus mencatatnya sesuai dengan perkataan Anda.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebuah persetubuhan. Dan tampaknya dia menerima, buktinya ketika kita sudah berada di kamar, dia pun datang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa reaksi Rasida, ketika di depan matanya, Anda membujuk pelayan itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia marah. Saya bilang kepadanya, ini sebuah hukuman. Jika memang benar dia mencintai saya, dia sendiri yang harus membuktikan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia setuju?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia tidak mengatakan apa-apa. Tetapi yang dilakukannya adalah meminta kami pergi dari tempat itu, dan pergi ke hotel yang sudah biasa kami pergunakan untuk berkencan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa Anda atau kalian selalu memilih hotel itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bangunan hotel itu sudah tua, mengingatkan kami pada rumahnya yang asri di tempat asal Rasida. Lagipula saya memang sudah biasa menginap di hotel itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sekarang, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar hotel itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Zen kembali berhenti bercerita.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Teruskanlah ceritanya, Pak!” Kali ini Alfa yang protes. Dia memang sudah lama mengincar jabatan yang lebih tinggi dari sekedar wartawan senior. Dengan naiknya Pak Zen menjadi Pimpinan Redaksi, maka besar harapan dia untuk diangkat menjadi Wakil Pemimpin Redaksi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi Pak Zen cuma tersenyum, disebarnya foto-foto jenazah Rasida sesaat ditemukan tewas oleh salah seorang petugas pelayan hotel.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya ingin Anda semua menganalisis semua detail laporan ini, untuk itu saya kembali membagikan foto-foto ini. Menuliskan berita, menurut saya, juga harus bisa memberikan nyawa kepada tulisan itu. Tidak sekedar laporan semata. Saya inginkan pembaca berita nantinya bisa sedikit terpengaruh secara kejiwaan juga dengan berita yang anda tulis. Anggaplah ini sebagai latihan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan dengan berat hati, kami pun mulai mengambil satu per satu foto yang disebarkan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ada-ada saja!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Seperti pasangan yang berkasih-kasihan, kami pun melakukan hubungan intim, Pak. Tapi karena memang saya sudah dikuasai nafsu untuk menaklukan seutuhnya Rasida ke dalam cinta saya, maka saya melakukan sebuah percobaan yaitu mengikat tubuhnya dengan tali-tali kulit.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Untuk apa itu?” Mata petugas itu melotot karena dia tidak pernah mengerti hal seperti itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya ingin menegaskan, dalam hubungan itu, saya adalah pihak yang berkuasa atas tubuhnya, atas cintanya, dan atas seluruh hidupnya. Tidak ada orang lain!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana reaksi korban?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saat itu dia bukan korban, Pak!” Pengacara muda itu menyela.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Maaf. Jadi bagaimana reaksi dari Rasida waktu itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi, Gunawan mengusap wajahnya, mencoba menghapus keringat. Mungkin juga mereka-reka bentuk wajah yang paling menyedihkan yang dapat dia buat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Waktu itu, dia tidak mengeluh. Tak ada keluhan sama sekali. Memang niatan saya juga sekedar ingin menunjukkan kekuasaan saya. Supremasi lelaki di atas perempuan. Saya hanya memprotes segala kelemahannya yang tidak bisa secara tegas menyatakan cintanya terhadap saya, dengan terus menerus mengucapkan kata-kata makian juga hinaan kepadanya. Dan saya baru berhenti memaki ketika pada akhirnya dia mulai mengucapkan kata-kata bahwa dia benar-benar mencintai saya seutuhnya. Saat itulah, Farina mengetuk pintu kamar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi Farina melihat apa yang sedang kalian perbuat?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Dia melihat semuanya. Dia terbengong sebentar di depan pintu, sebelum saya berteriak kepadanya untuk segera masuk dan mengunci pintu kembali.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Anda yang membukakan pintu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Saya sendiri. Rasida masih terikat di ranjang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lantas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rasida berteriak yang intinya dia tidak suka melihat adanya Farina di tempat itu. Dia malu dilihat orang dalam keadaan seperti itu. Tapi yang saya lakukan adalah mengatakan kepada Rasida, bahwa dia harus berjanji di depan Farina bahwa dia memang mencintai saya. Saya mengancamnya, untuk melakukan persetubuhan perselingkuhan di depan matanya, apabila dia tidak mau melakukan sumpah cinta.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Anda melakukan itu dengan penuh kesadaran?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Entahlah…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Belum selesai Gunawan bicara, pengacaranya membisikinya. Petugas itu hanya melirik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya tidak tahu apakah hal itu saya lakukan dengan sadar atau tidak, seperti dari awal saya ceritakan, saya berada dalam pengaruh minuman keras.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi Anda bisa mengingat dengan detail peristiwa itu, tadi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak, Pak. Tidak. Saya tidak ingat waktu itu jam berapa. Saya hanya mengingat apa yang mungkin menjadi garis besarnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Anda mencoba mengelak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin menceritakan yang sebenarnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baik, coba Anda lanjutkan cerita tadi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tadi sampai mana, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, jangan pura-pura lupa begitu. Sampai Farina datang, dan Anda mengancam hendak ..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gunawan buru-buru memotong pembicaraan, mungkin dia tidak ingin terus menerus menjadi pihak yang tertekan dalam interogasi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Saya mengancam untuk berhubungan intim dengan Farina di depan Rasida. Rasida kemudian memohon maaf. Dan pada saat itulah kecelakaan yang mengakibatkan kematiannya terjadi…”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kecelakaan? Maksudnya?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya memegang kedua belah pipinya ketika dia berjanji untuk setia dan hanya mencintai saya. Saya memintanya untuk berjanji; “dia akan mencintai saya sampai dia mati! Untuk selamanya!”. Dia mengangguk. Saya begitu senang, dan saya memeluknya sedemikian erat. Tanpa sadar saya meremas pengikat kalung kulit yang saya pasangkan di lehernya. Ternyata hal itu membuat kalung kulit itu mencekik saluran pernafasannya. Dan karena saya terlalu gembira, karena dia mau berjanji mencintai saya sampai mati, saya tidak melepaskan pelukan. Tak pernah sedikit pun!. Saya tidak pernah tahu ikatan kalung kulit itu telah begitu kuat mencekik lehernya. Dan ketika terdengar bunyi tulang patah, barulah saya sadar. Saya telah membunuh Rasida, kekasih saya sendiri!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sampai sini, ucapan Gunawan berubah menjadi tangisan. Tangisan yang memilukan. Tubuhnya terguncang lalu jatuh. Pingsan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pengacara muda itu menghambur ke arah tubuh Gunawan yang tergeletak di lantai. Petugas penyidik itu pun tak kurang sigap. Kemudian terjadi sedikit keributan di ruang pemeriksaan itu. Dan tak lama kemudian, Gunawan dilarikan ke rumah sakit kepolisian.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ternyata cinta, dalam hal ini adalah eros, ternyata sangat erat hubungannya dengan nafsu. Sedangkan nafsu adalah salah satu motif penggerak bagi seseorang untuk meledakkan sebuah amarah. Dan amarah adalah api. Api yang membinasakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Inilah motif yang menyebabkan Rasida Alma terbunuh malam itu. Dapat dikatakan bahwa mendiang Rasida Alma adalah korban cinta yang begitu menggebu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana menurut kalian? Apakah alasan seperti itu cukup masuk akal?” Pak Zen bertanya kepada kami yang hadir di dalam ruangan ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Alfa menunjuk ke arahku. Katanya,”Danan lebih tahu banyak dalam kasus ini, coba kita dengarkan dari dia, teori apa yang bisa kita gunakan untuk menyatakan bahwa kasus Rasida Alma hanya sebuah kecelakaan dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bercinta?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tergagap sebelum kemudian mengatakan,”Cinta tak pernah memaksa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia yang akan memilih apakah aku adalah orang yang tepat untuk menumbuhkannya atau dia memilih aku sebagai orang yang menguburkan jenazahnya. Jika cinta itu memaksa, berarti orang yang menganutnya adalah orang yang tak waras!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon melempar kertas ke arahku, “Bukankah kau yang sampai saat ini masih memaksakan cinta tumbuh di hati Miranti untuk diserahkan kepadamu nanti?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku pun tersadar, ternyata selama ini aku adalah contoh orang yang kusebut sendiri barusan sebagai orang gila dalam urusan cinta!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dengan melambaikan tangan kepadanya, kukatakan,”Mulai sekarang, aku akan menjadi orang yang baru. Sebab cinta yang tumbuh di luar pagar itu akan segera kucabut dan kubuang sampai ke akarnya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Beberapa teman mentertawakanku. Pak Zen cuma tersenyum, seperti biasa, dan lalu berdehem meminta perhatian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudah. Sudah. Orang mau berusaha, jangan ditertawakan,” lagi dia berkata,”Jadi, untuk menuliskan berita tentang apa motif dan alasan Pak Gun membunuh Rasida, saya serahkan kepadamu, Nan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku terhenyak, “Lho, kok?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bukankah Pak Zen memintaku untuk lebih santai? Bahkan memintaku untuk pindah ke tempat lain?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukankah bahannya sudah ada? Kamu tinggal sering mengunjungi Pak Gun untuk mencari tahu detail-detail yang belum diungkap.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukankah Pak Gun membenci saya, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Justru karena itu, Nan. Aku memilihmu. Kau tinggal tunggu apa yang diletupkannya kepadamu, sedang kau tinggal menangkapnya. Enak bukan?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mendengar perkataan itu, yang bisa kulakukan hanya memegang kepalaku, dan menunduk dalam-dalam. Tak mengerti apa yang sebenarnya tengah Pak Zen maksudkan kepadaku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, sekarang ini, saya ingin menjelaskan perihal pembunuhan Farina, pelayan café itu,” kata Pak Zen kemudian.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Atas Dasar Apakah Farina dibunuh?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hari berikutnya, setelah diagnosa kesehatan dan Gunawan Sudarmanto dinyatakan sehat, dilakukan kembali pemeriksaan atau interogasi kepadanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya merasa kehilangan, Pak,” katanya ketika penyidik menanyakan apa yang menyebabkan dia pingsan kemarin.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Penyidik itu mencari tatapan Gunawan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Betul, Pak. Saya menyesal. Sangat menyesal. Tak seharusnya saya melakukan itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada yang janggal. Anda bilang Anda menyesali perbuatan Anda, tetapi kenapa sehari kemudian, setelah peristiwa itu terjadi, Anda mengundang korban Farina ke hotel itu lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya ingin menghilangkan jejak, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi anda bukannya tahu bahwa hotel itu masih dalam pengawasan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Justru itu, Pak. Saya memanfaatkan keadaan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maksudnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tempat yang paling tidak diduga untuk sebuah kejahatan adalah tempat yang paling aman karena penjagaan, mungkin Bapak pernah mendengar teori semacam ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, itu hanya rekaan Anda belaka. Lalu apa yang Anda lakukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kedua pengawal saya - Sasongko dan Rudi - setelah kejadian Rasida terbunuh, langsung saya minta memesan kamar lain, kamar yang agak berjauhan dengan kamar tempat Rasida terbaring. Saya pun pindah ke sana bersama Farina. Di sana saya menenangkan diri, dan juga menenangkan Farina yang ketakutan,” Gunawan menjelaskan dengan nada yang lemah. Kemudian dia melanjutkan,”Menjelang pagi, Farina saya minta untuk pulang. Sebelum polisi datang dan mulai memeriksa seluruh hotel saya pun sudah pergi ke kantor, pagi-pagi sekali. Malam berikutnya, saya telepon Farina. Saya bilang, saya butuh hiburan karena peristiwa kemarin. Tadinya dia tidak mau. Takut terjadi sesuatu yang buruk akan dirinya. Saya mencoba menenangkan. Saya bilang, saya nanti akan menyerahkan diri, tapi tidak sekarang. Sebab semua yang terjadi, seperti saya bilang kemarin ke Bapak, bahwa itu adalah kecelakaan. Saya harus bertanggungjawab. Itu pasti!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya masih tak habis pikir tentang hal ini. Korban Farina, sehari sebelumnya melihat Anda membunuh korban Rasida. Kemudian Anda mengatakan kepadanya untuk menghiburnya. Benar-benar tidak masuk akal. Lalu apakah akhirnya dia mau?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Setelah saya katakan kepadanya, bahwa saya benar-benar membutuhkan hiburan, dan saya mau memberikan sejumlah uang, bahkan lebih besar dari apa yang dia terima kemarin, dia mengiyakan untuk datang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jam berapa dia datang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya tidak ingat, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Seingat Anda saja!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kurang lebih setelah jam sembilan, Pak. Ya, sekitar jam segitu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebenarnya, apa yang ada dalam pikiran Anda berbuat seperti itu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pengacara muda yang kembali mendampingi Gunawan dalam pemeriksaan, menyela pembicaraan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf, Pak. Untuk menjawab pertanyaan Bapak yang seperti itu, klien saya perlu saya ajak berdiskusi. Jika …”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Silakan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu keduanya pun mulai berbincang dengan nada berbisik-bisik. Dan akhirnya, pengacara muda itu kembali bicara,”Pak, klien saya tidak mau menjawab pertanyaan mengenai perasaan atau pun pikirannya. Sebab menurutnya, semua yang terjadi waktu itu benar-benar di luar kendali. Terjadi begitu saja.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baik. Sekarang mohon dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar hotel itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gunawan, dengan wajah tertunduk, mulai menjelaskan apa terjadi hingga akhirnya Farina terbunuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya tengah berbaring memikir apa yang seharusnya saya lakukan setelah peristiwa kemarin ketika dia datang. Saya terpikir untuk merekontruksi kenapa leher Rasida bisa tercekik ketika saya memeluk sambil memegang ikatan pada kalung kulit itu. Dia saya minta sebagai model untuk rekontruksi saya, tapi dia menolak dengan keras. Saya masih ingat apa yang diucapkannya: ”Apa-apan ini?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak mau!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku bukan binatang!”. Penolakannya membangkitkan amarah saya. Saya bangkit dari tempat tidur dan mulai meracau. Dia menangis. Saya pun jatuh iba. Namun dia mulai bicara yang tidak-tidak.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa itu?” Penyidik bertanya memotong ceritanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia bilang kenapa saya tidak mencari wanita lain saja, padahal dia tahu kalau saya sudah membayarnya. Dan kali ini dia mau datang karena saya berjanji akan memberikan uang yang lebih banyak dari kemarin. Saya marah sekali, Pak. Saya kemudian tidak ingat lagi apa yang saya lakukan terhadapnya. Saya kalap. Saya baru sadar ketika dia sudah terbaring kaku di lantai kamar dengan tubuh telanjang. Saya tidak punya niat untuk membunuhnya, Pak! Sungguh! Saya tidak tahu apa yang saya telah lakukan kepadanya!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi, Gunawan histeris, hingga pengacaranya sibuk untuk menenangkannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, penyidikan kali ini saya sudahkan. Besok saya harap Anda mengingat apa yang telah Anda lakukan terhadap korban Farina dengan lebih gamblang,” Petugas penyidik menyudahi sesi pemeriksaan hari ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi masih banyak informasi yang hilang?” Simeon bertanya kepada Pak Zen.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan, besok pagi penyidikannya masih berlangsung. Mungkin sebaiknya, kau Simeon, datang ke sana. Bukankah dari waktu penemuan mayat korban kau yang turun ke lapangan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Benar, Pak,” ujarnya mantap.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Zen melirik ke arahku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana, Nan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tertawa senang, dan menjawabnya enteng.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sip, Pak!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Alfa, yang sewaktu penunjukkan aku sebagai wartawan yang bertugas penuh untuk menulis berita detail di balik pembunuhan Farida tampak tidak puas, mengacungkan tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Usul, Pak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukankah untuk mengetahui apa dan bagaimana Pak Gun, Bapak sudah menugaskan Danan? Kenapa tidak sekalian dia saja?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebentar. Saya rasanya juga berubah pikiran. Danan akan saya tugaskan menulis soal Eko saja. Untuk Pak Gun, saya tugaskan kau, Alfa, dan Simeon.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon tampak cemberut ketika aku melirik ke arahnya. Aku pun tersenyum kecut.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, Danan. Kau bisa mulai membaca laporan penyidikan mengenai pembunuhan Eko Wahyu. Sebab, kau adalah wartawan yang pertama kali datang ke tempat mayat Eko di atas makam Rasida bersama Aipda Soewarno.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pembunuhan Eko Wahyu Baskoro, Pengalihan Perhatian yang Gagal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebenarnya, ini pemeriksaan yang lebih awal daripada pemeriksaan terhadap Pak Gunawan. Karena dari pemeriksaan tersangka Sasongko dan Rudi inilah, Pak Gunawan dapat ditangkap,” Pak Zen membuka forum kembali.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menerima sebundel lengkap berkas. Dan mulai membacanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Cukup Nan?” Pak Zen mengagetkanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Cukup, Pak. Kalau nanti ada yang saya rasa kurang, saya bisa hubungi Pak Warno.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kalau begitu, rapat ini saya nyatakan bubar. Dan segeralah bekerja semaksimal mungkin.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pffyuhh!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Namun kelegaan itu tak berlangsung lama, karena hanya berselang waktu yang sebentar dari rapat itu, aku sudah berada di tahanan untuk bertemu tersangka pembunuh Eko Wahyu Baskoro, pelukis yang sempat bertemu Miranti di Kyoto, juga mantan kekasih Rasida Alma.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya melakukannya bersama Rudi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa Rudi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Teman saya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Atas perintah?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pak Sudarmanto.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menahan nafas sebentar. Berarti memang benar apa yang sudah diberitakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa alasannya Pak Gun, atau Pak Sudarmanto, meminta Anda melakukan pembunuhan itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa alasannya? Saya tidak perlu menanyakan itu kepada Bos saya itu. Dia meminta, saya melakukan. Titik! Tak perlu alasan!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Wow! Dia tidak senang ditekan rupanya. Dia tampak begitu tertekan di dalam jeruji penjara.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pak Sudarmanto kenal dengan korban Eko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sepertinya begitu. Mungkin lebih baik Anda tanyakan sendiri kepadanya. Saya hanya menjalankan pekerjaan saya!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Baiklah. Aku harus menggunakan cara lain untuk membujuknya bercerita.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Anda benar kekasih Susi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Anda tahu juga?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Saya ingat Anda. Sewaktu saya memeriksa kamar Farina, tak lama kemudian Anda datang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, ya? Saya tidak ingat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, Anda tidak mungkin tidak bisa mengingat saya. Bukankah Anda dikenal sebagai pembunuh bayaran yang rapi?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko mencondongkan tubuhnya ke arahku. Dan membisikkan kata yang membuatku agak merinding membayangkannya, “Bukankah Anda wartawan yang dimaksudkan oleh Bos untuk dihabisi?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menelan ludah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi, Pak Gun juga menyuruh Anda dan teman Anda untuk membunuhku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Anda tidak tahu siapa yang menculik Anda?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi…” Aku menahan amarahku yang hampir meledak. Sedangkan Sasongko tertawa sinis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Alih-alih menutupi amarahku, aku malah membicarakan soal calon istrinya, Susi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Susi meneleponku…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sabar, Teman. Saya belum selesai bicara.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia tampak tidak sabar ingin mendengarkan apa yang hendak aku ucapkan, “Katakanlah, ada apa dengan Susi!” Tampak sekali wajahnya memancarkan rasa tidak senang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Susi kecewa dengan Anda.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Rahangnya bergerak-gerak. Sekarang dia yang menahan amarah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa lagi yang dikatakannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya bisa membawanya ke mari. Jika Anda mau bercerita lebih banyak tentang pembunuhan Eko Wahyu Baskoro,” dengan tenang aku terus memancing data darinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan. Jangan. Saya tidak bisa melihatnya sedih. Jangan bawa dia ke sini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia itu justru sedang dalam kesedihan terdalam saat ini. Anda tak pernah mengerti perasaannya!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Saya bersalah kepadanya. Saya menjanjikan segalanya akan segera berakhir dengan baik. Tapi apa yang terjadi malah sebaliknya, semuanya benar-benar hancur lebur. Berakhir tanpa bentuk. Tak seperti harapan kami.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi, hal yang tak kusangka terjadi. Laki-laki yang kelihatannya seperti seorang pemberani ini mulai menitikkan airmata.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah, cinta memang aneh. Mampu menjungkirbalikkan logika. Tanpa perlu aku tanya lagi, dari mulutnya akhirnya mengalirlah cerita.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya sangat mencintainya. Dia satu-satunya perempuan yang mampu meluluhkan perasa-an saya. Apapun yang dia minta, saya berusaha untuk menurutinya. Termasuk ketika dia minta saya berhenti bekerja dengan Bos. Tinggal dua pekerjaan lagi, dan setelah itu selesai! Bartender itu dan Anda!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebenarnya kenapa dengan bartender itu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia dan pelayan di café itu adalah saksi mata waktu Bos marah kepada Mbak Rasida di café malam itu. Untuk menghilangkan jejak kejadian yang sebenarnya, maka dia harus dihabisi juga! Dan untungnya, perempuan bodoh itu datang sendiri ke hotel setelah dirayu Bos. Jadi sebenarnya saksi mata itu cuma tinggal bartender itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sialan! Farina dia sebut sebagai perempuan bodoh. Walaupun dia memang melakukan tindakan melacurkan diri, tetapi menurutku dia lebih pantas disebut sebagai pemilih jalan singkat. Bukan perempuan bodoh! Dan aku tak pernah lupa bahwa mendiang Farina menyatakan cinta kepadaku dari pandangan pertama!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana dengan saya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hal itu saya tidak tahu. Bos yang bilang sendiri, Anda harus juga disingkirkan. Di-806-kan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dihilangkan!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aduh! Rupanya di dunia ini, ada orang yang dengan gampangnya hendak menghilangkan nyawa orang. Walaupun dengan alasan yang sepele, bahkan mengada-ada.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi, apa yang Anda dengar dari Pak Sudarmanto tentang Eko, orang yang Anda bunuh dan kemudian dibuang di makam Rasida?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia menghela nafas panjang. Sepertinya kecewa dengan keputusanku bertanya kembali mengenai Eko.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku ingin tahu bagaimana dengan Susi. Apa yang dia bicarakan tentang aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, tapi Anda juga berjanji akan membantu saya untuk mengatakan kenapa Eko menjadi incaran Pak Sudarmanto, bagaimana?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Apa pun itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Setelah Susi melihatmu pemeriksaan kasus Anda ini, dan mendengar keterangan press kepolisian yang mengatakan hukuman yang pantas bagi Anda adalah hukuman mati, malamnya dia menelepon. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia menangis dan mengatakan segalanya sudah berakhir. Selebihnya dia ingin menghilangkan kenangan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mendengar Sasongko mengisak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ini memang salahku, Sus. Ini kesalahanku. Bagaimanakah caranya agar kau bisa memaafkanku, Susi?” Sasongko memegangi kepala dan menjambaki helai-helai rambutnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku biarkan dia melampiaskan penyesalan pada apa yang telah dilakukannya selama ini. Sebenarnya, aku tak sabar untuk mendapatkan berita dari mulutnya. Tapi bagaimana lagi? Dia seorang yang keras yang sedang melampiaskan penyesalan. Dan ketika itu terjadi dia hanya bisa diam atau marah-marah. Dengan sabar yang dipaksakan, aku mengambil sebatang rokok di saku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia memandangku, dari pandangannya aku tahu dia membutuhkan rokok. Terdengar suara dehem. Penjaga sel tidak memperbolehkan. Sasongko mendengus keras.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sekarang Anda mau bercerita perihal Eko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sepertinya dia berat hati untuk menjawab pertanyaanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hanya sedikit keterangan yang aku peroleh Bos tentang dia. Entah dari mana dia tahu bahwa Eko itu akan datang ke Indonesia dari Jepang, untuk dimintai keterangan mengenai hubungannya dengan Rasida.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi, Pak Sudarmanto tahu jika Eko itu mantan kekasih Rasida?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia terkekeh mendengar pertanyaanku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya jelas dia tahu. Justru itu manfaat yang ditunggu-tunggu. Semacam “blessing in disguise” dalam petaka yang ditimbulkannya. Maka dibuatlah skenario “menghilangkan” Eko. Hanya kemudian, saya berpikir jika Eko benar-benar dihilangkan maka tak justru tidak ada jalan untuk menghindar bagi bos. Itulah sebabnya saya geletakkan mayat Eko di atas makam Rasida.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk mengesankan dia yang membunuh lewat tangan orang lain, lalu kemudian bunuh diri. Kapan lagi membuat cerita macam Romeo Juliet di sini? Hahahaha…”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Entah karena merasa perkataannya memang lucu, aku pun ikut tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi begitu ya? Baiklah, aku akan menuliskan skenario Romeo-Juliet yang gagal dipentaskan. Bagaimana?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Terserah Anda saja.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seperti berkaca pada kisah cinta antara diriku dan Miranti. Aku pun gagal menuliskan cerita indah itu; “cerita percintaan yang sempurna”.&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-7969557366656854849?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/7969557366656854849/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=7969557366656854849' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/7969557366656854849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/7969557366656854849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/antara-cinta-dan-nafsu-amarah.html' title='Antara Cinta dan Nafsu Amarah'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-4906340575905064989</id><published>2008-05-26T04:39:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T04:43:14.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Dua Buah Perpisahan, Sebuah Pertautan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Setiap perpisahan yang terjadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;di sepanjang hidupku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;semua ini hanya sementara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;-- Gracia Burnham --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tak beberapa lama dari kejadian penemuan foto di ruangan Pak Gun, Pemimpin Redaksi Delik Metro tempatku bekerja, polisi berhasil mengendus keberadaannya. Bukan di luar negeri seperti yang didesas desuskan beberapa teman di kantor, melainkan di sebuah villa di sebuah kota pinggiran di Jawa Barat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dari televisi, aku menyaksikan peristiwa penangkapan Pak Gun. Ketika digelandang ke sel, dia kelihatan lebih tua dibandingkan umur sebenarnya. Aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ingin sekali melemparkan cangkir, yang isinya hampir tumpah setengah lantaran tanganku yang gemetar hebat ketika mengaduk gula ke dalamnya, yang sedang kupegang ke arah televisi itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Penipu! Selama ini dia yang mengajariku cara-cara menggali nilai-nilai berita dari segala peristiwa, tapi dirinya sendiri tak lebih dari seorang pengecut yang punya keinginan untuk menyingkirkan aku, sebagai wartawan. Melarangku mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mengingat kembali apa yang kudengar sewaktu aku disekap di dalam sebuah ruangan gelap dengan sebuah lampu yang amat menyilaukan di atas kepalaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jauhilah semua kasus itu, jika tidak kau akan kuhabisi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pantas saja suara itu amat kukenal, ternyata memang aku mengenal betul orangnya!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jauhilah semua kasus itu, jika tidak kau akan kuhabisi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Beginikah yang diinginkan oleh seseorang yang ketahuan berbuat salah?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tak ada lagi rasa iba yang keluar dariku saat memandang kepadanya. Biarlah untuk selan-jutnya hukum yang bicara. Seperti pada berita selanjutnya, berita pemeriksaan Sasongko dan Rudi. Pembaca berita menyebutkan kata “hukuman mati” dan di tayangan itu seorang pengunjung perempuan tampak menangis histeris. Susi, kekasih Sasongko. Teman sepondokan mendiang Farina. Kadang dunia memang terasa tak adil bagi pihak lain ketika sebuah proses hukum sedang berlangsung.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah pesan pendek masuk ke dalam telepon genggamku. Aku meraih telepon genggam yang kugeletakkan di atas meja. Pesan pendek dari Miranti.&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Nan, thx 4 ur help jenguk mama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;maaf, baru sempat sms&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;aku sibuk banget akhir2 ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;bagaimana kabarmu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tuhan, bagaimanakah aku akan dapat melupakannya? Dia selalu saja datang. Aku hanya ingin menghapuskan harapan akan terbalasnya cintaku dengan cintanya. Aku telah sadar bahwa dia memang masih belum bisa mencintaiku, entah sampai kapan. Hanya saja yang aku lakukan saat ini adalah menuruti nasehat-nasehat medis demi kesembuhan penyakitku. Dengan cepat kuketikkan saja;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Ranti, sudah beberapa waktu aku tak bisa kerja,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;tak bisa menghubungimu, aku sakit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku yakin dia akan cemas membaca pesanku, tapi aku tak berharap apapun darinya. Malam ini aku ingin melepaskan semua beban pikiranku dengan tidur.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sakit? Sakit apakah dia? Sudah berhari-hari pula. Aku akan meneleponnya! Tapi kemudian Miranti seperti ragu-ragu untuk menekan beberapa angka pada telepon genggamnya. Namun akhirnya dilakukannya. Satu per satu tombol-tombol itu dia tekan dengan pelan. Sepertinya di setiap tekanan itu ada suatu kehati-hatian. Miranti memang harus selalu berhati-hati bicara dengan Danan, lelaki yang teramat mencintainya bahkan mengharapkan cintanya. Jika terasa sedikit saja Miranti seperti memberi angin segar kepadanya, Danan akan rajin untuk memberi perhatian. Sebenarnya Danan sudah mengetahui bahwa Miranti pun mencintainya, hanya saja Miranti perlu waktu untuk bisa percaya bahwa cinta seorang lelaki itu tidak akan menyakitinya, seperti yang dilakukan papa kepada mamanya.&lt;br /&gt;“Tut …tut…tut …”&lt;br /&gt;Nada sibuk. Sedang apakah dia? Dicobanya sekali lagi menghubungi Danan. Masih didengarnya nada sibuk di seberang sana. Dengan kecewa, diletakkannya telepon genggamnya di dekat bantal. Miranti menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;                                              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau melihatnya?”&lt;br /&gt;“Ya. Eh, sebentar ada telepon masuk.”&lt;br /&gt;Lama tak ada suara, kemudian…&lt;br /&gt;“Biar lah paling nanti dia telepon lagi.”&lt;br /&gt;“Tidak kau angkat, Mas?”&lt;br /&gt;“Jangan panggil aku ‘Mas’ usia kita tak beda jauh.”&lt;br /&gt;“Iya, Nan.”&lt;br /&gt;“Begitu lebih baik. Sampai mana tadi?”&lt;br /&gt;“Iya, kau melihatku menangis di televisi bukan?”&lt;br /&gt;“Ya. Eh, sebentar, ada yang telepon lagi.”&lt;br /&gt;“Angkat saja lah. Kasihan.”&lt;br /&gt;“Biarlah.”&lt;br /&gt;“Nan, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.”&lt;br /&gt;“Tak ada, Sus. Semuanya sudah terjadi.”&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;“Bersabarlah. Hanya itu yang harus kita lakukan.”&lt;br /&gt;“Kau tak tahu rasanya kehilangan harapan, Nan.”&lt;br /&gt;“Ya. Mungkin. Dan mungkin kau tak pernah tahu bagaimana sulitnya menghilangkan kenangan.”&lt;br /&gt;Terdengar suara tangis dari seberang sana.&lt;br /&gt;“Jangan menangis, Sus. Lebih baik kita nikmati perih ini.”&lt;br /&gt;“Segalanya sudah berakhir, Nan!” Dia menjerit.&lt;br /&gt;“Belum, Susi. Belum. Kita sendiri yang harus mengakhiri-nya,”jawabku menegaskan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi, karena kata “akhir” kuingat sebuah sajak berjudul “Agar Segera Berakhir” karya penyair idolaku.&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;KALIMAT percakapan kita pun pecah kacau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;terserak jadi kepingan-kepingan jigsaw &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;DAN kita harus menyusun sebuah alasan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;agar segera berakhir semua permainan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;(Sajak: “Agar Segera Berakhir”, diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”, karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Masih kudengar isakan Susi di seberang sana. Dan aku hanya bisa bilang kepada-nya,”Bersabarlah senantiasa. Hanya itu yang kita punya.”&lt;br /&gt;Entah mengerti atau tidak, isakannya terhenti.&lt;br /&gt;“Maafkan aku, Nan. Sudah menyusahkanmu.”&lt;br /&gt;Aku tak menjawabnya.&lt;br /&gt;“Kadang aku merasa duniaku sudah sedemikian gelap. Aku putus asa.&lt;br /&gt;“Jangan berbuat yang tidak-tidak, Sus.”&lt;br /&gt;“Aku malu, Nan. Orang-orang menghinaku karena lelaki pilihanku tak lebih dari seorang pembunuh bayaran! Keluargaku pun tak mau aku datang. Aku bingung, Nan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pada saat ini, aku sama sekali tidak mempunyai petunjuk apapun mengenai apa yang seharusnya aku katakan kepadanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu entah dari mana muncul begitu saja sebuah ide gila.&lt;/p&gt;                            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Susi, bagaimana jika kita menghilang bersama-sama?”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu, Nan?”&lt;br /&gt;“Kita ini seperti orang yang kalah dalam kehidupan kita masing-masing, bukan?”&lt;br /&gt;“Ya. Benar.”&lt;br /&gt;“Yang kita lakukan adalah membiarkan segalanya menghilang dari kehidupan kita.”&lt;br /&gt;“Aku tak mengerti, Nan.”&lt;br /&gt;“Kita menjadi orang yang sama sekali lain, Sus. Kita menghilangkan kita sendiri.”&lt;br /&gt;“Maksudmu, kita menjadi orang baru? Segampang itukah?”&lt;br /&gt;“Aku tidak bilang bahwa segala sesuatunya akan gampang, Sus. Setidaknya, kau tidak sendirian untuk melakukannya.”&lt;br /&gt;“Apakah maksudmu, kau…”&lt;br /&gt;“Bukan seperti itu, Sus. Aku hanya ingin mengajakmu bersama-sama menghilangkan segala kenangan buruk dalam hidup kita.”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kudengar Susi tertawa. Tawa yang terpaksa.&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau lucu, Nan.”&lt;br /&gt;“Aku sudah memikirkannya, Sus.”&lt;br /&gt;“Tanpa mengajakku pun, kau ingin melakukannya? Lakukanlah sendiri. Aku masih belum tahu harus bagaimana caranya menghilangkan segala kenangan dan menjadi seseorang yang baru.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku terdiam karena perkataannya.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, Sus. Sejak kemarin aku sudah bertekad melakukannya.”&lt;br /&gt;“Kau aneh, Nan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi dia tertawa. Tak lama kemudian, dia mengakhiri pembicaraan. Dia mengantuk, ingin tidur. Aku sempat mengucapkan selamat tidur, dan semoga dia tidak berpikir yang bukan-bukan, apa lagi sampai mengakhiri hidupnya karena kesedihannya itu. Dia mengiyakan dan menutup pembicaraan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ketika aku hendak meletakkan telepon genggamku, aku terpikir untuk menghubungi Miranti yang tadi dua kali meneleponku. Namun ketika memperhitungkan waktu, aku berkesimpulan bahwa Miranti pun sudah tertidur pulas, maka kuputuskan untuk tidak meneleponnya. Mungkin besok pagi saja.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-4906340575905064989?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/4906340575905064989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=4906340575905064989' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/4906340575905064989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/4906340575905064989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/dua-buah-perpisahan-sebuah-pertautan.html' title='Dua Buah Perpisahan, Sebuah Pertautan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-432846463877985753</id><published>2008-05-26T04:34:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T04:37:26.382-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Sebelum Semuanya Tenggelam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;TAK sempat kita bayangkan pendaratan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;sebab kita dengar teriak nahkoda &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;di ruang kemudi itu: bergesalah, sebelum &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;semuanya tenggelam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;(Petikan sajak: “Sebelum Semuanya Tenggelam”,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;diambil dari Buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Menjelang sore, kulihat langit di atas Jakarta sangat gelap. Sebentar lagi pasti turun hujan. Warna yang sama kulihat dari ruangan Pak Gunawan, ruang yang lampunya tak menyala. Aku sangat penasaran kemanakah sebenarnya pemimpin redaksi surat kabar ini pergi, sebab tak ada yang mengetahui. Tak ada surat resmi yang menyatakan alasannya, tak ada pesan yang ditempelkan di papan pengumuman ruang meeting seperti biasanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gelap!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seperti pandanganku ketika sakit kepala yang sering datang tiba-tiba. Seperti sekarang ini. Bukan disebabkan oleh memikirkan keinginan Pak Zen yang memintaku memper-timbangkan pekerjaan kewartawanan di luar Delik Metro, yang katanya lebih sesuai dengan kesehatanku. Juga bukan disebabkan oleh rasa kesal karena ternyata tak ada pesan ataupun surel dari Miranti di Kyoto. Selalu tiba-tiba.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku teringat lemari obat itu ada di ruangan Pak Gunawan. Dia sering sekali sakit kepala juga. Mungkin kalau dia, lebih disebabkan oleh beban pekerjaan sebagai pemimpin redaksi. Tanpa bermaksud tidak sopan, aku melangkahkan kaki ke ruangan yang gelap itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dari arah depan, sejumlah rombongan yang tadi pergi ke resepsi pernikahan Paulina baru saja datang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei, Nan. Kamu ditunggu Paulina.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, Nan. Dia menanyakanmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya. Bagaimana sih, bukankah kau mantan pacarnya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku cuma tersenyum saja mendengar candaan teman-teman. Karena pandanganku yang mengabur, aku tidak bisa mengetahui satu persatu orang yang berseloroh kepadaku dari jauh itu. Aku melambaikan tangan kepada mereka, dan mengatakan bahwa sebentar lagi aku pergi ke resepsi itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seseorang menabrakku. Atau lebih tepatnya aku yang menabrak dia karena tidak terlalu jelas pandanganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei, Nan. Kau kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Alfa! Aku hafal betul suaranya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kepalaku pusing banget nih, dan pandanganku kabur. Aku mau cari obat sakit kepala di ruang Pak Gun.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. sudah, aku antar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia menggamitku. Kami berdua masuk ke dalam ruangan Pak Gun, dan dia membantuku duduk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebentar aku carikan, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya,” jawabanku singkat dan lemah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Agak lama dia mencari. Di laci mejanya, di lemari-lemari yang ada di sana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau tahu di mana dia biasanya menyimpan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku pernah melihatnya mengambil obat sakit kepala di lemari kecil di samping kursinya. Obat itu ada di sebuah kotak putih.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, ya. Ada,” katanya kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Syukurlah!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebentar, Nan. Aku ambilkan air.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih, Alfa.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia bergegas keluar ruangan, dan tak lama dia sudah kembali. Mengangsurkan gelas dan obat ke tanganku. Aku pun segera meminumnya. Kulihat dia iseng mengaduk isi kotak obat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Gila! Persediaan kondomnya banyak juga!” Katanya sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku yang tengah menikmati berkurangnya rasa sakit dan pandangan yang masih berkabut ini hanya tersenyum terpaksa, namun akhirnya menimpali juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Persediaan perempuannya banyak juga kali.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aneh. Alfa tidak tertawa lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nan?” Suaranya terdengar berbeda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa, Alfa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ini ada foto perempuan cantik, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Simpanannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan, Nan. Ini …”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa, Al?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau masih tak jelas melihat?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Aku belum bisa melihat dengan jelas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lebih baik, aku panggil Pak Zen!” Serunya sambil menghambur ke luar ruangan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu kudengar orang ramai bicara. Gaduh sekali. Pak Zen memerintahkan beberapa nama untuk segera masuk ke dalam ruang meeting. Sesuatu yang serius telah terjadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari pesa-wat telepon di ruangan Pak Gun, terdengar suara Pak Zen,”Nan, jika kau bisa, bergabung segera ke ruang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;meeting&lt;/span&gt;.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya, aku merasakan tubuhku semakin lama semakin lemas, dan akhirnya aku pingsan!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Inikah alam kematian?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Yang kulihat hanyalah warna putih yang terang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan tiga, bukan, empat orang berbaju putih mengelilingiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pandanganku yang tidak jelas tidak bisa menegaskan apa yang sebenarnya aku lihat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia siuman!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah! Seperti ada penyesalan dalam diriku, bahwa ternyata aku belum mati. Akhirnya aku bisa menyadari bahwa aku sedang berbaring di sebuah ranjang rumah sakit.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dokter Arif?” Tanyaku lemah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dokter Arif tidak ada di sini, yang ada Dokter Husni.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang terjadi?” Tanyaku lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Reaksi terhadap obat yang biasa terjadi. Namun, karena dosisnya lebih keras dibandingkan yang seharusnya, maka anda mengalami hal ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang sudah anda minum?” Dokter Husni bertanya padaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku tidak tahu namanya, Dok. Hanya saja saya sering melihat Pemred tempat saya bekerja minum obat itu jika pusing. Kebetulan kemarin saya tidak membawa obat yang diperuntukkan bagi saya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hal seperti itu berbahaya, Pak. Jangan menggunakan obat sembarangan. Bukankah Anda seorang wartawan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Saat seperti ini, masih saja aku dipojokkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, terpaksa, Dok,” aku membela diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia cuma tersenyum mendengarkan hal itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya sudah, Anda sudah boleh pulang. Istirahat yang banyak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih, Dok.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Zen menjumpaiku di rumahku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ternyata ada banyak keajaiban di balik sakitmu itu, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku yang baru bangun tidur itu, hanya tersenyum simpul.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebetulnya foto siapa yang diributkan waktu saya pingsan di ruangan itu, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau benar-benar belum tahu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana saya bisa melihatnya, Pak. Pandangan saya waktu itu gelap sekali.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia berdehem sebentar. Sepertinya berat untuk mengutarakannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suara dehem kembali mengingatkanku saat berusaha untuk menyatakan cintaku kepada Miranti, setelah mengantar dia pulang sehabis menjenguk Tante Aline, mama Miranti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di teras rumahnya, aku duduk di bawah, dengan alasan supaya lebih dingin.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada-ada saja, kau ini, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku tidak tahu mengapa, Ranti. Setiap aku berdekatan denganmu rasanya panas sekali.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, itu bukan perasaanmu saja, Nan? Aku tidak merasakan apa-apa.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ranti, itu karena …karena …kau adalah bara yang menyalakan api cintaku.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ya, untuk mengungkapkan kata-kata yang memalukan itu, aku beberapa kali harus berdehem untuk mengumpulkan keberanian, untuk mendapatkan seluruh perhatiannya. Bahkan jika mungkin, aku berdehem untuk meminta perhatian seluruh alam raya agar segera menghentikan apa yang sedang dilakukan, dan mengalihkan pandangan sejenak pada aku yang sedang merayu. Dan, sudah dapat diduga karena ini berulang-ulang terjadi, jawabanya hanyalah sebuah senyum.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Itu foto sepasang kekasih,” ucapan yang datar namun cukup mengagetkanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kekasih? Pak Gun dengan siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pak Gunawan dengan mendiang Rasida Alma, dalam foto itu mereka tampak mesra sekali berpelukan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah, kenapa segampang ini petunjuk kematian Rasida Alma ditemukan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kenapa aku tidak pernah menduga?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu tidak percaya?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tentu saja, aku tidak bisa percaya begitu saja. Bisa saja itu sebuah foto hasil manipulasi salah satu tenaga desain grafis kami. Mungkin saja Pak Gun adalah seorang penggemar berat mendiang Rasida, sama seperti juga aku yang senang mendengarkan dia menyanyi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Foto itu asli, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku masih terdiam. Pak Gun, bagiku, adalah seorang guru yang baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku teringat beberapa kasus foto porno, yang selalu menghadirkan seorang pakar tehnologi informasi dan selular untuk menghakimi apakah foto itu asli atau tidak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada lagi, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa itu, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sasongko dan Rudi membenarkan bahwa foto itu adalah foto orang yang sering disebut oleh mereka sebagai Bos. Dan dialah yang telah membunuh Rasida, juga Farina.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukankah mereka itu butuh seseorang untuk meringankan hukuman, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Itu ada benarnya, juga. Tapi tidak akan mengubah keputusan hukuman mati untuk mereka.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mereka dihukum mati?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Belum. Tapi bocoran dari para penuntut umum, mereka akan dituntut dengan hukuman mati.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Berarti itu pula yang akan dilakukan kepada Pak Gun?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jika semuanya terbukti, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana Pak Gun tertangkap?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kemajuan tehnologi, Nan. Kau ingat, dia selalu bisa memantau perkembangan surat kabar Delik Metro setiap hari? Padahal dia tak berada di kantor. Dia bilang juga sedang di luar kota atau luar negeri. Lewat deteksi percakapan Pak Gun dengan kedua orang pengawalnya yang sudah tertangkap, lokasinya dapat diketemukan. Betapa canggihnya tehnologi bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Segampang itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Hal seperti itu memang sudah mudah dilakukan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak bisa berkata apa-apa. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan. Di satu sisi, aku merasa bahagia bahwa tersangka pembunuh Farida juga Rasida akhirnya bisa dilacak, namun di sisi lain aku merasakan pengkhianatan besar akan nilai-nilai kejujuran yang selalu diajarkan oleh Pak Gun kepadaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Adalah pengkhianatan, yang dapat membangkitkan sebuah kemarahan terbesar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebelum semuanya tenggelam, aku harus bisa berenang mencari tempat lain untuk bergantung. Dan dengan bisikan yang lirih, aku berkata kepada Pak Zen,” Pak, saya terima tawaran peluang untuk bekerja di majalah seni budaya itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Zen tidak berkata apa-apa, dia hanya menepuk punggungku sekali dan berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, sudahlah. Kau istirahatlah dulu, jangan berpikir terlalu berat.”&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-432846463877985753?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/432846463877985753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=432846463877985753' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/432846463877985753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/432846463877985753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/sebelum-semuanya-tenggelam.html' title='Sebelum Semuanya Tenggelam'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-5168473660282249432</id><published>2008-05-26T04:26:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T04:30:52.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Sebuah Akhir, Sebuah Mula</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Kita hanya perlu sebuah benci yang terendam garam,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;kau mengutuki lekat asinnya, aku memuja pedihnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;(Petikan sajak: “Mudah Sekali Bilang Selamat Malam”,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;diambil dari Buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kali ini dugaan Dokter Arif kurasakan benar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa hari belakangan, meskipun masih dalam tahap pengobatan, kepalaku sering sekali mendapatkan serangan sakit kepala yang berkepanjangan. Tremor di tanganku semakin hebat bergetar. Untuk bisa tenang mengaduk secangkir minuman pun aku kepayahan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Café yang sama, setelah beberapa hari tak mengunjungi, masih juga terasa sepi di pagi hari. Kebiasaan lama untuk sarapan seporsi pancake dan secangkir capucino di café dekat stasiun kereta metro kembali kujalani. Joe bahkan menyambutku dengan gembira, sebab sepertinya kita semakin jarang bertemu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Akhirnya, ya, Pak,” sapanya dari balik mejanya ketika aku baru selesai makan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa, Joe?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lho, belum lihat televisi atau baca koran pagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf, Joe. Aku sering sakit kepala sekarang-sekarang ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pembunuh Eko sudah tertangkap!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa?!” Aku terperanjat kaget. Hampir saja cangkir di depanku terguling karena aku melonjak dari kursi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Semalam, mereka ditangkap saat mencoba melarikan diri ke luar negeri.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe lalu menunjukkan sebuah surat kabar pagi yang telah dibacanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya juga tadinya tidak percaya begitu mudah mereka ditangkap. Pihak kepolisian rupanya sudah berupaya maksimal untuk memecahkan kasus ini, dan ternyata tidak sia-sia.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menghampiri meja bar tempat Joe meletakkan surat kabar pagi itu, dan kemudian mengambilnya. Kususuri halaman depannya. Di dekat berita peresmian jembatan peng-hubung Jawa dan Madura oleh Presiden kemarin, kutemukan berita yang dibicarakan oleh Joe:&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-weight: bold;"&gt;PEMBUNUH EKO WAHYU BASKORO DITANGKAP&lt;br /&gt;DIDUGA HENDAK KABUR KE LUAR NEGERI&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jakarta. Para tersangka pembunuhan pelukis Eko Wahyu Baskoro, yaitu SSK dan RD yang sejak beberapa waktu lalu diburu oleh pihak kepolisian, telah ditangkap. Mereka ditangkap di bandara Soekarno-Hatta kemarin ketika sedang membeli tiket di salah satu loket maskapai penerbangan dengan tujuan Singapura. Petugas tiket maskapai tersebut curiga karena mereka diidentifikasi mirip dengan ciri-ciri pembunuh pelukis Eko WB pada selebaran yang telah disebarkan pihak kepolisian dan imigrasi di beberapa lokasi di bandara. Saat ditangkap petugas bandara, keduanya sempat melakukan perlawanan dan melarikan diri. Namun, kesigapan gabungan petugas pengamanan bandara dan kepolisian berhasil melumpuhkan perlawanan mereka. Salah satu dari mereka yaitu RD dilumpuhkan petugas dengan menembak kaki kirinya karena tidak berhenti berlari setelah diberi tembakan peringatan. Sedangkan SSK menyerah setelah RD dilumpuhkan, dan dia terkepung petugas. Keduanya kini sudah diamankan di Mabes Polri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Setelah membacanya dengan tuntas, aku tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Joe untuk berjabatan tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Akhirnya, Joe, mereka telah ditangkap.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, akhirnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi masih ada lagi,’ sambung Joe.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa itu, Joe?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah benar mereka juga pembunuh Fa?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Benar juga. Sasongko bukan pembunuh Fa menurut apa yang mendiang Fa sendiri tuliskan di dalam catatan hariannya. Sedangkan Rudi? Apakah Rudi yang dimaksud sebagai Mr. S?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku juga penasaran, apa betul mereka atau salah satunya yang menculik aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, Pak. Sebaiknya kita pergi ke sana untuk memastikan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tersenyum menenangkan diriku sendiri dan berusaha menenangkannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sabar, Joe. Kalau diperlukan, aku dan kamu pasti dipanggil kembali ke kepolisian.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kemudian setelah mengobrol dengannya sedikit lebih panjang, aku berpamitan padanya sebab harus segera berangkat ke kantor redaksi Delik Metro. Tak berapa lama, aku sudah berada di dalam kereta metro. Demi melihat seorang gadis bergaya harajuku duduk di hadapanku, aku teringat pada Miranti. Mungkinkah karena aku sakit beberapa waktu lalu, dia mencariku?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seingatku, tak ada catatan panggilan tak terjawab ataupun pesan pendek di layar telepon genggamku. Mungkin Miranti lebih memilih berkirim surel ataupun meninggalkan pesan di messenger, daripada melakukan komunikasi via telepon genggam. Ya, mungkin saja. Tapi sedang apakah dia sekarang? Apakah dia juga sedang memikirkanku?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kereta bergerak di bawah sebuah jembatan layang, ada gelap yang datang dan pergi dengan sangat cepat. Seperti tersadar, tiba-tiba aku berpikir bahwa mungkin benar, bagiku, Miranti yang seperti bayangan yang selalu mengikuti kemana tubuh ini pergi. Dan tidaklah mungkin jika tubuh ini yang mengejar bayangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berarti mulai sekarang aku harus melupakannya. Harus. Ini demi kesehatanku juga. Dokter Arif bilang aku tak boleh terlalu keras berpikir dahulu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Walau agak terlambat beberapa menit, sampailah di kantor redaksi Delik Metro.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak ada sambutan manis dari Paulina, rupanya sampai sekarang ia masih digantikan sementara oleh Astarini. Kantor kelihatan sangat lengang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kok sepi?” Tanyaku padanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mas lupa ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lupa apa?” Aku kembali bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hari ini, resepsi pernikahan Paulina,” jawabnya lagi mengingatkanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Astaga. Terus orang-orang pergi ke sana semua?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak semua. Pak Zen ada, beberapa wartawan senior juga ada. Bergantian pergi ke sananya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, begitu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku segera masuk ke dalam ruangan kerja. Menuju pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cubicle&lt;/span&gt; tempatku bekerja. Kulihat Pak Zen berdiri di depan pintu ruangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ke sini, Nan. Aku mau bicara.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baik, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dengan langkah gontai aku berjalan ke arahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia menyalamiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudah sembuh?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Totally&lt;/span&gt;, belum, Pak. Kata dokter harus lebih banyak istirahat dan mengurangi beban pikiran.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kalau begitu, kebetulan Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa memangnya, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ayo, masuk dulu ke ruanganku.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kami berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan Pak Zen. Ruangan yang rapi dan bersih. Pak Zen orangnya luas wawasannya dan bijak pula, tak heran banyak karyawan yang suka berdiskusi dengannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diskusi apa saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tutup dulu pintunya, Nan. Ini agak rahasia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menutup pintu ruangan. Pak Zen sudah duduk di kursinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Silakan, Nan,” katanya mempersilakan aku untuk duduk di hadapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa, Pak?” Aku bertanya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Begini,” ujarnya membuka sebuah pembicaraan,”Sehubungan dengan sakitmu, dan tanpa mempersoalkan kinerjamu di Delik Metro ini, saya ingin kamu mempertimbangkan sebuah penawaran dari saya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Penawaran? Penawaran apa, Pak?” aku masih belum mengerti ke arah mana pembicaraan ini menuju.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya harap kamu tidak terlalu emosional menanggapinya, sebab ini bukan berarti saya memandang apa yang terjadi pada dirimu. Tetapi seperti saya bilang barusan, saya akan menawarkan sebuah peluang bagimu untuk bekerja di tempat lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bapak bermaksud memutasikan saya?” Reaksiku kaget.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak. Tidak. Sama sekali tidak akan ada mutasi untukmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lalu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia mengambil sesuatu dari lacinya. Sebuah majalah. Dengan santainya dia meletakkan majalah itu di hadapanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Majalah seni budaya?” Aku mengambilnya dan mulai membacanya sekilas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kebetulan, saya kenal dengan penggagasnya. Saya bicarakan kepadanya mengenai dirimu. Sebelumnya saya mohon maaf, karena mungkin bagimu apa yang saya lakukan ini salah. Tetapi sungguh, tak ada niatan dari saya untuk menyingkirkan kamu dari perusahaan ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya sama sekali belum mengerti maksud Bapak sebenarnya,” aku memotong ucapannya sambil masih membaca isi majalah seni budaya itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Zen menghela nafas dan tersenyum, aku meliriknya tanpa mengubah arah pandanganku pada majalah ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mohon jangan disalahartikan, Nan. Saya dengar dari beberapa teman karyawan di sini, kamu menderita penyakit yang cukup membahayakan dirimu jika kau terlalu keras bekerja. Saya berpikir dengan melihat kinerjamu selama ini, amat disayangkan jika kau kemudian menyerah ataupun tidak dapat lagi maksimal berburu berita karena penyakitmu itu. Untuk itu, saya menawarkan sebuah pekerjaan di tempat temanku, di majalah seni dan budaya yang sedang kaubaca.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, begitu. Ya, saya tidak perlu tersinggung dengan apa yang Bapak perbuat. Tetapi saya belum bisa memutuskan. Memang penyakit ini membuat anggota tubuh saya, terutama tangan, selalu bergetar. Dan sekarang ini, sakit kepala berkepanjangan selalu saja saya rasakan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia hanya manggut-manggut. Aku meneruskan kembali ucapanku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya sangat berterimakasih karena Pak Zen ternyata begitu memperhatikan saya. Dan saat ini yang saya perlukan adalah dukungan dari teman-teman dan Bapak untuk dapat bekerja maksimal.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ada senyum terkembang di bibir Pak Zen.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nan, saya pribadi puas dengan kinerjamu selama ini. Kamu itu karyawan yang bertang-gungjawab dalam pekerjaan. Untuk itu, apa yang saya lakukan ini hanyalah sebuah alternatif supaya kamu tetap bekerja maksimal, tetapi beban fisik dan pikiranmu tidak terlalu besar. Coba pikirkanlah, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, Pak. Oh, Ya. Pak Gun ke mana? Sudah agak lama saya tidak melihatnya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak berusaha mengalihkan pembicaraan, tetapi ketidakhadiran seorang pemimpin redaksi yang cukup lama sangat perlu ditanyakan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Entahlah, Nan. Saya sendiri heran. Banyak sekali alasannya. Tetapi memang dia selalu mengkritik jika ada sesuatu yang kurang baik menurutnya pada Delik Metro.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lho, bukannya kata teman-teman, beliau pergi ke luar negeri?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, sudahlah. Lebih baik kau ambil tawaranku itu, Nan. Daripada keningmu berkerut memikirkan Pak Gunawan, hahaha…”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku pun ikut tertawa mendengar perkataannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, sudah, Pak. Saya kembali bekerja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Sana.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku berdiri. Berjalan ke arah pintu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tolong tutup pintunya lagi, Nan,” katanya setelah aku berada di luar ruangannya.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-5168473660282249432?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/5168473660282249432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=5168473660282249432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5168473660282249432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5168473660282249432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/sebuah-akhir-sebuah-mula.html' title='Sebuah Akhir, Sebuah Mula'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-1117202749470345712</id><published>2008-05-26T04:20:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T04:26:00.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Berita Sukacita</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;Impian kita mungkin sulit dicapai,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;tapi bukan berarti tak bisa dicapai,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;karena itu kerjakanlah setahap demi setahap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;-- Rommy Rafael --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di pengasinganku, masa sakitku beberapa hari, aku tak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan. Hanya lewat Simeonlah aku beroleh berita tentang hal-hal yang berhubungan dengan kasus pembunuhan berantai itu. Pagi ini, dengan ketawanya yang lebar, dia bercerita tentang pengintaiannya yang pertama kali, dan kemajuan pekerjaan pihak kepolisian untuk memburu tersangka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Coba kau baca koran kita, Nan,” katanya sambil melemparkan surat kabar Delik Metro hari ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Belum sampai aku membacanya, kutanyakan kepadanya soal Joe.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana dengan Joe? Amankah dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tenang saja, pihak kepolisian masih siaga untuk menjaganya dari bahaya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Syukurlah. Ada berita apa hari ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, kau baca sajalah dulu,” katanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku mulai membaca huruf-huruf yang dicetak besar dan tebal di bagian kepala surat kabar;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;DUA ORANG TERSANGKA PEMBUNUH&lt;br /&gt;DALAM PENGEJARAN POLISI&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu di bawah tulisan itu terdapat foto seorang gadis dalam pengawalan petugas sedang hendak dimasukkan ke dalam sebuah mobil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Itu Susi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Siapa lagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia ditangkap?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak, dia semalam dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan perihal kekasihnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi, semalam itu pacarnya tak ada di rumah itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak ada, namun coba kau baca berita sambungannya di halaman belakang,” Simeon tak sabar ingin menunjukkan hasil kerjanya. Direbutnya surat kabar itu dari tanganku, dan dengan cekatan dia mencari berita sambungannya, lantas menaruh kembali di pangkuanku.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;KEKASIH TERSANGKA HISTERIS&lt;br /&gt;RENCANA PERNIKAHAN TERANCAM BATAL&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi sebenarnya, si tersangka ini melakukan pekerjaan itu atas suruhan orang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Begitulah yang diceritakannya kepada pihak berwajib.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kasihan, Susi itu sebenarnya perempuan yang baik.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dan cantik!” Simeon menegaskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tertawa. Baru kali ini aku bisa tertawa melihat tingkahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh, kenapa kau tertawa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa kau tak coba dekati dia, On? Katamu dia itu cantik, bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, kau ini, mudah sekali bicara. Yang aku tahu, kau yang paling gatel kalau lihat perempuan cantik!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa saja kau, On. Siapa yang mau sama lelaki sakit-sakitan macam aku ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan soal jodoh. Tak akan lari gunung dikejar,” dia masih saja tertawa-tawa. Nampaknya Simeon begitu bangga akan keberhasilannya membantu pihak kepolisian.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada kabar apa di kantor?” Aku mengalihkan pembicaraan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa ya? Aku tidak terlalu memperhatikan. Hanya saja Alfa, senior kita itu, tampaknya tidak suka dengan aku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, bukankah dari dulu dia memang begitu? Aku pun sampai sekarang tidak pernah bisa mengerti jalan pikirannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Kau bagaimana? Kapan kau bisa bekerja kembali?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dokter bilang satu – dua hari ini, aku sudah bisa pulang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baguslah itu. Supaya kita bisa bagi tugas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siap, Bos!” Jawabku sambil menghormat padanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan kami pun tertawa bersama.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di sebuah ruangan tertutup, Susi tampak begitu tertekan. Dia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan sedemikian susah. Harapannya akan sebuah pernikahan dengan Sasongko di ambang kehancuran. Sasongko, calon suaminya, kini tengah dikejar-kejar oleh pihak berwajib karena dia disangka telah membunuh Eko, seorang pelukis terkenal di negeri ini. Dia masih mengurai air mata di hadapan seorang penyidik.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Benar, Pak. Saya tidak pernah tahu apa yang dia lakukan. Dia jarang menjumpai saya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi bukankah dia itu kekasihmu? Seharusnya kamu tahu apa pekerjaannya bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya tidak tahu persisnya, dia bilang dia kerja bersama Rudi temannya itu untuk seseorang yang pada masa lalunya banyak berjasa bagi keluarganya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya tidak tahu, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Namanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya tidak tahu, Pak. Sungguh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang kamu ketahui tentang majikan, Bos atau apalah itu, dari pacarmu itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mas Sas tak pernah menceritakannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak pernah mendengar namanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak pernah sama sekali, Pak.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Penyidik itu menunjukkan sebuah sapu tangan, yang ada bercak darahnya, di dalam kantung plastik bening kepada Susi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Punya siapa ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Punya Mas Sasongko, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Darah siapa yang membekas di situ?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Menurut Mas Sas, itu darah temannya Rudi.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Wajah Susi sudah sedemikian pucat. Entah sudah berapa jam dia dibombardir pertanyaan seputar kekasihnya. Dan sudah beratus kali dia mencoba menghapuskan jejak air mata di pipinya. Tak lama kemudian, Susi pingsan. Orang-orang pun segera sibuk melakukan pertolongan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Halo, Susi.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kutemui dia pada keesokan hari, karena kebetulan dia dilarikan ke rumah sakit tempat aku dirawat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Halo. Eh, Mas wartawan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Panggil saya Danan saja.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku berhasil menemuinya, karena kebetulan polisi yang menjaganya sudah kenal denganku. Dan kepadanya, aku bilang bahwa aku hanya ingin menghiburnya, meneguhkan hatinya. Bukan untuk mewawancarainya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hari ini, aku diperbolehkan pulang oleh dokter,” kataku memulai pembicaraan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, ya? Sakit apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dokter bilang, ada kerusakan pembuluh darah di kepalaku. Tetapi bisa disembuhkan, kok. Makanya aku diperbolehkan pulang. Susi sakit apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Entahlah, Mas. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku stress.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menghampiri sebuah kursi yang tersedia di dekatnya, dan mendudukinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apapun yang terjadi, sebaiknya Susi tetap tabah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, Mas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Yang aku tahu, kamu berbeda dengan Fa. Kamu periang.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ada rona memerah di kedua pipinya. Mudah-mudahan itu pertanda baik bagi jiwanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Fa bilang begitu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak, tapi aku sering bertemu dengan mendiang Fa dulu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, iya. Bagaimana dengan pembunuhnya? Apakah sudah tertangkap. Siapa inisialnya dalam tulisannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Mr. S.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi tercekat. Bola matanya terbelalak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan-jangan?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mengetahui pikirannya, dan langsung menukasnya cepat-cepat,”Bukan. Dia, yang di-maksud oleh Fa, bukan kekasihmu itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa, Mas bisa begitu yakin?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku punya kesimpulan itu karena aku membaca semua catatan hariannya. Dalam catatan hariannya itu, dia menulis nama kekasihmu dengan nama yang lengkap. Tak disingkat.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi masih belum hilang kekuatirannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang dikatakan Fa tentang Mas Sas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak ada yang spesifik. Dia cuma menyebutkan bahwa Susi punya pacar bernama Sasongko.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Cuma itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya,” jawabku singkat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku..Aku takut, Mas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ssst. Jangan takut. Aku yakin Susi tidak terlibat dengan semua ini,” aku kembali menenangkannya. Dia menggenggam tanganku erat sekali. Dari genggamannya kurasakan betapa dia membutuhkan perlindungan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Susi sudah mendapatkan pengacara dari pihak kepolisian?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudah. Tapi dari kemarin dia belum juga datang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sabar saja, ya Sus. Aku tahu kau tidak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan berantai ini.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kuberanikan diri untuk membelai rambutnya. Dan tak kusangka, dia memeluk tubuhku, lalu menangis sejadinya. Maka kubiarkan saja dia menumpahkan segala kegelisahannya dengan menangis. Sesekali kubelai rambutnya dan kutepuk-tepuk punggungnya sambil mengatakan beberapa kata penghiburan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebelum aku berpamitan pergi, dia meminta nomor telepon yang bisa dia hubungi sewaktu-waktu. Dia percaya kepadaku, dan dia berharap suatu saat aku bisa menolongnya melewati masa-masa sulitnya itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih, Mas. Saya agak lega sekarang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sama-sama. Jangan ragu-ragu meneleponku jika ada yang ingin Susi bicarakan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, Mas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Semoga lekas sembuh, ya?” Kataku sambil kembali memeluknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-1117202749470345712?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/1117202749470345712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=1117202749470345712' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/1117202749470345712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/1117202749470345712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/berita-sukacita.html' title='Berita Sukacita'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-793565548974977295</id><published>2008-05-26T04:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T04:19:54.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Datangnya Kekuatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;“Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;Seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;(Mazmur 33: 16)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei, Nan. Kamu kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku juga tidak tahu, Dok. Tiba-tiba semuanya sudah terjadi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa yang melakukannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Gelap, Dok. Aku tidak bisa mengenali siapa pelakunya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dokter Rossy menghela nafas panjang. Memegang tanganku. Mungkin saat itu, dia merasakan ada yang tidak beres dengan tanganku yang selalu bergetar ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada sesuatu dengan jantungmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Entahlah, Dok. Tanganku memang selalu bergetar begitu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menarik tanganku dari pegangannya. Teringat lagi olehku saat Miranti menarik tanggannya dari genggamanku sewaktu dia hendak melangkah ke anjungan pemberangkatan luar negeri di bandara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kita tetap bersahabat bukan, Nan?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak pernah menjawab. Seperti saat ini ketika Dokter Rossy mengucapkan selamat beristirahat dan semoga cepat sembuh. Entah kenapa, hampir semua perempuan yang aku kagumi satu persatu beranjak pergi. Dokter Rossy pun mengakhiri kunjungan singkatnya dengan alasan dia harus melakukan otopsi. Aku bergidik membayangkan jika aku mati tak wajar, tangannya yang lembut itu akan menari-nari di sekujur tubuhku dengan pisau bedah yang menyayat tajam.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon kembali menjengukku. Wajahnya sumringah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Berita baik, Nan,” katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah penculikku sudah ditangkap?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan. Bukan itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lantas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pihak kepolisian berhasil mengidentifikasi para tersangka pelaku penculikan dan pembunuhan pelukis Eko.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Wah. Hebat. Kerja yang bagus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebenarnya berkat banyaknya CCTV di bandara.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dan kau tahu, Nan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku membetulkan posisi dudukku, dengan meletakkan sebuah bantal di punggung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kedua tersangka itu mirip sekali dengan dua orang yang dicurigai petugas hotel.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Berarti benar, jika semua peristiwa itu ada hubungannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Yang kita beritakan selama ini, segala pembunuhan Rasida, Farina, dan Eko, semuanya berkaitan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Berarti kecurigaan kita selama ini benar?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Semuanya mengarah kepada kesimpulan seperti itu. Untuk itulah Pak Zen telah membentuk tim lebih banyak lagi untuk menuliskan berita pembunuhan berantai ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat ada binar di mata Simeon. Mungkin sebenarnya berita yang lebih besar sedang disimpannya. Sebagai kejutan! Aku terdiam menunggu dia berbicara kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau, Nan. Kau yang ditunjuk jadi ketua tim itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi bukankah?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Pak Zen sudah memintaku untuk memimpin sementara tim selama kamu masih sakit.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tersenyum. Aku menangkap ada praktek diplomasi yang sedang dilakukan oleh kawanku itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“On, Aku mungkin masih beberapa hari lagi baru bisa keluar dari rumah sakit. Aku pikir lebih baik, Kau bilang ke Pak Zen, aku mengundurkan diri.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lho, kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah pertanyaan retoris. Aku sebenarnya tak ingin menjawab dan kembali tersenyum kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau saja yang memimpin,” akhirnya aku putuskan mempercepat negosiasi Simeon untuk mengambil alih pimpinan tim itu. Simeon tampaknya memang benar-benar mengharapkan posisi itu, dia segera mengambil tanganku dan menjabatnya erat-erat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih, Nan. Tapi lebih baik, dan kau telepon saja ke kantor. Kau ngomong langsung ke Pak Zen!” Dia nyerocos begitu saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“On, aku rasa itu tak perlu. Cukup kau saja yang bicara sama Pak Zen. Yang penting, aku sudah pasti mengundurkan diri sebagai ketua tim.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh, tapi kau tak kenapa-kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, tidaklah . Aku ini sedang sakit,” sahutku cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku baru menyadari bahwa sedari tadi, Simeon hanya membicarakan Pak Zen, Wakil Pemred kami. Sepertinya sudah lama aku tidak mengetahui keberadaan Pak Gunawan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“On, omong-omong, Pak Gun kemana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia beberapa hari lalu, izin pergi ke luar negeri. Entah ada urusan apa, kita semua tidak ada yang tahu kabar beritanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“On, bolehkah aku meminta tolong kepadamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa itu, Nan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sehari sebelum aku diculik, aku terima telepon dari Joe. Dia bilang, ada yang mengancamnya melalui telepon. Coba kau hubungi Pak Warno, maksudku Aipda Soewarno, untuk memastikan bahwa saksi Joe masih dilindungi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa kau baru cerita sekarang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf, aku baru ingat. Lagipula, bukannya aku baru mendapat musibah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon segera bangkit dari duduknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, aku akan segera ke kantor kepolisian!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tak butuh waktu semenit, punggung Simeon sudah menghilang di balik pintu kamar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dokter yang menanganiku datang, kondisi seperti ini mengingatkan aku pada kisah-kisah masa kecil saat kami, aku, ibu, dan ayah, duduk bersama di meja makan. Ayah, sambil kami menikmati hidangan, bercerita kepadaku tentang hari penghakiman. Hari di mana Tuhan, Raja manusia, datang menghampiri kita dengan membawa sebuah kitab besar yang berisikan catatan kehidupan kita dari lahir sampai kita mati. Peristiwa yang amat menggentarkan hati. Demikianlah ayah mengajarkan kepadaku untuk bertanggungjawab atas segala tingkah laku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Selamat sore, Pak Danan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sore, Dok.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dokter Arif, demikian nama yang kubaca di tag di dadanya, membaca sebentar seberkas catatan medis yang diberikan oleh seorang perawat. Kemudian dia menghela nafas, dan tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Begini, Pak,” dia mengawali pembicaraan, kemudian melanjutkannya,”Berdasarkan pemeriksaan, sebelum mendapatkan kecelakaan, eh maaf musibah kemarin, Pak Danan ini sudah dideteksi menderita penyempitan pembuluh darah di bagian kepala.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tidak tahu harus berkata apa selain kuputuskan untuk mendengarkan penjelasan Dokter Arif ini dengan lebih seksama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kondisi ini kemudian diperparah dengan beberapa pukulan yang Bapak terima dari peristiwa kemarin,” lagi dia mengambil nafas, sepertinya ada lagi berita yang lebih berat yang hendak disampaikannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada beberapa pembuluh darah di kepala yang kemudian rusak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi saya merasa tidak apa-apa, Dok?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mungkin belum merasakannya, Pak. Tetapi saya menduga dalam beberapa waktu lagi, Bapak akan lebih sering menderita sakit kepala yang hebat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ini baru dugaan atau?” Aku bertanya serius kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bapak tak perlu kuatir, seiring dengan pengobatan dan asupan makanan yang bergizi, kerusakan itu dapat diperbaiki. Akan tetapi perlu waktu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi saya sudah bisa pulang, atau…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dalam dua atau tiga hari lagi, nanti kita lihat perkembangannya, Bapak sudah dapat pulang ke rumah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untunglah, segala sesuatu yang menakutkan cepat berlalu. Tapi aku sekarang kuatir dengan janjiku kepada mendiang Farina karena aku yakin tidak akan bisa menepatinya. Sekarang teman-temanku sudah bergerak cepat bersama pihak kepolisian untuk segera menangkap mereka yang telah membunuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tapi mungkin ini yang memang harus terjadi. Aku mungkin tidak disiapkan untuk menghadapai segala peristiwa ini sendirian. Dan mungkin inilah rencana yang sebenarnya dari Tuhan, aku disakitkan sedangkan teman-temanku digiatkan untuk bersama-sama dengan pihak kepolisian mengungkap sebuah kejahatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu aku teringat kembali pada gambar-gambar rekaan yang ditunjukkan oleh Pak Warno kepadaku. Dia yang wajahnya direka oleh penyidik kepolisian adalah orang yang datang setelah aku memeriksa kamar Farina. Dia itu kekasih Susi!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku memang melihatnya selintas, sesaat sebelum aku beranjak pergi dari rumah pondokan itu. Ada hal yang tidak dapat aku lupakan dari orang itu, sebuah kulit yang melingkari lehernya!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tas yang tadi dibawa oleh Simeon waktu menjengukku, segera kuaduk isinya untuk mencari telepon genggam. Aku harus segera menghubungi Simeon untuk memberitahu pihak kepolisian, kemungkinan, salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh tersangka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, Nan. Gue masih di tempat Pak Warno. Ternyata memang wajar kalau kauculik ya? Kata Pak Warno, Kau memang terlalu banyak tahu …ehh?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon segera menghentikan bualannya ketika aku tanpa sabar menyela pembicaraannya dengan menyebutkan informasi yang aku ingat tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa? Serius? Kau lihat sendiri orangnya? Kapan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon terus saja bertanya-tanya, sedang aku pun tak memberinya kesempatan dengan terus menceritakan pengalamanku bertemu dengan salah seorang tersangka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, aku coba bilang ke dia kalau …,” Simeon melirik ke Pak Warno.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Warno kemudian memberi isyarat kepada Simeon, menitipkan pesan kepadaku supaya aku cepat sembuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Oh ya, Pak Warno bilang, cepat sembuh!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon menutup pembicaraan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon mendekatkan dirinya pada Pak Warno, lalu berbisik kepadanya apa yang telah aku katakan di dalam pembicaraan telepon. Tidak berapa lama ada perubahan di wajah Pak Warno. Dia pun berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu serius? Danan yakin kalau itu orang yang dia lihat?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Benar, Pak. Dia bilang dia sendiri yang berpapasan dengan orang itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku coba koordinasi dulu dengan atasan. Semoga bisa segera dikirimkan tim pengintai. Atau kau mau melakukannya untuk kami?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon kaget, baru pertama kali dia dimintai tolong menjadi tim pengintai kepolisian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Danan itu sering melakukannya, dulu waktu dia baru-baru jadi wartawan, makanya kami bisa akrab seperti sekarang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah, pantas saja dia punya banyak teman di kepolisian! Simeon berkata dalam hati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku pun harus berani melakukan hal yang sama! Tekadnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tunggulah dulu sebentar, aku mau ke tempat atasan. Siapa tahu kau tak perlu melakukan,” kata Pak Warno tanpa bermaksud mengecilkan hati Simeon. Selanjutnya, dia segera meninggalkan Simeon yang sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera pergi ke alamat yang tadi kuberitahukan.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-793565548974977295?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/793565548974977295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=793565548974977295' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/793565548974977295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/793565548974977295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/datangnya-kekuatan.html' title='Datangnya Kekuatan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-2277680817049283336</id><published>2008-05-26T04:04:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T04:10:38.722-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Masuk Ke Dalam Mimpi Buruk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;“Nan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Ranti?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;“Apa pernah kau berpikir tentang kematian?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih punya banyak mimpi,jadi aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belum mau mati.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bertahun lalu, ketika Miranti menanggung kesedihan yang teramat dalam karena kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh Papa terhadap Mamanya, sering sekali mendis-kusikan masalah kematian. Sebagai sahabatnya, tentu saja aku begitu kuatir andaikan dia terjerumus dalam pikiran yang menyesatkan. Melarikan diri dari masalahnya dengan obat-obatan, minuman keras atau pun bunuh diri!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak pernah menginginkan hal-hal itu terjadi pada dirinya. Pada Miranti-ku!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Malam ini, aku pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat lega tersebab apa yang dirisaukan oleh Miranti mengenai Tante Aline, Mamanya, tidak terbukti. Sepanjang jalan menuju rumahku, ingin rasanya aku bernyanyi karenanya. Ah, seandainya saja aku bisa menggubah satu puisi karena perasaan bahagia ini, patut disayangkan memang bahwa sampai saat ini aku hanya seorang penikmat puisi belaka. Aku tersenyum sendiri lantaran teringat Miranti yang mengatakan jika aku menggubah sebuah puisi paling bisa disebut sebagai puisi “curhat” belaka, puisi yang emosinya sangat langsung bisa dibaca oleh pembaca. Mirip-mirip lagu pop yang cengeng, tambahnya. Kritiknya memang membangun, membuat aku lebih intens untuk belajar menulis puisi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Memasuki kompleks perumahan, kusapa seorang satpam yang sedang asyik menonton siaran langsung sepak bola. Di sebelahnya, teman sekerjanya tampak tertidur pulas berselimutkan sarung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baru pulang, Mas?” Dia melirikku sekilas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, Pak Hamdan. Siapa lawan siapa?” Tanyaku menunjuk televisi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Liverpool lawan Hotspur (Totenham Hotspur maksudnya),” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar kaca. Kukeluar-kan sebatang rokok, dan mulai membakarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Berapa skornya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Masih kosong-kosong, Mas.” Dia mulai melihat ke arahku. Lebih tepatnya pandangannya tertuju pada sebungkus rokok di saku bajuku. Sebelum sempat dia berkata apa-apa, kukeluarkan bungkus rokok itu dan kusodorkan kepadanya. Dia &lt;i style=""&gt;‘nyengir&lt;/i&gt; kuda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Tau aja&lt;/i&gt;, Mas. Mulut &lt;i style=""&gt;asem&lt;/i&gt;, nih!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu dia mulai mengganti topik pembicaraan. Lebih kepada aktivitasku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pulangnya malem terus ya, Mas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, tidak juga. Tapi beginilah wartawan,” sahutku sekenanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, Mas ini wartawan toh! Saya pikir kerja kantoran.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu dia celingukan seperti memeriksa perlengkapanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kok tidak bawa kamera?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Astaga! Apa mentang-mentang wartawan harus selalu kelihatan menenteng kamera kemana-mana?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada, Pak Hamdan. Mau difoto?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hehehe. Tidak. Saya cuma &lt;i style=""&gt;‘nanya&lt;/i&gt;.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, sudah. Saya pulang dulu, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Eh…sebentar, Mas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sepertinya ada yang penting yang hendak disampaikan olehnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukannya Mas ini yang rumahnya di depan rumah besar warna biru itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, benar. Kenapa memangnya, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dari tadi siang, ada dua kali orang yang sama sepertinya hendak bertamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, ya? Siapa?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hamdan, satpam kompleks itu, menggaruk-garuk kepalanya. Seperti sedang mencari-cari kartu memori yang dia selipkan di belantara rambut keritingnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Laki-laki. Agak gendut, rambutnya cepak, tingginya hampir sama dengan Mas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa ya? Jarang sekali teman saya bertamu pada siang hari. Mereka sudah tahu saya suka pulang malam.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm…Siapa tadi &lt;i style=""&gt;‘ngakunya&lt;/i&gt; ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, sudahlah. Paling-paling orang minta sumbangan, hahaha…” Aku berkata sambil berlalu. Dan kataku lagi padanya,”Nanti kalau sudah ingat kasih tahu ya, Pak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia mengiyakan sambil kembali menonton siaran sepak bola di televisi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sesampai di rumah, setelah mandi dan merebahkan diri di sofa, aku mencoba mengingat kembali segala detail kasus berita yang tengah kuselidiki. Silih berganti gambar-gambar menyeramkan yang sempat terekam dalam benakku bermunculan. Wajah cantik Rasida Alma dan Farina lengkap dengan mata lebam dan bibir biru. Tubuh mulus Rasida yang terikat di sana-sini, juga tubuh Eko yang tergolek kaku di atas makam Rasida. Semuanya ibarat mimpi buruk yang memaksa seluruh perhatianku, secara fisik dan batin, masuk ke dalamnya dan kemudian berusaha maksimal mencari setitik terang cahaya yang akan menuntunku ke arah jalan keluar. Lalu kembali teringat pada gambar rekaan yang diberikan oleh Pak Warno. Mungkinkah ingatanku tentang orang itu bisa kubangkitkan kembali? Dan mungkin karena otakku sudah tak lagi mampu berpikir keras, aku pun tak sadar bahwa akhirnya aku tertidur.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Namun belum jenak tidurku, kurasakan ada tangan kuat membekapkan sehelai sapu tangan pada hidung dan mulutku, sementara tangan yang lain menggengam erat pergelangan tanganku. Bagian atas tubuhku terasa berat sekali, dan dadaku pun sesak. Rupanya orang yang tengah berusaha melumpuhkanku, menindihku dan lututnya menekan kuat di dadaku. Segalanya terjadi begitu cepat sehingga aku tak bisa mengenali siapa orang itu. Kesadaranku juga semakin jauh berkurang. Mungkin ini disebabkan oleh gas dengan bau menyengat yang terpaksa kuhidu dari sapu tangan ini. Aku pun tak sadarkan diri.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tok!” Sebuah kayu panjang yang diantukkan pada meja di depanku, membuatku tersentak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hei!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di mana aku?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Antara sadar dan tidak, aku berusaha mengenali ruangan di mana aku kini. Kurasakan aku tak bisa menggerakkan badanku, dan setiap aku hendak bangkit selalu saja terduduk lagi. Tanganku pun tak bisa kugerakkan. Rupanya kedua tanganku diikat ke belakang, melewati sandaran kursi. Sedangkan kedua kakiku terikat pada kaki-kaki kursi. Aku tak bisa lagi bergerak. Ruangan gelap ini gagal kuidentifikasi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Apakah ini mimpi? Tapi suara itu seperti nyata!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rupanya kau sudah sadar?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sadar? Tadi aku tertidur dan ..Ah, Aku ingat! Tadi ada yang melumpuhkanku!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat dengan sangat samar, seorang lelaki berdiri memegang kayu sepanjang kurang lebih satu meter. Pandanganku begitu lamur. Kepala pun terasa begitu berat. Kembali aku bertanya, kali ini aku coba membuka suara. Tapi…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mmmhfff, Mhhmmff!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak bisa bersuara. Rupanya mulutku disumpal oleh kain.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ujung tongkat itu menyentuh daguku. Tiba-tiba mataku langsung tertuju kepada sebuah bola lampu yang bersinar sangat terang, dekat di atas kepalaku. Mungkin hanya satu meter hingga silaunya begitu menyiksa kedua bola mataku. Tak hanya itu, akibatnya aku tak bisa melihat siapa yang berdiri di depanku itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku cuma ingin memperingatkanmu, Danan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Danan? Berarti dia mengenalku? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suaranya...Suaranya…Sepertinya…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Plak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah tamparan keras mengenai pelipisku. Pedih!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kepalaku terdorong ke samping, sebagian tubuhku juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku oleng, hampir jatuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dengar! Ini peringatan pertama dan terakhir dariku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Peringatan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Peringatan untuk apa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mencoba menegakkan kembali tubuhku. Sementara kepalaku terasa pusing yang sangat hingga untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang kualami, aku tak bisa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jauhi kasus-kasus yang tengah kauselidiki. Jika tidak…”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menengadahkan kembali mukaku, mencoba mencari tahu seperti apa lelaki yang sedang bicara kepadaku. Tapi lagi-lagi sebuah tamparan! Aduh!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau tak perlu mencari tahu siapa aku, bagaimana rupaku. Yang terpenting sekarang ini adalah kau menuruti kemauanku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ya. Ya, segera katakan!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak ingin lebih lama disiksa seperti ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jauhilah semua kasus itu, jika tidak kau akan kuhabisi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mendengar hal itu, aku merasa langit sepertinya tiba-tiba runtuh.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Plak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di kepalaku, bulan pecah dan berhamburan kepingannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu hujan meteor pun terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah kiamat untukku!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebelum aku benar-benar jatuh kembali ke alam ketidaksadaran, aku berpikir&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Demi sebuah pesan yang sangat singkat, aku harus menjalani peristiwa aneh ini?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia siuman!” Teriak seseorang. Aku tak tahu siapa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sinar yang memberkas dan menerobos kulit pelupuk mataku demikian kuat, aku mengerjapkan mata. Ah, matahari…Aku menggerakkan bibirku, kering sekali mulut ini rasanya. Ada rasa asin. Apakah mungkin itu darah yang keluar dari bibir yang pecah akibat ditam-par semalam?.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Wah, ini sih gelandangan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dasar. Tidur sembarangan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan masih banyak lagi yang bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Banyak orang sedang mengerumuniku. Bukankah semalam aku tertidur di sofa? Tidak. Semalam aku dikurung dan diikat dalam sebuah ruang gelap dengan satu lampu yang tergantung sangat dekat di atas kepalaku. Tapi kenapa sekarang aku berada di sini? Tergeletak dan dikerumuni oleh banyak orang di sebuah trotoar? Dan lebih-lebih, tanpa baju!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mencoba segera bangkit walau agak terhuyung-huyung. Kepalaku masih terasa begitu berat. Dari mereka yang menonton aku, tak seorang pun mendekat dan membantu. Apakah aku terlihat benar-benar seperti orang gelandangan? Akhirnya kuputuskan untuk melakukan upaya terakhir demi mendapatkan pertolongan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tolong saya ….”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Barulah beberapa orang di antara mereka maju untuk menangkap tubuhku yang hampir terjatuh kembali.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Cepat…cepat…bawa ke rumah sakit!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku tak tega melihat Mama selalu menderita, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau harus berbuat sesuatu untuk bisa mencegahnya, Ranti.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Melawan Papa? Aku takut…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa perlu aku yang bicara sama Papamu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kenanganku terhadap rumah sakit adalah saat aku menjenguk Tante Aline, bersama Miranti, yang menjalani pemeriksaan akibat pukulan Om Wisnu. Dari peristiwa itulah sebenarnya aku sudah mengetahui bahwa Miranti tidak pernah siap untuk menerima kehadiran seorang lelaki di dalam hatinya. Lelaki yang dilihatnya setiap hari sejak kecil adalah lelaki yang pemarah dan ringan tangan. Meskipun aku sering sekali menase-hatinya bahwa tidaklah bisa dia menyamaratakan perilaku lelaki dengan tabiat kasar Papanya, hatinya masih belum bisa sepenuhnya terbuka.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jika dulu yang berbaring di ranjang putih dengan mata yang lebam, pipi bengkak dan bi-bir yang sobek adalah Tante Aline, maka sekarang akulah yang tergolek di sini. Tak berdaya. Hanya berharap pada pertolongan orang lain. Mungkin sebenarnya luka-luka yang aku derita tak begitu parah, tetapi karena kondisi fisik yang tidak pernah fit menyebabkan aku harus menjalani perawatan yang cukup intensif. Dokter sudah melakukan pemeriksaan CT Scan, dan rontgen, yang hasilnya belum bisa aku tahu. Perlu beberapa hari lagi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon duduk di dekat kakiku, menilik-nilik lebam dan luka-luka di kepalaku lalu bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, Nan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku pun tak tahu. Tiba-tiba aku sudah berada di sebuah ruangan, mendapat siksaan sebentar lalu aku sudah berada di trotoar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau disiksa? Kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Penyiksaku bilang supaya aku meninggalkan kasus yang sedang kuselidiki.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kasus mana yang dimaksud?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia tidak menyebutkan kasus yang mana, tetapi dia mengancam untuk membunuhku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau diancam? Kasus apa ya? Apa maksudnya kasus Rasida?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Entahlah On. Yang penting aku sembuh dulu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Sudah. Sebaiknya kau istirahat dulu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Simeon berdiri, dan kemudian berpamitan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Saat seperti ini, ada yang masih kuingat. Keselamatan Joe! Aku harus menghubungi seseorang untuk melindunginya. Jangan sampai ia masuk ke dalam mimpi buruk yang tengah mengancam jiwaku. Kematian. Kematian adalah mimpi buruk bagi orang yang belum siap untuk menerimanya. Seperti aku. Dan aku rasa Joe pun belum siap untuk mati.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Segera aku mencari telepon genggamku. Tapi aku lupa jika aku dibawa ke rumah sakit dalam keadaan setengah telanjang, tidak membawa apa pun. Bahkan sampai-sampai hampir tidak diterima oleh pihak rumah sakit ini lantaran dikira gelandangan. Kemudian aku teringat seseorang ; Dokter Rossy. Dia pasti mau membantuku. Kupencet bel panggil perawat yang terletak di meja berwarna putih di kepala ranjang. Dan tak begitu lama, seorang perawat datang. Dari tag nama warna hitam di dadanya kubaca sebuah nama : Shafira.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa, Mas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh..Ini, Suster. Saya mau minta tolong, boleh?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa?” Lagi dia bertanya dengan nada yang datar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa panggilkan Dokter Rossy?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lho, Dokter Rossy bukannya di Kamar Jenazah kerjanya? Memangnya Anda kenal?” Tampak dari gaya bicaranya dia seperti ingin mengabaikan permintaanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Saya temannya. Danan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, begitu. Baik nanti saya coba panggilkan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tersenyum, meskipun sakit aku paksakan, untuk mempercair suasana yang kaku di antara aku dan Suster Shafira. Tapi rupanya dia memang tidak terlalu peduli pada hal-hal di luar kepentingan medis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih, Sus.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tanpa membalas lagi, dia pun segera berlalu dari kamar. Yang terdengar hanyalah suara dari hak sepatunya yang beradu dengan lantai kamar. Suara yang mirip sekali dengan detak jantung di malam yang sunyi. Detak-detak teratur yang kudengar semakin jauh. Mudah-mudahan kehadiran Dokter Rossy bisa membangunkan aku dari mimpi buruk yang tengah kualami saat ini.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-2277680817049283336?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/2277680817049283336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=2277680817049283336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/2277680817049283336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/2277680817049283336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/masuk-ke-dalam-mimpi-buruk.html' title='Masuk Ke Dalam Mimpi Buruk'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-5158519993508049923</id><published>2008-05-26T04:01:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T04:04:25.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Perayaan Kecil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Kunci kebahagiaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;adalah melupakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;konsep kesempurnaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;- Debra Messing-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Berbekal gambar-gambar tersangka pembunuh Rasida dan Farina dari Pak Warno, aku kembali ke kantor untuk menulis berita. Beberapa hari yang lalu, aku diperintahkan oleh Pak Gun untuk selalu membuat berita yang sifatnya lebih ke arah berita foto sedangkan isinya singkat dan bombastis belaka. Pekerjaan yang tidak terlalu rumit kukira. Meskipun kadang mengganggu idealisme jurnalistik yang sepatutnya aku jalankan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di depan meja resepsionis, tak kulihat senyum manja Paulina. Senyum yang biasanya menjadi penyegar keruwetan masalah, yang dihadapi tak hanya olehku tetapi juga beberapa rekan wartawan lain. Kami sering sekali menggoda Paulina. Hanya saja, di antara mereka, Paulina kelihatan lebih akrab bercanda denganku. Di belakang meja resepsionis sekarang tengah duduk seorang gadis dengan kulit coklat sawo matang dan rambut sebahu yang dicat kuning keemasan di beberapa bagian. Dia tersenyum ke arahku ketika aku melirik kepadanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Selamat siang Pak. Bapak mau bertemu siapa?” Dengan ragu-ragu dia bertanya kepadaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku hanya tersenyum sebelum aku malah balik bertanya kepadanya, “Paulina ke mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Begitu aku bertanya begitu, dia pun tersipu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“O, maaf. Bapak pegawai sini ya? Maaf, Pak. Mbak Paulina cuti. Persiapan pernikahan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku langsung saja mengulurkan tanganku padanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Arya Dananjaya. Panggil saja aku Danan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia mengulurkan tangannya malu-malu. Adegan ini aku pikir seperti adegan sebuah film percintaan belaka. Lalu, kami sudah berjabat tangan dan dia pun menyebutkan sebuah nama; Astarini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada pesan untukku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kembali aku bertanya segera setelah melepaskan jabatan tanganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rasanya tidak ada, Pak.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kuanggukkan kepalaku lalu segera menuju ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cubicle&lt;/span&gt;-ku untuk segera membuat berita. Namun belum sempat aku duduk, Alfa sudah memanggilku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nan, yang buat besok, headline-nya sudah ditentukan; soal “Penyelewengan Dana Logistik Badan Penanggulangan Bencana Alam”. Jadi tulisan berita kriminal-mu itu dipindah ke halaman tengah. Jadi bikinlah berita yang agak detail, kata Pak Gun.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah. Sial! Hari ini aku belum mendapatkan sesuatu yang berarti kecuali gambaran tersangka, dan hal itu belum boleh dipublikasikan.” Aku mengumpat dalam hati sebab aku belum menemukan sesuatu pun yang bias aku kupas dari penyelidikan kepolisian atas meninggalnya Rasida, Farina ataupun Eko!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku bangkit ke arah Alfa untuk menanyakan berapa kira-kira bagian untuk beritaku. Alfa pun menunjukkan dummy layout halaman tengah. Setelah mengobrol sedikit panjang mengenai topik apa yang sedang hangat, juga kemajuan penyelidikan polisi pada kasus Rasida, akhirnya aku berkesimpulan untuk menuliskan kemungkinan kasus kematian Rasida, Farina dan Eko adalah suatu pembunuhan berantai. Biarlah hal ini akan menjadi polemik bagi pembaca, dan semacam praduga yang harus dibuktikan kebenaran maupun kesalahannya. Alfa pun setuju. Dia menepuk bahuku sebelum berlalu. Tak begitu lama aku tenggelam pada rangkaian kata-kata yang kucomot dari berbagai tape wawancara dengan Pak Warno, Joe, juga Susi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah, Susi! Perasaanku tiba-tiba mengatakan bahwa ada sesuatu yang aku ingat yang berkaitan dengan dia. Entah apa. Aku belum bisa menduganya, pikiranku masih tertuju pada rangkaian kata yang hendak aku jadikan berita. Nanti pada saatnya aku pasti akan bisa menemukan hal itu. Aku yakin pada kemampuanku untuk menganalisa sesuatu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tiba-tiba di pojok kiri bawah toolbar muncul sebuah ikon amplop. Ada surel (surat elektronik) baru! Aku menduga dengan pasti itu surel dari Miranti, karena duniaku ini sempit. Aku hampir kehilangan kontak dengan lebih dari setengah isi kelasku dulu sewaktu kuliah. Jangan tanyakan kepadaku teman-teman sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, lantaran Bapakku yang sering berpindah tugas aku pun sudah tidak mungkin menghafal mereka. Dengan tak sabar segera aku melakukan “double-click” pada ikon tersebut. Dan ternyata tebakanku benar adanya!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Dear Danan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Kali ini aku ingin meminta bantuanmu. Kemarin malam, Mama menelepon dan mengatakan dia sedang tidak enak badan. Mama memang tidak mengatakan jika dirinya sedang sakit. Mungkin Mama takut jika berterus terang akan merisaukan pikiranku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Tapi aku tetap saja tidak bisa tenang. Untuk itu aku minta bantuanmu, agar dapat menemui Mama. Tolong ya, Nan. Aku berdoa semoga Mama tetap dalam keadaan sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Sebelumnya, aku sangat berterimakasih jika kau mau melakukannya Nan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Salam,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Miranti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Yang aku lakukan adalah segera menuntaskan pekerjaanku. Mencetaknya, dan memasukkan file-nya dalam USB, serta menyerahkan kepada Pak Zen.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mau ke mana, Nan? Sepertinya kau tergesa-gesa,” tegurnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada tugas kemanusiaan, Pak!’ Aku bercanda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, ada-ada saja kau, Nan. Sudah selesai bagianmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah Pak. Itu tadi yang saya serahkan?” Aku menunjuk pada berkas cetak dan USB yang masih di tangan Pak Zen.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu tidak mau menghadap Pak Gun?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tampaknya dia sedang gembira. Dari tadi senyum melulu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Biarlah, Pak. Saya sedang terburu-buru.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya sudah sana. Pergilah,” katanya kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku segera berlalu dari tempat itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Menjumpainya seperti memunguti kembali serpihan kenangan. Bukan hanya kenangan, tetapi luka. Luka dari sebuah harapan yang begitu ingin aku wujudkan. Bukan kepada dirinya memang, tetapi kepada anaknya. Tante Aline, Mama Miranti adalah sosok perempuan yang benar-benar tabah menghadapi cobaan dalam hidupnya. Berulangkali disakiti oleh suami, namun yang ditampakkan kepada orang lain adalah kesabaran yang sangat pantas dibanggakan. Dia tidak pernah menyerah pada kenyataan sekalipun pada awalnya dia berupaya menyembunyikan kepedihan hatinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Memasuki halaman rumah ini, mengingatkan aku pada saat pertama kali aku mendekati Miranti. Ada rasa canggung yang kutanggung dalam setiap langkah ke arah pintu. Apa lagi ketika kuberanikan diri menyentuh dan memijit tombol bel untuk menjadikan sebab si penghuni rumah untuk membuka pintu, atau paling tidak melongok di balik jendela. Namun kali ini semuanya berbeda. Yang kubawa adalah rasa waswas yang mendera. Hal itu semakin bertambah dengan kekuatiran yang terselip pada surel Miranti.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat Tante Aline sedang berada di beranda. Di tangannya ada gunting tanaman berukuran kecil dan botol penyemprot pupuk cair. Sejak Om Wisnu mendapatkan perawatan, Tante Aline menyibukkan diri dengan bercocok tanaman Adenium, kamboja Jepang kata orang. Dia tersenyum demi melihat aku datang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nan, apa kabar? Sudah lama kamu tidak pernah main ke sini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, Tante. Maklum sibuk.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada kabar apa sampai kamu datang? Mau menikah?” Tanyanya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak Tante. Bukan itu.” Entah kenapa aku tersipu. Di dalam hati, aku ingin berkata dengan sejujurnya bahwa yang ingin aku nikahi adalah anaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Om Wisnu mana Tante?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sejenak dia tampak kebingungan, namun akhirnya kembali bibirnya menyunggingkan senyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mas Wisnu tadi dapat undangan rapat di rumah Pak RT. Eh, ayo masuk! &lt;i style=""&gt;Ngapain&lt;/i&gt; bengong di situ?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya Tante.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mengikutinya masuk ke dalam ruang tamu. Sebelum dia mempersilakan aku duduk, aku menyampaikan maksud kedatanganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Miranti kirim pesan. Dia bilang Tante sedang tidak enak badan. Makanya saya ke sini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi dia tersenyum.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tante tidak apa-apa. Maklum, cuaca sedang tidak tentu bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tidak bisa begitu saja percaya ucapannya mengingat banyaknya peristiwa kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. Aku masih menatap tak percaya kepadanya. Dan mungkin dia bisa merasakan arti tatapanku itu, hingga akhirnya dia kembali angkat suara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Om Wisnu sudah berubah total. Jangan kuatir,” ucapannya begitu menyakinkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh, tidak. Bukan itu, Tante,” sahutku berusaha menutupi kecurigaanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi benar Tante tidak sedang sakit? Soalnya Miranti tampaknya begitu kuatir.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, nanti biar Tante telepon dia.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku pun bisa tersenyum lega. Apa yang dirisaukan Miranti ternyata tidak beralasan. Manusia senantiasa dapat berubah dan diubahkan oleh keadaan bukan? Mungkin itulah yang memang terjadi dengan diri Om Wisnu. Setelah diancam hendak dilaporkan oleh Miranti karena kerap menyiksa Tante Aline dan dipaksa untuk mengikuti rehabilitasi serta pengaturan amarah oleh tenaga psikolog, akhirnya Om Wisnu dapat berubah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pertemuan dengan keluarga Miranti di hari petang ini menjadi sebuah perayaan atas perubahan positif yang baru aku ketahui. Mungkin bagi Tante Aline dan Om Wisnu, yang bergabung dengan kami belakangan, kedatanganku juga sebagai obat kerinduan terhadap anaknya yang sedang berada di Kyoto karena aku banyak menceritakan apa yang sering Miranti katakan dalam pertemuan maya kami via internet.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di sebuah café, malam itu, tampak dua orang duduk berhadapan. Salah seorang dari mereka memulai pembicaraan, “Kapan saya bisa bergerak untuk menyelesaikan permainan ini, Pak?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Yang ditanya, menghembuskan asap rokok dari bibirnya sebelum menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan sekarang, Songko. Saat ini pihak kepolisian masih berkonsentrasi pada semua kasus yang berkaitan dengan Rasida.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Biarkanlah untuk sementara, pekerjaan untukmu itu aku tunda.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko menyesap rokoknya, dan berkata,“Bukankah lebih cepat habis semua saksi akan lebih baik, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak. Tidak. Lebih baik sekarang kita berdiam diri dulu, toh untuk kasus Rasida pun mereka masih belum menemukan titik terang. Apalagi soal Farina dan Eko.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi kita biarkan Si Bartender itu hidup lebih lama?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau lupa? Dia masih dalam pengawasan dan penjagaan polisi. Dan untuk sementara, kau dan Rudi coba awasi gerak-gerik wartawan itu saja. Semakin lama, aku pantau gerakannya makin membahayakan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi, Sebenarnya Bapak tahu siapa wartawan itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, sudahlah. Itu bukan urusanmu! Eh, mana Rudi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko tersenyum menyeringai.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia sedang melakukan apa yang tadi Bapak bicarakan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, sialan kau! Ternyata otakmu encer juga. Hahaha…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kapan bisa kita habisi dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Belum. Belum saatnya.” Orang yang dipanggil Bapak itu masih tertawa kecil.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dua buah gelas bir ukuran besar, masing-masing di tangan Sasongko dan orang itu pun kemudian beradu bibir. Sebuah perayaan kecil untuk beberapa nyawa yang hilang. Sebuah ironi yang sampai sekarang masih banyak terjadi; demi suatu kesenangan, nyawa seseorang jarang sekali dipandang. Seperti yang terlihat sekarang, dua orang di café itu menyebutkan beberapa nama orang yang mengalami kematian tragis sambil tertawa penuh keceriaan. Seakan kematian mereka yang disebutkan tidak berpengaruh sedikitpun pada kehidupan keduanya.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-5158519993508049923?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/5158519993508049923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=5158519993508049923' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5158519993508049923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5158519993508049923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/perayaan-kecil.html' title='Perayaan Kecil'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-1362979452815376196</id><published>2008-05-26T03:57:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T04:00:14.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Mata Janji</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;YANG paling basah dalam kenangan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;pulang lagi kepada musim penghujan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;: Tetesan tangismu, menggelincirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;(Sajak: “Kenangan Setengah Jalan”,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku tak akan pernah bisa melupakan kenanganku tentang Farina, meskipun kami bertemu dan berkenalan dalam hitungan hari saja. Matanya yang begitu berbinar, seakan-akan mengatakan bahwa dia adalah perempuan yang paling sempurna untuk sebuah kata cinta. Mata adalah jendela hati, demikianlah sebuah pepatah, dan lewat sebuah pandangan mata saja banyak hal akan bisa terjadi. Dulu ketika masih kuliah, aku begitu menyukai Miranti karena dia memiliki mata yang indah seperti mata Rasida. Aku paling sering memperhatikan kerling mata Paulina di kantor. Bagiku, kecantikan seorang perempuan lebih ditentukan dengan keindahan bola matanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dahulu, pernah kubaca sebuah kisah menyedihkan tentang kecantikan mata. Seorang perempuan alim yang begitu takut Tuhan menyerahkan kedua bola matanya kepada seorang pemuda yang sering memperhatikannya. Pemuda itu begitu menyukai kecantikan mata sang perempuan. Lalu, alih-alih mengingatkan kepada pemuda itu akan cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta kepada Tuhan semata, perempuan itu mencukil kedua bola matanya. Kisah yang mengerikan bukan?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kengerian yang sama aku rasakan juga saat ini. Saat memandangi kembali foto-foto mayat Farina yang diambil dari hotel, yang berserakan di meja Pak Warno. Untunglah rasa itu segera harus berakhir, setelah Pak Warno duduk dan memperlihatkan gambar-gambar lain.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa itu?” Tak sabar aku bertanya kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ini gambar rekaan orang yang menyewa kamar hotel pada malam terbunuhnya Rasida.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mereka tidak punya kamera CCTV ?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada. Tapi sudah hampir tiga tahun tidak dioperasikan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Wah, kacau sekali hotel itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lalu ini, ini adalah gambar rekaan orang yang menyewa kamar hotel pada malam saat Farina terbunuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hasil interogasi petugas hotel, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Coba kau perhatikan baik-baik kedua gambar itu. Bukankah matamu masih awas. Bagaimana menurutmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kedua gambar ini sangat mirip. Apakah berarti kedua orang ini adalah orang yang sama?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa dibilang begitu. Dan tim kami sedang dikerahkan mencari orang ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebentar,” kataku sambil mengamati kembali gambar wajah orang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Rasa-rasanya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mencondongkan badanku ke arah Pak Warno, lalu berbisik supaya tak ada yang bisa mendengar ucapanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa saya dapatkan salinan gambar ini?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Warno menghela nafas. Dia kemudian berdiri dan mengambil kedua gambar yang berada di tanganku. Sangat jarang wartawan yang punya kesempatan untuk bisa terlibat dalam penyelidikan kepolisian, tapi karena aku pernah membantu beberapa kasus, aku hampir selalu diijinkan untuk ikut serta.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tunggu, ya!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tersenyum. Aku begitu yakin akan ingatanku bahwa aku memang pernah bertemu atau minimal berpapasan dengan orang yang digambar wajahnya ini. Meskipun aku masih menduga-duga kapan dan di mana kejadian itu. Dengan tangan bergetar, aku meraih sekotak rokok dari saku kemejaku. Dasar tremor sialan! Aku merutuk dalam hati.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sambil kembali menatap foto-foto mayat Farina, aku pun menggumamkan sebuah janji.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku akan menyelidiki siapa yang telah membunuhmu, Fa. Dengan atau tanpa bantuan siapapun, termasuk polisi!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa kau murung, Sus?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perempuan yang duduk di sebelah Sasongko hanya mendengus, kemudian menghela nafas panjang. Seolah-olah dia sedang melepaskan sebuah beban berat di dalam dadanya. Tatapan matanya tampak kosong.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang merisaukanmu?” Sasongko kembali bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi menghadapkan wajahnya, namun tidak dengan pandangannya. Dia memandangi tangannya sendiri yang saling bertautan. Entah karena dinginnya udara di dalam kamar sehabis hujan atau karena perasaan cemasnya, jemari tangannya saling erat dia katupkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pekerjaanmu, Mas. Aku tidak ingin kau selalu berhadapan dengan bahaya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kali ini giliran Sasongko yang menghela nafas panjang. Sebelum menjawab dia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Berbarengan dengan hembusan asap rokok ke udara, dia berkata, “Kau tidak akan pernah mengerti, Sus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi kali ini menatap wajah Sasongko.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa? Apa yang tak bisa kumengerti?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dengan orang ini, aku terlalu banyak hutang budi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko diam sejenak, menyesap asap rokoknya. Kemudian ia berkata lagi, “Aku bisa punya rumah, mobil dan gaji yang besar karena jasanya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi pekerjaanmu adalah pekerjaan yang berbahaya!” Susi memekik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak mengerti dengan pikiranmu, Sus. Toh selama ini aku baik-baik saja?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sampai kapan? Sampai kapan Mas yakin jika perbuatan Mas tidak bakal ketahuan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Aku berusaha sebaik mungkin menutupi semua jejakku, Sus. Sudahlah kau tenang saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tenang? Aku tak akan bisa hidup tenang setelah kutahu bahwa kau pembunuh bayaran, Mas!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko bangkit, dia memegang tangan Susi. Mencengkeramnya begitu erat. Susi mulai menangis. Dia membayangkan sesuatu yang sedari tadi dia pikirkan di kamar mandi akan segera terjadi pada dirinya. Tiba-tiba dia teringat akan teman baiknya, Farina!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah Farina dihabisi oleh pembunuh bayaran seperti dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah ketakutan seperti ini yang dirasakan oleh Farina saat menjelang ajalnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah dia tahu siapa yang telah membunuh Farina?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah aku kini akan menyusul Farina?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah dia akan tega melakukannya padaku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Rentetan pertanyaan memenuhi pikirannya, namun ia tak mempunyai keberanian untuk mengatakan kepada kekasihnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mata Sasongko tampak berkaca-kaca. Dia tidak ingin membuat hati Susi, perempuan yang sangat dicintainya, terluka. Tak ada kata yang terucap, namun bibirnya yang hitam kebiruan karena nikotin, tampak bergerak-gerak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Susi,” akhirnya sebuah kata dengan pelan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi hampir saja meledak untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Sasongko, tetapi mendengar suara Sasongko yang lembut dia pun melemah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“A..Apa, Mas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku teramat cinta padamu, Sus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Ya. Aku tahu.” Ada pias merah muda di pipi Susi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko mendekatkan wajahnya pada wajah Susi yang sembab karena tangisan. Pipinya basah, matanya merah. Dalam isaknya, Sasongko kembali meneruskan pembicaraannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku berjanji kepadamu…”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tangan Sasongko yang tadi mencengkeram tangan Susi, kini beralih mengelus rambut hitamnya, lalu turun, dan berhenti di leher.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi merinding ketakutan. Tangisnya hampir pecah, tapi dia menahannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tinggal dua pekerjaan lagi, lalu aku akan berhenti.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi menatap mata Sasongko dengan lekat, seakan mencari kebenaran di sana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku janji, Sus. Dua pekerjaan lagi, lalu berhenti.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Benarkah?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Demi kamu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keharuan akan janji kekasihnya yang ingin berubah demi dirinya. Kini, tanpa ragu, Susi memeluk tubuh kekasihnya. Entah sudah kali yang ke berapa di dalam hari itu mereka berpelukan. Hujan kenangan di antara pikiran mereka memilih untuk menenggelamkan keduanya dalam cinta, dan menepiskan riak persoalan yang gelombangnya pun tak gaduh.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-1362979452815376196?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/1362979452815376196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=1362979452815376196' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/1362979452815376196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/1362979452815376196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/mata-janji.html' title='Mata Janji'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-681937128277597617</id><published>2008-05-26T03:46:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T03:53:47.384-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Percakapan dalam Ruang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Kita tak akan pernah menemukan ketenangan jiwa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;jika tak mau mendengarkan kata hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;-- George Michael --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah pertanyaan menyergapku saat menyerahkan berita tentang mayat Eko Wahyu Baskoro kepada Pak Gunawan, pemimpin redaksiku. Tak biasanya dia kelihatan gusar membaca berita itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Diduga Eko tidak bunuh diri, Pak.” Datar aku menjawab, sebab aku masih belum mengetahui ke arah mana sebenarnya perdebatan ini akan berkembang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm. Menarik. Tapi biarlah pembaca ini mendapatkan informasi yang keliru dan bombastik lebih dulu, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maksud Bapak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku lebih suka kau tulis begini; Karena janji sehidup semati, mantan kekasih Rasida bunuh diri.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukankah…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Biarkan opini masyarakat terpecah dulu. Nanti kalau dampaknya besar, kita akan segera memberitakan kejadian sebenarnya. Bukankah bahan-bahanmu kuat untuk menjelaskan detailnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya sih, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Foto-fotonya saja yang besar, Nan. Beritanya tak usah lengkap-lengkap.” Senyum di wajah Pak Gun melebar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Akan segera saya susun dan saya serahkan kembali ke Bapak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagus. Oh ya, bagaimana dengan laporanmu soal hubungan bartender itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kemarin malam, saat saya melihat proses pemeriksaan dia, saya tahu bahwa bartender itu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh korban Farina di luar jam kerjanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh…Begitu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya. Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Kalau begitu tidak perlu kau muat lagi berita tentang pelayan itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak perlu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi Pak Gunawan tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak perlu.” Jawabnya singkat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sambil menarik kursi yang aku duduki mundur, perlahan aku berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Jika begitu saya permisi, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Silakan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku pun segera meninggalkan ruangan Pak Gun. Dalam perjalanan melintasi &lt;i style=""&gt;cubicle-cubicle&lt;/i&gt; ruang kerja, Simeon menepukku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada berita apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku balas berbisik kepadanya,”Mantan Rasida tewas dibunuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa?” Mata Simeon mendelik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sst. Jangan keras-keras.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa?” Dia pun balas berbisik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku curiga, ini pembunuhan berantai.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sama. Aku juga curiga demikian.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku memandang tajam ke matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana penyelidikanmu dengan korban Farina?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, kau ini. Kau pun ikut menyelidikinya bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang kira-kira aku belum tahu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dari beberapa karyawan hotel didapat informasi bahwa korban pada saat malam kematian Rasida terlihat di hotel itu juga.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm. Kau mau menyelidiki lebih lanjut?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, bukannya kita wartawan. Bukan detektif kepolisian. Biarkan saja mereka yang bekerja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah, Simeon rupanya sudah hampir sama dengan prinsip kerja Pak Gun sekarang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi bagaimana?” Pancingku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada dua orang yang dicurigai oleh petugas hotel. Ciri-cirinya sudah diserahkan ke kepolisian. Kalau kau ingin menyelidiki, kau bisa cari itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku teringat akan file buku harian Fa. Aku ingin membacanya lagi, barangkali banyak petunjuk yang bisa kutemukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi percuma juga, Nan.” Simeon dengan cepat membuyarkan angan-anganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mereka sangat licin. Tak ada sidik jari yang bisa didapat polisi di tempat kejadian.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aneh,” gumamku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, tampaknya mereka sudah sangat ahli untuk menghilangkan jejak.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tampaknya percakapan kami harus terhenti, Alfa berjalan ke arah kami. Simeon dan aku tidak suka kepadanya. Dia selalu saja bisa mengambil keuntungan dari kami berdua dalam hal menyadap berita. Sebelum sampai Alfa ke tempat kami berdiri, Simeon sudah kembali ke tempat duduknya, dan aku melanjutkan langkahku ke arah cubicle-ku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dalam kamar pondokan Susi, Sasongko sedang membelai rambut Susi yang duduk di sebelahnya, di atas ranjang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apapun yang aku lakukan, kau tak perlu curiga bahwa itu jahat, Sayang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi aku ingin tahu apa yang sudah kau perbuat?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak ada yang aneh. Aku lakukan ini – itu semata-mata demi uang, Sayang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Termasuk membunuh?” Susi pelan sekali mengungkapkan pertanyaan ini. Dia takut Sasongko menjadi marah dan membabibuta menyerang dia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tapi Sasongko cuma tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa yang aku bunuh, Sayang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku tak tahu. Mas yang lebih tahu apa yang diperbuat.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Masih dengan tersenyum Sasongko menjawab, “Itu darah Rudi, Sayang. Kemarin dia itu dipukul orang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi terperanjat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rudi? Apa yang terjadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tenang saja, Say. Rudi itu kuat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko mematikan puntung rokok pada asbak di meja kecil dekat kepala ranjang tempat mereka berbincang-bincang, menghembuskan asap terakhir dari mulutnya, lalu tertawa pelan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Biasalah, kami ini hidup di jalanan. Orang-orang lapangan. Pasti ada saja masalah sepele seperti semalam.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang sebenarnya terjadi?” Susi tetap meminta Sasongko bercerita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“No big deal, Sayang. Yang penting aku dan Rudi baik-baik saja, bukan?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko memeluk Susi. Merengkuhnya dalam sebuah dekapan. Tampaknya ada yang belum terpuaskan dalam dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mas, kamu janji?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa Sayang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nanti jika kita menikah, kamu harus bisa lebih jaga diri.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko tidak menjawab, dibenamkannya wajahnya di pelukan Susi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku melihat ikon kepala kuning lagi. Miranti! Betapa bahagianya aku. Kadang aku merasa umurku berkurang tiga sampai lima tahun jika sedang dalam keadaan sebahagia ini.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hallo! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hei. Kok smsku gak dijawab? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sorry. Sorry. Tapi kamu juga sudah tahukan jawabannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gak :P&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;iya lah. Kamu gak jawab masak aku tahu jawabannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;me too&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apaan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tadi kamu ngomong apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beneran?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;iya beneran :P&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ah bohong nih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sejak kapan aku bohong?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;iya deh ..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sibuk?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gak. Udah kelar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada berita apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;another sad story, wanna hear?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;another killing story?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu udah bisa nebak... emang jodoh kita :D&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apaan sih :P&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mmm jangan kaget ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cowok kamu ditemukan tengah telungkup di atas makam rasida&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;OMG! Eko?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenapa nasibnya tragis ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gak tau, ranti. Aku pikir sangat erat kaitannya dgn pembunuhan rasida&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aku sedihnya, dia itu pamitan mau pulang sama aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sorry ya ranti berita dariku selalu menyedihkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nan, kayaknya kamu harus pindah kerja deh...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tiap hari ngadepin kematian apa gak bosen?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bosen juga sih. Tapi Bagaimana lagi? Tuntutan profesi :P&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tiap hari ngadepin kematian apa gak bosen?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kamu sendiri tiap hari ngadepin sel apa gak bosen?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;boring sih, tapi gak seperti kamu berurusan sama mayat!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;awas deh ngeledekin mulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oh ya nan, mana bukunya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;udah aku kirim kok, belum nyampe ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tiba-tiba telepon di mejaku berdering. Dengan &lt;i style=""&gt;ogah-ogahan&lt;/i&gt; aku angkat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Nan, mana foto-fotonya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Eh. Iya Pak sebentar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Cepat ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Segera aku cabut USB dari port, dan bergegas lari ke ruangan Pak Gun. Buru-buru pula aku kembali lagi ke &lt;i style=""&gt;cubicle&lt;/i&gt;-ku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nan? Kok ngilang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sorry. Ada gangguan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pulang jam berapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tumben nanyain aku pulang jam berapa? Ada apa nih?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;emang gak boleh?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;boleh kok. Tapi tumben banget...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apa ranti?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;udah bisa bikin puisi belum?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa kali nyoba, tapi belum puas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ah paling puisi curhat ya? :D&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;enak aja :P&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3 bulan lagi aku pulang. Liburan sekaligus persiapan thesis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perasaan baru kemarin deh pergi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;emang gak boleh pulang? Emang kamu gak kangen aku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;iya iya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalo aku pulang, kamu kasih liat puisimu ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:o hah? Puisi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bukannya kamu gak percaya aku bisa nulis puisi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bukan gak percaya, tapi belum percaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenapa gitu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bukannya kamu penikmat puisi hebat, sudah seharusnya kamu bisa nulis puisi yang bagus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tiba-tiba telepon di mejaku kembali berdering. Paulina memberitahu kalau Joe menelponku. Setelah disambungkan, kudengar suara beratnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Seseorang mengancamku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu tidak lapor polisi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Belum, aku takut.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang dia katakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Dia bilang, dia akan membunuhku jika mau dimintai keterangan lagi oleh polisi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa lagi yang dia katakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Dia mengatakan bahwa dia sudah mengetahui seluk beluk rumahku.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tuhan, kenapa masih ada orang yang berani mengancam orang seenaknya? Dalam hati aku merutuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tenang, Joe. Aku bisa hubungi teman-teman di kepolisian untuk membantu kamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Betul kah Pak Danan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya. Aku janji.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih.” Aku mendengar ada getaran di dalam suaranya. Tampaknya memang Joe tengah sangat ketakutan. Aku terpaksa harus mengakhiri pembicaraanku dengan Miranti, karena aku harus menghubungi Pak Warno atau Pak Joko.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ranti, aku harus pergi. Thx sudah menyapa.&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Love u.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-681937128277597617?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/681937128277597617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=681937128277597617' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/681937128277597617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/681937128277597617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/percakapan-dalam-ruang.html' title='Percakapan dalam Ruang'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-5749603347466020475</id><published>2008-05-26T03:23:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T03:37:31.406-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Janji Sehidup Semati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;Kesetaraan bukan hanya menuntut perlakuan yang sama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;dengan orang lain, tapi juga memperlakukan diri kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;serupa dengan cara kita memperlakukan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;-- Marlo Thomas --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebenarnya aku sudah tak ingin menyentuh rokok sedikit pun, tapi tekanan pekerjaanku benar-benar membuat aku mencari sebuah bentuk pelarian. Di meja biasa aku duduk, di café tempat biasanya aku sarapan, aku menyesap rokok lagi. Tapi buru-buru aku matikan lagi, karena ada nada di telepon genggamku yang mengisyaratkan ada pesan pendek yang masuk. Miranti!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku kembali teringat saat kami masih duduk di bangku akhir kuliah, sering sekali aku mengiriminya pesan-pesan menenangkan. Hal itu aku lakukan lantaran aku ingin sekali dia terbebas dari salah bersalahnya telah mengirimkan papanya sendiri ke sebuah pusat rehabilitasi. Itulah langkah terakhir yang banyak diusulkan oleh dokter-dokter yang mengobati sakit mamanya. Namun Miranti kadang beranggapan bahwa hal itu tidak seharusnya dilakukan. Semacam perceraian semu antara papa dan mamanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Salah satu pesan pendek, yang waktu itu aku kirimkan, berbentuk puisi penyair kesayangan kami;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Muasal Mula Hukuman &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;BUKAN pengusiran itu yang sungguh menyiksakan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;bukan kehilangan surga itu yang terlalu disesalkan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;tapi rindu, ya, rindu tersebab dipisahkan oleh Tuhan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;(bagi Adam dan Hawa) Itulah muasal mula hukuman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;(Sajak: “Muasal Mula Hukuman”, diambil dari buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”, karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mungkin karena ada kata “Tuhan” dalam puisi itu yang membuat Miranti kembali tegar. Tapi yang jelas, dia setelah lama mencoba memaknai pesan puisi itu, dia berkata; “Aku akan mencoba untuk tabah, apapun yang terjadi dengan keluargaku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kali ini, pesan dari Miranti cukup membuatku merasa heran. Kenapa seakan-akan kami dipertautkan kembali secara tiba-tiba dengan kematian seorang penyanyi? Dia mengabarkan bahwa pelukis yang beberapa waktu lalu menyatakan cinta kepadanya ternyata adalah mantan kekasih penyanyi itu. Dan dia bilang bahwa sekarang pelukis itu, Eko Wahyu Baskoro, sudah berada di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; untuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian mengenai hubungan asmaranya dengan Rasida. Sejujurnya aku bingung bagaimana hendak membalas pesan pendek Miranti ini. Akhirnya kuketikkan kata-kata biasa saja;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;thx 4 &lt;/span&gt;&lt;st1:city style="font-family: courier new;" st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;ur&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt; info. btw I really miss u.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan sudah kuduga, tak ada balasan lagi. Tremor di tanganku kembali terasa ketika aku mengangkat cangkir kopi susu yang hampir dingin. Aku harus segera pergi dari tempat ini, dan menanyakan keberadaan Eko pada Pak Warno. Barangkali dia sudah memeriksa keterangannya. Sambil melambai ke arah Joe yang tengah membereskan gelas, aku meninggalkan café itu dengan langkah yang cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Capek ya, Mas Sas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi melihat wajah Sasongko demikian lesu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, Sus. Mau gak pijitin aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aduh. Mas Sas datangnya mendadak sih. Aku mau kerja, Mas.” Susi cemberut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu libur atau bolos saja deh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko menjatuhkan dirinya di atas pembaringan Susi. Sementara di meja rias, Susi tengah merapikan alisnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya tak enak saja. Kerja kok bolos?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tenang saja, Sus. Hari ini, aku punya uang banyak!” Sasongko mengeluarkan sebuah amplop coklat yang kelihatan tebal dari balik saku jaketnya. Dia melemparkannya ke ujung ranjang. Susi hanya melirik saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Itu lebih dari gajimu selama tujuh bulan, Sus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi berhenti dari aktivitasnya. Dia menghampiri amplop itu, lalu memungutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya ampun. Banyak banget, Mas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko terkekeh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Cukup gak buat modal nikah?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi kini menghampiri Sasongko, kemudian dia ikut berbaring di sebelahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Emang bener, Mas Sas mau nikahi aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko meraih kepala Susi dan mencium keningnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku cinta kamu, Sus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi tidak menjawab perkataan Sasongko. Diletakkannya kepalanya di dada Sasongko. Hatinya berbunga-bunga. Impiannya untuk segera menikah akan segera terwujud.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa kita lacak di mana keluarganya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Perlu waktu, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aduh. Apa ya di Negara ini yang bisa dilacak dengan cepat?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan menggerutu begitu. Semua perlu waktu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi ini penting.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Masih banyak hal penting yang lain, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;.” Pak Warno tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tengah dilanda kebingungan, sebab ternyata Eko tak pernah menginjakkan kakinya di kantor polisi tempat dia akan dimintai keterangan. Menurut Pak Warno, tadi malam Eko sudah dijemput ke bandara. Namun perwira polisi yang ditugasi untuk menjemputnya pulang dengan tangan hampa karena Eko tak dapat ditemukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kita tunggu dalam waktu 2 x 24 jam. Jika memang dia tidak ditemukan, keluarga Eko berhak menghubungi pihak kepolisian untuk menyatakan bahwa dia telah hilang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah dia pergi ke makam Rasida?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa jadi, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;. Mari kita ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi beranjak dari tempat tidur, sementara Sasongko tertidur mendengkur. Dia menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selimut, mereka baru saja bercinta. Dia tidak ingin membangunkan Sasongko, maka langkahnya pun bersijingkat. Tapi jaket kulit Sasongko menghalangi kakinya, dan akhirnya dia terjatuh karena kakinya tersangkut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa ini?” Susi melihat sebuah saputangan dengan noda kemerahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi mengamati saputangan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ini bukan bekas lipstik. Ini…Ini…bercak darah!” Susi memekik tertahan. Dia takut Sasongko terbangun. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Susi tercekam rasa ketakutan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang telah dilakukan Mas Sas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lama dia tertegun. Sebelum akhirnya dia mencoba menepis kecemasan dan ketakutan dalam pikirannya. Suara shower segera terdengar. Setelah dia membasuh dan menyabuni badannya, pikirannya agak tenang. Namun kecurigaan bahwa Sasongko telah berbuat sesuatu yang jahat kembali menyerangnya. Dia takut untuk keluar dari kamar mandi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah nada dari telepon genggamku kembali terdengar. Kali ini dari kantor. Suara Paulina yang kenes segera saja masuk ke telingaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dicari Pak Zen, tuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia menanyakan kamu sedang di mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bilang saja ke dia, aku sedang bersama Pak Warno. Kami hendak ke makam Rasida.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa di sana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Belum tahu. Katakan saja sama dia, aku sedang mencari berita.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, nanti aku sampaikan. Oh iya. Pak Gun juga bilang, coba selidiki apa yang diketahui oleh narasumber kamu yang bartender itu, apa yang dia ketahui tentang Farina, pelayan itu. Seberapa dekat dia dengannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Nanti aku tulis. Aku sudah punya datanya kok.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya. Iya. Jangan ngambek gitu, ntar cepet tua lho...” Dia menggodaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Satu lagi…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu sudah terima undanganku belum?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Undangan? Undangan apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pertengahan minggu depan, aku akan married?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lho, kamu kok tertawa sih?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Yang, bukannya aku belum siap. Kok kamu sudah nyebarin undangan sih?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sialan kamu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia pun tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lumayanlah ada hiburan di tengah-tengah segala sesuatu yang terjadi dan yang mengerikan ini. Belum habis tawaku, tiba-tiba Pak Warno berteriak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lihat! Ada mayat!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sesosok tubuh tinggi kurus, berambut panjang dan mengenakan berjaket panjang, tertelungkup di atas sebuah makam. Makam Rasida. Dari luka-luka sayatan di kedua pergelangan tangannya, tampak sepertinya kematiannya disebabkan oleh usaha bunuh diri atau dikesankan seperti itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak Warno segera menelepon ke kantor, minta segera dikirim tim forensik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan sentuh apapun!” Perintahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tanpa diminta aku pun tahu peraturan itu. Segera aku keluarkan kamera dan sibuk memotret mayat di atas makam Rasida itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei, lihat! Ada surat!” Teriakku pada Pak Warno yang sibuk meneliti jejak-jejak langkah sekitar tempat itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Selembar kertas tampak basah oleh embun semalam, dan tintanya pun banyak mulai membayang, mengaburkan beberapa kata. Sebelum menelitinya dalam jarak dekat, terlebih dahulu aku memotretnya. Juga mencoba membaca. Rupanya aku masih bisa membacanya dengan baik, karena kata-kata yang kabur itu tidaklah terlalu sulit untuk ditegaskan bentuk huruf-hurufnya.&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-style: italic;"&gt;“Seperti yang pernah aku janjikan kepadamu, Sayang.&lt;br /&gt;Bahwa aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan raga.&lt;br /&gt;Maka biarkanlah aku menyusulmu ke alam baka.”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-style: italic;"&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-5749603347466020475?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/5749603347466020475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=5749603347466020475' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5749603347466020475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5749603347466020475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/janji-sehidup-semati.html' title='Janji Sehidup Semati'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-4406245820502300040</id><published>2008-05-26T03:19:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T03:22:45.838-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>806*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Sulit bagi kita untuk berkata jujur tentang diri kita sendiri,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;tapi lebih sulit lagi untuk tidak berkata jujur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;di saat kita berpura-pura menjadi orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;--Akira Kurosawa--&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suara penyanyi Anggun terdengar mengalunkan reffrain lagu “Saviour”. Suara itu berasal dari telepon genggam Miranti yang diletakkan di atas meja belajarnya. Miranti yang tengah membaca buku puisi “Kisah Persetubuhan Pertama di Dunia”, pemberian Danan beberapa tahun silam, segera mengambilnya. Tak lama terdengar suara seseorang yang masih terasa asing baginya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Miranti?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Siapa ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eko.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti tercekat. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; apa Eko malam begini meneleponnya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Setelah berusaha untuk tenang. Dia mulai bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku…Aku…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti menghela nafas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Besok aku mau pulang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh…”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sepi tanpa diundang masuk di dalam pembicaraan mereka. Suaranya tak ada tapi kehadirannya membuang beberapa detik dengan percuma. Terdengar Eko menghela nafas. Berat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku hanya ingin mengatakan ‘selamat tinggal’.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh. Selamat jalan kalau begitu.” Miranti berucap datar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ranti, ada yang ingin aku ceritakan. Jika kau ada waktu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebetulnya Miranti sudah malas untuk meneruskan perbincangan ini tapi dia tidak mau mengecewakan hati Eko yang kemarin sudah ditolak cintanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Katakanlah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku mendengar kabar kalau mantan pacarku tewas dibunuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dibunuh?” &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; getar pada ucapan itu. Miranti ragu apakah dia harus merubah keengganannya mendengar keluh kesah Eko atau mulai bersimpati untuknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. (Hening sejenak) Dan aku dimintai keterangan oleh petugas kepolisian setiba nanti di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm. Apakah kamu masih berhubungan dengannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak. Tidak. Sudah lama sekali aku tidak tahu kabarnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti berasumsi dia akan mendengarkan kisah indah atau kisah yang terjadi antara Eko dan kekasihnya itu. Dia tidak tahu apa yang hendak diucapkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, sudahlah. Aku cuma ingin mengucapkan selamat tinggal saja padamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh. Uhm. Terimakasih sudah menelepon. Aku turut berduka cita mendengar kabar darimu soal – Siapa namanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rasida. Rasida Alma.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti terkejut. Hampir saja dia menjatuhkan telepon genggam di tangannya. Nama yang disebut menjelaskan kenapa Eko bisa langsung jatuh cinta kepadanya. Seperti yang pernah diucapkan Danan dulu kepadanya, mata Miranti mirip sekali dengan Rasida Alma.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Halo? Miranti? Kamu masih di situ?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf. Aku…Aku tak menyangka bahwa kamu adalah mantan kekasih Rasida. Sebenarnya aku sudah tahu berita kematian dia dari Danan dua hari yang lalu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa?!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hening kembali menyeruak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tak lama terdengar isak di seberang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti tak bisa berkata apa-apa lagi. Suara Eko pun tak terdengar. Dan akhirnya sambungan telepon itu terputus sudah. Miranti melemparkan buku puisi dari tangannya ke tempat tidur. Dia meletakkan kembali telepon genggamnya di atas meja belajar. Setelah itu dia membaringkan diri. Dia tidak mampu berpikir apa-apa tentang segala yang baru saja terjadi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tujuh jam di dalam pesawat membuat pikiran Eko semakin ruwet. Angin malam tropis yang panas segera menerpa wajahnya di beranda dekat pintu kedatangan. Dihampirinya bangku-bangku coklat kehitaman yang berderet. Dia ingin melepas ketegangan sejenak. Jemari tangannya bergerak meraih sekotak rokok dari balik mantel panjangnya, dengan sedikit gerakan di antara telunjuk dan jari tengahnya sudah terjepit sebatang rokok. Tak lama kemudian terdengar hembusan asap dari mulutnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rasanya sudah sedemikian lama aku meninggalkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, meninggalkan segala kenangan pahit dalam hidupku setelah berpisah denganmu tetapi nyatanya kau memang tak pernah bisa lepas dari pikiranku.” Eko merenungkan Rasida, bekas kekasihnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko menghembuskan kembali asap rokoknya. Pikirannya masih belum bisa tenang. Dia menunggu petugas kepolisian yang kemarin malam mengontaknya untuk menjemput dirinya dari bandara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pak Eko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Saya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Selamat malam, Pak. Saya Sasongko, dan ini Bripda Rudi.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dua orang yang tiba-tiba menghampirinya memperkenalkan diri. Mereka lantas berjabat tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Silakan ikut kami, Pak.” Lanjut pria yang mengaku bernama Sasongko.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sementara yang dikenalkan sebagai Bripda Rudi segera mengambil barang bawaan Eko. Selanjutnya mereka berjalan beriringan menuju pada sebuah mobil sedan yang diparkir tak jauh dari tempat Eko duduk tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Silakan, Pak.” Lagi-lagi Sasongko bicara. Dia mempersilakan Eko untuk segera masuk ke dalam mobil. Rudi mengambil posisi sebagai supir. Eko duduk di bangku belakang bersebelahan dengan Sasongko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah saya akan langsung dimintai keterangan?” Eko memberanikan diri bertanya. Dia tidak pernah tahu bahwa kedua orang itu adalah polisi gadungan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko tersenyum. Dia mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tenang saja, Pak. Kita akan mencarikan penginapan yang aman untuk Bapak terlebih dahulu, sebelum pergi ke kantor kepolisian.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Eko. Mobil segera meluncur keluar dari area bandara. Eko mengeluarkan telepon genggamnya, dia ingin memberitahu Miranti bahwa dirinya sudah sampai di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Tapi tangan Sasongko segera mencegahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebaiknya Pak Eko merahasiakan keberadaan Bapak kepada siapapun. Hal ini akan sangat menjamin keselamatan anda.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko kaget. Sebab baru kali ini dia dicegah untuk berkomunikasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Semua orang yang berhubungan dengan kematian Rasida tengah diincar oleh pembunuh-nya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kembali Eko tergagap kaget.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudah ada korban lagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko tersenyum sebelum dia berkata. Dari spion tengah, Eko melihat Rudi pun tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf. Itu bukan urusan Anda.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah, Pak. Yang penting Anda akan baik-baik saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Rudi yang dari tadi diam sekarang mulai bicara. Mobil dilajukan semakin kencang. Eko masih belum begitu paham apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya. Beberapa saat kemudian, sebelum dia menyadari bahwa sebenarnya dia berada dalam sebuah bahaya besar, Sasongko telah mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku jaket kulitnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Telepon genggam Sasongko berbunyi. Dan kemudian terdengar suara di seberang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana hasil pekerjaanmu, Ko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Beres, Pak. Kami sudah melakukan 806* kepadanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagus. Bayaranmu akan aku lipatgandakan, Ko.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih, Pak. Saya puas bekerja untuk Bapak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sama-sama, Ko. Besok uangnya aku transfer ke rekeningmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sekali lagi terimakasih, Pak.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sama-sama, Ko. Kau dan Rudi istirahat dulu, masih ada dua pekerjaan besar untukmu. Si Bartender dan Wartawan itu. Tapi sekarang Si Bartender itu sedang dalam penjagaan petugas kepolisian. Dan wartawan itu, masih aku perlukan penyelidikannya. Aku pengin tahu seberapa pintar dia menggali peristiwa ini. Jika terbukti dia memang pintar, berarti sudah waktunya dia pun menyusul mereka semua.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan lama-lama, Pak. Biar urusannya cepat selesai.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kemudian terdengar suara tawa dari telepon genggam itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hahaha. Santai saja, Ko. Santai saja. Aku menikmati permainan ini. Pokoknya, semua saksi harus habis. Satu per satu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko pun ikut tertawa. Rudi yang berada di sebelahnya, dari tadi dia menguping pembicaraan mereka, juga ikut tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sampaikan salam untuk Rudi. Kerja yang bagus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baik, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Klik”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko meraih sebotol minuman yang dipegang Rudi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dibayar lebih, Rud!” Dia berteriak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Rudi tertawa terkekeh-kekeh. Malam itu, sebuah tugas penting telah sukses mereka jalankan: “membunuh Eko Wahyu Baskoro, mantan kekasih Rasida, yang mengetahui kisah percintaan Rasida dengan seseorang yang kemudian ternyata membunuhnya.”&lt;/p&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-4406245820502300040?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/4406245820502300040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=4406245820502300040' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/4406245820502300040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/4406245820502300040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/806.html' title='806*'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-5193268984139831330</id><published>2008-05-26T02:56:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T03:16:55.454-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Lelaki yang Terlambat Menangis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Kalau kita bersedih dan bertengkar setiap hari,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;berarti kita berdoa kepada setan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;--Bob Marley--&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe tampak masih belum bisa menghapuskan kesedihan yang terpancar jelas dari raut wajahnya. Setelah sekian jam, tubuhnya yang tinggi melengkung di depan meja seorang perwira polisi yang telah habis-habisan meminta keterangan darinya. Dia benar-benar terguncang. Perwira polisi yang juga tampak kelelahan berulangkali mereguk cairan kopi dari cangkirnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lamborghini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm, tidak pernah ada laporan soal penggelapan mobil itu di sini. Bahkan saya sudah memeriksa ulang file-file soal penggelapan mobil mewah bertahun-tahun lalu. Tak ada Lamborghini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi itu yang saya dengar dari mereka.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sekali lagi perwira polisi itu menghela nafas panjang. Aku mengenali perwira itu maka, meskipun ini bukanlah sesuatu yang lazim dan sepertinya melanggar prosedur, aku menghampirinya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bos,” aku menyalami perwira itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh, Kau, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;. Katanya kau kenal juga sama korban?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, Bos. Baru beberapa hari.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia manggut-manggut, sebelum mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, dan menarik sebatang untuk kemudian menyesapnya. Dari helaan nafasnya, aku tahu dia sudah sedemikian lelah untuk memikirkan kasus yang tengah dihadapi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tersenyum kepadanya, sebelum berkata,”Bos, aku bisa jamin bahwa Joe tidak tahu apa-apa soal kematian korban.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia tampaknya setuju. Kepalanya terangguk-angguk.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Begini, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;. Kau sepertinya juga tahu bahwa kasus ini sepertinya berkaitan dengan kematian Rasida Alma.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hm. Firasat yang sama! Tapi aku tak boleh gegabah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Belum Bos, aku belum menduga ke arah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tapi aku bisa melihat bahwa kenyataan korban didapati meninggal setelah berhubungan seks memang modusnya agak mirip.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe tampak kaget sekali mendengar ucapanku. Dari tatapan matanya, aku melihat dia tidak bisa mempercayai jika Farina dibunuh setelah berhubungan seksual. Aku berusaha untuk tidak menatapnya sebab masih ada rahasia yang belum aku buka padanya. Rahasia terbesar mengenai kehidupan ganda seorang Farina!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perwira polisi itu masih terlihat asyik menyesap rokoknya. Dan tak kuketahui kapan munculnya, getaran di tanganku terasa kembali. Lagi-lagi tremor. Alih-alih menutupi kelemahan fisikku, aku bertanya kembali kepadanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi Joe bisa diistirahatkan? Kasihan dia masih &lt;i style=""&gt;shock&lt;/i&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh. Sebentar lagi. Aku tadi baru saja menanyai dia soal pembicaraan terakhir Rasida Alma dan ketiga orang lelaki yang bersama dia di malam tepat sebelum dia ditemukan tewas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Soal apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tadi Joe bilang mereka membicarakan sebuah mobil mewah. Mungkin itu bisa menjadi petunjuk bagi kepolisian melacak tersangka.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah, Lamborghini. Aku harus tetap berpura-pura bahwa aku tidak pernah mendengar omongan seperti ini dari Farina dan Joe.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mobil mewah?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Lamborghini. Mobil yang sangat langka di sini bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Langka? Rasanya aku tidak tahu ada orang di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini yang mempunyainya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia tersenyum. Mungkin perkataanku salah menurutnya. Kuperhatikan Joe sudah mulai mengantuk. Wajar dia sudah berada di sini sejak &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; jam lalu. Aku sebenarnya sudah sangat lelah. Dari tadi pagi sampai malam ini belum berhenti bekerja mencari berita dan menelusuri berbagai petunjuk kematian Farina. Perempuan yang ternyata telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku. Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya? Dan parahnya, kenapa aku mengetahuinya setelah dia tiada?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm. Rasanya aku bisa tahu apa yang dimaksud dengan Lamborghini itu,” kataku kemudian. Perwira polisi itu hampir tersedak oleh asap rokoknya sendiri mendengar perkataanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Serius, kau?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Begini, Bos. Ini hanya pikiranku saja. Semoga saja benar sehingga Bos tak perlu merisaukan tentang hal itu. Lamborghini itu logonya banteng. Bos pastinya tahu apa maksudnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, tak mengerti aku!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maksudku,” aku berkata sambil tersenyum, “Rasida Alma itu binal dan liar di ranjang, Bos, seperti seekor banteng liar!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia melotot mendengarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Yang benar saja?!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menatap ke arah Joe.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Biarlah dia menceritakan apa yang telah didengarnya beberapa waktu berselang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Coba katakan lagi, Mas Joe. Apa yang kamu dengar dari mereka,” aku bertanya pada Joe yang semakin melengkung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe tampak gugup. Diaturnya sebentar letak duduknya sebelum dia bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh. Hm. Orang yang tinggi besar itu bilang: Kamu tahu tidak? Dia – sambil menunjuk ke arah Rasida Alma – itu beda. Kelasnya bukan lagi Mercy tapi Lamborghini!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Benar dia bilang begitu?” Perwira Polisi itu bertanya kepada Joe. Seakan tidak percaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe hanya mengangguk lemah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tersenyum. Dan mulai berhipotesa lagi kepada Perwira polisi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi, sepertinya pria yang bilang itu ke teman-temannya pastinya sudah pernah berhubungan intim dengan Rasida.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kembali kepalanya manggut-manggut. Diketuk-ketukkannya ujung rokok di asbak. Membuang abu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah berarti orang yang tinggi besar itu kekasih Rasida Alma?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa jadi,” kataku kalem.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tiba-tiba dia berkata agak keras.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei, Bukankah kau ini wartawan. Kau cari tahu dong dari teman-teman infotainment, siapa kekasih Rasida. Bantu aku juga dong?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tertawa mendengarnya. Sepertinya dia sudah mulai putus asa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;Susah&lt;/st1:place&gt;, Bos. Rasida itu orangnya misterius juga. Tak banyak yang tahu apa dan bagaimana kehidupan pribadinya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, Kau ini bagaimana sih? Selidikilah itu…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ok, Bos. Omong-omong, udah kelar nih Joe? Aku ada perlu sama dia sedikit. Ini soal Farina.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mendengar hal itu, Joe kembali terperanjat. Tak kalah terkejutnya juga Perwira Polisi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh, itu masih jadi urusanku! Kau ngomong di sini aja,” tukasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bos, aku tadi sudah kasih file catatan harian korban ke Pak Joko, bagian forensik. Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ada hal yang bisa membantu pekerjaan kepolisian. Tapi aku ingin mengajak Joe untuk membicarakan sesuatu hal lain. Boleh?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Wah, kacau sekali kau. Sebentar, aku cari Joko. Kau ngobrol di sini aja ya?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akhirnya dia beranjak untuk meninggalkan kami&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Beres, Bos!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Setelah kudengar derap sepatunya menjauh. Aku berpaling dan menarik sebuah kursi untuk berada dekat dengan Joe. Lebih tepatnya berhadapan dengan Joe. Mengadu pandangan. Dan aku bisa melihat binar matanya tampak semakin pudar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Joe.” Aku menghela nafas. Ucapan selanjutnya terasa sangat menyesakkan dada. Dengan bibir yang kaku, meluncurlah kata itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Farina sebenarnya cinta sama kamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa?!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe betul-betul terkejut. Kulihat kedua bola matanya pun mulai mengembun. Ini berita yang sebenarnya sangat dinantikannya. Tetapi sayangnya berita itu keluar dari mulutku, seorang wartawan yang baru mereka kenal, bukan dari mulut perempuan yang sangat dicintainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Betul, Joe. Dia menuliskannya di catatan harian dia.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Astaga!” Joe mulai menangis. Tangisan agaknya adalah hal yang terakhir yang bisa dilakukan setelah kita merasa tak mampu berbuat apa-apa. Joe sangat terguncang. Tangisnya terdengar keras di ruangan pemeriksaan. Beberapa perwira polisi tampak kaget mendengarnya. Aku berusaha menenangkannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa dia tidak pernah bilang?” Dia meraung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Joe.” Aku kembali berusaha menenangkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Farina mencintai kita berdua.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana mungkin?” Joe kembali bertanya dengan suara yang sudah tidak jelas. Aku menghela nafas.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia ingin aku yang bisa menjawab semua permasalahan hidupnya, dan kamu yang mampu menenangkannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe menengadahkan wajahnya. Kedua pipinya banjir air mata.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apalagi yang kau sudah ketahui tentangnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kurasakan ada jalar panas di pelupuk mataku. Sepertinya aku sudah tak akan sanggup menahan kelenjar air mata untuk tidak berproduksi. Dengan suara yang tertahan, akhirnya aku katakan padanya sebuah rahasia terbesar yang dimiliki oleh Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Farina melacurkan diri, Joe.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Leher Joe bergerak. Dia menelan ludah. Matanya melotot. Sepasang urat di sekitar bagian kanan dan kiri pelipisnya membesar. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; amarah yang dia tahan. Mungkin dia mengira aku mengada-ada. Tapi kemudian terdengar bisikan lirih di telingaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Fa melacur?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak menjawab. Hanya menatap tajam ke matanya dan mengangguk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tangisan Joe terhenti seketika. Dia benar-benar terpukul dengan pemaparan rahasia kelam gadis pujaannya. Aku tak memperdulikan itu. Kebenaran haruslah diungkapkan. Betapa pun pahitnya. Klise memang, tapi biarlah hal itu menguji cinta yang tumbuh sebab cinta tak pernah memandang sebelah mata. Selalu lengkap antara kelebihan dan kekurangan seseorang. Seharusnya. Ya, seharusnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sebaiknya kau baca ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mengangsurkan kertas-kertas salinan dari hasil pencetakan di ruangan Pak Joko tadi. Joe memegangnya erat-erat. Aku tak tega melihatnya, sebaiknya memang kubiarkan dia menyendiri. Sebab aku tak kuasa untuk membaca kepedihan Farina. Sambil menepuk pundaknya, aku melangkah pergi. Ruslan yang sedari tadi hanya memperhatikan kami bicara dari sofa yang agak jauh dari meja kami berdua, terbengong melihat kepergianku yang tiba-tiba. Kemudian dia menghampiri dan merangkul Joe sambil mengucapkan beberapa kata penghiburan untuknya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebelum benar-benar kutinggalkan ruangan itu sempat kudengar panggilan dari Pak Warno, perwira polisi yang tadi memeriksa Joe, namun aku tak ingin kembali ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Aku sedang ingin membawa pedih di hati ini menikmati udara malam. Yang pasti, aku tak ingin menunjukkan tangisanku. Ya, aku menangis.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau benar-benar inginkan aku hanya untuk menjadi sahabatmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak lebih?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti mengangguk tak menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku bengong melihatnya. Tak terasa sepasang air mata mengalir di kedua belah pipiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu menangis?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Cepat-cepat kusapu air mata itu. Setelah dengan sigap mengisak aku berkata kepadanya,” Tidak. Laki-laki pantang menangis!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak apa menangis. Sebab tangis itu milik semua manusia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi dia tersenyum. Aku begitu membenci caranya tersenyum. Sekaligus merindukannya. Senyumnya penuh arti dan selalu menenangkan. Miranti jarang sekali tersenyum. Dukanya sebagai anak broken-home telah merampas habis keceriaannya. Oleh karena itu senyumnya kadang terasa melegakan bagiku yang selalu merisaukan keadaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau masih ingat sajak tentang tangisan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya,” sahutku kelu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bacakanlah untukku.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan akhirnya kubacakan untuknya sajak “Puisi Pertama : Tangis Hawa”, salah satu sajak dari buku penyair kesayangan kami berdua;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;TANGIS Hawa adalah puisi pertama&lt;br /&gt;sebab Adam yang sendiri, tak kunjung&lt;br /&gt;tuntas menafsirkan maknanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;(Sajak: “Puisi Pertama : Tangis Hawa”, diambil dari buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”, karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia tertawa. Bahagia sekali melihatnya hingga aku benar-benar merasa tak akan pernah bisa untuk membencinya. Padahal baru saja dia menolak cintaku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana jika kugubah sebuah puisi berjudul ‘Tangis Danan’?” Dia meledekku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mendengar hal itu, juga melihat mimiknya yang melucu aku akhirnya tertawa. Miranti satu-satunya gadis yang bisa menjungkirbalikkan emosiku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mengingat tangisan pertamaku – &lt;i style=""&gt;setelah aku dewasa, tentu saja&lt;/i&gt; – yang terjadi bertahun silam. Saat itu aku menangis karena cintaku ditolak oleh Miranti. Dan sekarang aku sudah menangis dua kali untuk seorang gadis yang mencintaiku.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-5193268984139831330?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/5193268984139831330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=5193268984139831330' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5193268984139831330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/5193268984139831330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/lelaki-yang-terlambat-menangis.html' title='Lelaki yang Terlambat Menangis'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-807266119532295915</id><published>2008-05-26T02:00:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T02:04:00.772-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Tak Ada Kabar Gembira</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Kita dinilai pada apa yang kita perbuat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;ketika berada dalam situasi sulit&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;dan penuh pertentangan&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;--Martin Luther King --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suatu pemandangan menakjubkan kutemui lagi. Berbekal catatan alamat pondokan Farina yang kudapat dari Ruslan, aku bertemu dengan Susi, teman pondokan Farina yang bersebelahan kamar. Susi waktu itu tampak sedih, namun hal itu tidak mengurangi kecantikannya. Kulitnya yang bersih kontras dengan kaus hijau bertuliskan “Army Look” yang dikenakannya. Tak lama setelah aku menjelaskan kedatanganku, dengan masih bercucuran air mata dia membukakan pintu kamar Farina. Kamar yang sederhana dan rapi. Televisi 21 inci, sebuah compo merk ternama, dan sebuah notebook. Meskipun bukan keluaran terbaru, tetapi nampak dari keadaannya, pemakainya begitu baik mempergunakannya. Kondisinya sangat bersih. Aku sempat curiga bahwa notebook itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jarang digunakan. Tumpukan buku-buku Kahlil Gibran tampak mencolok di sampingnya. Rupanya Farina penggemar Gibran!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cinta memang terlalu banyak dituliskan olehnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Boleh saya buka?” Aku bertanya pada Susi yang termangu di depan pintu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Silakan. Aku juga tidak tahu apa yang sering ditulisnya.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia berusaha menyusut air mata dengan sehelai tisu yang dicomot dari kotak di pinggir jendela. Aku mengalami sedikit kesulitan dengan kata-kunci yang diperlukan untuk mengoperasikan sistem di notebook itu, namun berbekal keisenganku rajin menyambangi situs hacker: www.harckersrealm.org, dengan mudah akhirnya aku bisa memecahkannya. Dan tak lama aku sudah memelototi isi sebuah folder yang bertajuk: “kisahku”. Isinya ternyata catatan harian. Aku terkejut,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;betapa rapinya Farina ini!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan perlahan aku menyimak sebuah file yang dituliskan sehari kemarin.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Dear Diary,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Hari ini aku benar-benar kesal. Ternyata dia sudah punya gebetan baru. Gebetannya cantik, pintar, tapi banyak omong. Hal ini membuat aku semakin merasa tidak sebanding dengan dia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Joe nampaknya menaruh perhatian kepadaku. Dia membujukku untuk melupakan dia. Aku tahu kamu sayang dan care sama aku, Joe. Tapi kamu belum tahu siapa aku. Kalau bukan karena masalah ibuku yang sakit keras di kampung, aku tak mau menjalani kehidupan seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Malam ini aku diminta untuk datang bertemu Mr. S di hotel yang sama. Aku bingung. Tapi sepertinya aku memang harus bertemu dengan Mr. S, sebab kemarin dia sudah membayar sangat mahal tubuhku ini dan dia tidak menyentuhku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Kasihan memang nasib RA. Tapi dia mati karena dua hal : kecemburuan Mr. S dan keikhlasannya sendiri. Sampai hari ini aku masih bergidik membayangkan kejadian itu!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini yang membuatku ingin mengembalikan uang Mr. S, tapi bagaimana? Uang itu sudah aku kirim untuk ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Semoga nanti malam, Mr. S tidak berbuat yang aneh-aneh. Aku merasa sangat kotor…Joe, kamu dan dia tak perlu tahu soal ini. Aku memang naksir dia, dan aku juga sayang sama kamu Joe. Tapi biarlah rasa itu terpendam saja…sampai aku mati?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan itu selesai. Aku pikir Joe harus tahu isi file ini, sebab ternyata Farina menyayangi dia. Tapi yang lebih penting adalah aku sudah mendapat petunjuk siapa dan apa sebab kematian Rasida Alma; Mr. S!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mencium wewangian. Rupanya Susi sedang mencoba sebuah parfum milik Farina. “Aku tidak tahu kalau Farina punya ‘Emotion’.” Susi bicara sendiri. Dia nampak kebingungan. Wanginya terasa begitu segar. Aku teringat pada sebuah sajak tentang wewangian parfum:&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-style: italic;"&gt;AKULAH wangi parfum yang kau sekap di botol-botol yang senantiasa berharap menjadi butir terakhir yang menyentuh dadamu, aku nikmati seluruh rindu dan cemas itu: di sini bisa terus kuulur waktu, di tubuhmu kematian menunggu. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-style: italic;"&gt;(Petikan Sajak: “Parfum Mengetuk Jantungmu”, diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”, karya Hasan Aspahani)&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ya. Kematian memang sedang menunggu kita. Tapi kematian Farina sudah terjadi!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan parfum itu mengingatkan aku pada kematiannya. Aku menoleh pada Susi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Berarti dia baru beli atau diberi oleh orang?” Tanyaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa jadi. Kemarin siang, aku sempat ke kamar ini. Dan dia belum punya parfum ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Boleh saya cek di forensik?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Untuk apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Barangkali ada sidik jari Mr. S di situ!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mr. S? Siapa dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia tersangka pembunuh Farina, Susi.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku menunjukkan tulisan Farina itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi membaca isi file itu. Akhirnya, dengan lunglai, dia menyerahkan parfum itu dari tangannya kepadaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Usut sampai ketemu ya, Pak?” Pintanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tidak bisa menjawab, mengiyakannya. Toh, aku bukanlah penegak hukum. Kukeluarkan kamera, kufoto file yang terbuka itu sebagai bukti bahwa itu memang benar tulisan Farina. Kemudian dengan USB aku pindahkan file-file dalam folder “kisahku” itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku berharap mendengar suara Miranti untuk menenangkanku setelah membaca semua file-file kisah kehidupan Farina. Ada banyak bagian yang membuatku harus bersedih demikian dalam. Betapa tidak? Farina adalah tumpuan keluarganya. Dia anak pertama dari empat bersaudara. Ibunya kini sedang menderita kanker payudara. Adik-adiknya masih perlu biaya sekolah. Dia sangat mencintai keluarganya, hingga apapun dilakukannya, termasuk melacurkan diri. Namun tak ada teman sejawatnya yang mengetahui hal ini, tidak juga Susi, teman sepondokannya!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dirahasiakannya kesedihannya begitu rupa. Dan yang paling menyakitkan adalah: dia ternyata sudah berharap padaku, orang yang baru dikenalnya, untuk bisa mencurahkan keluh-kesahnya. Dia memandang aku sebagai orang yang tepat, wartawan yang dipikirnya banyak relasi, untuk bisa mengangkat dirinya dari keterpurukan hidup yang begitu mendera.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah, kenapa kau tidak mau berterus terang Farina?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Joe pasti akan dengan senang hati membantumu, jika aku memang belum mengetahuinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku teringat sajak Sapardi Djoko Damono “Hujan di Bulan Juni”. Betapa rahasia adalah rahasia. Tak seorang pun mampu menterjemahkannya jika si pemilik rahasia itu tak mau menceritakannya, dan kehidupan memang memiliki rahasianya sendiri. Aku sendiri bukanlah orang yang bisa merahasiakan kehidupan pribadiku hingga hampir semua orang di kantor tahu bagaimana aku mencintai Miranti dan cinta itu tak berbalas. Tapi tak ada yang tahu apa alasan Miranti melakukan itu. Dia pun merahasiakan kepedihannya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ah..Miranti. Sedang apakah dia?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perjalanan ke arah kantor kepolisian terdekat dari kantorku terasa begitu menyiksa pikiranku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Susi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh. Mas Sas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko berdiri di depan pintu. Tangannya yang kekar terbuka lebar. Di belakangnya tampak sosok Rudi mengikuti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa, Mas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak ada apa-apa. Cuma mau pamit, beberapa hari ini aku akan keluar kota. Ada tugas penting yang harus aku lakukan bersama Rudi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh ya. Kenapa kamu di kamar Farina?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu belum tahu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Farina tewas dicekik orang!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi menghambur ke pelukan Sasongko. Dia menumpahkan kembali tangisannya. Sejenak kedua insan ini seperti melupakan kehadiran Rudi. Mereka larut dalam pelukan yang erat. Pohon kelapa gading membayangkan tubuhnya di kedua tubuh mereka. Matahari senja yang melukisnya. Sebentar lagi malam kembali datang. Dan di hari ini, tak ada kabar gembira yang benar-benar terjadi. Mr. S. masih menjadi misteri. Dari kepulan asap rokok yang disesapnya, Rudi menyelipkan sebuah senyuman.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Susah, Nan.” Seorang petugas forensik kepolisian yang akrab denganku mengembalikan botol parfum yang kuberikan kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aduh, sidik jari Susi rupanya sudah merusak keaslian sidik jari yang terdapat di sini.” Aku mengamati hasil pemeriksaan sidik jari dengan sejenis tepung dan cairan tertentu. Ada banyak sidik jari yang tercetak, namun beberapa sidik jari milik Susi sudah menutupi jejak-jejak sidik jari lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah…?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada sih yang bisa aku ambil, tapi tidak utuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kira-kira bisa tidak dilacak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nanti aku cocokkan di bagian SIM.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Aku tunggu beritanya!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menjabat tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terimakasih sudah membantu,” jawabnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, sama-sama. Senang bisa membantu dalam kasus ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Jangan lupa, kau serahkan juga petunjuk-petunjuk lain,” tukasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, hampir lupa! Aku mau kasih file catatan harian korban. Aku sudah menyalinnya di USB-ku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia kemudian membimbingku ke sebuah ruangan. Dan dipersilakannya aku menggunakan salah satu unit komputer di dalam ruangan itu. Tak lupa aku juga mencetaknya dan menyalinnya untuk kuberikan kepada seseorang yang harus tahu isi hati Farina: Joe!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah itu aku menyerahkan kertas-kertas hasil cetakan itu kepada petugas forensik kepolisian itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Silakan dipelajari,” kataku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pasti.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menatap matanya untuk mengatakan permintaanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tangkap pelakunya! Dia sangat berbahaya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siap, Dan!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Katanya sambil memberi hormat. Ada-ada saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sekali lagi kujabat tangannya. Ada harapan besar di sana.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-807266119532295915?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/807266119532295915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=807266119532295915' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/807266119532295915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/807266119532295915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/tak-ada-kabar-gembira.html' title='Tak Ada Kabar Gembira'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-8012516345557072816</id><published>2008-05-26T01:36:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T01:40:22.716-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Diary Luka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Sudah berapa lamakah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;musim ini memenjarakanmu,&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;wahai rumah yang&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;selalu menutup pintu?&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;(Petikan Sajak: “Jejak di Tangga”.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Diambil dari buku “Lelaki yang Dicintai Bidadari”,&lt;br /&gt;karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Memang aku sudah lama menutup pintu hatiku. Tapi hal itu kulakukan karena aku begitu mencintai Miranti. Buku puisi yang kupegang kembali kubaca pelan-pelan di halaman sajak itu. Bahkan tanpa sadar aku sudah mulai menyuarakannya meski lamat-lamat. Di sebelah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kulihat Joe sedang membereskan beberapa gelas.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang perlu ditambahkan lagi, Pak?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suara pelayan mengagetkan aku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sejenak kutatap wajahnya. Bukan Farina. Setiap aku ke café ini, aku selalu ingin Farina yang melayaniku karena aku rindu untuk melihat keteduhan di matanya yang selalu berbinar itu. Apakah ini perasaan cinta?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi segera kutepis dugaanku itu. Paulina pun selalu berbinar bola matanya. Bahkan ketika dia sedang melontarkan celaan yang garing kepadaku. Aku mencoba mencari binar itu pada sepasang mata yang terdapat pada wajah pelayan yang menghampiriku ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dewi?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Betapa bodohnya aku menyebutkan nama yang tertulis di tag yang terpasang di dada kirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya Dewi, Pak. Ada yang perlu ditambahkan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jika saja aku bisa melihat wajahku sendiri dalam sebuah cermin, tentunya akan kudapati pias merah jambu di dua belah pipiku karena malu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ehm, saya bisa minta &lt;i style=""&gt;French fries&lt;/i&gt;?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Satu porsi &lt;i style=""&gt;French fries&lt;/i&gt; ya, Pak. Baik.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dengan tangkas tangannya mencatat pesananku di atas lembaran kertas order, menyobeknya, dan segera berlalu dari hadapanku. Rupanya pemilik café ini benar-benar membuat karyawannya tertib untuk mengerjakan segala pekerjaan. Tidak bertele-tele dengan tamu. Saat ini aku merasa kehilangan teman bicara.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Telepon di tempat bartender berdering. Joe dengan sigap mengangkatnya. Tak lama kemudian aku lihat dia tampak begitu terperanjat. Mungkin dia menerima berita yang tidak begitu baik. Order yang terlambat datang dan tak dibayar oleh pemesan atau ada pesanan yang salah kirim. Hal seperti itu sudah terbiasa terjadi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku perhatikan Joe tidak sedang kaget biasa. Dia sedang mengalami shock. Telepon di tangannya terlepas begitu saja. Hampir saja mengenai sebotol Martini yang hendak diolahnya. Aku segera berdiri. Firasatku mengatakan ini berita buruk!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada apa Joe?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Fa, Pak. Fa. Dia ditemukan persis seperti Rasida Alma!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Joe pun menangis histeris.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Fa?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kembali aku bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tuhan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kenapa Farina bisa meninggal dengan tragis begitu?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Di mana?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulihat Joe mencopot celemeknya, melemparkannya dan hendak segera berlari. Dengan sigap aku mengambil dompetku. Mengeluarkan beberapa lembar uang, meninggalkannya di meja bartender dan segera membuntuti Joe yang tidak menjawab pertanyaanku. Joe berlari ke arah ruang kantor manajemen café.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tertahan di pintu ruang kantor. Seorang satpam menahanku masuk. Di dalam ruangan kudengar tangisan Joe meledak. Seorang, mungkin manajer café, pun terlihat sibuk menelepon. Sepertinya ke kantor kepolisian terdekat. Tak lama Joe dan orang itu pun keluar. Di dekatku, Joe mengatakan sebuah alamat. Hotel yang sama dengan hotel ditemukannya Rasida Alma!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku segera mengambil telepon genggamku. Kuhubungi kantor Delik Metro.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Delik – Metro, Selamat pagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Na, hubungkan aku dengan Pak Gun, segera!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baik, Nan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kembali kudengar nada tunggu sebelum akhirnya suara Pak Gun terdengar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ada berita apa, Nan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Seorang saksi Rasida Alma ditemukan tewas, Pak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Di mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hotel yang sama. Saya hendak ke sana.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Kutunggu laporanmu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku, Joe, dan manajer café, yang akhirnya kuketahui namanya, Ruslan masuk dalam mobil. Joe masih terguguk menahan tangisnya supaya tidak meledak. Dari tangisannya, aku menduga Joe mencintai Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tabah, ya Joe.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ruslan menasehati Joe.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe tidak berkata apa-apa. Aku kembali bertanya dengan pelan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Joe, kamu tahu kapan kamu melihat Fa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kemarin sore, setelah Anda datang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maksudmu, setelah saya ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dia tidak bertugas malam?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Katanya ada urusan yang harus diselesaikan. Soal uang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah dia terjerat hutang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Setahuku tidak, Pak. Tapi dia bilang sama saya kalau dia punya urusan yang bersangkutan dengan uang harus dia selesaikan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu tidak tahu orang yang hendak ditemui?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku tak tahu, Pak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menghela nafas. Tanganku pun kembali bergetar. Lagi-lagi tremor!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku benci jika ini terjadi. Kulihat Ruslan mencuri pandang pada kedua tanganku yang bergetar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Anda sakit?” Ruslan bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, tidak. Tidak apa-apa.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hanya itu percakapan terakhir yang kudengar di dalam mobil. Selebihnya yang ada hanyalah isak Joe saja. Kami pun segera bergegas membuka pintu ketika supir menghentikan mobil, tanda kami sudah sampai ke tempat tujuan. Aku melihat Simeon berdiri bersama seorang petugas kepolisian.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebetulan kau nongol. Langsung ke Forensik aja deh. Semua yang ada di sini sudah ku &lt;i style=""&gt;cover&lt;/i&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana detailnya?” Aku tidak memperdulikan ucapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Korban tewas dengan cara dijerat lehernya. Dan itu dilakukan saat korban sedang mandi. Rupanya, sebelum dijerat korban sudah mengalami perkosaan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia bernama Farina. Pelayan café yang juga narasumberku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hah?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Simeon membelalakkan mata. Sejurus kemudian dia membisikiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau tidak lapor polisi soal itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku pikir dia itu dalam situasi yang aman.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku balas membisikinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, Kau!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hari gini bermain-main dengan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Sherlock Holmes. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Basi tau&lt;/span&gt;!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menyeret dia menjauh dari petugas polisi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“On, aku tidak menduga jika si pelaku pembunuhan Rasida akan mengincar para saksi yang bertemu Rasida malam itu…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nan, berarti saksi satunya pun harus kau lindungi!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku melirik ke arah Joe yang sedang dimintai keterangan oleh petugas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku pikir, malam ini Joe dalam situasi yang aman. Bukankah pastinya dia dibawa ke kantor polisi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Joe?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Dia. (Aku menunjuk ke arah Joe). Dia juga melihat Rasida malam itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ok. Sekarang mending kau temui Dokter Rossy.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mendengus. Entah karena kesal merasa diperintah oleh Simeon yang notabene masih satu level denganku. Sesama wartawan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Sampai ketemu di kantor.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ok. Nan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat Simeon pergi ke arah petugas polisi yang sedang memeriksa Joe dan Ruslan. Dia kemudian terlibat pembicaraan dengan mereka. Aku baru menyadari bahwa di depan hotel itu sudah tidak ada mobil ambulans, berarti mayat Farina memang sudah dibawa ke Rumah Sakit. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kukeluarkan telepon genggam dari saku. Mencari nama Dokter Rossy. Dan memijit tombol hijau bergambar gagang telepon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hai, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;. Mau ke sini ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Dok...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Segeralah. Mayatnya ada di depanku sekarang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak menjawab lagi. Segera kumatikan sambungan telepon dan bergegas ke arah stasiun kereta Metro terdekat dari hotel.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hai. Kucel amat tampangmu, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Udah deh Na. Suntuk nih…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sorry ya, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Wajah cantik Paulina tiba-tiba terlihat begitu biasa bagiku. Kesedihan karena kehilangan seseorang yang baru dekat denganku membuat segala sesuatu semakin hambar rasanya. Sel-sel kelabu di otakku kembali menginapkan kesepian. Bahkan kali ini begitu kelam. Tadi di Rumah Sakit pun suara sexy Dokter Rossy yang cerewet tak mampu mengalihkan perhatianku pada derita yang dialami oleh Farina.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pak Gun mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gak&lt;/span&gt; tau tuh. Hari ini, dia pulang cepat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Masih sore gini? Kemana ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Katanya ada urusan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Terus yang ditugasi memimpin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;meeting&lt;/span&gt; berita kali ini siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, Pak Zen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;. Bukankah dia itu Wapemred.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aduh. Nanya melulu. Orang baru ya?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Paulina kembali meledekku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Entah mengapa tiba-tiba ledekan Paulina membangkitkan semangatku. Jadi mood lagi untuk menulis. Sengaja kusentuh pipinya. Dan dengan gerakan seperti hendak mencium, kudekatkan wajahku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ih, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ganjen&lt;/span&gt;-nya keluar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;deh&lt;/span&gt;!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Udah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, ditungguin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;meeting&lt;/span&gt; juga!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia menampik tanganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tertawa. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kalanya aku memang butuh sentuhan wanita. Tak bisa kupungkiri itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Meskipun di dalam hatiku begitu mendamba bahwa hanya Miranti saja yang akan sering menyentuhku. Mengucapkan beberapa kata-kata ledekan atas kekonyolan tingkahku. Sekaligus bermanja-manja denganku. Bukan Paulina atau pun Dokter Rossy atau…Farina!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku kembali mengingat dia. Pelayan café yang baru kukenal beberapa hari ini. Senyumnya begitu menawan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; binar di matanya yang tak kutemui di mata Paulina, meski mata Paulina pun berbinar selalu, karena pada saat aku dan Dokter Rossy berkencan di café itu binar itu bisa tiba-tiba surut dari matanya. Mungkinkah dia jatuh hati padaku?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Farina…&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Foto-foto itu bergetar di tanganku. Semacam kutukan kurasakan tremor yang menjalari kedua tanganku ini. Setiap kali aku merasakan emosi tak ayal lagi kedua tanganku bergetar hebat. Foto-foto mayat Farina tampak hidup dengan getaran-getaran tanganku. Aku mulai berimajinasi bahwa yang kulihat adalah Farina yang sedang menggelepar melepas ajal. Kedua mataku mulai berembun. Dua tetes air mata mengalir turun. Apa yang membuat Farina harus mengalami kematian seperti ini?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ada lebam di kedua matanya. Sepertinya dia habis dipukuli. Lebam yang sama terlintas di pikiranku. Waktu itu Miranti memintaku mengantar mamanya ke Rumah Sakit. Aku tak tega melihat wajah tua yang masih membekas guratan kecantikan itu bengkak-bengkak. Miranti menggerung meratapi nasib mamanya tetapi wanita itu hanya berdiam diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tante harus lapor ke polisi. Ini sudah tindak penganiayaan!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ujarku saat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tante Aline, mama Miranti, tetap diam saja. Pipinya penuh air mata.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan selepas Tante Aline dibaringkan di ranjang rumah sakit serta dirawat dokter, Miranti merebahkan kepalanya di pundakku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku harus berbuat apa, Nan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau yang harus melaporkan ini kepada polisi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dan memaksa Mama menceraikan Papa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku tidak bilang begitu, tapi biarkanlah Papamu mengikuti semacam tes atau rehabilitasi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Papa tidak sakit, Nan!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Miranti memprotes perkataanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mencari tatapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ranti, Papamu memang tidak sakit. Tapi dia perlu semacam konsultasi ahli untuk menghilangkan tindakan kekerasannya!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Itu sama saja menuduh Papaku sakit, Nan!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia mulai menangis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa kamu tidak kasihan melihat Mama Aline selalu jadi pelampiasan kemarahan Papamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku...” Miranti tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa meneruskan tangisnya dan mencari pundakku kembali.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku hanya bisa menghela nafas. Seandainya saja Miranti bisa mengerti bahwa papanya memang sakit. Dia tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dan itu sangat berbahaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nan.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suara Pak Zen mengagetkan aku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh. Ya, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau sudah kasih tahu ke petugas bahwa nyawa Joe pun bisa terancam?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tergugup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya sudah bilang ke petugas, Pak!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suara Simeon terdengar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh. Ya sudah. Berarti sekarang tinggal menyelidiki ada hubungan apa antara korban dengan si pembunuh. Soalnya dari keterangan narasumber yang ada, semuanya mengarah pada suatu urusan uang. Mungkin kau bisa datang ke tempat tinggal korban, Nan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siap, Pak!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alih-alih menutupi lamunanku, aku agak berteriak menjawabnya. Peserta meeting ada yang tersenyum melihat hal itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ok. Besok kau kerjakan itu, ya!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meeting&lt;/span&gt; selesai. Aku masih terpaku dengan foto-foto di tanganku. Sekali lagi aku teringat pada halaman-halaman luka yang menoreh perjalanan hidup Miranti hingga akhirnya dia selalu bimbang dalam hubungan antara lelaki dan perempuan. Dan foto-foto itu kembali bergetar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Alfa, yang kuketahui setelah mendengar suaranya, tiba-tiba merebut foto-foto itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Cantik juga. Jangan-jangan kau naksir ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau gila kali!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini foto mayat, masa aku naksir?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia menepuk pundakku. Lantas berkata lagi, “Daripada kau tunggu Miranti-mu itu, lebih baik kau tembak saja Dokter Rossy!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia cantik bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahu darimana dia soal Dokter Rossy itu cantik?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku terbengong-bengong mendengar omongannya. Kulihat dia tersenyum, entah apa maksud senyumannya itu. Aku tak mengerti. Sama halnya dengan ketidakmengertianku: “Kenapa Fa harus mati?”&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-8012516345557072816?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/8012516345557072816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=8012516345557072816' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/8012516345557072816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/8012516345557072816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/diary-luka.html' title='Diary Luka'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-3285717856811231679</id><published>2008-05-26T01:31:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T01:35:02.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Mata Malam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Anda harus rela memasukkan warna hitam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;ke dalam kombinasi warna Anda&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;untuk mendapatkan sesuatu yang nyata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;-- Amy Grant --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di dalam sebuah kamar apartemen. Eko berdiri di depan sebuah sketsa yang sore tadi dibuat. Asap rokok mengepul pelan. Di ruangan itu, tampak kaleng-kaleng bir berserakan, sepertinya Eko memang sedang berusaha menjauhkan diri dari kenyataan. Jemarinya berulangkali membuat suara ketukan pada satu tujuan: pelipis yang ditutupi oleh rambut panjang penuh uban. Di sela suara sesapan rokok, Eko mendesiskan pula sumpah serapah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Alangkah bodohnya aku!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bodoh!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bebal!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tangan kanannya yang sedang melukis lebih sering terhenti. Setetes cat akrilik warna kuning semburat merah jatuh menetesi karpet ruangan. Dia tidak memperdulikan hal itu, dibiarkannya kuas yang terpegang itu menggantung, antara hendak disapukan pada kanvas atau diistirahatkan di papan palet.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lukisan suasana Kuil Murin-An jauh dari kesan ”jadi”. Meskipun dia adalah pelukis yang sangat terpengaruh oleh Monet namun kali ini sapuan-sapuan patahnya terasa lebih kasar. Warna-warna kuning, merah, cokelat tua dan biru muda berpadu dengan tone yang kasar. Jauh dari kelembutan. Mungkin memang suasana hati sang pelukis sedang tidak berada di zona kelembutan. Padahal selama ini, dia dikenal sebagai pelukis yang sangat lembut dalam memainkan warna. Tak pernah ada lukisannya yang seperti itu, warna yang keras lagi kasar dalam menyapukannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kali ini terdengar pula beberapa rutukan, sebelum hening panjang dan akhirnya menjelma menjadi tangis. Suara yang bila didengar oleh orang lain seakan mengiris hati. Mencuil-cuil puncak ketegaran. Membuat udara di dalam kamar itu sepertinya akan habis. Eko sang pelukis benar-benar tengah menangis.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia sedang tersudut oleh keinginan yang rasanya tak bisa terwujud. Miranti. Gadis yang ditemuinya sore tadi telah menolak getar cintanya. Padahal angannya begitu bergejolak. Namun ia tak berdaya melawan kuasa penolakan yang terasa begitu lembut tadi. Kata-kata Miranti di dalam kereta dirasanya begitu mendesak harga dirinya hingga kini terasa menyesakkan. Kini seluruh anggota tubuhnya terguncang. Akhirnya ia terkulai di sudut kamar dan menumpahkan seluruh tangis.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Miranti, mungkin kau sudah tahu sejak pertama kali mataku menatap matamu, bahwa aku ini seorang yang tak tahu malu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia tertawa juga dalam tangisnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Tapi untuk apa aku harus malu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk sebuah pukau cinta, untuk seorang gadis yang berkilau aku takkan pernah merasa malu untuk utarakan niatan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lantas tawanya menghilang dalam sesapan asap rokok ke dalam bibirnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Tapi, apakah aku begitu hina di depanmu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Katakanlah. Katakan!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko bangkit dan mendekatkan wajahnya dengan lukisannya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Mungkin kau punya jawaban lain, Miranti. Mungkin!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia mengacung-acungkan ujung rokok yang menyala di depan lukisan. Kemudian dia menjauhkan wajah. Menyesap rokoknya. Dan membiarkan sebuah hembusan keras seperti dengus yang begitu amarah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ayo katakan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kau tak ingin bicara?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tentu saja gadis dalam lukisan itu tak pernah bicara. Dia hanya garis-garis dicekam bisu yang begitu kuat. Hitam yang begitu padat. Eko pun mengarahkan pandangan yang begitu lekat padanya. Berkali-kali. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Jadi kau anggap aku tak pantas bicara padamu? Iya?!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suara Eko semakin tinggi dan semakin tidak terkendali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Baiklah jika itu maumu!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku akan tunjukkan padamu bahwa aku bisa lebih berkuasa dari ucapanmu :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hanya saja aku sedang tidak memikirkan sebuah hubungan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko mengepalkan tangan. Begitu kuat juga bergetar hebat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Malam ini aku akan mengabarkan padamu bahwa aku – &lt;i style=""&gt;aku sendiri&lt;/i&gt; – yang akan menghancurkanmu!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Diraihnya sebilah pisau palet. Dan tak menunggu lama, dia menggoreskannya pada lukisan itu. Dia membuat beberapa gerakan tak terarah. Kanan – kiri, maju – mundur. Dan tak perlu ditebak lagi, lukisan itu hancur sudah. Berantakan menyisakan bingkai yang telanjang. Dengan tak puas, digenggamnya kuat-kuat bingkai itu sebelum akhirnya dicampakkannya. Eko kembali berteriak!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tiba-tiba telepon genggam miliknya berdering. Eko sangat berharap Miranti menelpon. Nomor telepon yang terlihat di layar menandakan si penelepon dari kota yang jauh. Eko ragu-ragu mengangkatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Selamat Malam Bapak Eko. Kami dari kepolisian. Kami hendak menanyakan beberapa hal menyangkut tewasnya Rasida Alma.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Si-Si-siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Rasida Alma. Apakah Bapak mengenalnya?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko semakin limbung. Rasida Alma adalah cinta pertamanya. Dia berkenalan dengan Rasida waktu sekolah menengah. Waktu itu Rasida belum memperlihatkan bakat sebagai seorang penyanyi. Dia lebih dikenal sebagai model sampul majalah dan juga model iklan. Rasida adalah perempuan yang mengenalkan Eko dengan dunia seni, terutama teater. Alih-alih mengantarkan kursus acting dan modelling, Eko yang jangkung pun ikut serta. Namun dalam perkembangannya Eko lebih senang kepada dunia lukisan, sebuah ”dunia kesunyian” menurutnya. Beberapa tahun setelah mereka berpisah, Eko mendengar kabar bahwa Rasida sudah menjadi seorang penyanyi. Dan wajahnya hampir-hampir tak bisa Eko kenali. Rasida Alma berubah total dari sisi penampilan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ya. Saya mengenalnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Apakah Bapak bersedia dimintai keterangan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Se-Se-Sebentar. Saat ini saya sedang di Kyoto. Dan saya sudah lama sekali tidak pernah bertemu dengannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Bukankah Bapak Eko ini pacar dari Nona Rasida?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Bukan. Bukan. Itu cerita lama. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ingin rasanya dia bercerita panjang lebar kepada petugas kepolisian yang mewawancarainya, tapi dipikirnya lebih baik nanti saja. Saat dia sudah berada di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Bapak di Kyoto?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sejak kapan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Seminggu lalu. Ya. Seminggu lalu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Baiklah. Kapan rencananya pulang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Maaf, tapi –&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hei!&lt;/span&gt;- saya tidak terlibat dengan hal itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kami cuma ingin memastikan saja; Jika Bapak pulang ke &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Bapak bersedia untuk kami mintai keterangan soal kedekatan Bapak dengan Nona Rasida.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Baiklah. Saya bersedia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Terimakasih Pak Eko. Selamat malam.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Selamat malam.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Klik”.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Telepon genggam di tangan Eko meluncur. Seiring dengan itu tubuh Eko pun ambruk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamar itu kembali berteman senyap. Yang terdengar hanya isak Eko yang semakin terdengar menyesaki kesepian yang ada.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah kalung kulit warna hitam tergolek di sisi ranjang. Seorang lelaki tidur-tiduran di sebuah ranjang. Seorang perempuan berdiri di belakang pintu. Nampaknya dia baru saja datang di tempat itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kali ini, kau mau mengenakannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Untuk apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Aku cuma ingin kau mengenakannya!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Apa-apan ini?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak mau!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku bukan binatang!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sosok laki-laki itu bangkit dari sikap tidurnya. Dia duduk di pinggiran ranjang. Mengambil sebatang rokok dari kotaknya di atas meja dan mulai merokok. Setelah sesapan yang pertama, dia mendenguskan asap keluar hidung kuat-kuat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Fa, kau lupa siapa aku?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suaranya bergetar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perempuan, yang dipanggil Fa, terdiam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mulutnya hampir saja terbuka lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Diam!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perempuan itu menunduk kemudian terisak. Mulutnya tetap masih terbuka. Air mata mulai meleleh di kedua pipi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sudahlah. Jika kau memang tak ingin tak apa. Tak usah kau menangis.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Entah kapan lelaki itu berdiri, tiba-tiba dia sudah ada di depan perempuan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tepukan di kedua pipi yang berulang membuat perempuan itu terpaksa menatap pada mata yang sedari tadi mencari-cari pandangan terarah kepadanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ke-Ke-Kenapa kau tidak cari wanita lain?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Akhirnya perempuan itu bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Halo? Rupanya kau benar-benar tidak ingat akan hutangmu, ya?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lelaki itu menyeringai. Asap rokok yang disesapnya dihamburkan di depan wajah perempuan itu. Farina kembali tertunduk. Matanya hanya mampu menatap lantai keramik sebuah hotel murah tempat dia diminta datang untuk bertemu dengan seseorang yang beberapa waktu lalu memberi uang kepadanya, tetapi tidak menggunakan tubuhnya. Dan dalam keremangan lampu kamar, dia hanya mampu meringis ketika kulitnya bertemu dengan tajamnya kuku saat lelaki itu mencengkeram lengannya. Farina menahan jerit yang hendak terlepas dari mulut. Dia merutuki keputusannya sore tadi, mengiyakan permintaan lelaki itu untuk melunasi sesuatu yang tertunda kemarin. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko tersenyum mendengarkan cerita seseorang via telepon genggam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Wah. Bagus kalau begitu Pak!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi sekarang sudah tidak ada lagi saksi mata?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suara dengusan terdengar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Masih ada lagi Ko. Dia mantan pacar Rasida yang sedang berada di Jepang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Apa hubungannya, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Dia tahu kalau aku dekat dengan Rasida, Ko!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Bapak juga tahu dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ya kenal, Ko.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Lalu bagaimana, Pak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Hm. Aku akan cari tahu kapan dia pulang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan pada harinya, kau yang jemput dia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Beres, Pak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kau tahu maksudku, bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Saya jamin dia tidak akan bisa pulang ke rumahnya Pak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kau memang bisa diandalkan, Ko!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Klik.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kemudian Sasongko berjalan ke arah Rudi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia mengambil sebatang rokok dari tangan Rudi dan buru-buru menyesapnya. Sesaat setelah menghembuskan asap, dia berbisik dengan sangat hati-hati di telinga Rudi. Rudi kemudian tampak kaget tapi kemudian tertawa terbahak-bahak. Malam ini tampaknya maut sedang mengintai nyawa seseorang.&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-3285717856811231679?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/3285717856811231679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=3285717856811231679' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/3285717856811231679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/3285717856811231679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/mata-malam.html' title='Mata Malam'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-6897783697283886419</id><published>2008-05-26T01:22:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T01:31:23.638-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Cinta Itu Puitis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Hati yang tulus adalah taman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;Pikiran yang sehat adalah akar.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;Perkataan baik adalah bunga.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;Kebajikan adalah buah.&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;-- John Ruskin --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Melihat puting susu, yang terpikir olehku adalah seorang perempuan yang biasa dipanggil ibu. Namun ibu yang sangat kusayangi sudah begitu tenang di alam kubur. Sekarang ini yang aku lihat adalah bagian terlarang seorang wanita yang terbujur kaku dalam dinginnya lemari pengawet jenazah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Cukup?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang dokter forensik berkacamata minus itu membuyarkan rasa ingin tahu yang sedari tadi telah sedikit demi sedikit kutuangkan dalam coretan-coretan deskripsi kondisi jenazah tersebut. Kedua tangan Dokter Rossy sigap menutupkan resleting kantong jenazah, kemudian menyentak ujung brankar hingga terdorong masuk ke dalam lemari penyimpanan jenazah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tergagap menjawab pertanyaan tiba-tiba itu. Aku sedang tidak berusaha menikmati tubuh jenazah penyanyi wanita muda usia ini tetapi keseriusanku untuk mencatat detail kondisi jenazah membuatku banyak merenung mengenai saat – saat terakhir dalam hidupnya yang masih misterius. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm. Apa penjelasan Dokter Rossy soal penyebab kematiannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Rasida Alma mengalami patah tulang leher oleh sejenis sabuk kulit.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Seperti dicekik?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Persisnya memang dicekik. Dan itu cekikan yang sangat kuat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Bukan kehabisan nafas karena dicekik?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Dari uji rontgen, kemungkinan terbesar penyebab kematiannya adalah karena patahnya tulang leher.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sidik jari tertinggal?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sayangnya, kami belum mendapatkan kalung kulit yang dipergunakan untuk mencekiknya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Di bagian tubuh yang lain?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; banyak petunjuk sebenarnya yang bisa digunakan untuk melacak tersangka pembunuhnya, seperti rambut, tekanan di kulit yang perlu dianalisis untuk mendapatkan sidik jari, juga ceceran sperma.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sperma?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah artinya sebelum meninggal dia disetubuhi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dokter forensik yang kebetulan juga wanita itu tersenyum. Dia membenarkan letak kacamatanya sebelum melanjutkan bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Anda tidak pernah mengetahui soal BSDM ?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ya, saya tahu. Itu beberapa perilaku seksual menyimpang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sepertinya Rasida Alma tewas karena prosesi persetubuhannya sendiri.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Seburuk itukah dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Buruk?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya pikir setiap orang punya cara tersendiri untuk menyatakan cintanya bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tetapi bagi saya, ini cara yang paling buruk sebagai pengungkapan rasa cinta.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;"Pak Danan, saya cuma menjelaskan kemungkinan yang ada dari sebab kematian ini. Bagaimana dia bisa berbuat seperti itu, sebaiknya anda bisa wawancarai seorang psikiater.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ah, maaf. Saya tidak bermaksud berdebat dengan Anda, Dokter Rossy.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Apa bisa kita lanjutkan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika Anda sudah tak punya pertanyaan lagi, masih banyak hal yang harus saya kerjakan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Tunggu Dokter...Bagaimana dengan sperma tadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kami sudah mengambil contohnya dan akan kami lakukan uji DNA. Namun kendalanya, karena tidak semua orang sudah pernah dilakukan uji DNA pada dirinya, sehingga masih perlu waktu lama untuk mendapatkan orang yang tepat dianggap sebagai tersangka dalam kasus ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Jadi, kerja kepolisian untuk mengungkap siapa pelakunya boleh dibilang masih lama?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Itu bukan wewenang saya untuk menjawabnya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menghela nafas. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; binar keangkuhan yang ingin sekali kutundukkan di balik kacamata Dokter Rossy. Dan rasa itu seakan kembali menggetarkan seluruh tubuh. Mengalir ke syaraf di ujung-ujung jemari. Ah, tanganku kembali gemetar. Semoga dia tak melihatnya!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kapan Dokter selesai praktek?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sekitar jam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sore ini. Itu pertanyaan pribadi atau masih termasuk wawancara?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku terhenyak. Ternyata Dokter Rossy punya selera humor yang baik!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Saya ingin mengajak Dokter minum cokelat hangat kesukaanku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Cokelat hangat?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasanya dengan kasus seperti ini aku perlu yang lebih keras dari itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ha!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina tergesa-gesa masuk ke pintu khusus karyawan. Dia tidak memperhatikan sosok yang hampir menabraknya. Tapi orang itu pun menghentikan langkahnya supaya tidak menabrak Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Hei, Fa!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ups!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Hampir aku menabrakmu Fa. Kenapa terburu-buru?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Tidak ada apa-apa. Hanya saja, ada sesuatu yang aku ingat di perjalanan menuju kemari.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Apa itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Tak penting Joe. Sesuatu yang seharusnya tidak aku ingat lagi tiba-tiba melintas di dalam kepalaku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe menghela nafas. Dicarinya mata Farina yang sepertinya terus menghindari tatapannya. Betapa ingin dia menemukan sesuatu yang lembut di hatinya dari tatapan mata Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Joe, aku harus berganti pakaian.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Oh, maaf. Silakan Fa...”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebenarnya ada yang ingin dia tanyakan pada Farina perihal ajakannya beberapa waktu yang lalu untuk menonton sebuah film yang akan diputar premiernya hari Senin nanti. Tapi rasanya waktunya belum tepat. Joe sepertinya masih mencari bayang Farina di balik pintu yang telah tertutup. Dia kembali menghela nafas, barangkali bau parfumnya masih tertinggal di udara sore ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Astaga. Betapa sulitnya aku menggapai cinta di hatinya!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Joe mendesis gelisah. Tanggannya bergerak ke arah saku celana, mengeluarkan sebuah kotak korek api dan sebungkus rokok. Tak lama dia mulai membakar sebatang rokok. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Joe. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pelanggan datang!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah ucapan mengagetkannya. Dia segera mematikan rokoknya dan melangkah masuk ke dalam ruangan cafe. Dewi, teman waitress Farina menghadang langkahnya ke meja bar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Aneh!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masih sore begini, tamu-tamu itu sudah ingin mabuk.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Senyum Joe mengembang menjadi tawa yang tertahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sudahlah. Yang penting ada pemasukan.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Joe mengambil kertas order di tangan Dewi dan membaca dengan cepat. Dalam beberapa menit, sebuah nampan telah diisi dengan dua buah gelas dingin berisikan es batu dan dua buah botol minuman.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina baru saja keluar dari ruang ganti dan berjalan ke arah bar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Fa, tolong hantarkan ke meja delapan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kamu mau kemana Dew?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Toilet. Sudah dari tadi aku menahan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Baiklah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina mengambil nampan. Joe tersenyum ke arahnya, sepertinya tak pernah berhenti untuk mencoba mengambil simpati dari hatinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Meja delapan. Seorang lelaki dan seorang perempuan. Hampir saja nampan di tangan Farina terjatuh gara-gara dia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Dia melihat lelaki yang dikaguminya sedang berbincang dengan seorang wanita yang nampak sangat atraktif &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bicaranya. Rasanya, jika boleh dia memutar balik waktu, lebih baik diperlambatnya ganti baju, atau bahkan pura-pura tidak mendengar ketika Dewi menyapa dan meminta bantuan membawakan nampan ke meja itu. Namun tak mungkin ada keajaiban yang mampu menahan laju perasaan Farina yang jatuh saat ini. Sore ini lebih cepat terasa sebagai malam di hati.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Selamat sore, Farina!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina segera meletakkan nampan di atas meja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sore Pak Danan...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Kenalkan ini Dokter Rossy...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”&lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;, Anda kenal dengan waitress ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Ya. Kenal. Saya sering sarapan di sini.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku terpaksa menyembunyikan soal Farina adalah sumber informasiku dalam kasus kematian Rasida Alma sebab bukan tidak mungkin Dokter Rossy akan membocorkan kepada pihak press lain. Dokter Rossy mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Jika tidak ada pesanan lagi saya mohon diri. Kebijakan perusahaan tidak membenarkan pelayan untuk berbincang dengan tamu. Maaf..”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Nada di bibirnya bergetar dan mata indahnya selalu bergerak tak ingin diam. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sesuatu yang benar-benar disembunyikan olehnya. Entah rahasia apa lagi yang dimiliki. Walau pun keingintahuanku begitu menggelitik aku lebih menghargai perasaan Dokter Rossy yang sedang kuajak kencan sore ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Silakan Farina.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suara Dokter Rossy terdengar di sela tatap panjang tanpa arah di kedua mataku. Dan terdengar suara lain. Suara aliran cairan isi botol yang bersinggungan dengan dinding gelas dingin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suara itu membuat pupil mataku bergerak ke arah tangan yang berjari lentik yang sibuk menyiapkan dua gelas minuman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Hei, tunggu!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanpa sadar aku berteriak sedikit kencang. Dokter Rossy sedikit tersentak. Langkah Farina yang menjauh berhenti mendadak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Bukankah seharusnya kau mengisi gelas-gelas ini sebelum pergi?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku mengajukan pertanyaan retoris yang kutujukan kepada Farina.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Aduh. Maafkan saya.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia berkata dan berjalan cepat ke arah kami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah senyuman terulas di bibir Dokter Rossy. Sepertinya dia ingin mengatakan betapa kurang berkenannya dia atas perbuatanku ini. Diletakkan botol itu dan diundurkan punggung untuk merasakan kelembutan busa-busa sofa. Sesuatu yang tersimpan di dalam tas segera dicari. Sepertinya sesuatu yang begitu penting. Aku merasa bahwa tindakanku ini telah menghancurkan suasana kencan kami.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina segera membereskan pekerjaannya. Diulurkan dua buah gelas yang sekarang sudah setengah berisi di hadapan kami berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Terimakasih Farina.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku mengulum senyum terpaksa yang dibalas dengan senyum keterpaksaan juga.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sebelahku Dokter Rossy sudah mendapatkan apa yang dia cari dari dalam tas. Sebuah rokok!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Entah kapan dia membakarnya, dari bibir tanpa lipstik terhembus asap tipis yang segera mengambang di atas meja.  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Belum sempat aku mengeluarkan sebuah kata, tangannya telah terulur kepada gelas yang tersedia dan dalam hitungan detik, cairan pengisinya menghilang ke balik leher dalam satu tegukan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bersama itu pula Farina telah menyurutkan bayang dari pandang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pada toolbar di bagian bawah layar komputer, sebuah ikon muka lucu berwarna kuning muncul dari sebuah jendela biru yang berkedap-kedip. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sebuah nama yang membuat hatiku berdegup lebih kencang daripada sore tadi saat mengajak kencan singkat seorang dokter rumah sakit pusat : m3_run_tea!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dengan rasa penasaran yang amat sangat aku menyentuhkan panah kursor pada jendela biru tua yang berkedip itu dan menekan tombol kiri pada tetikus.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hallo! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hei. Apa kabar? Long time no see! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sorry, aku sibuk. Baru hari ini aku bisa keluar kampus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku juga sibuk. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; peristiwa yang menghebohkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamu masih ingat penyanyi yang aku bilang wajahnya begitu sensual hingga aku ingin bisa berkenalan dengan dia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ya. Kamu selalu bilang matanya mirip sekali denganku. Rasida Alma, aku masih ingat. Apa yang terjadi dengannya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia tewas mengenaskan kemarin. Tetapi itu belum seberapa menyakitkan ketika aku tahu dia mati karena cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;How come?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tadi aku ketemu dokter forensik. Dia bilang Rasida dicekik saat bercinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;What!! Very Tragic Story! What kind of love bisa buat orang mati seperti itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ya, cinta apa yang membuat kita juga menderita, Ranti? &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kadang cinta buat kita menderita bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Danan, ada apa denganmu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jangan mencoba menyinggung masa lalu. Kita ini bukan pasangan kekasih...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ranti, tadi aku kencan sama dokter forensik itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Balasan dari Miranti terasa lebih lambat dari tadi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Good for u, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;. Seperti apa dia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cantik. Talkative. Tapi bukan itu yang aku pikirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jujur, Ranti. I’m still waiting for you.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;, aku tak mau ngomongin itu lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;But Ranti. Aku gak bisa nemuin kedamaian di hati tanpa kamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;, bukahkah sudah berulangkali aku bilang kepadamu ”aku juga mencintaimu?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi kalo sebagai sepasang kekasih, aku belum bisa yakin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Serumit itukah cintamu Ranti?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Entahlah Nan. Tadi Aku juga baru saja pulang sight-seeing &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sama seorang pria yang baru aku kenal di sebuah taman. Seorang pelukis asal &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Dia “nembak” aku. Katanya cinta pada pandangan pertama!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aneh bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamu tak percaya dengan cinta seperti itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dunno, Yang aku tahu, papa selalu mengatasnamakan cinta untuk melukai tubuh dan hati mama sampai mama tak sanggup lagi berkata apa-apa selain menangis. Cinta itu terlalu sukar untuk kumengerti!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sadarlah Ranti. Cinta seperti itu bukanlah cinta yang ingin aku berikan padamu. Entah untuk berapakali juga aku mengatakan hal ini padamu. Dan tentu kamu masih ingat tentang puisi cinta yang pernah aku berikan padamu bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukankah kita sudah sepakat bahwa cinta seperti dalam puisi itu tidak akan pernah ada? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sepertinya aku tidak pernah bisa menjelaskan persoalan cinta dengan benar kepadanya sehingga selalu saja ada perdebatan di antara kami.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Eh, ada lagi lho, puisi bagus yang aku suka dari dari buku puisi terbaru penyair idola kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia terbitkan buku puisi lagi? Seperti apa puisi itu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bisakah kamu kirimkan untukku &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Saat dia merajuk seperti ini. Akal sehatku lenyap sudah. Segala yang dia minta pasti segera aku iyakan. Apapun itu. Sebelum menjawab ”Ya” Jemariku mencomoti satu demi satu huruf dalam puisi yang kusukai dari buku puisi ”Lelaki Yang Dicintai Bidadari” karangan Penyair Hasan Aspahani dalam program Notepad sebelum aku salin-tempel di jendela Yahoo! Messenger. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hasan Aspahani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Tiga Puisi Tak Jadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;(DENGAN tiga bait puisi tak jadi, penyair itu diringkus sepi. Sungguh ia tak bisa membela diri.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Bait 1: kekasih yang pergi, salahkah bila kuratapi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Bait 2: rindu yang sungguh, bodohkan bila kukeluh?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Bait 3: cinta yang gagal, bolehkah bila kusesal?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;(DENGAN tiga bait puisi tak jadi, penyair itu ditelikung sunyi. Sungguh ia tak bisa lagi menyelesaikan itu puisi.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;, Rasanya aku makin tak pantas membalas cintamu. Sajak kesukaanmu ini kurasakan begitu pedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi sebenarnya kamu sudah mengetahui semua isi hatiku bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hei, kamu mau dengarkan ceritaku tidak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ya Tuhan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kenapa dia selalu menghindari pembicaraan tentang perasaannya?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ok. Ceritakan tentang malam indahmu, Ranti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan mengalirlah cerita tentang sore perkenalan Miranti dengan Eko, diikuti cerita jalan-jalan di &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dan berakhir dengan perpisahan di stasiun kereta. Tak ada detail yang jelas. Semuanya tampak seperti cerita seorang anak sekolah dasar tentang bertamasya ke kebun binatang. Aku akhirnya masuk pada ruang kebosanan yang membuat aku mengalihkan perhatian pada naskah laporanku yang tinggal sedikit lagi harus masuk ke ruang Editor.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;, aku sudah mengantuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;dananjaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ya udah. Tidurlah Ranti. Malam ini aku akan meminta kepada Tuhan untuk memberikan sepasang malaikat berjaga-jaga dari mimpi buruk yang hendak merasuk di kedua pelupuk matamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;m3_run_tea&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ah. Jangan coba puitis, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;. Aku tahu kamu itu selalu bisa mencandai wanita, tapi tak akan pernah bisa menulis sebuah puisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menuliskan sebuah kata untuk mengakhiri pembicaraan kami: ”Cinta itu puitis Ranti.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Danan. Laporanmu mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suara berat Pak Gunawan terdengar dari speaker pesawat telepon. Tergegas aku mencabut tumpukan kertas dari printer di meja samping dan meneruskan langkah ke ruangan pemimpin redaksi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di sebuah ruang karaoke. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang asyik bernyanyi. Di antara suara mereka, sepasang lainnya bercakap-cakap.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Mas Sas tahu? Dari semenjak sore tadi hatiku tidak tenang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Apa yang kamu pikirkan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Aku mengira Mas Sas akan berbuat sesuatu di luar akal sehatku dengan adanya teman Mas Sas itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Rudi? Dia baik kok.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi membenarkan posisi duduk dan bergayut manja pada kekasihnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Aku tadi itu berpikir kalian hendak melakukan tindakan konyol seperti di film-film yang pernah kita lihat.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko terperanjat. Gelas di tangannya hampir saja terlepas. Dia terbatuk-batuk tersedak oleh minuman sebelum bicara.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Astaga Sus!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kau berpikir sejauh itu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ini posesif. Kau adalah kekasihku dan tak akan pernah aku berbagi dengan orang lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Tapi kehadiran Rudi membuat aku gugup.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Tenang saja. Sebentar lagi dia pasti mengajak perempuan teman karaokenya untuk menginap di hotel.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana denganmu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi memanjakan diri untuk mendapatkan perhatian penuh dari kekasihnya. Alih-alih menutupi perasaan kacau yang berubah menjadi malu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam bersamamu tapi karena ada pekerjaan penting besok lebih baik aku pulang saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi cemberut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;”Hei!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cinta tak harus selalu diwujudkan dengan hal seperti itu bukan?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Rudi tiba-tiba datang sambil tertawa-tawa. Sejurus kemudian dia sibuk berbisik-bisik pada Sasongko.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka berdua tertawa. Susi memandang ke arah perempuan pasangan Rudi. Sedang perempuan yang ditatap tersenyum kecil. Tanpa sadar dia pun tersenyum. Entah bermaksud membalasnya atau tersenyum pada kenyataan yang tak seperti inginnya.&lt;/p&gt;  (806, dan Segalanya Menghilang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-6897783697283886419?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/6897783697283886419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=6897783697283886419' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/6897783697283886419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/6897783697283886419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/cinta-itu-puitis.html' title='Cinta Itu Puitis'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-7347742687157794016</id><published>2008-05-26T01:19:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T01:22:24.165-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Dari Sebuah Film</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Kita merasa jarang bertemu dengan orang baik,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;kecuali mereka yang sependapat dengan kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;-- Francois de La Rochefoucauld--&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di layar televisi ada sosok seseorang perempuan berambut hitam legam - mungkin sebenarnya bukan hitam legam atau mungkin itu hanya rambut palsu, sebab sangat langka seorang kaukasia berambut hitam - dan berpakaian minim dari bahan kulit yang juga hitam mengkilat, melenggak-lenggok sebelum menghampiri seorang lelaki yang telanjang dada. Adegan selanjutnya sungguh tak elok dipandang, sebab berbekal sebuah cemeti dari bahan kulit yang berumbai-rumbai lelaki itu menderakan pukulan ke tubuh perempuan yang setengah telanjang!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun anehnya perempuan itu mengerang dalam kenikmatan.    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Film apa sih Sus? Kok aneh begitu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ini film festival. Baru bulan September 2006 film ini dirilis untuk umum, lho!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi bukankah ini …?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sekedar buat pelajaran saja. Ternyata cara bercinta itu macam-macam bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi tertawa renyah. Sementara di sebelahnya, Farina sibuk membolak-balik sampul dvd yang sedang diputar itu. Dibacanya huruf-huruf kecil di bagian belakang sampul itu: &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;The Notorious Bettie Page is a biographical film about pinup and bondage model Bettie Page, who is portrayed by Gretchen Mol. The film is directed by Mary Harron, who co-wrote with Guinevere Turner.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0.5in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;The film had its world premiere at the 2005 &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Toronto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; International Film Festival on September 14, and was released in theaters in early April 2006. It was released on DVD in the &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;U.S.&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; on September 26, 2006.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sus, kamu sering bercinta dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang aneh-aneh sama Mas Sasongko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bukannya menjawab, Susi malah mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Farina merasa jengah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu kok tahu aku dan Mas Sas sering bercinta?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana tidak?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dinding kamar kita ini cuma terbuat dari kayu lapis, Sus!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina meninggikan volume suaranya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei, Jangan berteriak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, maaf. Aku tak suka dituduh mencampuri urusan orang lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tak mengapa jika kamu memang tahu hal itu. Sebentar lagi kami akan menikah.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina cemberut. Bukan karena cemburu, tapi dirinya masih merasa sudah dituduh sebagai seseorang yang mengintip atau minimal menguping peristiwa yang terjadi di kamar Susi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah Rin, aku tak apa kok jika kamu mengetahuinya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana dengan pertanyaanku tadi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah kalian bercinta dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang aneh-aneh seperti di film itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidaklah. Aku tidak mau melakukannya. Bukankah aku tetap perlu tampil cantik!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi memang seorang sales promotion girl yang sudah sepatutnya memerlukan penampilan yang menarik. Dia cantik, tinggi semampai, dan berkulit putih. Matanya yang sipit seperti mata kucing membuat banyak lelaki berebut ingin mengenalnya lebih intim. Farina tanpa sadar menjelajahkan pandang ke seluruh tubuh Susianti Amelia. Dan ah!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia bergidik sendiri membayangkan Sasongko dengan cemeti di tangan dan berkali-kali memukulkan-nya ke tubuh mulus Susi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi yang tengah asyik menikmati film mendadak berhenti dan melayangkan tinju ke paha Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan berpikir yang tidak-tidak!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku bisa jaga diri kok.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan, aku hanya berpikir: apakah Mas Sas itu benar-benar tidak punya niatan ingin mencoba hal yang aneh-aneh itu padamu Sus?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah. Aku tidak mau berdebat soal itu. Ini sekedar hiburan. Jangan dianggap serius.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi beranjak dari duduknya. Dia bergerak ke arah televisi dan mematikannya. Hal yang sama dia lakukan pada pemutar dvd-nya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Daripada kamu berfikir yang tidak-tidak terhadap Mas Sas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina tersenyum dan melempar bantal kecil ke arah Susi. Keduanya tertawa riang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu sendiri tak ingin punya pacar?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi menjajarkan tubuh dengan Farina yang sedang rebahan di lantai beralaskan karpet tebal warna merah muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya, aku pun ingin. Hanya mungkin belum ketemu jodoh saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu cantik Farina.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah. Bisa saja kamu, Sus!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keduanya saling pandang. Bibir mereka masih menyungging sisa tawa tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi mencari jawaban di antara binar mata Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu sedang jatuh cinta ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sok tahu kamu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jangan berdusta. Aku tahu tandanya. Ayolah, ceritakan siapa dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi mencecar Farina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa sih?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tidak sedang jatuh cinta!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah, tidak baik berbohong sama aku, teman dan sahabatmu sendiri.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi kembali mencecar Farina. Kali ini tidak hanya dengan kata tetapi tangannya mulai menggelitiki tubuh Farina. Farina berusaha menepis tangan Susi. Meskipun demikian beberapa kali tubuhnya terkena “serangan” Susi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mereka kembali tertawa riang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Baiklah. Aku ceritakan siapa dia. Tapi tolong hentikan dulu gelitikanmu ini!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Farina menjerit-jerit kegelian.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mereka kembali terdiam. Rona merah di wajah Farina sangatlah nyata. Susi pun tersenyum melihat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia seorang pelanggan di café tempat aku bekerja. Setiap pagi, kata teman-temanku, dia selalu sarapan di situ. Aku sendiri baru beberapa kali bertemu dengannya. Tetapi sepertinya dia tidak pernah memperhatikan aku. Baru tadi pagi kami bicara. Itupun bukan pembicaraan biasa. Dia seorang wartawan...”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina menghentikan ceritanya. Dia tidak ingin Susi tahu lebih banyak soal kejadian malam saat dia bertemu dengan Rasida Alma dan Danan yang mewawancarainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh wartawan...Wartawan apa?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ekonomi? Politik? Atau …”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sepertinya sih wartawan kriminal.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ganteng gak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hei!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masa kau tak tahu seleraku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan begitu, tetapi wartawan kriminal itu tidak bonafide!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Makanya aku tanya ganteng atau tidak dia?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau tidak ganteng percuma dijadikan pacar!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ih. Kamu itu Susi!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terlalu materialistis deh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eh, Non!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hari gini gitu lho!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina kembali cemberut. Susi tertawa melihatnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hari beranjak sore. Farina sedang berjalan kaki di gang ke arah luar dari pondokannya menuju ke jalan raya. Dilihatnya dua orang lelaki sedang berjalan ke arahnya. Seseorang di antara mereka, wajahnya sudah sangat akrab bagi dia. Sasongko. Pacar Susi. Seseorang lagi tampaknya juga tidak asing baginya. Seolah-olah dia sudah beberapa kali melihatnya. Tapi segera ditepisnya pikiran untuk menerka siapa teman dari Sasongko. Dia sedang mengejar waktu absensi di café tempatnya bekerja.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sore Farina. Susi ada?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, Mas Sas. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kok. Sepertinya dia dari tadi memang sedang menunggumu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, bisa saja kamu Rin.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina memperhatikan teman Sasongko. Tapi yang diperhatikan diam saja. Bahkan sepertinya dia tidak senang berbasa-basi membuang waktu. Entah apa yang membuatnya merasa ingin buru-buru pergi dari pertemuan kecil ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah Rin, Aku ke pondokan dulu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Akhirnya Sasongko mengeluarkan kata-kata sakti mengakhiri pertemuan ini. Farina sebenarnya juga agak risih berhadapan dengan Sasongko. Terbayang olehnya Sasongko sebagai pria yang bertelanjang dada sambil memegang cemeti di tangannya. Seperti film yang tadi diputar oleh Susi di kamarnya. Farina merinding membayangkannya. Sosok mereka berdua lambat laun hilang dari pandangan Farina. Sekarang yang dipikirkan Farina adalah adanya kemungkinan seorang atau beberapa orang petugas kepolisian mendatanginya, dan seperti Danan, mereka akan mempertanyakan ihwal perjumpaannya dengan Rasida Alma di malam sebelum kematiannya. Dengan langkah cepat, Farina berjalan ke arah pemberhentian bis &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mana film kemarin?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; itu, tadi baru aku putar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Farina menonton juga?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya, tetapi dia tidak suka. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; apa ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi begitu kaget ketika Sasongko tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Dia tengah menyisir rambutnya. Belum sempat dia mendapat jawaban, seseorang laki-laki lain sudah ikut masuk ke dalam kamarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Teman.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sasongko memeluk Susi yang kebingungan. Tanpa bicara bibirnya sudah menutup bibir Susi yang masih terbuka karena terkejut. Susi gelagapan. Tangannya mencoba menahan kepala Sasongko.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia melirik ke arah teman laki-laki Sasongko. Orang itu tersenyum. Tapi untunglah dia tidak bergerak mendekati Susi dan Sasongko yang sedang berciuman. Tiba-tiba dia mendengar Sasongko berbisik lirih di telinganya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bagaimana kalau kita bersenang-senang, Sayang?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Susi mencoba menjerit. Tapi tidak terdengar suaranya di kamarnya sendiri. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Dia tidak mau tahu. Sebab itu barangkali sesuatu yang amat menakutkan baginya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di dalam bis &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, segerombolan pemuda berbaju ketat terbuat dari kulit naik. Busana yang aneh. Model rambutnya juga aneh. Salah seorang di antara gerombolan itu adalah seorang perempuan muda. Mukanya tampak kusam. Sebuah anting-anting besar bertempat di cuping hidungnya. Bajunya hanyalah kaos berwarna hitam dengan asesoris stocking hitam juga menutupi tangan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebenarnya dia cantik, tetapi dandanannya yang aneh membuat orang tidak bisa menikmati kecantikannya. Tubuhnya pun jauh dari kesan seksi. Mungkin sepanjang hari-harinya dia tidak cukup makan. Dia menyanyikan lagu dengan syair dan nada yang menurut telinga Farina cukup mengganggu. Cuma ada sesuatu yang membuat Farina masih belum berkedip melihatnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dia kembali teringat akan film yang diputar di kamar Susi tadi. Ah! Kalung kulit warna hitam!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Farina kembali berpikir keras. Dia teringat suatu peristiwa yang sangat ingin dia lupakan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang gadis cantik – lebih cantik daripada pemeran film festival itu, menurutnya – tengah bercinta dengan seorang lelaki yang – lagi-lagi menurutnya – kasar dan berangasan. Tapi ada kepasrahan total dari si gadis itu. Dan di leher gadis itu ada sebuah kalung kulit berwarna hitam. Sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Adegan selanjutnya adalah suatu peristiwa yang sangat mengerikan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Farina tanpa sadar memekik kecil. Dia menutupi wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ikhlas dari anda, halal buat kami. Terimakasih kepada para penumpang yang ikhlas memberi!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suara lantang si gadis pengamen itu mengagetkan dirinya. Farina menoleh ke arah suara, dan dilihatnya gadis itu tengah tersenyum ke arahnya. Senyum yang manis.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-7347742687157794016?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/7347742687157794016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=7347742687157794016' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/7347742687157794016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/7347742687157794016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/dari-sebuah-film.html' title='Dari Sebuah Film'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-3557791181678458542</id><published>2008-05-26T01:11:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T01:15:57.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Sketsa Awal Musim Gugur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;DI dunia, waktu menjadi fana - tak pernah&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;tahu hendak jadi apa: ia tumbuhkan cinta,&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;lalu merecup cabang-cabangnya, lalu jatuh&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;daun-daunnya, semua terjadi begitu saja&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;(Petikan Sajak: “Tuhan Memulai Permainan”,&lt;br /&gt;diambil dari buku “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”,&lt;br /&gt;karya Hasan Aspahani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ini adalah saatnya keluar!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah dua bulan lebih tenggelam dalam registrasi, perkenalan dengan dosen-dosen pembimbing, persiapan penelitian, serta penyesuaian diri, Miranti sedikit merasa jengah. Banyak hal yang telah dilewatkannya semenjak datang di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belum pernah sekali pun dia bersentuhan dengan kehidupan orang-orang di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meriahnya Festival Gion bulan Juli lalu, dengan bertebarannya lampion di berbagai tempat, hanya sempat dia lihat lewat kaca kereta jalur &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Nara&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang setiap pagi dia naiki. Sungguh dia seakan-akan telah mengambil jarak atas semua hal yang bukan berkaitan dengan kuliahnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Maka inilah musim gugur pertama dalam hidupnya. Udara mulai dingin dan angin bertiup kencang. Miranti yang tumbuh di Dago, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; itu agak terbiasa dengan udara yang masih belum di bawah nol derajat celsius ini. Sehelai daun momiji kuning kecoklatan jatuh di pundak jaketnya. Kata teman-temannya di Ohbaku International House, nanti pada saat pertengahan musim gugur dedaunan momiji akan menjadi merah tua. Sangat kontras dengan birunya langit dan terangnya cahaya matahari.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti menenggelamkan pikirannya di dalam lautan daun-daun momiji yang menguning.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Inilah hal yang pertama kali memikat hatinya pada keindahan Jepang, bukan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; fashion ataupun tehnologinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sini, di taman Murin-An yang tidak begitu jauh dari kampusnya, Miranti menemukan oase atas kejenuhan yang dia rasakan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tak jauh dari tempat dia berdiri, seorang pelukis tengah mengabadikan keindahan taman Murin-An dan dedaunan momiji. Tanpa dia sadari, pelukis itu juga sedang menangkap keceriaan seorang gadis cantik yang tengah terpesona akan keindahan suasana itu. Seorang Miranti.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sketsa. Memang hanya sebuah sketsa. Tangan yang terampil menggoreskan warna cat hitam yang agak ke abu-abuan. Entah kenapa si pelukis tidak begitu memperhatikan hal seperti itu. Apakah sengaja dia kaburkan warna hitam?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Atau lupa membersihkan dengan baik?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Entahlah, di matanya hanya keindahan taman Murin-An, dedaunan momiji, dan seorang gadis berambut hitam legam yang tergerai ditiup angin. Dia terus menyatukan ketiganya dalam pikiran dan sketsa yang dia buat. Sesekali dia menghela nafas. Sepertinya semua yang dia lakukan itu membuat dirinya merasa lepas.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Si pelukis itu tinggi, dan agak tidak proporsional gemuknya untuk dikatakan kurus, sehingga mantel yang dia kenakan seakan-akan begitu berat. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alisnya tebal sehingga tatapannya begitu misterius dalam memandang. Tatapan inilah yang membuat gadis yang tertangkap dalam sketsanya begitu gelisah ketika melihat dirinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; semacam daya tarik yang gaib, yang menyentuh perasaannya ketika dia menoleh pada sosok yang tengah asyik melukis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah dia melukis aku di di dalam sketsa itu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab dari tadi matanya tertuju padaku dan tempat aku berdiri,” Miranti bertanya-tanya dalam hati. Dengan langkah yang ragu, dia pun menghampiri si pelukis yang sedang asyik memainkan kuas.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf, apakah anda sedang menggambar diri saya?” dalam bahasa Jepang yang kaku, Miranti beranikan diri untuk bertanya sambil menghampiri si pelukis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah tidak! Saya sedang menggambar sketsa keindahan Taman Murin-Ann ini saja,” si pelukis merasa dia tidak mau disalahkan atau dipojokkan begitu. Dan memang dia tidak menyengajakan diri melukis Miranti dalam sketsa itu. Miranti hanya keindahan yang tak sengaja kebetulan dia tangkap. Hingga kemudian dia kemukakan hal itu dalam kekesalannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kebetulan kamu cuma jadi pelengkap keindahan yang aku tangkap saat ini,” dengusnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti terkejut : betapa tidak ramahnya pelukis tersebut.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pelukis itu menanyakan satu hal yang kemudian merubah percakapan dalam bahasa Jepang yang kaku tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu dari mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;,” Miranti masih terkaget-kaget dengan sikap si pelukis yang tiba-tiba mengomel pada dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kemudian pelukis itu memandang dengan tatapan yang semakin aneh. Entah terkejut atau terpana.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tujuan Miranti menegur tadi sebenarnya hanya ingin mengusir kejenuhan dan membuka cakrawala di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang baru dia kenali ini. Lagipula dia merasa kesepian. Dia merasa perlu tambahan teman. Di Ohbaku ada banyak mahasiswa, tetapi dia belum merasa sreg dengan mereka semua. Rata-rata mereka sangat antusias dengan tehnologi dan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hidup.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu pelukis itu kembali berkata pada dirinya. Kali ini ada nada yang berubah dari ucapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah, kenapa tidak bilang dari tadi. Aku pun dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt;?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pastinya kamu kuliah di situ bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Iya. Kamu sendiri?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku cuma seorang petualang.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aneh terdengar kalimat ini di telinga Miranti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Seperti Rob Bredl atau Steve Irwin?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; mimik yang serius tertangkap di raut wajah Miranti. Pertanyaan yang konyol memang. Sebab tak ada tampang petualang alam liar pada si pelukis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hahaha. Rupanya kamu bisa juga bercanda. Aku petualang di dunia yang berbeda dengan mereka. Aku semacam pekerja seni saja”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sejenak mereka terdiam. Daun-daun momiji membayangkan diri di sekujur tubuh mereka berdua.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm. Sudah lama di Kyoto?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Miranti memecah kebekuan itu. Entah kenapa dia merasa dirinyalah yang lebih harus aktif bertanya daripada pelukis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak begitu lama. Dan sepertinya aku datang di musim yang salah. Tetapi karena lukisan-lukisan jaman Edo ditampilkan mulai bulan September kemarin di National Museum of Modern Art, aku terpaksa datang ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; musim gugur ini. Bagaimana denganmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh. Aku. Aku baru baru sempat keluar dari rutinitasku di kampus”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:City&gt; ini &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang indah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Oh ya, bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke Festival Gokonomiya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam nanti itu puncak arak-arakannya!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Si pelukis mengajak Miranti. Antusias sekali. Miranti merasakan sesuatu hal yang semakin aneh hari ini. Dengan enggan dia pun menjawab ragu tawaran si pelukis.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah. Sepertinya aku sedang tidak ingin melihat festival.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan malam di Nikishi saja?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko menyebutkan sebuah nama jalan. Nishikikoji-dori. Jalan yang terkenal sebagai “dapurnya &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;” mengingat di jalan ini teradapat pasar makanan dengan ratusan kios penjual makanan. Nikishikoji-dori terletak di tengah &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, antara Takakura-dori dan Teramachi-dori.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sepertinya tawaran makan adalah tawaran yang menetralkan suasana. Toh, setiap orang perlu makan. Apalagi dengan cuaca yang mulai dingin. Tak perlu waktu yang lama untuk menunggu jawaban. Miranti segera mengangguk.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Eko, lengkapnya, Eko Wahyu Baskoro,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;si pelukis mengulurkan tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti segera menyambut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Miranti. Cukup itu saja.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko tertawa. Miranti terheran-heran. Entah apa yang dipikirkan oleh Eko sehingga dia tertawa mendengar pernyataan Miranti. Sepertinya dia tidak percaya bahwa namanya cuma Miranti saja. Tidak ada embel-embel lain.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kita jalan sekarang?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sambil "sight-seeing" &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Eko menawarkan sebuah usul.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Eh, lalu bagaimana dengan sketsamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kita ke apartemen sewaanku terlebih dahulu untuk menyimpannya, baru kemudian kita jalan. Mau?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti kembali ragu. Pergi ke apartemen seorang lelaki yang baru dikenal?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasanya sangat aneh. Eko nampaknya segera dapat menangkap gelisah itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dekat apartemen tempat aku tinggal, ada sebuah café yang lumayan enak capucino-nya. Kamu bisa menunggu di situ.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah, jika demikian, aku bisa ikut dengan kamu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Spontan. Sungguh sangat spontan semua ini terjadi. Entah apa yang dipikirkan Miranti saat dia memutuskan untuk berjalan bersama Eko, si pelukis itu, yang jelas dia sekarang ingin menikmati suasana &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Dengan siapa pun, tak jadi soal.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seperti dedaunan momiji yang mengganti warnanya setiap waktu. Mereka tidak pernah mengharapkan apresiasi manusia atas hal itu. Meskipun orang-orang begitu tertarik pada mereka, tetapi bagi mereka hal itu menjadi kegiatan alamiah yang wajib dilakukan untuk bisa bertahan di alam ini. Menyiasati kebutuhan akan sinar matahari. Demikian juga dengan Miranti saat ini, dia hanya bersiasat untuk benar-benar bisa menikmati masa liburannya. Keluar dari segala rutinitas yang telah lama menjebaknya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Yumei ga areba michi wa aru&lt;/i&gt;” adalah pepatah dalam bahasa Jepang yang berarti bahwa ketika kita mempunyai mimpi tentu ada jalan keluarnya. Eko merasa dirinya sudah sangat bosan hidup sendiri, maka ketika dia melihat Miranti yang tengah menikmati musim gugur seorang diri, ia tidak membuang kesempatan untuk lebih mengenal gadis cantik itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku sangat tertarik untuk menjadikanmu obyek lukisanku. Apakah kamu mau?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti tidak menyahut, dia hanya menatap dengan pandangan yang susah untuk dicari maknanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak mengapa kalau tidak mau. Maaf, jika kamu berpikir aku akan melukis telanjang – kamu salah besar. Aku tidak sepicik itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bola mata Miranti semakin membesar. Mulutnya masih belum mengeluarkan sepatah kata. Eko menyesali pernyataannya. Dia ingin meralat itu semua tetapi nampaknya sudah tidak bisa. Miranti tersenyum. Entah senyum untuk apa itu. Eko berdebar menanti kata yang keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maaf, jadwalku sangat padat. Hari ini aku berterimakasih kepadamu karena sudah mau mengajak aku menikmati indahnya &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Tapi sekali lagi aku minta maaf, aku tidak ingin engkau menganggap ini sebagai sesuatu yang berlebihan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lidah Eko tercekat kelu. Dia begitu malu menawarkan sesuatu yang sepertinya tidak pantas untuk gadis secantik Miranti. Diliriknya wajah Miranti. Dia masih tersenyum. Sejurus kemudian dia sibuk berurusan dengan telepon genggamnya yang meronta ingin memberikan kabar terbaru dari seseorang. Miranti membaca pesan di layar telepon genggam itu masih dengan bibir yang mengulum senyum. Rasanya Eko ingin sekali merebut telepon genggam itu dan segera mencari tahu apa isi pesan itu. Dia dibakar cemburu. Eko mengulum senyum terpaksa ketika tatapannya bertemu sepasang mata dengan bulu mata yang lentik dan pupil yang bersinar. Ah, sepasang pipi itu merona. Apakah Miranti sedang jatuh cinta?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Laju kereta seakan berhenti total, sebuah perasaan telah mencabut angan-angan Eko dari semua hal yang berada di sekelilingnya. Entah itu perasaan apa. Setelah kejadian itu, Eko mulai banyak berdiam diri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;+++  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hari ini rasanya begitu cepat. Selepas makan, Eko menawarkan diri untuk mengantar Miranti pulang. Mereka berdua kini berada di stasiun central &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rasanya malam belum begitu larut, dan sepengetahuanku &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tidaklah demikian menakutkan untuk seorang gadis sepertiku,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Miranti kembali tersenyum. Entah sudah ke berapa kali dia tersenyum untuk Eko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi Miranti…&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ingin mengenal dirimu lebih dalam lagi.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Eko berusaha untuk tidak berbuat kesalahan yang lebih fatal dari melontarkan usul menjadikan Miranti sebagai obyek lukisannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa harus buru-buru?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku masih ada di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sampai tahun depan.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Miranti tertawa. Sepertinya dia sedang mempermainkan perasaan Eko. Tapi benarkah demikian?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Eko memutar otak untuk bisa meyakinkan Miranti agar bisa mengantar pulang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku ingin melihat istana kaisar di waktu bulan terang. Mungkin hal itu bisa menenangkan rasa penasaranku terhadap &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kyoto&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; untuk masa yang sangat singkat ini.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Eko menatap Miranti tajam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah itu bukan alasanmu saja untuk mengikutiku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak Miranti, tapi kuakui aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadapmu.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Eko berbisik dengan sangat lirih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pias merah muda di pipi langsat Miranti.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebuah kereta jurusan Keinhan berhenti dan membuka pintu, Miranti buru-buru masuk ke dalam gerbong dan Eko dengan tergopoh-gopoh mengikutinya. Tak lama kemudian keduanya telah duduk bersisian. Sampai sekitar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; menit mereka terbungkus dalam diam. Tak ada kata-kata yang terucap. Sepertinya mereka berdua lebih menikmati suasana di dalam gerbong kereta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah kau sudah punya pacar?” Eko memecah kebuntuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku tak punya pacar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi tak salah jika aku menginginkanmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak. Hanya saja aku sedang tidak memikirkan sebuah hubungan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah kau masih mencintainya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Aku sempat melihat kau tersenyum saat membaca pesan di telepon genggammu, aku pikir dia pacarmu atau setidaknya orang yang mencintaimu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia satu-satunya sahabatku. Danan namanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Laki-laki sebagai sahabat?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Aku dan dia saling mencintai.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko terdiam. Sahabat?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saling Mencintai?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Permainan apa lagi ini?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kau bilang ...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti memotong pertanyaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Aku dan dia adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah bisa bersatu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Eko merutuk dalam hati : “Oh, Tuhan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jangan biarkan aku gila karena gadis ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa maksudmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dia pernah menyatakan cintanya kepadaku, tetapi aku hanya menganggap dia sebagai seorang sahabat. Namun aku merasa bahwa aku juga sebenarnya mencintainya. Tetapi ada banyak hal yang membuat aku dan dia sepertinya tidak akan pernah bersatu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;I wish I knew.&lt;/i&gt;”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. Sepertinya dia sedang mencoba menggali sebuah kenangan. Eko menatapnya setengah tertunduk. Tiba-tiba Miranti merasa pernah mengenali tatapan seperti itu!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di dalam sebuah mobil di pelataran Bandara Soekarno – Hatta. Danan membiarkan saja mesin masih menyala. Dari tape mobil terdengar sebuah lagu lama yang dinyanyikan dengan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; baru oleh seorang penyanyi bernama Rasida Alma yang sedang naik daun.&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;♪&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Selamat tinggal kekasihku&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;aku akan menjemput mimpiku&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;meninggalkanmu di ujung rindu&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;dan pada saatnya cinta&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;akan membuktikan artinya ♪&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;♪&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Selamat tinggal kekasihku&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;usah kau harap pertemuan lagi&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;cintaku pun tertinggal di hatimu&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;dan pada waktunya takdir&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;akan bicara untukku... ♪&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Danan menatap Miranti dengan pandangan setengah tertunduk. Seperti seorang tentara kalah perang. Dia memainkan gantungan kunci mobil yang masih tergantung.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jadi tak ada kesempatan untukku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kesempatan apa, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sudah berulangkali mengatakan bahwa aku tidak bisa menerimamu sebagai kekasih. Cukup saja kita bersahabat seperti ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak ada, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;. Tidak ada. Aku sudah begitu mengenalmu. Aku pun mencintaimu. Tapi rasanya ada yang salah jika aku menerimamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukankah kita sudah saling tahu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ah!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Buku puisi sialan!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau tahu begini akhirnya, aku tidak akan memberitahu kepadamu!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Danan teringat saat Miranti ulangtahun ke-21, dia memberikan sebuah bukupuisi karya seorang penyair Hasan Aspahani berjudul : “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu keduanya menyukai sebuah baris di dalam puisi berjudul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Drama Pertemuan Bapa Adam dan Bunda Hawa”. Hanya sebaris saja. Namun mereka berdua merasakan cinta yang begitu indah di dalamnya. Karena ada kebahagiaan yang sempurna, kebahagiaan yang sangat diimpikan oleh mereka.&lt;/p&gt;&lt;i style=""&gt;“DAN Tuhan, yang tak bisa menahan bahagia, nyaris saja memutuskan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;untuk memerintahkan Adam dan Hawa kembali ke surga. Nyaris saja...”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi Nan, puisi itu begitu indah. Aku yakin tidak ada cinta yang semanis cerita cinta Adam dan Hawa.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya. Takkan ada. Bahkan tak pernah ada.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Danan terpekur. Diam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Miranti terkejut dari lamunannya saat Eko mengatakan hal yang sama dengan Danan ketika itu : “Ayo kita turun!”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(806, dan Segalanya Menghilang)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8538804141122742606-3557791181678458542?l=delapankosongenam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/feeds/3557791181678458542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8538804141122742606&amp;postID=3557791181678458542' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/3557791181678458542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8538804141122742606/posts/default/3557791181678458542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://delapankosongenam.blogspot.com/2008/05/sketsa-awal-musim-gugur.html' title='Sketsa Awal Musim Gugur'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8538804141122742606.post-2492022852907470100</id><published>2008-05-26T01:07:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T01:11:16.968-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Segalanya Menghilang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='806'/><title type='text'>Ada Kematian di Sebuah Awal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Ada saatnya kita merasa tertekan luar biasa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;sengsara, dan putus asa. Yang harus selalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;kita sadari bahwa hidup&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;adalah suatu hal yang luar biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;-- Agatha Christie --&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku merasakan kematian menginap di dalam sel-sel kelabu otakku. Embun begitu pelan mengalir di dingin kaca jendela café. Pagi ini sepertinya telah berhasil memenjarakan aku dalam jebakan rutinitas. Bahkan lebih dari itu, aku seperti mayat hidup yang berjalan mengikuti detak waktu. Seperti kali ini, menu yang kuhadapi adalah seporsi pancake dan segelas capucino. Menu yang sudah berhari-hari tak pernah kurubah, mungkin karena lidahku pun mengalami kematian dalam mencecap rasa. Kehangatan yang menyelimutinya seakan cuma hiasan biasa yang tak bermakna. Dengan enggan aku menatapnya padahal baru saja diletakkan, karena semenjak kedatangannya di meja ini rasanya sudah begitu kuhafal.&lt;/p&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; lagi yang mau ditambahkan?” Pelayan itu masih berdiri dekat meja.  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Nampaknya dia berhati-hati sekali. Sepertinya dia masih karyawan baru. Sudah lama aku jadi pelanggan di café ini namun dia baru kulihat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm, tak ada. Tapi jika boleh tahu, kamu pelayan baru?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Ya.” Dia sedikit tersipu, entah ragu atau malu-malu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu akhirnya dia bicara lagi,“Jika tak ada lagi, saya permisi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, Ya. Silakan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kembali kutatap menu sarapanku. Ucapan syukur yang kubisikkan dengan rasa seakan tak rela sebelum aku segera menyantapnya. Lamat-lamat kudengar ada yang bernyanyi. Sebuah lagu yang dulu sangat akrab di telingaku. Hampir saja aku ingin terlibat dengan kenangan atas lagu itu, tetapi jadwal keberangkatan kereta metro yang kurang dari satu jam lagi membuatku harus menyelesaikan acara sarapanku dengan cepat. Tak lama berselang dari suapan yang pertama, kembali kurasakan kematian di otakku bergeliat. Orang bilang ini gejala psikosomatis belaka. Tapi ah, ini begitu mendera!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seseorang, entah siapa tiba-tiba masuk dan bicara soal kematian seorang penyanyi wanita yang masih muda usia. Kematiannya tragis, dia ditemukan tewas dengan tangan dan kaki terikat di dalam sebuah kamar hotel yang letaknya tak jauh dari café ini. Sebuah nama disebut berulang-ulang, selera makanku bertambah hilang. Otakku sekarang bekerja keras. Nama penyanyi pastinya sangat erat dengan sebuah judul lagu. Ah!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukankah lagu itu baru saja dinyanyikan tepat sebelum datang berita kematian penyanyi yang mempopulerkannya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah itu kebetulan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lantas aku mulai menduga - suatu hal yang sudah lama tak kulakukan – atau lebih tepatnya mengkait-kaitkan satu peristiwa dengan beberapa peristiwa lainnya. Lagu, seorang penyanyi yang mati, sebuah kenangan lama, dan seorang pelayan café yang baru kulihat pagi itu. Lalu aku tersenyum, seperti menemukan jalan ke arah sebuah kemenangan. Aku tersenyum seolah habis memenangkan sebuah pertarungan besar. Merangkai suatu kemungkinan yang sangat maya : mungkin baru semalam sang penyanyi datang ke tempat ini, sehingga pelayan itu – yang mungkin pelayan baru – kemudian bersenandung lagu yang sempat dipopulerkannya. Sebab lagu itu popular di masa yang begitu lama dari usia - menurut penilaianku - si pelayan itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Maka seperti seorang Aristoteles di dalam bak mandinya, aku bersorak dalam hati : “Aku dapat bahan berita!”. Aku putuskan untuk mengambil telepon genggam di saku, dengan beberapa kali klik kutemukan nomor dan nama kantor tempatku bekerja. Nada tunggu berkali-kali terdengar sebelum akhirnya kudengar suara Paulina, front officer yang jelita. Kadang kupikir dia lebih layak jadi model sampul majalah daripada seorang karyawan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Delik Metro - Selamat pagi”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pagi, Paulina. Danan ini. Aku mau bicara dengan Bapak Gunawan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Oh, Danan. Sedang di mana?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebentar saya sambungkan”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aku tertawa kecil. Paulina kurasa cuma sedang berbasa-basi menanyakan aku sedang berada di mana. Dia sudah sering mendengar ceritaku tentang kebiasaanku sarapan di café sudut jalan beberapa meter sebelum stasiun kereta metro.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Nada tunggu yang seperti lagu anak-anak “twinkle twinkle little star” kemudian cepat berubah menjadi suara yang berat. Suara Bapak Gunawan – pimpinan redaksiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; apa, &lt;st1:place st="on"&gt;Nan&lt;/st1:place&gt;?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pagi Pak, sepertinya pagi ini saya langsung berburu berita. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hal yang harus saya selidiki”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Soal apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya belum tahu pasti seperti apa jadinya – setengah berbisik, saya berkata lagi – tapi sepertinya ada hubungannya dengan kematian penyanyi Rasida Alma. Dan kalau pun nanti ternyata tidak menarik, saya akan langsung ke kantor”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah. Aku tunggu kabar yang baik saja. Dan ingat, cepat kembali ke kantor!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku merasakan ada kebangkitan, yang entah sejak kapan dia pergi, sekarang dia datang dan menghampiriku. Segera kuhirup cappuccino yang sudah agak dingin dengan cepat dan bergegas menghampiri dua orang yang masih memperbincangkan soal kematian Rasida Alma.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tadi malam kira-kira pukul sembilan saya sedang merapikan gelas. Kemudian dia datang. Tidak sendiri. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tiga orang lelaki bersamanya. Saya pikir mereka itu bodyguard-nya. Tampang mereka seram-seram. Sebagai seorang waiter maka saya menghampiri mereka.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kamu – &lt;i style=""&gt;maaf&lt;/i&gt; – nama kamu siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya takut Pak. Saya tidak mau dijadikan saksi,” pintanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya juga tidak mau, Pak!” seorang lelaki yang tadi menyampaikan berita kematian Rasida Alma kepada wanita “sang pelayan baru” ikut memprotes pertanyaanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sekali lagi saya katakan, saya ini bertindak sebagai wartawan, bukan petugas kepolisian,” aku mencoba tersenyum untuk menambah simpati dari mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Boleh saya tahu namamu?” sekali lagi aku bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Farina.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menarik nafas. Nama yang menarik. Tapi aku tidak sedang mencoba berkencan dengannya hingga tak kuperpanjang masalah nama ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nona Farina bisa menceritakan ciri-ciri ketiga lelaki itu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat bola hitam di matanya bergerak ke atas. Ke kanan juga ke kiri. Sepertinya memang sedang mengingat sebuah peristiwa. Setelah itu mata yang berbulu mata lentik itu mengerjap. Mungkin sudah ditangkapnya rekaman kejadian semalam di udara. Dia menarik nafas pelan-pelan. Seakan-akan tarikan nafas biasa dan cenderung lepas akan membuyarkan semua memori yang dengan susah payah dia kumpulkan. Entah karena ikut merasakan atau apa, aku dan teman lelakinya - &lt;i style=""&gt;aku yakin dia bukan pacarnya!&lt;/i&gt; - sama-sama menahan nafas.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untungnya pagi ini suasana café belumlah ramai. Kami bisa melakukan tanya jawab dengan agak leluasa. Dan Farina secara lancar menceritakan detail pertemuannya dengan Rasida Alma beserta tiga teman lelakinya yang dikiranya sebagai pengawal pribadi sang penyanyi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kemudian aku menatap pada teman lelaki Farina. Dia sepertinya kaget ketika aku mengalihkan pandanganku kepadanya. Mungkin tadi dia mencuri pandang kepadaku yang bukan saja menyimak cerita Farina tetapi juga menikmati raut wajahnya. Mudah-mudahan tak ada rona merah di wajahku ketika itu. Hampir saja aku tersenyum, tapi kutahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Kalau Mas ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Siapa nama Mas dan apa hubungannya dengan Farina serta kejadian semalam?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jujur saja, aku merasa sangat kacau ketika melontarkan pertanyaan seperti itu. Sebuah pertanyaan yang sangat bodoh!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Nama saya Karim Sumarjo, anak-anak sini senang memanggil saya “Joe”. Saya cuma teman kerja Farina, sebagai bartender cafe di ini. Semalam saya juga ada di sini. Saya yang meminta Farina segera menghampiri mereka. Sebab saya ini penggemar lagu-lagu sendu Rasida Alma.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Sempat coba ‘ngobrol dengan Rasida malam tadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tidak. Café ini punya aturan yang ketat. Jika ketahuan owner bahwa bartender ‘ngobrol dengan guest saat bekerja bisa diberi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; peringatan. Café ini sangat concern dengan orisinalitas minuman oleh sebab itu bartendernya diawasi dengan ketat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Hm. Karena Mas tadi bilang bahwa anda pengemar berat Rasida tentunya Mas Karim, eh, Joe bisa mengingat kondisi Rasida Alma saat malam tadi. Apakah ada hal yang mencurigakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Maksudnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apakah dia terlihat begitu tegang atau cemas atau apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Saya yakin dia tampak tertekan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tertekan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa yang membuat Mas Joe begitu yakin?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Berkali-kali ketiga orang lelaki itu bicara, dia hanya mengangguk atau membalas seperlunya. Dia lebih sering meraba lengannya sendiri seperti orang kedinginan, juga dia berulangkali mencoba menelepon seseorang tetapi nampaknya susah sekali. Berkali-kali dia mengeluhkan hal itu.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Temuan yang sangat menarik. Nomor telepon orang itu tentunya ada di telepon genggam Rasida Alma yang sekarang sudah menjadi barang bukti. Perlu aku telepon lagi ke kantor untuk mencoba mencari tahu nomor - nomor telepon siapa saja yang dihubungi Rasida Alma malam sebelum dia dibunuh. Hal ini perlu diplomasi tingkat tinggi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lantas pembicaraan soal apa yang bisa kalian tangkap?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Entahlah. Aku hanya menangkap sekilas saja”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Farina mengerenyitkan dahi. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang hendak ditambahkan dari keterangan Joe.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mereka sering menyebutkan sebuah merek sedan mewah”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mercedez?” aku asal menyebut merek.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bukan. Sebuah merek sedan dari Italia. Jarang terdengar di sini”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Bisa kau ingat sedikit ucapannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku tak mau sembarangan menyebut merek lagi. Biar benar-benar ingatan Farina yang bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lamborghini. Iya betul itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Wow,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu benar-benar mobil yang langka di sini.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku sadar begitu pelik masalah yang kudapati saat ini. Udara kurasa semakin tipis. Meskipun aku tahu itu hanya perasaanku belaka, namun rasa itu benar-benar menyiksa. Mungkin Farina dan Joe tak bisa melihat tanganku yang mulai bergetar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Rasanya sangat memadai informasi yang kalian berikan. Aku sangat berterimakasih sebab temuan-temuan kalian begitu membantuku untuk mendapatkan berita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku harus menemui beberapa orang lagi untuk bisa membuat temuan kalian menjadi berita yang menarik.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku mengulurkan sejumlah uang sebagai tanda terimakasih.&lt;span style=""&g
